TEKNOLOGI PENDIDIKAN DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL Integrasi Konsep dan Praktik

 

Buku ini adalah sebuah rujukan komprehensif yang mengupas tuntas bagaimana inovasi digital dalam ranah pendidikan dapat menjadi instrumen transformatif untuk mengentaskan kemiskinan, memperluas akses pembelajaran, dan mewujudkan keadilan serta kesejahteraan sosial bagi seluruh lapisan masyarakat. Ditulis oleh Agus Suradika, Azhari Aziz Samudra, dan Susi Susilawati, karya ini tidak hanya membedah perubahan paradigma pendidikan di era revolusi digital secara teoretis, tetapi juga menawarkan terobosan praktis melalui Social Welfare Educational Technology Model (SWETM) sebagai kerangka kerja integratif masa depan.

Inovasi pendidikan dan Kesejahteraan Sosial

Di era revolusi digital yang bergerak dengan sangat dinamis, pendidikan dan teknologi tidak lagi dapat dipandang sebagai dua entitas yang terpisah. Keduanya telah melebur menjadi satu kekuatan transformatif yang mampu mengubah struktur kehidupan manusia. Untuk memahami fenomena ini secara mendalam, buku Teknologi Pendidikan dan Kesejahteraan Sosial: Integrasi Konsep dan Praktik karya Agus Suradika, Azhari Aziz Samudra, dan Susi Susilawati hadir sebagai rujukan yang sangat komprehensif. Diterbitkan oleh Penerbit Samudra Biru pada September 2026, buku setebal 256 halaman ini memberikan wawasan tajam mengenai bagaimana inovasi digital dalam pendidikan dapat menjadi instrumen utama untuk memberantas kemiskinan, memperluas akses, dan mewujudkan keadilan serta kesejahteraan sosial bagi seluruh lapisan masyarakat. Ulasan berikut ini akan merangkum gagasan-gagasan esensial dari buku tersebut, yang disusun secara sistematis ke dalam delapan bab utama.

Dari Konsep Dasar Hingga Pemberdayaan Masyarakat

Buku ini mengawali diskursusnya dengan membedah latar belakang mengapa teknologi pendidikan menjadi sangat krusial dalam perspektif kesejahteraan sosial. Revolusi digital telah mengubah ekosistem pendidikan menjadi lebih terbuka, fleksibel, dan berbasis jaringan (network society). Penulis menegaskan bahwa investasi di bidang pendidikan merupakan faktor kunci untuk meningkatkan human capital, yang berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Namun, di Indonesia sendiri, masih terdapat tantangan nyata berupa kesenjangan digital (digital divide) yang meliputi ketidakmerataan akses internet, infrastruktur, dan literasi teknologi antara wilayah perkotaan dan daerah tertinggal (3T). Di sinilah teknologi pendidikan hadir sebagai katalisator untuk mendemokratisasi pendidikan.

Secara konseptual, teknologi pendidikan telah berevolusi jauh dari sekadar penggunaan media audiovisual di awal abad ke-20, menuju computer-based learning, e-learning, hingga pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) dan smart learning di era modern. Pemanfaatan teknologi ini harus dilandasi oleh prinsip-prinsip efektivitas, efisiensi, relevansi, aksesibilitas, dan keberlanjutan, sembari tetap menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan moralitas kemanusiaan. Teknologi tidak boleh menggeser orientasi pendidikan dari pembentukan karakter manusia menjadi sekadar penguasaan teknis belaka.

Lebih lanjut, buku ini mengupas konsep kesejahteraan sosial secara multidimensional, yang tidak hanya dinilai dari indikator ekonomi, tetapi juga mencakup dimensi pendidikan, kesehatan, hubungan sosial, dan pemberdayaan (empowerment). Melalui pendekatan pendidikan inklusif, teknologi dapat membantu kelompok marginal—seperti masyarakat miskin dan penyandang disabilitas—untuk mendapatkan hak pendidikan yang setara, sehingga membuka jalan bagi mobilitas sosial vertikal.

