PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI PERGURUAN TINGGI UMUM Integrasi Islam, Seni, dan Desain

Buku ini berhasil meruntuhkan stigma bahwa pendidikan agama sering kali terasa berjarak dengan realitas profesi mahasiswanya. Melalui ulasan yang bernas, buku ini menyadarkan kita bahwa menjadi seorang akademisi, seniman, arsitek, atau desainer yang profesional tidak berarti harus menanggalkan identitas spiritualnya. Justru melalui karya cipta dan inovasi desain yang berlandaskan nilai-nilai keislaman, kreativitas manusia menemukan makna sejatinya: sebagai bentuk pengabdian kepada Sang Maha Pencipta sekaligus khidmat kepada kemanusiaan dan alam semesta.

Menggali Integrasi Nilai Islam, Seni, dan Desain di Era Modern

Di tengah laju perkembangan zaman yang ditandai oleh disrupsi teknologi digital, kecerdasan buatan, dan arus globalisasi, pendidikan tinggi sering kali dihadapkan pada sebuah tantangan besar: bagaimana melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara intelektual dan terampil secara profesional, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan integritas moral yang kokoh? Jawaban atas pertanyaan fundamental ini dikupas secara mendalam, komprehensif, dan menyegarkan dalam buku karya Dr. Jiyanto, S.Pd.I., M.Pd.I yang berjudul Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum: Integrasi Islam, Seni, dan Desain.

Buku setebal 204 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit Samudra Biru ini hadir bukan sekadar sebagai bahan ajar normatif yang kaku. Sebaliknya, karya ini menawarkan sebuah paradigma baru yang kontekstual dan integratif. Sang penulis dengan sangat apik membawa pembaca—khususnya kalangan mahasiswa, akademisi, dan praktisi di bidang industri kreatif—untuk melihat bahwa Islam bukanlah seperangkat doktrin yang terpisah dari realitas kehidupan. Islam adalah sumber nilai yang hidup, yang mampu menjiwai proses berpikir, mencipta, merancang, hingga berkomunikasi di era modern. Melalui gaya bahasa yang naratif dan akademis namun tetap mudah dicerna, buku ini berhasil merangkum seluruh esensi pendidikan agama, menjadikannya sebuah ulasan yang sangat relevan bagi perkembangan keilmuan kontemporer.

Fondasi Nilai Keislaman, Moderasi Beragama, dan Etika Digital di Perguruan Tinggi

Pada bagian awal karyanya, Dr. Jiyanto meletakkan batu pijakan yang sangat kuat mengenai hakikat Pendidikan Agama Islam (PAI) di Perguruan Tinggi Umum (PTU). PAI tidak lagi diposisikan sebagai mata kuliah pelengkap, melainkan sebagai fondasi nilai (value foundation) yang multidimensional. Penulis membedah ruang lingkup PAI ke dalam berbagai dimensi yang mencakup kognitif, afektif, psikomotorik, integratif-interdisipliner, hingga dimensi peradaban dan etika anti-korupsi. Hal ini menegaskan bahwa tujuan utama pendidikan Islam adalah mencetak insan kamil (manusia paripurna) yang mampu mentransformasikan nilai-nilai normatif agama menjadi praksis kehidupan yang nyata.

Buku ini kemudian mengajak pembaca untuk menyelami Islam sebagai sebuah sistem nilai (din) yang utuh dan komprehensif. Tiga pilar utama ajaran Islam, yakni aqidah sebagai fondasi keyakinan, syariah sebagai pedoman bertindak, dan akhlak sebagai implementasi perilaku, diulas dengan sangat tajam. Penulis menekankan bahwa tanpa aqidah yang kokoh, ilmu pengetahuan dapat kehilangan arah dan berpotensi disalahgunakan. Di sinilah letak urgensi internalisasi nilai-nilai religius seperti kejujuran, amanah, dan keadilan, yang pada gilirannya menjadi benteng pertahanan paling tangguh dalam mencegah perilaku koruptif di lingkungan akademik maupun profesional.

