TAWA, TANGIS, DAN KENANGAN Masa di Tsanawiyah Angkatan 92 Cerita yang Takkan Kembali

 

Buku ini adalah kumpulan kisah tentang perjalanan, persahabatan, perjuangan, dan kenangan para siswa Tsanawiyah yang tumbuh bersama dalam suka dan duka masa remaja. Setiap cerita menghadirkan pelajaran hidup sederhana yang membentuk karakter dan meninggalkan jejak hingga dewasa.

Lorong Waktu Bernostalgia ke Masa Tsanawiyah Angkatan 92

Masa remaja, khususnya masa-masa di sekolah menengah pertama, acap kali disebut sebagai fase kehidupan yang paling penuh warna. Fase di mana transisi dari masa kanak-kanak menuju kedewasaan mulai terbentuk, diwarnai dengan pencarian jati diri, persahabatan yang tulus, cinta monyet yang menggemaskan, hingga kenakalan-kenakalan yang kelak menjadi bahan tertawaan di masa tua. Hal inilah yang terekam dengan sangat apik, jujur, dan emosional dalam buku berjudul Tawa, Tangis, dan Kenangan: Masa di Tsanawiyah Angkatan 92, Cerita yang Takkan Kembali karya Arde Wisben dan kawan-kawan.

Buku setebal 386 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit Samudra Biru ini bukanlah sekadar kumpulan cerita pendek biasa. Ia adalah sebuah monumen ingatan, sebuah kapsul waktu yang dihidupkan kembali oleh para alumni Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Koto Nan Ampek, Payakumbuh, angkatan kelulusan tahun 1992. Latar belakang lahirnya buku ini pun terasa begitu melankolis. Semuanya berawal dari sebuah kehilangan yang mendadak, kepergian seorang sahabat bernama Rinaldi pada malam takbiran Idul Fitri 1447 H. Kehilangan tersebut menyadarkan para alumni bahwa usia dan waktu terus berjalan, dan memori yang tidak dituliskan perlahan akan terkikis. Melalui “ledakan” percakapan di grup WhatsApp selama tiga minggu pada bulan April 2026, kepingan-kepingan memori yang berserakan itu akhirnya dikumpulkan dan ditenun menjadi sebuah karya literatur yang utuh, yang juga didedikasikan bagi kawan-kawan mereka yang telah lebih dulu berpulang ke Sang Pencipta.

Bagi para pembaca, khususnya mereka yang pernah merasakan manis-getirnya kehidupan sekolah di era awal 90-an, buku ini menyajikan mesin waktu yang sempurna. Penulisnya tidak menggunakan bahasa yang mendayu-dayu, melainkan narasi keseharian yang apa adanya, otentik, dan tak jarang mengundang gelak tawa sekaligus air mata. Melalui ulasan komprehensif ini, kita akan menyelami bagaimana buku ini merangkum sebuah potret sosiologis dan psikologis dari anak-anak pedesaan di Sumatera Barat yang merantau demi menuntut ilmu.

Lika-Liku Kehidupan Anak Rantau dan Dinamika Kenakalan Remaja di Sekolah

Salah satu kekuatan utama dari buku ini adalah kemampuannya memotret realitas kehidupan siswa madrasah di era 90-an yang jauh dari kata mewah. Bab-bab awal buku ini menceritakan keragaman motivasi para siswa saat mendaftar ke MTsN. Ada yang masuk karena mengikuti aturan ketat orang tua yang mewajibkan anak perempuannya sekolah agama, ada pula yang menghindari sekolah umum semata-mata karena malu jika disuruh berlari mengenakan celana pendek saat pelajaran olahraga. Kepolosan anak-anak ini tergambar jelas, seperti kisah seorang siswi yang datang mendaftar seorang diri dengan seragam merah-putih SD di tengah kerumunan calon siswa lain yang sudah berpakaian muslimah rapi.

