TUHAN, ALGORITMA, DAN MANUSIA YANG TERPINGGIRKAN
Buku ini adalah sebuah karya fiksi-esai reflektif yang mengupas tuntas realitas pahit kehidupan pekerja sektor informal di era gig economy yang kerap terpinggirkan oleh kejamnya sistem algoritma dan kapitalisme digital. Dengan memadukan ketajaman analisis sosiologi modern, filsafat, serta kedalaman spiritualitas Fikih Muamalah, penulis tidak hanya melontarkan kritik tajam terhadap ketidakadilan struktural yang mereduksi martabat manusia menjadi sekadar data statistik, tetapi juga menawarkan solusi transformatif yang membumi.
Jerat Berhala Algoritma dan Lahirnya Kaum Prekariat Modern
Buku ini menukik lebih dalam dengan mengurai bagaimana algoritma telah bermutasi menjadi “berhala baru” atau thaghut kontemporer. Jika di masa lalu manusia menyembah patung, manusia modern di era Surveillance Capitalism (kapitalisme pengawasan) secara tidak sadar menyembah kode biner. Algoritma di dalam “kotak hitam” aplikasi bertindak layaknya entitas “Maha Tahu” yang mendikte aliran rezeki, membagi orderan secara acak demi efisiensi korporasi, dan memaksa pekerja untuk terus berada di jalanan. Penulis secara tajam menggunakan teori B.F. Skinner tentang Skinner Box untuk menjelaskan bagaimana fitur gamifikasi dalam aplikasi—seperti sistem poin, level akun dari Silver ke Platinum, dan notifikasi pesanan—memanipulasi psikologi pengemudi untuk terus memproduksi dopamin. Akibatnya, pekerja mengeksploitasi diri mereka sendiri hingga melampaui batas biologis, sebuah fenomena yang oleh Byung-Chul Han disebut sebagai The Burnout Society.
Eksploitasi ini menciptakan kelas sosial baru yang rentan, yang oleh sosiolog Guy Standing disebut sebagai kaum Prekariat (gabungan dari Precarious dan Proletariat). Kaum prekariat hidup di atas lapisan es ketidakpastian yang sangat tipis; mereka bekerja tanpa kontrak yang jelas, tanpa jaminan hari tua, dan tanpa asuransi kesehatan yang memadai. Kerentanan ini tergambar dengan sangat tragis ketika anak Raka, Bima, jatuh sakit dengan demam tinggi. Raka yang telah memeras keringat seharian, berhadapan dengan kasir apotek hanya untuk menyadari bahwa uang tunai hasil kerjanya tidak cukup untuk menebus obat. Pendapatannya telah dipotong secara brutal oleh biaya komisi aplikasi sebesar 20%, belum lagi biaya administrasi penarikan uang dari dompet digital. Sistem ini secara nyata melanggar pesan profetik Nabi Muhammad SAW yang memerintahkan untuk “memberikan upah kepada pekerja sebelum keringatnya kering”. Bagi Raka, keringatnya telah mengering dan menjadi kerak di pelipisnya, namun uang hasil jerih payahnya masih tertahan di perbankan digital korporasi untuk diputar menjadi bunga semalam (overnight interest).
Lebih jauh lagi, Najib Maulana Alfikri membedah ketidakadilan ini melalui lensa Fikih Muamalah. Status “Kemitraan” atau Syirkah yang diklaim oleh perusahaan aplikasi sejatinya adalah kemitraan semu atau cacat secara syariat. Prinsip Syirkah mengharuskan keuntungan dan kerugian ditanggung bersama secara proporsional. Namun dalam realitas gig economy, korporasi mengamankan profit di depan melalui potongan komisi, sementara seluruh risiko operasional—mulai dari bensin, ban bocor, hingga risiko kecelakaan dan kematian di jalan raya—dibebankan secara sepihak ke pundak pengemudi. Hal ini melanggar kaidah emas ekonomi Islam: Al-Kharaj bi adh-Dhaman (hak mendapatkan hasil itu disebabkan oleh keharusan menanggung kerugian). Perusahaan menjelma menjadi tuan tanah digital yang memeras keringat Raka, menciptakan kezaliman struktural yang membungkam kemanusiaan dan mereduksi hubungan antarmanusia menjadi sekadar transaksi dingin yang mematikan empati.
