PARADIGMA ALTERNATIF PEMBANGUNAN KELAUTAN INDONESIA MENUJU NEGARA KESEJAHTERAAN Suatu Pendekatan Heterodoks
buku ini akan menjadi bacaan penting bagi siapa pun yang ingin melihat Indonesia bukan hanya sebagai negara yang kaya laut, tetapi juga sebagai negara maritim yang adil, berdaulat, sejahtera dan lestari. Dengan pendekatan yang kritis sekaligus solutif, buku ini tidak hanya mengurai masalah, tetapi juga memberi harapan dan arah.

Dilema Ekonomi, Lingkungan, dan Keadilan Sosial
Ketika berbicara tentang laut Indonesia, seringkali yang terbayang adalah kekayaan sumber daya yang melimpah, potensi ekonomi yang besar, dan identitas kita sebagai bangsa maritim. Namun, di balik semua itu, ada realitas yang jarang kita lihat, yaitu ketimpangan dan penurunan kesejahteraan nelayan, privatisasi sumber daya laut, hingga kerusakan ekosistem yang semakin mengkhawatirkan.
Selain itu juga potensi yang besar tersebut sampai saat ini belum memberikan dampak nyata bagi perekonomian nasional, bahkan pada tahun 2024 ekonomi perikanan cenderung anjlok. Hal ini tercermin dari pertumbuhan PDB sektor perikanan yang hanya mencapai 0,68% (BPS 2025) atau anjlok jika dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 5,49%. Berdasarkan catatan historis pertumbuhan PDB sektor perikanan terlihat bahwa capaian pertumbuhan PDB perikanan 2024 lebih rendah dibandingkan pada saat pandemic Covid-19 dan krisis ekonomi 1998. Pada saat pandemic Covid-19 (2022) pertumbuhan PDB perikanan mencapai 0,73%, sementara pada saat krisis ekonomi 1998 pertumbuhan PDB perikanan capai 1,92%. Terpuruknya capaian pertumbuhan ekonomi sektor perikanan tersebut menunjukkan adanya kebijakan yang belum sesuai dengan harapan publik. Oleh sebab itu diperlukan untuk meninjau dan menata ulang kebijakan kelautan dan perikanan yang ada saat ini. Kebijakan ekonomi biru yang menjadi jargon Menteri Kelautan dan Perikanan ternyata belum mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Bahkan yang terlihat dilapangan kebijakan ekonomi biru tersebut banyak menimbulkan berbagai paradok atau kontradiksi.
Ketimpangan kesejahteraan nelayan juga tercermin dari data NTN (Nilai Tukar Nelayan) periode 2021-2024 menunjukkan dinamika yang mengkhawatirkan. Pada 2021, NTN mencapai angka 104.69, mencerminkan stabilitas ekonomi nelayan dan usahanya. Namun, dari 2023 hingga 2024 terjadi penurunan signifikan. NTN turun dari 106.45 (2022) menjadi 105.40 (2023) dan anjlok ke 101.76 pada 2024. Penurunan ini mencerminkan adanya tantangan besar yang mengancam keberlanjutan ekonomi perikanan, baik pada level individu maupun kolektif.
Indeks Harga yang Dibayar Nelayan (ib) meningkat tajam dari 106,41 (2021) ke 118,77 (2024), terutama pada konsumsi rumah tangga, seperti makanan, minuman, dan tembakau yang melonjak hingga 126,17. Kenaikan ini menandakan tekanan biaya hidup, yang berisiko mengurangi daya beli petani. Biaya produksi juga meningkat, tercermin dari kenaikan Indeks BPPBM, dengan lonjakan terbesar pada transportasi dan komunikasi (103,26 ke 121,02).
Sementara itu Indeks Harga yang Diterima Nelayan (it) naik hingga 122 (2023) namun turun ke 120,86 (2024). Penurunan ini di sektor perikanan tangkap laut (121 pada 2024) dapat mengindikasikan tantangan pasar atau penurunan hasil tangkapan. Kombinasi ini memperburuk nilai tukar nelayan (NTN) yang turun dari 106,45 (2022) ke 101,76 (2024), mencerminkan pendapatan nelayan tidak sebanding dengan kenaikan biaya yang mereka tanggung.
Kondisi NTN tersebut menunjukkan ketimpangan struktural antara biaya hidup/produksi dan pendapatan sektor primer. Jika tidak diatasi, hal ini dapat memperburuk kesejahteraan nelayan serta menurunkan daya saing sektor perikanan.
Buku “Paradigma Alternatif Pembangunan Kelautan Indonesia Menuju Negara Kesejahteraan: Suatu Pendekatan Heterodoks” hadir tepat di tengah kegelisahan tersebut. Karya Muhamad Karim, Daud Yusuf, dan Emy Saelan ini menawarkan cara pandang yang berbeda, segar, dan berani—sebuah ajakan untuk meninjau ulang cara kita memahami pembangunan kelautan Indonesia.
Alih-alih mengikuti arus besar ekonomi ortodoks yang menekankan pertumbuhan tanpa batas, buku ini mengajak kita melihat laut dengan perspektif yang lebih utuh, yaitu dengan memadukan ekonomi, ekologi, keadilan sosial, hingga kearifan lokal. Dari konsep Blue Justice hingga Ekonomi Nusantara, dari kritik atas liberalisasi sumber daya hingga gagasan rekonstruksi ekonomi biru, buku ini membentangkan peta jalan menuju pembangunan kelautan yang berpihak pada manusia dan alam.
Hadir di era blue economy yang digadang menjadi motor pertumbuhan ekonomi laut Indonesia, buku ini kini mengajak pembaca menatap lebih kritis, dimana ekonomi biru global belum tentu adil. Berbagai kajian internasional menyebutkan bahwa blue economy yang digerakkan investasi ekstraktif seringkali men-marginalisasi komunitas lokal—contohnya proyek percontohan di Lombok yang belum memberi manfaat signifikan bagi kesejahteraan masyarakat pesisir
Di panggung nasional, Indonesia terus mendorong kebijakan blue economy melalui berbagai kebijakan dan keterlibatan aktif dalam forum IORA. Namun dalam praktiknya, terdapat ketimpangan antara gagasan besar dan keterlaksanaan kebijakan yang konsisten, dimana proyek blue economy sering dirundung birokrasi, tumpang tindih regulasi, serta lemahnya perlindungan terhadap nelayan skala kecil.
Kini penguatan kerangka hukum menjadi sorotan penting, karena kekosongan hukum dan fragmentasi regulasi menghambat transparansi serta investasi yang berkelanjutan. Tokoh hukum menyarankan pembentukan Pengadilan Niaga Maritim khusus untuk mempercepat penyelesaian sengketa dan menambah kepastian hukum sektor maritim.
Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!
DAFTAR ISI