Lebih jauh, buku ini menyoroti heroisme kecil dari anak-anak kampung yang menempuh jarak jauh demi sebuah pendidikan. Terdapat kisah anak dari Nagari Sikabu-kabu yang harus berjalan kaki sejauh enam kilometer setiap harinya menuju Bukit Sitabur hanya untuk mendapatkan angkutan pedesaan menuju Payakumbuh. Ada pula siswa dari Baruah Gunuang dan Andiang, yang rela tinggal berdesakan di asrama atau mengabdi menjadi Garin (penjaga masjid) demi bisa bersekolah. Perjuangan hidup mereka di kos-kosan atau asrama digambarkan dengan sangat detail dan menguras emosi. Bagaimana mereka harus antre mandi setiap pagi hari, bertahan dengan bekal makanan yang sangat terbatas, hingga mencuri lauk (samba) diam-diam di bawah tudung saji akibat lapar yang tak tertahankan di malam hari. Hidup jauh dari orang tua, harus mencuci baju sendiri, hingga diusir dari kos karena kesalahpahaman sepele seperti menjawab sapaan ibu kos dengan kata “Aa” atau dituduh mengotori kamar mandi, menjadi bumbu pahit-manis pendewasaan diri mereka.

Selain perjuangan bertahan hidup, buku ini tidak akan lengkap tanpa narasi tentang kenakalan remaja. Ruang kelas dan lingkungan sekolah menjadi saksi bisu berbagai kelakuan mbeling para siswa. Mulai dari bolos kelas dan bersembunyi di tobek (kolam ikan), membobol tembok batako sekolah demi membuat jalan pintas agar tidak ketahuan guru piket saat terlambat, hingga membuat panggilan telepon palsu (prank call) ke ruang kepala sekolah yang berujung pada pemanggilan orang tua.

Salah satu cerita yang paling jenaka dan tak terlupakan adalah insiden gigi copot saat pelajaran Fisika. Di tengah kelas yang gaduh, seorang guru perempuan paruh baya yang sedang marah tiba-tiba kehilangan gigi palsunya yang terlempar dan mendarat mulus di atas meja. Tawa para siswa yang pecah tak terbendung, yang berujung pada instruksi wali kelas agar seluruh siswa menulis surat pernyataan penyesalan, adalah adegan komedi klasik yang ditulis dengan sangat brilian. Tidak hanya itu, dinamika tawuran antar-siswa yang dipicu oleh adu domba hingga digiring oleh Lurah setempat, serta perkelahian di gerbang sekolah membuktikan bahwa masa remaja mereka dilalui dengan letupan hormon yang nyata.

Kisah Persahabatan Sejati, Cinta Monyet, dan Pelajaran Hidup yang Mendalam

Buku Tawa, Tangis, dan Kenangan tidak berhenti pada kisah-kisah lucu dan heroik. Memasuki pertengahan hingga akhir buku, pembaca akan dibawa pada gelombang emosi yang lebih mendalam, menyoroti persahabatan yang menembus batas fisik serta cinta monyet khas remaja yang dipendam dalam diam.

Bagian paling mengharukan dan menjadi mahkota dari buku ini adalah kisah tentang “Uda”, seorang siswa penyandang disabilitas netra yang bersekolah di kelas mereka. Integrasi siswa difabel ke sekolah umum di era 90-an belumlah selazim sekarang, namun teman-teman sekelas Uda menerimanya dengan kehangatan luar biasa. Mereka belajar mengenal huruf Braille dari bunyi tak-tik ketukan stylus Uda, menemaninya menyalin catatan Bahasa Indonesia, hingga bergantian memboncengnya dengan sepeda setiap berangkat dan pulang sekolah. Momen heroik Uda saat memimpin pembacaan Undang-Undang Dasar 1945 di tengah upacara bendera tanpa bantuan teks, melainkan dari ingatannya yang tajam, sukses membuat seluruh lapangan sekolah, termasuk wali kelas, meneteskan air mata.

Namun, kisah persahabatan ini harus berakhir dengan tragedi. Suatu hari, Uda pamit untuk berkunjung ke rumah temannya di Barulak, namun ia tak pernah kembali ke asrama. Beberapa waktu kemudian, tubuhnya ditemukan telah kaku terbujur di aliran sungai di bawah sebuah jembatan kecil. Kehilangan Uda menjadi pukulan telak bagi angkatan ini. Proses pemandian jenazah hingga pemakaman sang sahabat yang melibatkan para siswa Tsanawiyah, menyadarkan mereka bahwa persahabatan sejati tak pernah memandang fisik, dan kehilangan selalu datang tanpa aba-aba.