Dalam era transformasi digital saat ini, buku ini menyoroti bagaimana platform e-learning, blended learning, dan Massive Open Online Courses (MOOCs) telah meruntuhkan tembok batasan geografis. Kecerdasan buatan dan analitik pembelajaran (learning analytics) memungkinkan lahirnya personalized learning, di mana sistem secara adaptif menyesuaikan materi dengan kemampuan dan kecepatan belajar masing-masing siswa. Hal ini sangat relevan untuk memberdayakan masyarakat, di mana literasi digital ditekankan sebagai kunci agar masyarakat dapat mengakses peluang ekonomi, seperti kewirausahaan digital (e-commerce) dan teknologi finansial (fintech). Buku ini juga menyoroti pentingnya pendidikan vokasi berbasis teknologi yang mengajarkan keterampilan praktis yang adaptif terhadap kebutuhan Revolusi Industri 4.0.

SWETM: Model Masa Depan untuk Kesejahteraan Sosial

Pada bagian paruh kedua, buku ini menitikberatkan pada aspek kebijakan, strategi implementasi, dan perumusan model konseptual. Penulis menekankan bahwa keberhasilan teknologi pendidikan sangat bergantung pada kehadiran negara. Pemerintah dituntut untuk tidak hanya menyusun kerangka kebijakan dan menyediakan infrastruktur internet secara merata, tetapi juga meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya kompetensi digital para guru. Di samping itu, perguruan tinggi harus berperan sebagai innovation hub yang melahirkan penelitian dan inovasi teknologi, sekaligus melakukan pengabdian untuk meningkatkan literasi digital masyarakat. Semua ini hanya dapat terwujud melalui kolaborasi multi-pemangku kepentingan (triple helix collaboration) antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat.

Sebagai rujukan nyata, buku ini menyajikan studi kasus global dari negara-negara yang telah sukses mengimplementasikan pendidikan digital. Korea Selatan dengan program Smart Education, Singapura melalui ICT Masterplan for Education, dan India dengan platform SWAYAM menjadi bukti empiris bahwa dukungan kebijakan nasional yang kuat dan investasi infrastruktur yang masif dapat menjembatani kesenjangan pendidikan secara signifikan.

Kontribusi puncak sekaligus pembeda utama dari buku ini adalah rumusan Social Welfare Educational Technology Model (SWETM). Model konseptual ini merupakan kerangka kerja integratif yang memetakan alur logis dari implementasi teknologi menuju kesejahteraan sosial. Model SWETM dimulai dari (1) inovasi Teknologi Pendidikan yang bertindak sebagai motor penggerak; yang kemudian memperluas (2) Akses Pendidikan tanpa batas ruang dan waktu; hal ini secara langsung berdampak pada (3) Peningkatan Kompetensi abad ke-21 bagi individu; yang kemudian bermuara pada (4) Pemberdayaan Individu dan Masyarakat untuk mandiri dan mengambil keputusan; sehingga menciptakan (5) Produktivitas Ekonomi yang tinggi di pasar kerja; dan pada titik akhirnya melahirkan (6) Kesejahteraan Sosial yang inklusif, adil, dan berkelanjutan.

Model SWETM membuktikan bahwa integrasi teknologi tidak boleh berhenti pada tahap transfer pengetahuan, tetapi harus berorientasi pada peningkatan kapabilitas dan kebebasan manusia untuk menjalani kehidupan yang bermakna. Implikasi kebijakannya jelas: pengembangan kurikulum berbasis digital, investasi besar-besaran pada infrastruktur di daerah perbatasan dan 3T, peningkatan kapasitas pedagogi digital guru, dan penguatan kolaborasi lintas sektor.

Secara keseluruhan, buku Teknologi Pendidikan dan Kesejahteraan Sosial: Integrasi Konsep dan Praktik adalah sebuah karya intelektual yang sangat bernas dan komprehensif. Dengan gaya bahasa yang sistematis dan akademis namun tetap aplikatif, para penulis berhasil meyakinkan pembaca bahwa teknologi pendidikan adalah “senjata” paling ampuh untuk meretas kemiskinan dan membangun ekosistem sosial yang berkeadilan di abad ke-21. Buku ini sangat direkomendasikan bagi para pembuat kebijakan, pendidik, mahasiswa, serta siapa saja yang peduli terhadap masa depan pendidikan dan kemajuan bangsa Indonesia.

Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!

DAFTAR ISI

Daftar Isi 1
Slider Caption
Slider Caption
Slider Caption
Slider Caption
Previous
Next

Spesifikasi Buku

Cetakan I, Agustus 2026; 270 hlm, ukuran 15,5 x 23 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, Hard cover dan shrink bungkus plastik.

Harga Buku

Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.

