BAHAN KULTUM/PENGAJIAN TAFSIR AL-ASRAAR (JILID 4)

Kitab tafsir ini sangat cocok untuk bahan kultum atau pengajian umum. Sederhana namun memenuhi kaidah penafsiran Al Quran. 

Bagaimana Tafsir Al Asraar menjadi bahan kultum dan pengajian umum?

Kitab ini termasuk tafsir tematik (maudlu’i), sehingga dalam penyajiannya menggunakan tema-tema tertentu

Bagi yang waktunya terbatas, tafsir tematik sangat mengun-tungkan karena beberapa ayat yang mendukung tema tersebut sekaligus ikut terbahas. Bila menggunakan cara berurutan, lewat urut-urutan surat dan ayat, diperlukan waktu yang lama dan itu menyulitkan serta bisa membuat jenuh.

Dari segi metodologi dan isi, kitab ini sudah cukup memadai untuk ukuran yang ditujukan kepada pembaca masyarakat umum dan memang tidak dimaksudkan untuk melayani kalangan akademisi atau kajian ilmiah.

seperti dapat kita lihat pada pembahasan mengenai Kesehatan Berbasis Al- Qur’an dan As-Sunnah dalam pembahasan penulis mengambil surat an nahl dengan terjemahannya

kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesugguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan (Surat an-Nahl [16]: 69).

Mufradaat:

Kul(i), kul fi’il amr dari akala-ya’kulu artinya makanlah. Fa(sluk)(i), usluk fi’il amr dari salaka-yasluku artinya tempuhlah, masukilah. Subul(un) jamak dari sabiil(un) artinya jalan. Dzululan jamak dari dzaluul(un) artinya dimudahkan, sebagi haal dari lafadz subula rabbiki. Syifaau(n) artinya obat (yang menyembuhkan) dari syafa(y)- yasyfi-syifaa-a(n)-syaafi(n).

Kandungan Ayat dan Munaasabah:

1. Ayat sebelumnya (68), Allah Swt memberikan wahyu (hidayah ilhamiyah/insting) kepada lebah untuk membuat sarang di gunung, pohon dan yang dibuat manusia. Dalam ayat ini (69), kemudian Allah Swt memerintah lebah untuk makan (mengisap) dari setiap buah-buahan (sari bunganya) yang disimpan dalam perutnya menjadi minuman (madu) bermacammacam warnanya. Madu itu dikeluarkan dari perutnya yang dapat dijadikan sebagai obat yang dapat menyembuhkan bagi manusia. Pengobatan ada dua yaitu preventif dan kuratif. Preventif artinya obat itu bisa menyebabkan suatu bibit penyakit tidak menyebabkan  sakit karena imunitasnya meningkat sehingga dapat menangkal atau mencegah terjadinya penyakit.

Kuratif artinya bila sudah terpapar bibit penyakit, obat tersebut dapat mematikannya atau menyembuhkan penyakitnya. Kemampuan madu dapat menyehatkan karena mengandung nutrisi yang lengkap dan bermanfaat. Kandungan gizi per 100 gram madu: Energi 304 kkal, Karbohidrat 82,4 gram (Fruktosa 38,2%, Glukosa 31,3%, Maltosa 7,1%, Sukrosa 1,3%), Lemak 0 gram, Protein 0,3 gram, berbagai Vitamin/Mineral, beberapa enzim (invertase, diastase dan glukosa oksidase), dan lain-lain.

masih banyak pembahasan yang ada di dalam kitab tafsir Al Asraar ini yang nantinya akan sangat membantu pembaca dalam mencari penafsiran yang sederhana. Meskipun uraiannya singkat dan sederhana, namun sudah memenuhi kaidah-kaidah dalam penafsiran al-Qur’an tidak condong kepada madzhab tertentu dan terlihat ada upaya untuk seobyektif mungkin.

 

Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!

Daftar Isi 1
Daftar Isi 2
daftar isi 3

Daftar Isi dan Spesifikasi Buku

Buku ini terdiri dari 82 bagian pembahasan yang ditulis oleh para penulis dari beragam disiplin ilmu

  • Cetakan I, Februari 2022
  • Jumlah Halaman xii + 256
  • Ukuran 14 x 20 cm
  • Kertas Isi Bookpaper 57,5 gram (Hitam Putih)
  • Kertas Cover Ivory 230 Gram (Laminasi Doff)
  • Finishing Jilid Lem Panas (Soft Cover) dan Shrink (Bungkus Plastik)

Harga Jilid 4

Rp 50,000

Harga Bundling (Jilid 3 & 4)

Rp 75,000

Harga berlaku pada masa Pre-Order (4 -17 Maret 2021). Harga belum termasuk ongkos kirim

  • Harga Belum Termasuk Ongkos Kirim
  • Klik Tombol Beli Sekarang untuk Melanjutkan Pembelian

Tentang Penulis

Drs. H. Asrori, MA.

Pendidikan agama penulis diperoleh langsung dari kakeknya, KH. Khambari, Pimpinan Al-Ma’had Hidayatul Mubtadiin, Pragen Pamotan Rembang Jawa Tengah, ditambah dengan sekolah madrasah diniyah. Juga sering tukar pikiran dengan pamannya, KH.Achmad Thaha, seorang tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Sewaktu SMA mengikuti pengajian Al-Maghfurulah KH. Bisri Musthafa (Ayahanda DR. HC. KH. Musthafa Bisri), Pimpinan Al-Ma’had Raudlatuth Thalibin Rembang.

Penulis pernah menjadi Dosen Kimia FKIP UMS (1985-1990), Guru Kimia di berbagai SMA/SMK di DIY (1981-2019). Sebagai Muballigh: Khatib Jum’at/ Ied, Pengajian-pengajian, Kajian Tafsir pada kelompok Al-’Aziziyyah, Al-Muhtadin, Al-Mizan, Safinaturrahmah, Jam’iyyatul Hujjaj, Nurul Fajri dan lain-lain.

Pengalaman organisasi, sewaktu mahasiswa pernah sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Kimia (1979- 1983), Ketua Umum HMI Komisariat FPMIPA (1979-1980), Litbang HMI Cabang Yogyakarta (1980-1981). Di masyarakat pernah sebagai Ketua Remaja Masjid (1982-1983), Ketua RW (1996-2008), Ketua Ta’mir Masjid (1998-2020), PRM/ PCM (1982-sekarang) dan lain-lain.