SULUH DARI SAPEKEN; Pesantren Persis Abu Hurairah dan Dakwah untuk Perubahan Masyarakat Kepulauan

Buku ini adalah sebuah rekam jejak historis dan sosiologis yang mengupas tuntas peran Pesantren Persatuan Islam (Persis) No. 95 Abu Hurairah sebagai agen transformasi sosial di Kepulauan Sapeken, Madura. Melalui kajian mendalam buku ini melihat bagaimana sebuah institusi pendidikan agama di wilayah kepulauan terpencil mampu melampaui fungsi tradisionalnya untuk menghadirkan dakwah transformatif yang memberikan solusi atas problematika pendidikan, ekonomi, politik, hingga ekologi masyarakat pesisir. 

Jejak Inspiratif Pesantren Persis Abu Hurairah dalam Menggerakkan Perubahan Sosial di Kepulauan

Dalam lanskap sejarah dan sosiologi pendidikan Islam di Nusantara, pondok pesantren selalu menempati posisi yang sangat strategis. Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai menara gading tempat para santri mendalami ilmu agama (tafaqquh fiddin), tetapi juga hadir sebagai agen transformasi sosial yang hidup dan bernapas bersama denyut nadi masyarakat di sekitarnya. Peran multidimensional inilah yang dipotret dengan sangat tajam, komprehensif, dan menggugah oleh Prof. Dr. H. M. Bahri Ghazali, M.A., melalui karya monumentalnya yang berjudul Suluh dari Sapeken: Pesantren Persis Abu Hurairah dan Dakwah untuk Perubahan Masyarakat Kepulauan. Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Samudra Biru ini merupakan sebuah kajian deskriptif kualitatif yang membuka mata kita tentang heroisme dakwah di wilayah kepulauan terpencil yang sering kali luput dari radar pembangunan nasional.

Buku setebal 88 halaman ini tidak sekadar menceritakan sejarah berdirinya sebuah institusi pendidikan, melainkan menyajikan sebuah narasi epik tentang bagaimana sebuah lembaga pendidikan mampu merespons, mengurai, dan memberikan solusi atas problematika sosial yang akut. Berlatar di Kepulauan Sapeken, sebuah wilayah maritim di Kabupaten Sumenep, Madura, buku ini menyoroti kiprah Pesantren Persatuan Islam (Persis) No. 95 Abu Hurairah. Di tengah keterbatasan akses transportasi, minimnya penerangan listrik, dan kuatnya belenggu kemiskinan serta keterbelakangan budaya, pesantren ini hadir layaknya sebuah “suluh” atau obor penerang yang membawa cahaya peradaban. Penulis dengan sangat apik merangkum perjalanan dakwah yang bertransformasi dari sekadar penyampaian pesan lisan (dakwah informatif) menjadi gerakan pembebasan yang menyentuh akar permasalahan ekonomi, politik, pendidikan, dan ekologi masyarakat pesisir (dakwah transformatif). Ulasan berikut akan membedah secara naratif bagaimana isi buku ini merangkum sebuah epik perjuangan di ujung timur Pulau Madura.

Pesantren Persis Abu Hurairah: Dari Rintisan Tradisional Menuju Lentera Pendidikan Modern

Membaca buku ini membawa kita pada sebuah lorong waktu yang menelusuri akar historis berdirinya Pesantren Persis No. 95 Abu Hurairah. Penulis memaparkan bahwa sejarah pesantren ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan merupakan estafet perjuangan panjang yang diinisiasi oleh Puan KH. Abu Hurairah, seorang ulama kharismatik penyebar Islam di Kepulauan Sapeken. Pada awalnya, dakwah dilakukan melalui pendekatan tradisional berupa majelis taklim, pengajian sorogan, bandongan, dan wetonan dari rumah ke rumah hingga ke masjid-masjid. Pendekatan kultural ini berhasil menanamkan fondasi akidah di tengah masyarakat kepulauan yang saat itu masih kuat dipengaruhi oleh kepercayaan mistis, tahayul, khurafat, dan budaya pedukunan.

Tongkat estafet perjuangan tersebut kemudian diteruskan oleh putra beliau, Ustadz H. Ad-Dailamy Hurairah, yang memiliki rekam jejak pendidikan pesantren modern dan reformis dari Pesantren Persis Bangil, Jawa Timur. Melalui tangan dingin Ustadz Ad-Dailamy, dibentuklah Yayasan Islam Abu Hurairah pada tahun 1973, yang kemudian menjadi embrio berdirinya Pesantren Persis No. 95 Abu Hurairah secara resmi pada tahun 1976. Buku ini mendeskripsikan secara memukau bagaimana Ustadz Ad-Dailamy memadukan nilai-nilai tradisionalis (Salaf) dengan sistem pendidikan modernis (Khalaf). Kepemimpinan beliau digambarkan sangat demokratis, komunikatif, dan terbuka, tidak otoriter seperti manajemen pesantren tradisional yang murni berbasis kekerabatan. Hal ini memungkinkan pesantren berkembang pesat dan diterima oleh berbagai lapisan masyarakat.

