PARADOKS EKONOMI BIRU, JILID 2 Inovasi Akuakultur, Keamanan Pangan, dan Resiliensi Ekologi Laut

Buku ini adalah sebuah analisis komprehensif yang mengupas tuntas transformasi sektor kelautan dan perikanan global, dengan menyoroti pergeseran strategis menuju era akuakultur sebagai tulang punggung ketahanan pangan masa depan. Melalui pendekatan yang tajam dan integratif, literatur ini menjadi rujukan esensial bagi para pembuat kebijakan, akademisi, maupun pelaku industri dalam menavigasi arah pembangunan ekonomi biru yang tidak sekadar mengejar rekor tonase produksi, melainkan sungguh-sungguh menjamin penciptaan nilai tambah, keadilan distribusi gizi, serta kelestarian ekosistem maritim Indonesia secara berkelanjutan.

Transformasi Akuakultur, Ketahanan Pangan, dan Resiliensi Ekologi Kelautan

Industri kelautan dan perikanan dunia tengah berada pada persimpangan sejarah yang paling krusial. Transisi dari perikanan tangkap yang kian mendekati batas biologisnya menuju era keemasan perikanan budidaya (akuakultur) membawa serangkaian peluang raksasa sekaligus tantangan struktural yang tidak ringan. Untuk membedah dinamika yang sangat kompleks tersebut, Dr. Suhana, S.Pi, M.Si kembali menghadirkan sebuah mahakarya analitis melalui buku rujukan yang luar biasa komprehensif. Merujuk pada dokumen aslinya, “Paradoks Ekonomi Biru Jilid 2” mengupas tuntas tema sentral mengenai “Inovasi Akuakultur, Keamanan Pangan, dan Resiliensi Ekologi Laut”. Diterbitkan oleh Penerbit Samudra Biru pada bulan Oktober 2026, buku setebal 376 halaman ini menyajikan sintesis yang sangat tajam antara data statistik global, evaluasi kebijakan nasional, dan realitas sosiologis di tingkat tapak pesisir Nusantara. Sebagai seorang pakar ekonomi kelautan, Dr. Suhana mengajak para pembaca untuk tidak sekadar terbuai oleh deretan angka produksi yang tampak megah, melainkan menyelami secara kritis berbagai paradoks terkait kesejahteraan pembudidaya ikan, pergeseran rantai pasok global, hingga kerentanan ekologis yang kini mengancam kedaulatan maritim Indonesia.

Era Baru Akuakultur Global dan Dinamika Kesejahteraan Pembudidaya

Bagian keempat dari “Paradoks Ekonomi Biru Jilid 2” dengan sangat tegas mendeklarasikan bahwa akuakultur kini telah mengambil alih takhta sebagai “raja baru” dalam perikanan dunia. Mengutip laporan otoritatif The State of World Fisheries and Aquaculture (SOFIA) 2026 dari FAO, produksi perikanan dan akuakultur dunia tercatat telah memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah dengan capaian 235 juta ton, di mana subsektor akuakultur hewan akuatik berhasil menyumbang porsi mayoritas sebesar 103 juta ton. Indonesia, dalam konstelasi perdagangan global ini, patut berbangga karena sukses memosisikan diri sebagai produsen akuakultur terbesar ketiga di dunia, membayangi dominasi raksasa China dan India. Motor penggerak utama dari lompatan pertumbuhan akuakultur nasional ini rupanya bukan lagi didominasi oleh perikanan laut semata, melainkan oleh komoditas budidaya air tawar dan payau. Tiga “raja baru” akuakultur Indonesia yang dibedah secara ekstensif dalam buku ini adalah ikan Nila, ikan Lele, dan udang Vaname. Udang Vaname terus menjadi andalan sebagai mesin pencetak devisa ekspor berkapasitas raksasa, sementara ikan Nila dan Lele tampil ke gelanggang sebagai “protein rakyat” yang sukses menopang ketahanan pangan domestik di tengah fluktuasi harga daging merah dan sumber protein lainnya.

