TERJEBAK Antara Rasa Takjub, Keterbiasaan, dan Pilihan

Buku ini adalah sebuah refleksi mendalam karya Timothy Athanasios yang mengupas tuntas dinamika perkawinan, khususnya mengenai ancaman tersembunyi berupa hilangnya rasa takjub dan bahaya keterbiasaan (habituation) dalam sebuah hubungan. Karya ini mengajak para pembaca untuk tidak sekadar mempertahankan rutinitas atau terbelenggu oleh catatan kesalahan masa lalu, melainkan menumbuhkan kedisiplinan untuk terus melihat pasangan melalui lensa kasih karunia.

Mengembalikan Rasa Takjub dalam Realita Perkawinan

Buku Terjebak: Antara Rasa Takjub, Keterbiasaan, dan Pilihan (2026) karya Timothy Athanasios menghadirkan sebuah perenungan mendalam tentang dinamika perkawinan yang kerap luput dari perhatian. Timothy, yang juga merupakan Kepala Sekolah Dasar Cinta Kasih Tzu Chi dan Lead Pastor Reformasi Liturgi Church, tidak menulis buku ini sebagai sebuah panduan teoritis yang kaku, melainkan sebagai sebuah refleksi jujur yang lahir dari pengalaman nyata mendampingi banyak pasangan. Fokus utamanya bukan pada konflik-konflik besar yang dramatis seperti perselingkuhan atau krisis finansial. Alih-alih, ia menyoroti the slow silent killer dalam sebuah hubungan: hilangnya rasa takjub, ketidakmampuan melepaskan rasa sakit masa lalu, dan pudarnya keinginan untuk terus saling mengenal.

Melalui 156 halaman yang disajikan dengan bahasa ringan namun tajam, Timothy mengajak pembaca untuk merenungkan kembali bagaimana sebuah hubungan yang dimulai dengan kekaguman yang luar biasa (“Wow”) dapat secara perlahan berubah menjadi keterbiasaan yang membosankan (“Ya, biasa aja”). Ia mengibaratkan proses ini seperti lukisan tua yang warnanya memudar karena terus menerus terpapar cahaya matahari; bentuknya masih ada, tetapi kilaunya perlahan hilang tanpa disadari. Buku ini, yang diterbitkan oleh Penerbit Samudra Biru, menantang kita untuk melihat kembali pasangan kita tidak sebagai “produk jadi” yang sudah selesai dibentuk, melainkan sebagai manusia yang terus bertumbuh dan berubah.

Dari Kekaguman Menuju Keterbiasaan: Tragedi Nazaret di Ruang Tamu

Dalam menganalisis memudarnya kekaguman, Timothy meminjam kisah penolakan Yesus di kampung halamannya, Nazaret (Markus 6:1-5). Nazaret bukan sekadar kota, melainkan sebuah cara pandang di mana hal luar biasa menjadi terlalu biasa. Orang-orang Nazaret pada awalnya takjub mendengar pengajaran Yesus, namun kekaguman itu sirna ketika mereka mengingat label masa lalu-Nya: “Bukankah Ia ini tukang kayu?”. Mereka menukar rasa ingin tahu dengan asumsi dan label, menolak kemungkinan bahwa Yesus telah berubah. Fenomena ini, yang oleh psikolog Ellen Langer disebut mindlessness, adalah kondisi di mana kita berhenti memperhatikan karena merasa sudah tahu. Timothy berargumen bahwa tragedi Nazaret ini sering terjadi di ruang tamu kita sendiri.

Kita sering memperlakukan pasangan layaknya arsip masa lalu. Kita memberi label seperti “dia memang keras kepala” atau “dia memang tidak romantis”, dan membiarkan label itu menutup ruang bagi kemungkinan perubahan. Layaknya eksperimen Pygmalion Effect oleh Rosenthal dan Jacobson, ekspektasi atau label yang kita berikan pada pasangan sering kali turut membentuk perilaku mereka. Ketika keterbiasaan (habituation) mengambil alih, hal-hal kecil mulai terasa mengganggu dan kita berhenti melihat hal-hal yang dulu kita kagumi. Timothy menegaskan bahwa musuh terbesar kasih bukanlah kebencian, melainkan keterbiasaan. Kita tidak kehilangan cinta, kita hanya kehilangan rasa ingin tahu.

Timothy juga menyoroti bahaya emotional bookkeeping, yaitu kecenderungan untuk terus mengingat dan menagih kesalahan masa lalu pasangan. Menggunakan masa lalu sebagai alat pembayaran emosional hanya akan memenjarakan kedua belah pihak. Pengampunan (forgiveness), menurutnya, bukanlah menyangkal luka, melainkan menolak membiarkan masa lalu menguasai masa depan. Kita harus belajar melepaskan hak untuk terus menagih kesalahan dan menggunakan fakta masa lalu sebagai senjata. Timothy menekankan bahwa perkawinan bukanlah sebuah papan skor (scoreboard) atau neraca keuangan emosional. Kasih, seperti dalam 1 Korintus 13, menolak menyimpan kesalahan sebagai hutang yang terus ditagih.

