SAKINAH JADI MUDAH Merawat Cinta dengan Sederhana
Di tengah lelah yang tak terucap dan jarak yang tak disadari, pernikahan hanya bisa tetap hidup jika cinta diberi ruang untuk pulang dan bertumbuh menjadi sakinah.
Dunia Bergerak Terlalu Cepat
Di tengah dunia yang bergerak serba cepat, hubungan pernikahan sering kali ikut terombang-ambing oleh ritme kehidupan yang padat. Pekerjaan yang menuntut, target yang harus dikejar, serta tekanan
finansial membuat pasangan suami-istri menjalani hidup terasa berat. Bicara tak sempat, waktu yang tersisa di rumah kerap hanya menjadi ruang istirahat. Menyedihkannya hanya istirahat fisik, bukan ruang
pemulihan batin yang terusik. Tanpa disadari, cinta yang dulu hangat mulai kehilangan tempat.
Kesibukan modern juga membuat banyak pasangan hidup dalam mode bertahan. Mereka hadir secara fisik, tetapi tidak benar-benar hadir secara emosional. Gadget dan media sosial menghabiskan perhatian, sementara percakapan sederhana mulai jarang dilakukan. Hubungan yang tidak dipupuk perlahan akan retak, bukan karena kurang cinta, tetapi karena kurang kesempatan untuk saling menjaga. Dalam keheningan yang panjang itu, jarak emosional mulai terbentuk tanpa sadar.
Tekanan eksternal, tuntutan kerja, ekspektasi keluarga besar, perbandingan dengan kehidupan orang lain di media sosial menambah beban yang harus dipikul bersama. Suami istri yang seharusnya menjadi
satu tim justru bisa berubah menjadi dua orang yang saling tak tegur sapa. Energi yang habis di luar rumah membuat mereka lebih sensitif, mudah tersinggung, dan cepat merasa tidak dipahami oleh kekasih hatinya. Padahal, sebagian besar konflik bukan berasal dari niat buruk, melainkan dari lelah yang tak teraba.
Buku ini merupakan revisi dari buku sebelumnya, Sakinah Saat Wabah, yang saya tulis saat terjadi Pandemi. Isinya, hemat saya masih relevan dengan kehidupan di masa-masa sekarang walaupun bukan masa pandemi lagi. Saya merevisi dan melengkapi beberapa bagian, agar buku ini bisa semakin banyak manfaatnya. Menjadi buku bacaan semua usia dan apapun masanya.
Kok judulnya tetap Sakinah? Ya, karena sakinah merupakan tujuan pokok dan utama kita membangun pernikahan. Di saat pandemi seperti ini kecemasan, ketakutan, dan kekhawatiran merupakan makanan sehari-hari. Maka, kita semua pasti ingin mengetahui bagaimana cara-cara mendapatkan ketentraman dan ketenangan dalam keluarga di tengah pandemi. Semoga buku ini bisa berkontribusi walau hanya sedikit sekali.
Al-Birru Manittaqo, Fastabiqul Khairat!
Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!
DAFTAR ISI
Daftar Isi 1
Daftar Isi 2
Daftar Isi 3
Daftar Isi 4Spesifikasi Buku
Cetakan I, Desember 2025; 244 hlm, ukuran 14,8 x 21 cm, kertas isi HVS 72 gram, warna hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, jilid lem panas (soft cover) dan shrink bungkus plastik.
Harga Buku
Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.
Rp 150.000
Rp 103,900
Tentang Penyunting
Kitik Intarti
Kitik Intarti bernama asli INTARTI nama yang singkat, padat, dan mudah diingat. Sedangkan Kitik adalah nama panggilan sejak ia kecil. Lahir dan dibesarkan di Madiun, Jawa Timur. Kuliah di Yogyakarta hingga sekarang berkeluarga. Tak ingin meninggalkan Jogja, karena selain sudah kerasan juga karena di Jogja banyak kenangan. Buku ini merupakan buku keduanya, setelah berhasil menerbitkan buku pertamanya yang berjudul: BERBAGI MIMPI. Dari SD hingga kuliah SMA bersekolah di sekolah “plat merah”, SDN Darmorejo 02, SMP N 1 Mejayan, dan SMA N 1 Mejayan. Mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada. Jurusan Sastra Nusantara dan Ilmu Linguistik saat S2. Saat masih muda waktunya dihabiskan dengan ikut organisasi sekolah dan berlanjut saat kuliah. Suka dengan ekstrakurikuler Pramuka hingga saat SMP pernah jadi Pradana. Saat jadi Mahasiswa aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah hingga bertemu jodohnya di sana. Kegiatan sehari-harinya menjadi ibu rumah tangga dan aktif di organisasi perempuan muda Muhammadiyah (Nasyiatul Aisyiyah) di bidang media.