Meretas Jalan Pembebasan Melalui Koperasi Platform Syariah
Di tengah keputusasaan yang mencekik, buku ini tidak membiarkan pembacanya tenggelam dalam pesimisme. Bagian keempat buku ini menawarkan horizon solusi yang sangat visioner. Di sebuah pangkalan ojek sederhana bernama Warung Mpok Yati, Raka berkumpul bersama rekan-rekannya: Pakde Darto, seorang pengemudi senior yang lututnya bengkak namun tak mampu berobat karena iuran BPJS-nya menunggak; Ujang, pengemudi muda; dan Ilham, seorang mahasiswa sosiologi yang terpaksa cuti untuk menjadi pengemudi ojek online. Di warung kumuh inilah percikan revolusi kesadaran bermula.
Ilham membantah narasi hukum rimba kapitalisme yang mendoktrin pekerja untuk saling sikut dan berkompetisi secara brutal. Mengutip pemikiran Peter Kropotkin tentang Mutual Aid (Saling Bantu), Ilham menyadarkan rekan-rekannya bahwa spesies yang bertahan dari kepunahan bukanlah yang paling kuat secara individu, melainkan yang paling pandai bekerja sama. Dari titik ini, Ilham memaparkan sebuah gagasan pembebasan yang revolusioner: membangun Koperasi Platform Digital berlandaskan syariah. Ide ini adalah antitesis dari platform raksasa milik investor asing. Dalam koperasi ini, aplikasi dimiliki 100% oleh para pengemudinya. Keuntungan yang didapat tidak lari ke Wall Street atau Singapura, melainkan kembali ke dompet para pekerja dalam bentuk Sisa Hasil Usaha (SHU). Potongan komisi ditekan menjadi sangat minim, hanya untuk menutupi biaya pemeliharaan server dan operasional teknis, sehingga 90-95% tarif utuh masuk ke kantong pengemudi. Koperasi ini juga menjamin transparansi algoritma, di mana aturan main dan distribusi order disepakati bersama dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT), menghapuskan “kotak hitam” yang menindas.
Namun, puncak keindahan gagasan dalam buku ini terletak pada pengintegrasian filantropi Islam ke dalam struktur bisnis digital. Ilham menceritakan kisah historis Khalifah Umar bin Khattab yang menangis melihat seorang kakek Yahudi buta mengemis di pasar demi membayar pajak, dan kemudian menetapkan tunjangan negara dari Baitul Maal untuk mereka yang lemah. Terinspirasi dari kisah tersebut, Koperasi Syariah yang mereka gagas akan memiliki divisi khusus Baitul Maal. Modalnya bersumber dari Wakaf Uang produktif dan Zakat Mal yang disisihkan secara otomatis.
Dana abadi dari wakaf ini akan diinvestasikan, dan keuntungannya dikhususkan untuk membiayai pengobatan pengemudi yang mengalami kecelakaan. Lebih jauh lagi, dana ini akan digunakan sebagai Dana Pensiun atau Jaring Pengaman Sosial (Social Safety Net) bagi pengemudi lansia seperti Pakde Darto, memastikan mereka bisa pensiun dengan bermartabat tanpa harus mengemis di lampu merah saat fisik mereka tak lagi mampu menopang motor. Sistem ini adalah pengejawantahan sejati dari nilai Ta’awun (tolong-menolong dalam kebaikan) dan merestorasi makna kemitraan dari sekadar ilusi linguistik menjadi realitas hukum yang memuliakan manusia.