Memilih Lagi: Menemukan Kembali Keajaiban yang Hilang

Buku ini bukan sekadar diagnosis masalah, tetapi juga menawarkan jalan keluar. Solusinya bukanlah mencoba kembali ke masa lalu atau mencari pasangan baru, melainkan belajar melihat pasangan yang sama dengan mata yang baru. Timothy menekankan pentingnya disiplin kekaguman (covenantal wonder), yaitu kemampuan untuk tetap melihat keindahan dalam diri pasangan meskipun menyadari ketidaksempurnaannya. Kita diajak untuk mengganti asumsi dengan pertanyaan, seperti “Apa yang belum aku lihat?” atau “Ceritakan perubahanmu kepadaku”. Kita harus belajar menafsirkan perilaku pasangan dengan memberikan interpretasi terbaik sebelum memberikan vonis terburuk.

Perkawinan yang sehat adalah perkawinan yang mampu beradaptasi dengan perubahan (renegotiation). Manusia terus berkembang, dan cara kita mencintai pasangan di tahun pertama tidak harus sama dengan di tahun kedua puluh. Timothy menantang kita untuk melihat perkawinan bukan sebagai upaya memenangkan argumen, melainkan sebagai proses belajar bersama. Kerendahan hati untuk berkata “Ajari aku lagi” adalah kunci untuk terus bertumbuh bersama. Cinta yang dewasa tidak hanya memilih seseorang di awal, tetapi terus memilihnya lagi, sekalipun setelah mengetahui semua kekurangan dan perubahannya. Pilihan kedua ini jauh lebih berat, namun jauh lebih indah karena merupakan keputusan untuk hadir dan terus belajar berjalan bersama di tengah ketidakpastian.

Pada akhirnya, Terjebak adalah sebuah undangan untuk pulang. Bukan pulang dengan daftar kesalahan, melainkan dengan pertanyaan, “Apa yang bisa aku lakukan untuk mencintaimu dengan lebih baik?”. Timothy Athanasios berhasil meramu wawasan psikologis, refleksi teologis, dan kearifan praktis menjadi sebuah karya yang mengugah kesadaran. Buku ini menyadarkan kita bahwa keajaiban dalam perkawinan tidak selalu datang dalam bentuk yang spektakuler, melainkan dalam hal-hal biasa: keberanian untuk terus melihat, kemauan untuk melepaskan masa lalu, dan keputusan untuk mengatakan “Aku memilihmu… lagi” setiap harinya. Bagi siapa saja yang merasa hubungan mereka mulai memudar dalam rutinitas, buku ini adalah pengingat yang menyentuh bahwa cinta tidak selalu kehilangan keajaibannya; kadang-kadang kita hanya berhenti mencarinya.

Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!

DAFTAR ISI

Daftar Isi 1

Spesifikasi Buku

Cetakan I, November 2026; x + 156 halaman; ukuran 14 x 20 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, jilid lem panas (soft cover) dan shrink bungkus plastik.

Harga Buku

Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.

Rp 90.000

Rp 85.600

Tentang Penulis

TIMOTHY ATHANASIOS

adalah seorang pendidik, pendeta, penulis, dan pembelajar yang telah lebih dari dua dekade berkarya dalam dunia pendidikan dan pelayanan. Ia adalah Kepala Sekolah Dasar Cinta Kasih Tzu Chi dan Lead Pastor Reformasi Liturgi Church. Perjalanannya dimulai dari mengajar Sekolah Minggu, jauh sebelum ia memiliki berbagai jabatan dan gelar. Dari sana ia belajar bahwa pendidikan bukan sekadar membuat manusia lebih pintar, tetapi menolong mereka menemukan keberanian untuk bertumbuh. Karena itu, ia menyebut dirinya Learning Liberator, seseorang yang percaya bahwa manusia selalu memiliki ruang untuk belajar dan menjadi lebih utuh. Perjalanan iman dan pendidikannya membawanya melewati berbagai tradisi gerejawi, ruang kelas, buku, dan percakapan. Ia semakin percaya bahwa kedewasaan bukanlah ketika semua pertanyaan telah selesai, melainkan ketika kita belajar tetap berjalan meskipun belum memiliki semua jawabannya. Buku ini lahir dari keyakinan yang sederhana: manusia selalu dapat belajar mencintai dengan lebih dewasa. Ia masih percaya pada pendidikan. Ia masih percaya pada gereja. Ia masih percaya pada manusia. Dan ia percaya bahwa harapan selalu punya satu bab lagi untuk ditulis.