Musibah Partai Kakbah Potret Perjalanan PPP 2014-2019

  • Musibah Partai Kakbah Potret Perjalanan PPP 2014-2019
  • Oleh Ach Baidowi
  • Cetakan I, November 2019
  • Ukuran 13,5 x 20 cm
  • Kertas isi bookpaper
  • xx + 184 halaman

Ringkasan Buku

Samudra Biru – Buku Musibah Partai Kakbah: Potret Perjalanan PPP 2014-2019, karya Achmad Baidowi ini, menguraikan dengan lugas dan rinci problematik dan krisis kepemimpinan yang melanda PPP, paling kurang selama lima tahun terakhir. Sang penulis yang tidak lain adalah “orang dalam” PPP yang juga menjabat sebagai salah seorang Wakil Sekjen DPP PPP periode 2016-2021 ini, mencoba memetakan kondisi internal partai yang tidak sehat dan akhirnya menjadi faktor yang melatarbelakangi kinerja elektoral PPP yang semakin menurun dalam beberapa pemilu terakhir.

Menurut Achmad Baidowi, anggota DPR peraih suara terbanyak PPP dan 10 besar perolehan suara terbanyak calegyang lolos ke DPR pada Pemilu 20193, krisis PPP yang akhirnya bermuara pada konflik internal dan dualisme kepemimpinan, terutama bersumber pada semakin melembaganya kecenderungan otoriter dalam kepemimpinan partai.

Kepemimpinan PPP yang seharusnya bersifat demokratis dan kolektif-kolegial, justru diputuskan secara personal oleh ketua umum, sehingga melahirkan kekecewaan yang luas di semua tingkat kepengurusan partai, mulai tingkat pusat hingga tingkat daerah. Kepemimpinan cenderung otoriter ini terutama mulai melembaga ketika Suryadharma Ali kembali menjadi Ketua Umum PPP terpilih hasil Muktamar VII di Bandung (2011-2016). Sebelumnya, pada periode 2007-2011, SDA sudah memimpin PPP selama lima tahun, menggantikan Hamzah Haz, ketua umum sebelumnya. 

Namun kepemimpinan SDA periode pertama relatif belum ada masalah. Berbagai persoalan muncul saat SDA memimpin PPP pada periode kedua. Keputusan-keputusan strategis partai seperti pilihan koalisi menjelang Pilpres 2014, juga perombakan pengurus DPP PPP, dilakukan sendiri tanpa melibatkan pengurus pusat lainnya. Puncak pertikaian internal PPP terjadi saat kubu Sekjen PPP hasil Muktamar Bandung menggelar Muktamar PPP di Surabaya pada pertengahan Oktober 2014, dan kubu SDA juga menggelar Muktamar PPP di Jakarta beberapa hari kemudian, sehingga terjadi dualisme kepemimpinan PPP yang berlangsung hingga 2016. 

Ketika partai belum sepenuhnya pulih dari suasana konflik, dan konsolidasi internal pun belum tuntas dilakukan, musibah lain tiba-tiba datang menerjang, ibarat tsunami politik yang tak pernah terduga sebelumnya. Betapa tidak, Ketua Umum PPP hasil Muktamar Islah pada 2016 Muhammad Romahurmuziy (Rommy) tertangkap dalam suatu operasi tangkap tangan yang dilakukan oleh KPK di Surabaya, Jawa Timur. Romi yang dalam beberapa waktu sebelumnya begitu akrab dengan Presiden Jokowi, ditetapkan sebagai tersangka kasus jual beli jabatan di Kementerian Agama. 

Kasus Rommy yang terungkap beberapa saat menjelang Pemilu 2019, benar-benar menjadi pukulan berat dan bahkan bencana bagi partai ini. Seperti dikonfirmasi oleh sejumlah survei publik menjelang Pemilu 2019, citra dan popularitas PPP merosot, sehingga diduga kuat sulit bagi partai ini lolos dari ambang batas DPR sebesar 4 persen. Namun perkiraan lembaga-lembaga survei tersebut tampaknya meleset karena PPP masih mampu lolos dari syarat ambang batas parlemen dengan perolehan suara yang jauh merosot dibandingkan lima tahun sebelumnya. (Dinukil dari pengantar Oleh Prof. Dr. Syamsuddin Haris pada bukunya)

Harga Buku

Rp120,000