Dr. H. Anwar Abbas, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam kata pengantarnya secara khusus menyoroti urgensi buku ini. Beliau menegaskan bahwa dunia kini sedang diperbudak oleh paradigma bisnis kapitalis ala Milton Friedman yang mengagungkan laba korporasi di atas segalanya. Walaupun dunia mulai mengenal konsep “Triple Bottom Line” (Profit, People, Planet) dari John Elkington, Dr. Anwar Abbas menekankan bahwa bagi umat beriman, konsep tersebut harus tunduk pada teologi Islam yang tertuang dalam Surah Al-Qasas ayat 77. Ayat ini mengamanatkan bahwa aktivitas ekonomi harus berorientasi pada akhirat, memberdayakan manusia di dunia, menjadikan kekayaan memiliki fungsi sosial, dan melarang keras praktik eksploitasi yang membawa kerusakan (fasad) di muka bumi. Ide koperasi platform digital yang diusung oleh penulis sejatinya adalah penerjemahan modern dari kearifan lokal seperti manajemen Rumah Makan Padang asli, di mana tidak ada relasi majikan dan buruh yang saling mengeksploitasi, melainkan sistem bagi hasil yang adil bagi seluruh pihak yang terlibat.
Buku ini diakhiri dengan sebuah epilog yang sangat emosional dan puitis di Balai Warga RW 05, tempat para pengemudi akhirnya menandatangani akta pendirian Koperasi Jasa Transportasi Syariah “Amanah Umat”. Raka menekan ujung penanya di atas kertas dengan mantap. Ia menyadari bahwa perlawanan ini bukanlah semata-mata urusan bisnis, melainkan sebuah “Jihad Spiritual” untuk merebut kembali kemerdekaan jiwa yang sempat dirampas oleh mesin dan algoritma. Jaket hijau lusuh yang ia kenakan kini tak lagi terasa sebagai seragam kuli, melainkan sebagai jubah perang seorang pejuang Fisabilillah yang menegakkan keadilan ekonomi.
Secara keseluruhan, Tuhan, Algoritma, dan Manusia yang Terpinggirkan adalah sebuah literatur esensial yang sangat dibutuhkan di abad ke-21. Najib Maulana Alfikri berhasil menjembatani keresahan generasi muda pekerja gig economy dengan horizon solusi yang membumi namun tetap berpijak pada langit spiritualitas. Buku ini menampar nalar kemanusiaan kita sebagai konsumen yang kerap kali menuntut pelayanan super cepat dan murah, tanpa memedulikan tetesan keringat dan penderitaan sang pengantar pesan. Dengan susunan narasi yang mengalir laksana novel namun berbobot layaknya jurnal akademik, karya ini merupakan bacaan wajib bagi para akademisi, praktisi ekonomi, mahasiswa, pembuat kebijakan, dan siapa saja yang masih memiliki nurani. Sebuah seruan intelektual untuk tidak membiarkan manusia direduksi menjadi sekadar data dalam statistik algoritma yang dingin, dan sebuah peta jalan untuk kembali membangun peradaban ekonomi yang memanusiakan manusia.
Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!
DAFTAR ISI
Daftar Isi 1
Daftar Isi 2Spesifikasi Buku
Cetakan I, Mei 2026; 170 hlm, ukuran 14 x 20 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, Hard cover dan shrink bungkus plastik.
Harga Buku
Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.
Rp 100.000
Rp 86.500
Tentang Penulis
Najib Maulana Alfikri
Najib Maulana Alfikri, lahir di Tanjung Inten pada 3 Oktober 2001. Ia merupakan putra daerah Lampung Timur
yang tumbuh dalam kehangatan keluarga sebagai buah hati dari pasangan Muhammad Chadhiq dan Siti Hajar.
Jalan intelektualnya ditempa dalam rahim pendidikan Islam. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di TK Bustanul
Athfal Tanjung Inten dan MI Muhammadiyah Tanjung Inten, kemudian ia memilih jalan sebagai para pencari ilmu dengan cara menjadi santri. Masa remajanya ia melanjutkan di MTs Muhammadiyah 1 Purbolinggo dan MA Muhammadiyah 1 Purbolinggo—ia habiskan juga untuk menimba ilmu di
Pondok Muhammadiyah Darul Hikmah. Kultur menjadi santri ini terus ia rawat hingga jenjang perguruan tinggi, di
mana ia menuntaskan studi di Universitas Muhammadiyah Surakarta sembari tetap mendalami ilmu agama di Pondok
Hajjah Nuriyah Shabran