Cinta, Rasa dan Puisi (Antologi Puisi Tema Kuliner) MENU 1

Cinta, Rasa dan Puisi (Antologi Puisi Tema Kuliner) MENU 1

Samudrabiru – Buku ini merupakan kumpulan puisi yang dihimpun dari puluhan penulis yang merupakan anggota Komunitas Pegiat Literasi Jabar (KPLJ) dengan tema kuliner. Indonesia dikenal sebagai surga kuliner. Banyak wisatawan yang datang ke sebuah daerah karena penasaran ingin mencicipi beragam kulinernya. Kuliner bukan lagi soal memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga telah menjadi identitas, ciri khas sebuah …

Continue reading →

120 DAYS

120 DAYS

Samudrabiru – “Tidak ada toleransi untuk kesalahan sekecil apapun!” Devan menggebrak meja di hadapannya.  Cekrek, Pintu terbuka tiba-tiba, dan semua perhatian laki-laki yang berjumlah sekitar tujuh atau delapan orang itu beralih dari boss yang super galak, pada seorang gadis muda yang tampak begitu menyegarkan dipagi hari yang suntuk karena harus sudah menerima omelan dari boss super …

Continue reading →

Jawa Batak Serius?

Jawa Batak Serius?

Samudrabiru – Awalnya penulis tertarik sekaligus terinspirasi oleh berbagai hal yang berkaitan dengan pernikahan dan keluarga muda. Kemudian penulis berpikir tentang berbagai tantangan yangmungkin saja timbul dalam kehidupan pasangan yang sedang menjalin kasih, untuk kemudian membangun rumah tangga. Macam-macam persoalan yang mungkin saja terjadi, tapi penulis ingin sekali mengangkat mengenai perbedaan suku, karena ini juga merupakan …

Continue reading →

Nafas Sang Pekat Mengukir Cerita-1

Nafas Sang Pekat Mengukir Cerita-1

Samudrabiru – Pegunungan yang tinggi mencakar langit akan jadi runtuh seketika kala kun fa yakun telah diucapkan-Nya. Seorang pejabat akan merosot tahtanya karena kehendak-Nya. Tiada mustahil bagi Allah untuk apa saja. Oleh karena itu, tiada guna bila kita menyombongkan diri dalam kepunyaan harta kita, ketampanan atau kecantikan wajah kita, kesempurnaan akal kita, bahkan kedigdayaan kita sekalipun …

Continue reading →

Bulan Sabit di Kota Ventiane: Catatan Persinggahan di Negeri Orang

Bulan Sabit di Kota Ventiane: Catatan Persinggahan di Negeri Orang

Samudrabiru – ANDA mungkin pernah mendengar pepatah bahasa Jawa: urip mung mampir ngombe (mohon maaf, saya menggunakan bahasa Jawa bukan bermaksud primordial, tetapi karena saya merasa istilah itu paling pas untuk menggambarkan isi buku ini). Jika diartikan begitu saja, pepatah itu berarti kurang lebih: “hidup ini hanya singgah untuk minum.” Toh, boleh juga kita maknai pepatah …

Continue reading →