Di sisi lain, buku ini juga manis dalam merekam memori asmara remaja. Bagaimana debar jantung berdetak kencang saat menerima surat rahasia beramplop kuning yang harus dibaca sembunyi-sembunyi di dalam toilet sekolah. Ada pula kisah tentang kado buku harian (diari) dari pengagum rahasia yang tak pernah berani mengungkapkan kata-kata, hingga seorang siswa yang mencarikan setangkai bunga mawar (ros) ke kebun ibu kos demi pujaan hatinya, yang berakhir tragis karena ia ketahuan tertidur dan bermimpi di tengah jam pelajaran. Di tengah dinamika asmara ini, hadirlah nasihat bijak dari seorang guru bernama Bu EA, yang mengibaratkan perasaan remaja seperti aliran air di bendungan. Jika terus ditekan, ia akan jebol. Perasaan itu normal, namun harus diarahkan sebagai motivasi untuk menggapai masa depan yang lebih baik, bukan sebagai ajang hura-hura.

Pada akhirnya, buku ini juga merekam besarnya tekad anak-anak Tsanawiyah Angkatan 92 dalam menggapai cita-cita demi mengangkat derajat keluarga. Seleksi Jambore Nasional (Jamnas) Pramuka 1991 menjadi arena pertarungan gengsi dan mentalitas. Jatuh bangun dalam seleksi, tangis kegagalan karena tidak lolos, hingga kebanggaan mereka yang berangkat dan pulang membawa pengalaman berharga. Tekad itu juga terlihat saat para siswa berjuang mati-matian mengejar beasiswa masuk MAN-PK, hingga mengayuh sepeda puluhan kilometer mengurus KTP demi mengejar pendaftaran ke SMA Taruna Nusantara di Magelang yang sayangnya berujung pada kegagalan di tahap provinsi. Kepedihan seorang siswa lulusan terbaik yang tak sempat membuat ayahnya bangga berdiri di atas panggung perpisahan akibat kebijakan pembatalan pengumuman nilai, menjadi epilog emosional yang mengajarkan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana.

Secara keseluruhan, Tawa, Tangis, dan Kenangan: Masa di Tsanawiyah Angkatan 92 adalah representasi mahakarya memori kolektif yang berhasil diubah menjadi literasi yang berharga. Bagi para pakar SEO, meresensi buku ini dengan kata kunci seperti “buku nostalgia sekolah”, “kenangan MTsN era 90-an”, “kisah inspiratif siswa madrasah”, hingga “memoar persahabatan sejati” akan sangat mudah merajai mesin pencarian karena nilainya yang sangat menyentuh hati (heartwarming). Buku ini membuktikan bahwa kenangan masa putih-biru, betapapun jauhnya ia tertinggal di belakang, akan selalu memiliki ruang istimewa untuk pulang, diceritakan kembali, dan direnungkan sebagai fondasi pembentuk kedewasaan kita di masa kini. Sebuah bacaan yang amat direkomendasikan bagi siapa saja yang ingin merayakan kehidupan dan persahabatan.

Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!

DAFTAR ISI

Daftar Isi 1
Daftar Isi 2
Slider Caption
Slider Caption
Slider Caption
Slider Caption
Slider Caption
Slider Caption
Previous
Next

Spesifikasi Buku

Cetakan I, Juni 2026; 404 hlm, ukuran 14 x 20 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, Hard cover dan shrink bungkus plastik.

Harga Buku

Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.

Rp 150.000

Rp 141.300

Tentang Penulis

Abdie Hasfa; Abdinur; Albetri; Afdhal Kamal Andi Yutran; Arde Wisben; Darma Ichlas; Defi; Irwanto; Desi Mitra; Desita Astra Dewita; Dewi Susanti; Dona Octavia; Elfita Rianis; Fadila Wati; Faizer; Firdayati; Fitri;Darmayanti; Fuadi Afkar ;Herminda ; Hesti Defriana ; Ibrahim ; Ihda Wahyuni ; Ilhamul Fajri ; Indra Noferi ; Jeni Warman ; Kuntum Mardiah ; Martono ; Masrizal ; Mesrayuanto ; Melria Dearvi ; Murnita ; M. Farid Wajri ; Okta Donis ; Rafles ; Rahma Wati ; Rahma Wirna ; Rahmi Wirni ; Rince Alfia Fadri ; Rinaldi ; Rusyda ; Satria Renoldi ; Sosiadeka Puti
Susi Nofrianti ; Susi Sumarni ; Syamsul Hayati ; Wasilul Akmal ; Yance ; Yosrizal ; Yuswelti ; Yuni Helva ; Zarmis ; Zikra ; Zulfa Ariyanthi