Lebih jauh, buku ini memberikan pencerahan mengenai sumber-sumber ajaran Islam—Al-Qur’an, Hadis, dan Ijtihad—serta pentingnya metodologi kontekstual dalam memahaminya. Penulis menyoroti bahwa pemahaman tekstual yang kaku sering kali melahirkan sikap keberagamaan yang sempit. Oleh karena itu, pendekatan yang mengintegrasikan teks dan konteks kesejarahan sangat diperlukan agar ajaran Islam senantiasa relevan menjawab dinamika zaman.

Salah satu gagasan paling krusial yang diangkat dalam buku ini adalah diskursus mengenai moderasi beragama (wasathiyah). Di tengah bayang-bayang radikalisme dan liberalisme yang sering kali memecah belah harmoni tatanan sosial, Dr. Jiyanto menawarkan moderasi sebagai jalan tengah yang berkeadilan. Empat pilar moderasi—yakni tawasuth (sikap tengah), tawazun (keseimbangan), tasamuh (toleransi), dan i’tidal (keadilan)—dijabarkan sebagai karakter utama ajaran Islam yang inklusif. Nilai-nilai ini menjadi sangat esensial bagi mahasiswa dalam merawat keberagaman di lingkungan kampus yang majemuk, sekaligus membangun kepekaan sosial dan semangat gotong royong di tengah masyarakat.

Menariknya, buku ini tidak berhenti pada ranah kehidupan fisik semata, tetapi melangkah maju menyentuh implementasi nilai Islam dalam kehidupan digital. Di era ketika batasan antara dunia nyata dan maya semakin bias, penulis menyoroti urgensi literasi moral di samping literasi digital. Ruang siber tidak dipandang sebagai ruang bebas nilai, melainkan arena di mana setiap jejak digital—mulai dari unggahan, komentar, hingga karya yang dihasilkan dengan kecerdasan buatan (AI)—harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Konsep tabayyun (verifikasi informasi) dikupas tuntas sebagai metode epistemik dan etis untuk menangkal hoaks dan banjir informasi. Penulis juga menekankan pentingnya digital modesty (kesederhanaan digital) agar media sosial tidak mereduksi niat baik menjadi ajang pamer (riya’) yang merusak keikhlasan, serta menjaga adab komunikasi yang santun tanpa merendahkan martabat orang lain.

Estetika Islam: Menyelaraskan Kreativitas Seni, Desain, dan Arsitektur dengan Spiritualitas

Memasuki paruh kedua, buku ini menyajikan eksplorasi yang sangat memikat mengenai relasi antara Islam, ilmu pengetahuan, seni, dan desain. Inilah daya tarik utama sekaligus pembeda buku ini dari literatur PAI pada umumnya. Penulis menolak keras adanya dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Dalam pandangan Islam, ilmu pengetahuan, seni, dan kreativitas adalah anugerah sekaligus amanah kekhalifahan yang harus dipertanggungjawabkan. Kreativitas tidak dimaknai sebagai kebebasan berekspresi tanpa batas, melainkan sebagai upaya mewujudkan karya yang sarat akan makna, kebaikan, dan kemanfaatan (maslahah).

Pembaca diajak untuk menyelami konsep Jamal (keindahan) dalam perspektif Islam. Keindahan tidak sekadar diukur dari daya tarik visual yang memanjakan mata, melainkan dari keteraturan, proporsi, keseimbangan, serta nilai spiritual dan ekologis yang dikandungnya. Estetika Islam menyatukan antara bentuk fisik (form) dan makna batin (meaning). Seorang kreator atau desainer Muslim dituntut untuk menghadirkan karya yang tidak hanya artistik, tetapi juga etis—seperti menggunakan material yang ramah lingkungan, merancang ruang yang inklusif bagi semua kalangan, serta menghindari eksploitasi visual yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan.

Kajian ini semakin diperkaya dengan ulasan historis dan filosofis mengenai arsitektur masjid, yang menjadi representasi tertinggi integrasi antara seni, teknik, dan teologi Islam. Dr. Jiyanto menelusuri evolusi arsitektur masjid mulai dari prototipe sederhana Masjid Nabawi di masa Rasulullah yang multifungsi, hingga kemegahan arsitektur hipostyle di Timur Tengah, kubah monumental di Persia, lengkung tapal kuda di Andalusia, hingga arsitektur vernakular di Nusantara.