Rp 120.000

Rp 109.900

Tentang Penulis

Prof. Dr. Agus Suradika, MPd,

Prof. Dr. Agus Suradika, MPd, lahir di Jakarta, 21 Agustus 1962, dikukuhkan sebagai Guru Besar pada tahun 2006. Dia adalah Guru Besar tetap bidang Metodologi Penelitian Sosial di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Dia memiliki minat khusus di bidang ilmu Kesejahteraan Sosial, Teknologi Pendidikan, Kebijakan Publik, dan Pendidikan Islam. Meraih gelar sarjana di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta (1987), Magister Ilmu Pendidikan, di IKIP Jakarta (1992), dan sebagai lulusan terbaik (cumlaude) dalam meraih gelar Doktor di Universitas Negeri Jakarta (2000). Mengajar di FISIP UMJ,
Program Pascasarjana (PPS) Universitas Muhammadiyah Jakarta, PPS Universitas Ngurah Rai Bali dan Tim Penguji Program Doktor Universitas Negeri Jakarta dan Universitas Pakuan, Bogor. Saat ini menjabat sebagai Rektor Universitas Tekhnologi Muhammadiyah Jakarta, pernah menjabat sebagai Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Jakarta, dan Pengurus Ikatan Cendekiawan Jakarta (2018-2022). Menulis 24 buku, melakukan 17 penelitian,
dan mempublikasi 94 artikel di berbagai jurnal

Prof. Dr. Azhari Aziz Samudra, MSi.

Prof. Dr. Azhari Aziz Samudra, MSi., lahir di Pekanbaru, 05 Mei 1962, dikukuhkan sebagai Guru Besar di tahun 2010. Dia merupakan Guru Besar FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta yang memiliki minat khusus di bidang ilmu kebijakan, pendidikan, pemerintahan daerah, kearifan lokal, agama, dan astronomi. Dia meraih gelar sarjana Fiskal, di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, di Universitas Indonesia (1986), Magister Sains, bidang Bisnis Administrasi di Universitas Indonesia (1991), dan gelar Doktor, di Universitas Indonesia (2008). Mengajar di FISIP UI, Program Pascasarjana (PPS) Universitas Muhammadiyah Jakarta, PPS Universitas Ngurah Rai Bali, PPS Universitas Krisnadwipayana; Tim Penguji Program Doktor. Diktilitbang SDM Pengurus Pusat Muhammadiyah, Ketua Dewan Pakar Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PWM Jakarta, Ketua Senat Universitas Muhamadiyah Jakarta, dan Ketua LP4S. Pernah menjabat sebagai Presiden Asia Pacific Society for Public Affairs (2014-2017), Direktur Local Government Innovation Center (2018-2022), Dekan Fakultas (2014-2020), dan Pengurus Ikatan Cendekiawan Jakarta (2018-2022). Dia telah memimpin banyak kelompok penelitian yang diterbitkan dalam bentuk buku dan artikel.

Dr. Susi Susilawati, S.E., M.M.

Dr. Susi Susilawati, S.E., M.M., lahir di Tasikmalaya, 10 Januari 1986. Meraih gelar sarjana Ekonomi di STIE Muhammadiyah Jakarta dan berhasil diselesaikan pada tahun 2010. Selanjutnya, memperoleh gelar Magister Manajemen dari Universitas Prof. Dr. HAMKA pada tahun 2013. Komitmen dalam pengembangan akademik terus dilanjutkan hingga meraih gelar Doktor dari Universitas Trisakti pada tahun 2024. Dalam bidang akademik, aktif sebagai dosen tetap di Fakultas Ekonomi, Sosial, dan Humaniora Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta serta turut mengajar di Universitas Terbuka. Pengalaman, organisasi dan kepemimpinan akademik di antaranya pernah menjabat sebagai Accounting dan Ketua Program Studi Diploma III Akuntansi di STIE Muhammadiyah Jakarta.

Saat ini ini dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Rektor II di Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta. Selain aktif dalam kegiatan pendidikan dan manajerial perguruan tinggi aktif juga dalam bidang penelitian dan publikasi ilmiah. Fokus kajian yang ditekuni meliputi bidang ekonomi, sustainability, tata kelola perusahaan, perpajakan, dan akuntansi. Hingga saat ini telah mempublikasikan 55 artikel ilmiah di berbagai jurnal nasional maupun internasional. Di bidang kepenulisan buku, telah menghasilkan beberapa buku ajar dan buku referensi.