Dari segi sistem pendidikan, buku ini merangkum evolusi Pesantren Persis Abu Hurairah yang sangat luar biasa. Dimulai dari hanya menumpang di SD Negeri Sapeken 1 untuk menyelenggarakan Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) pada sore hari, pesantren ini terus berekspansi. Bantuan dai sukarelawan dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) pada masa-masa awal turut memperkuat fondasi keilmuan pesantren. Seiring berjalannya waktu, pesantren ini mendirikan asrama (pondok) untuk santri putra dan putri, serta mengembangkan jenjang pendidikan yang sangat komprehensif. Mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK), TK Islam Terpadu (TKIT), SD Islam Terpadu (SDIT), Madrasah Diniyah (MD), Madrasah Aliyah (MA), hingga sukses merintis perguruan tinggi bernama Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan Islam (STIPI). Hal ini menunjukkan komitmen pesantren yang tidak hanya berafiliasi pada Kementerian Agama, tetapi juga Kementerian Pendidikan Nasional, guna memastikan santri memiliki daya saing yang diakui secara nasional melalui ijazah resmi.

Tidak hanya mengandalkan pendidikan formal, daya tarik utama yang diulas secara naratif dalam buku ini adalah “Sistem Pendidikan Sosial” atau kurikulum ekstrakurikuler yang dirancang untuk mencetak alumni yang siap pakai di tengah masyarakat (khairu ummah). Santri tidak hanya dijejali dengan kajian kitab klasik seperti Bulughul Maram atau Subulus Salam, tetapi juga ditempa dengan keterampilan praktis. Program-program seperti Muhadharah (latihan berpidato/dakwah), Munadharah (seni debat hukum Islam), Risalah Ilmiyah Syahriyah (pelatihan karya tulis jurnalistik), hingga keterampilan kewirausahaan dan koperasi menjadi menu wajib. Hebatnya lagi, pesantren ini juga membekali santrinya dengan keterampilan medis alternatif melalui program Thibbun Nabawi (seperti bekam dan pijat refleksi) serta layanan kebidanan untuk santri putri. Puncak dari pendidikan sosial ini adalah Rihlah Tarbawiyah (study tour) ke ibu kota dan berbagai lembaga negara untuk membuka wawasan kebangsaan santri. Kombinasi pendidikan inilah yang menjadikan alumni Pesantren Persis Abu Hurairah Sapeken sebagai dai-dai tangguh yang diekspor hingga ke Bali, NTB, NTT, Kalimantan, dan Sulawesi.

Dakwah Transformatif: Mengurai Problematika Ekologi, Ekonomi, dan Sosial Masyarakat Kepulauan

Pada bagian ini, Prof. Dr. H. M. Bahri Ghazali menyajikan analisis sosiologis yang sangat tajam mengenai kondisi riil masyarakat Kepulauan Sapeken. Buku ini memotret realitas pahit masyarakat maritim dan agraris yang terisolasi dari kemajuan kota kabupaten maupun provinsi. Tantangan yang dihadapi sangatlah multidimensional: kemiskinan yang mencekik akibat terbatasnya mata pencaharian nelayan tradisional, rendahnya tingkat pendidikan (buta huruf), maraknya penyakit masyarakat (pekat) seperti judi, minuman keras, dan kesenian yang mengumbar aurat (tari niga), hingga ketertindasan secara politik di era Orde Baru yang membuat masyarakat apatis terhadap pemerintah. Di samping itu, ancaman ekologis juga mengintai, seperti abrasi pantai dan hancurnya terumbu karang akibat praktik pengeboman ikan yang merajalela.

Menghadapi tumpukan problematika tersebut, Pesantren Persis Abu Hurairah tidak memilih untuk menutup diri di balik tembok asrama. Sebaliknya, pesantren merumuskan strategi dakwah transformatif—sebuah pendekatan yang memposisikan dakwah bukan sekadar bil lisan (ceramah di atas mimbar) atau bil kitabah (melalui tulisan), tetapi yang paling utama adalah dakwah bil hal (aksi nyata). Pesantren meletakkan dasar bahwa dakwah harus solutif (menyelesaikan masalah) dan developmental (mengembangkan potensi sumber daya alam kepulauan yang sangat kaya).

Dalam bidang perbaikan moral dan akidah, pesantren membentuk Barisan Anti Maksiat (BAM) dan aktif melakukan pemurnian tauhid dari praktik syirik, serta mengganti hiburan maksiat dengan kesenian Islami seperti nasyid, mawalan, dan teater. Di sektor ekonomi, pesantren mendirikan Baitul Mal wa Tamwil (BMT), koperasi, dan mengadakan pelatihan kewirausahaan untuk melepaskan masyarakat dari jerat kemiskinan. Buku ini juga mencatat inisiatif luar biasa pesantren dalam membangun Balai Layanan Kesehatan Masyarakat (BLKM) untuk merespons minimnya fasilitas kesehatan di kepulauan.

