RUANG KOTA MALAKA SEBAGAI EKSPRESI SOSIAL DAN BUDAYA DALAM PERSPEKTIF ARSITEKTUR DAN URBANISME

Buku ini mengajak Anda menyusuri denyut sejarah dan transformasi ruang Kota Malaka—sebuah perjalanan yang membuka mata tentang bagaimana warisan masa lalu dapat tetap hidup di tengah dinamika kota modern.

Morfologi Kota Malaka

Kota adalah daerah permukiman yang terdiri atas bangunan rumah yang merupakan kesatuan tempat tinggal dari berbagai lapisan masyarakat. Maka, ruang kota adalah wadah fisik diatur untuk pusat permukiman, kegiatan ekonomi non-pertanian, pemerintahan, dan sosial. Memahami ruang kota berarti juga memahami proses sosial dan kultural yang membentuknya.

Kota Malaka merupakan salah satu kota bersejarah tertua di Asia Tenggara yang memiliki peranan penting dalam jaringan perdagangan maritim internasional. Berdasarkan perkembangannya, Kota Malaka melalui tiga periode utama, yaitu periode pra-kolonial, kolonial, dan pasca-kemerdekaan. Pada masa pra-kolonial, berdirinya Malaka berawal pada akhir abad ke-14 ketika Parameswara, pangeran dari Palembang, melarikan diri setelah kalah dalam perebutan kekuasaan di Kerajaan Majapahit. Ia kemudian menetap di Bertam, dekat muara Sungai Malaka, dan mendirikan kerajaan yang dinamainya Malaka, diambil dari nama pohon tempat ia beristirahat. Lokasi ini sangat strategis karena berada di jalur pelayaran yang menghubungkan India di barat dan China di timur, menjadikannya pelabuhan entrepot yang ramai dikunjungi pedagang dari berbagai negara. Setelah memeluk Islam pada tahun 1414, Parameswara mengembangkan Malaka sebagai pusat perdagangan sekaligus penyebaran agama Islam di kawasan Asia Tenggara. Aktivitas perdagangan yang intens menciptakan pola morfologi kota pelabuhan yang terbentuk dari interaksi budaya dan fungsi ekonomi (MBMB, 2019; Masrul & Samra, 2020).

Lahirnya buku ini tidak lepas dari kegelisahan sekaligus kekaguman kami terhadap sebuah kota yang menyimpan lapisan sejarah, budaya, dan ruang yang begitu kaya, yaitu Malaka. Malaka adalah kota tua yang dipenuhi bangunan bersejarah, juga sebuah bangunan sebagai ruang hidup yang terus berkembang, beradaptasi, dan menegosiasikan identitasnya dari masa ke masa. Kota ini tidak hanya menghadirkan warisan arsitektur kolonial dan tradisional, tetapi juga menunjukkan bagaimana masyarakatnya terus beradaptasi terhadap perubahan zaman melalui transformasi ruang, fungsi bangunan, dan pola aktivitas perkotaan.

Buku ini menelaah berbagai aspek pembentuk ruang kota, seperti morfologi kota, permeabilitas ruang, kontekstualitas bangunan, hingga praktik adaptive reuse pada bangunan bersejarah. Kami berharap buku ini tidak hanya menjadi referensi akademik, tetapi juga membuka ruang dialog tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian warisan budaya dan kebutuhan perkembangan kota.

Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!

DAFTAR ISI

Daftar Isi 1
Daftar Isi 2
Previous
Next

Spesifikasi Buku

Cetakan I, April 2026; 320 hlm, ukuran 15,5 x 23 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, Hard cover dan shrink bungkus plastik.

Harga Buku

Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.

Rp 180.000

Rp 165,400

Tentang Penulis

Prof. Dr. Ari Widyati Purwantiasning, S.T., MATRP., IAI., dkk

Menyandang gelar Master of Art in Town and Regional Planning (MATRP) dari Department of Civic Design, Faculty of Social and Environmental Studies, University of Liverpool, Inggris, 13 Desember 1999. Gelar Doktor diperolehnya pada tanggal 15 Juli 2019 dari Departemen Arsitektur,
Universitas Indonesia. Sejak September 2000, menjadi Dosen Tetap pada Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Jakarta,
dan memegang jabatan sebagai Ketua Jurusan periode 2004-2008 dan 2008-2012 serta sebagai Wakil Dekan I Bidang Akademik periode 2012-
2014. Sejak tahun 1997 mempunyai konsultan arsitektur dan interior pribad Aribahri Architect yang menangani berbagai disain arsitektur dan interior.