Namun demikian, narasi dalam buku “Paradoks Ekonomi Biru Jilid 2” tidak sudi berhenti pada sekadar glorifikasi angka-angka produksi. Penulis melontarkan gugatan kritis yang menohok mengenai kesejahteraan nyata para aktor di balik angka-angka megah tersebut. Melalui analisis Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi), terungkap sebuah realitas paradoksal yang sangat mengkhawatirkan: para pahlawan pangan ini tengah tercekik oleh fenomena high cost economy. Meskipun indeks harga jual ikan di pasaran mengalami tren kenaikan, kesejahteraan riil para pembudidaya justru stagnan bahkan terancam merosot akibat lonjakan ekstrem biaya input produksi, khususnya yang bersumber dari harga pakan dan bibit. Krisis komponen pakan ini bahkan semakin diperparah oleh dinamika iklim dan geopolitik global, seperti kebijakan penurunan drastis kuota tangkap ikan anchovy oleh pemerintah Peru yang serta-merta memicu kelangkaan dan lonjakan harga fishmeal (tepung ikan) di pasar internasional.

Sebagai jalan keluar atas rentetan paradoks ini, Dr. Suhana menawarkan serangkaian gagasan inovatif dan progresif. Beliau mendorong adopsi “Tambak Pintar” yang secara cerdas mengintegrasikan Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) untuk mengoptimalkan efisiensi pakan dan manajemen kualitas air. Selain itu, disoroti pula urgensi pembangunan Gene Banking akuatik untuk melestarikan keanekaragaman genetik sebagai asuransi biologis perikanan masa depan, serta optimalisasi prinsip ekonomi sirkular melalui pemanfaatan total limbah ikan yang kaya senyawa bioaktif untuk disulap menjadi produk farmasi dan kosmetik bernilai tinggi yang ramah lingkungan.

Ketahanan Pangan, Konstruksi Budaya Maritim, dan Mitigasi Ancaman Ekologis

Beranjak menyusuri bagian kelima dan keenam, buku “Paradoks Ekonomi Biru Jilid 2” menyuguhkan pemetaan komprehensif yang sangat granular mengenai perilaku konsumsi pangan laut di berbagai provinsi di Indonesia. Dengan memanfaatkan basis data BPS secara analitis, penulis membongkar jurang ketimpangan dan anomali konsumsi ikan antarwilayah yang selama ini kerap terabaikan. Di Provinsi Jawa Barat, misalnya, pasar secara mencolok terbelah antara kawasan urban metropolitan seperti Bekasi dan Depok yang memiliki daya beli premium terhadap produk olahan siap saji, berbanding terbalik dengan kawasan seperti Majalengka yang masih mencatat angka pengeluaran sangat rendah akibat kendala logistik dan rantai dingin kelautan. Di wilayah Jawa Timur, tingginya angka konsumsi ikan didominasi oleh kota-kota besar seperti Surabaya, dengan ikan Lele tampil sebagai primadona absolut yang menopang kebutuhan protein harian masyarakat. Sementara itu, Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan kebanggaan budaya maritimnya melalui dominasi konsumsi ikan Bandeng dan ikan pelagis lokal yang sangat tinggi. Anomali paling tajam justru terekam di kawasan timur Indonesia; Papua Barat Daya tercatat memiliki pengeluaran per kapita mingguan tertinggi secara nasional untuk ikan, namun tingginya angka di Papua Pegunungan lebih merupakan refleksi inefisiensi logistik (harga ikan yang melambung sangat mahal) ketimbang cerminan tingginya volume konsumsi riil masyarakat.

Lebih jauh dari sekadar menyajikan peta konsumsi, buku ini menggugat landasan moral dari sistem pangan perikanan global melalui diskursus krusial “Fish for food or food for fish?”. Penulis mengkritik keras inefisiensi biologis dan ketidakadilan gizi yang terjadi ketika ikan pelagis kecil tangkapan nelayan (seperti teri dan lemuru) yang secara alami kaya akan Omega-3 dan nutrisi penting justru dihancurkan menjadi tepung ikan. Tepung ini kemudian dijadikan pakan budidaya untuk komoditas mewah (seperti salmon atau udang ekspor), alih-alih dikonsumsi secara langsung (Direct Human Consumption) oleh rakyat pesisir untuk memberantas mata rantai gizi buruk dan stunting. Di samping itu, tantangan krusial menyangkut keamanan pangan (food safety) juga dikupas tuntas. Kepercayaan konsumen global terhadap seafood tradisional mulai tergerus akibat meningkatnya ketakutan publik terhadap isu cemaran merkuri, infiltrasi mikroplastik, serta parasit patogen perairan. Kondisi ini tidak boleh hanya dilihat sebagai ancaman, melainkan merupakan momentum peringatan keras sekaligus peluang emas bagi Indonesia untuk segera membangun zona budidaya marikultur premium yang tersertifikasi internasional, bebas dari polusi, dan dilengkapi sistem ketertelusuran (traceability) digital yang komprehensif.