Penulis memberikan porsi analisis yang sangat mendalam terhadap arsitektur masjid tradisional Jawa, seperti Masjid Agung Demak dan Masjid Agung Surakarta. Elemen-elemen lokal seperti atap tajug tumpang tiga tidak sekadar dilihat sebagai penutup bangunan yang responsif terhadap iklim tropis, melainkan dimaknai sebagai simbol hierarki pendakian spiritual: Iman, Islam, dan Ihsan. Begitu pula dengan keberadaan saka guru (empat tiang utama) yang merepresentasikan poros kosmos dan keteguhan tauhid, serta serambi dan pawestren yang menunjukkan keseimbangan fungsi sosial-spiritual masyarakat Jawa. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa Islam tidak datang untuk memberangus kebudayaan lokal, melainkan melakukan “sakralisasi budaya”, di mana kearifan lokal diserap dan diberikan napas tauhid yang baru. Arsitektur masjid masa kini, seperti Masjid Istiqlal dan Masjid Sheikh Zayed, juga turut dibahas sebagai wujud dialog antara tradisi, modernitas, dan teknologi yang berkelanjutan.

Pada bab-bab pamungkas, buku ini menegaskan bahwa seni dan desain memiliki potensi yang luar biasa besar sebagai media dakwah dan pendidikan di era kontemporer. Pesan-pesan keagamaan tidak lagi hanya bergema dari atas mimbar melalui lisan, tetapi dapat divisualisasikan melalui infografis yang menarik, film pendek yang menggugah empati, animasi yang mendidik, hingga perancangan ruang publik yang memanusiakan manusia. Seni dan budaya lokal diposisikan sebagai aset peradaban yang harus dilestarikan dan direinterpretasi agar tetap relevan dengan jiwa zaman.

Sebagai sebuah sintesis, Dr. Jiyanto merumuskan lima prinsip utama dalam integrasi Islam, seni, dan desain: Tauhid (orientasi ketuhanan yang memberikan arah moral), Jamal (estetika yang menghadirkan harmoni), Maslahah (kemanfaatan yang meningkatkan kualitas hidup manusia dan lingkungan), Akhlak (moralitas dalam proses berkarya dan menghargai hak cipta intelektual), serta Amanah (tanggung jawab terhadap segala dampak yang ditimbulkan oleh karya tersebut). Kelima kompas etik inilah yang memastikan bahwa sehebat apa pun kecanggihan perangkat lunak atau kecerdasan buatan yang digunakan oleh seorang desainer saat ini, hati nurani dan integritas moral tetap menjadi panglima tertingginya.

Secara keseluruhan, buku Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum: Integrasi Islam, Seni, dan Desain adalah mahakarya pemikiran yang sangat komprehensif, mencerahkan, dan aplikatif. Buku ini berhasil meruntuhkan stigma bahwa pendidikan agama sering kali terasa berjarak dengan realitas profesi mahasiswanya. Melalui ulasan yang bernas, buku ini menyadarkan kita bahwa menjadi seorang akademisi, seniman, arsitek, atau desainer yang profesional tidak berarti harus menanggalkan identitas spiritualnya. Justru melalui karya cipta dan inovasi desain yang berlandaskan nilai-nilai keislaman, kreativitas manusia menemukan makna sejatinya: sebagai bentuk pengabdian kepada Sang Maha Pencipta sekaligus khidmat kepada kemanusiaan dan alam semesta. Sebuah literatur yang wajib dibaca oleh siapa saja yang ingin memaknai ulang hubungan antara iman, ilmu, dan keindahan cipta karya di peradaban modern ini.

Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!

DAFTAR ISI

Daftar Isi 1
Slider Caption
Slider Caption
Previous
Next

Spesifikasi Buku

Cetakan I, September 2026; xii + 204 halaman; ukuran 15,5 x 23 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, jilid lem panas (soft cover) dan shrink bungkus plastik.

Harga Buku

Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.

Rp 135.000

Rp 126.000