Lebih jauh lagi, kepeloporan pesantren di bidang politik dan ekologi mendapat porsi pembahasan yang sangat inspiratif. Di tengah ketakutan masyarakat terhadap represi politik masa lalu, Ustadz Ad-Dailamy memberikan pendidikan politik yang sehat, memperkenalkan partai-partai Islam, dan mengajarkan prinsip Pemilu yang LUBER (Langsung, Umum, Bebas, Rahasia). Slogan “SAPEKEN BERSATU” (Bersih, Sehat, Amanah, Tertib, dan Uswatun Hasanah) digemakan untuk membangun keharmonisan antara rakyat dan pemerintah daerah. Dalam hal ekologi, pesantren memimpin langsung gerakan penanaman pohon bakau (mangrove) untuk mencegah abrasi laut, serta memberikan penyuluhan tanpa henti untuk menghentikan praktik pengeboman ikan dan penggunaan potasium yang merusak terumbu karang dan mematikan mata pencaharian nelayan jangka panjang. Bahkan, pesantren berani memberikan tadzkiroh (peringatan moral) kepada pengelola tambang minyak lepas pantai agar tidak mengabaikan hak-hak ibadah pekerjanya.

Keberhasilan manuver dakwah ini tidak lepas dari kemampuan pesantren membangun jaringan kolaborasi tingkat tinggi. Buku ini merangkum berbagai kemitraan strategis, seperti kerja sama dengan Departemen Pertanian yang mengucurkan dana ratusan juta rupiah untuk pemberdayaan petani, kerja sama dengan Departemen Kelautan dan Kehutanan, hingga kemitraan internasional dengan Universitas Tokyo Jepang. Melalui penelitian Prof. Dr. Nagatsu Kazukumi tentang Suku Bajo di Sapeken, yang akhirnya berujung pada konversi agama sang profesor menjadi mualaf berkat interaksi intensif dengan Ustadz Ad-Dailamy, membuktikan bahwa radiasi dakwah pesantren ini telah menembus batas-batas negara. Tentu saja, penulis tidak menutup mata terhadap berbagai kendala yang ada. Tantangan geografis, jadwal kapal perintis yang terbatas, infrastruktur listrik yang hidup segan mati tak mau, keterbatasan sinyal telekomunikasi, serta minimnya pendanaan tetap menjadi batu sandungan. Namun, semangat militansi, keikhlasan para ustadz, dan dukungan penuh dari masyarakat nelayan yang dengan ikhlas menyumbangkan hasil tangkapannya untuk pesantren, menjadi bahan bakar yang tak pernah habis.

Secara keseluruhan, buku Suluh dari Sapeken adalah sebuah literatur wajib bagi para akademisi, pemerhati sosial, pengambil kebijakan, serta para pegiat dakwah dan pendidikan di seluruh Indonesia. Prof. Dr. H. M. Bahri Ghazali berhasil merangkum dengan sangat mendalam bahwa eksistensi Pesantren Persis No. 95 Abu Hurairah adalah bukti nyata bagaimana agama dapat difungsikan sebagai instrumen pembebasan dan pemberdayaan. Dakwah yang diusung bukanlah dakwah yang menghakimi, melainkan dakwah yang merangkul, menyembuhkan, dan membangun peradaban. Buku ini meyakinkan kita bahwa dari sebuah pulau kecil di ujung timur Madura yang terisolasi, telah menyala sebuah suluh peradaban yang cahayanya mampu menerangi dan menginspirasi seluruh negeri. Sejatinya, Pesantren Persis Abu Hurairah telah berhasil menerjemahkan ayat suci ke dalam bahasa kerja yang paling nyata bagi kesejahteraan umat manusia.

Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!

DAFTAR ISI

Daftar Isi 1
Daftar Isi 2
Previous
Next

Spesifikasi Buku

Cetakan I, November 2025;  108 hlm, ukuran 15,5 x 23 cm, kertas isi Bookpaper hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, jilid lem panas (soft cover) dan shrink bungkus plastik.

Harga Buku

Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.

Rp 100.000

Rp 87.600

Tentang Penulis

Prof. Dr. H.M. Bahri Ghazali, M.A.

guru besar Studi Agama-Agama di UIN Raden Intan Lampung, sebelumnya menjadi guru besar dan dekan Fak. Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang sejak 1 Agustus 2012 mutasi memberikan kuliah tetap di Program S1, S2 dan S3 UIN Raden Intan Lampung hingga sekarang dalam mata kuliah Kesehatan Mental (S1), Konseling Lintas Agama dan Budaya (S1), Prencanaan Kebijakan Sosial (S2) Filsafat Ilmu Dakwah (S3) dan Perkembangan Dakwah Masyarakat Pluralis (S3). Penulis juga aktif meneliti, menulis buku kurang lebih 20 buku seputar studi agama, filsafat dan Dakwah serta lingkungan Hidup. Memasuki usianya yang ke 70 tahun mengabdikan diri mengelola manajemen masjid, TPA dan majlis taklim pada masjid pribadinya untuk pemberdayaan umat.