Pada dimensi keberlanjutan kelautan (sustainability) dan resiliensi pesisir, buku ini membunyikan sirine peringatan bahwa kedaulatan laut Indonesia sedang diuji secara hebat oleh ancaman ekologis maupun fluktuasi geopolitik. Anomali iklim ekstrem yang diistilahkan sebagai “Godzilla El Niño” terbukti secara empiris mampu memicu gelombang panas laut (marine heatwaves) yang berkepanjangan, seperti yang terjadi di perairan selatan Jawa, yang secara langsung mengancam proses upwelling alamiah penopang produktivitas ikan pelagis bernilai ekonomi. Di arena geopolitik, lonjakan tajam harga bahan bakar minyak (BBM) maritim global akibat efek domino konflik di Timur Tengah telah menghantam struktur biaya operasional nelayan tangkap secara sistemik. Tidak berhenti di situ, wilayah pesisir Indonesia yang didominasi oleh lanskap dataran rendah dan kawasan delta sungai besar secara global juga diklasifikasikan ke dalam kategori wilayah yang sangat rentan terhadap ancaman kenaikan muka air laut dan abrasi menurut asesmen Coastal Vulnerability Index (CVI).

Menghadapi derajat kompleksitas permasalahan yang saling bertautan ini, penulis sangat menekankan pentingnya inisiatif untuk menjembatani benteng sains akademis dengan realitas penyusunan kebijakan publik. Lebih dari itu, buku ini mengusulkan agar tata kelola laut dikembalikan pada akar nilai-nilai kearifan budaya lokal dan epistemologi spiritual yang luhur. Hal ini diwujudkan melalui dorongan pendekatan kolaboratif berbasis budaya seperti Wayang Samudera untuk edukasi konservasi, serta integrasi etika pengelolaan laut berbasis kelestarian nilai Idul Fitri (kembali kepada fitrah) dan paradigma Al-Qur’an (proses komprehensif: mendengar, melihat, dan menggunakan hati) untuk menjamin pembangunan ekonomi yang beretika, adil, dan tidak eksploitatif.

Dengan kedalaman analisis yang dengan brilian memadukan perspektif makroekonomi global, bioekonomi, evaluasi tata kelola kebijakan, hingga tinjauan sosiologi konsumen, “Paradoks Ekonomi Biru Jilid 2” melampaui fungsinya sebagai sekadar buku teks, menjelma menjadi kompas strategis navigasi bagi masa depan kelautan dan perikanan Indonesia. Buku ini menyuarakan sebuah pesan fundamental yang harus didengar: untuk benar-benar bangkit menjadi poros maritim yang sejati, Indonesia tidak boleh lagi hanya mengejar rekor tonase produksi yang kosong makna. Fokus pembangunan harus segera dan secara serius digeser pada efisiensi teknologi, pemerataan keadilan distribusi gizi, percepatan hilirisasi untuk nilai tambah riil, serta pelestarian ketat ekologi bahari. Ini adalah sebuah literatur esensial yang wajib dibaca oleh para akademisi, perumus kebijakan negara, pelaku industri perikanan, serta segenap elemen masyarakat yang menaruh kepedulian mendalam pada kelestarian laut dan masa depan jaminan ketahanan pangan Nusantara.

Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!

DAFTAR ISI

Daftar Isi 1
Slider Caption
Slider Caption
Slider Caption
Previous
Next

Spesifikasi Buku

Cetakan I, Oktober 2026; x + 376 halaman; ukuran 15,5 x 23 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, jilid lem panas (soft cover) dan shrink bungkus plastik.

Harga Buku

Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.

Rp .200.000

Rp 189.800