Spesifikasi Buku

Cetakan I, Juli 2025; 444 hlm, ukuran 15,5 x 23 cm, kertas isi Bookpaper hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, jilid lem panas (soft cover) dan shrink bungkus plastik.
Harga Buku
Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.
Rp 260.000
Rp 211,300

Tentang Penulis

Muhamad Karim, dkk
Lulus Sarjana Perikanan dari IPB Bogor tahun 1995. Pascasarjana Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan di IPB Bogor luluas tahun 2005. Pengalaman organisasi: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bogor sebagai Sekretais Umum Tahun 1995/1996. Pengurus Besar HMI 1997. Sekretaris Jendral Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Wilayah Bogor 2007-2012. Anggota Dewan Pakar Majelis Daerah KAHMI Jawa Barat 2020-2024. Pengurus Afiliasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia (APPTI) Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi (JABODETABEK) periode 2019-2023. Center for Information and Developmet Studies (CIDES) Indonesia 1996-1998. Mendirikan Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim (PK2PM) tahun 2007. Kolumnis media nasional dan lokal terkait isu kelautan, perikanan, sumberdaya alam dan kemaritiman: Kompas, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Republika, Koran Tempo. Koran Investor Daily, Jurnal Nasional, Koran Sindo, Bisnis Indonesia, Radar Bogor, Kolom Detiknews.com, Kolom Qureta.com, Majalah Cakrawala TNI-AL, dan Majalah Trobos. Narasumber pada (1) radio dan televisi swasta nasional. Televisi: Inews TV, Trans7, Okezone TV, CNN TV, RCTI, Jawa Pos TV, RTV. Radio: RRI Pro 3 Jakarta, RRI Bogor, dan Radio Dakta. Narasumber/pakar: (1) kementerian/lembaga: Dewan Perwakilan
Daerah (DPD) RI, Kementerian, Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANAS), Kementerian Perindustrin dan, Dewan Ketahanan Nasional (DKN); (2) Perguruan tinggi: Fakultas
Hukum, Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor (IPB), Fakultas MIPA Universitas Pakuan, dan Fakultas Tehnik, Institut Teknologi Nasional,
Malang; (3) Organisasi Masyarakat Sipil (NGO): Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Nasional, Serikat Petani Indonesia (SPI), Serikat Nelayan Indonesia (SNI), Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) dan Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA).
Publikasi buku antara lain: (1) Debat Publik Seputar Program dan Partai Politik pada Pemilu 2004: Siapa Mau Jadi Presiden, Penerbit Kompas, Tahun 2004 (Kontributor Tulisan); (2) Bunga Rampai Strategi Pembangunan Kelautan dan Perikanan Penerbit Humaniora, Bandung Tahun 2005; (3) Perdebatan Belum Usai. Apakah Laut Penyerap atau Pelepas Karbon? Diterbitkan KIARA 2009 (Bersama Dr. Riza Damanik); (4) Ekonomi Kelautan dan Pesisir, 2010 Penerbit Graha Ilmu (Bersama Prof. Dr. Apridar dan Dr. Suhana); (5) Analisis Kebijakan Energi Nasional (IPB Press, 2014, Tim Penulis); (6) Sistem Ekonomi Pancasila, Penerbit Rajawali dan Universitas Trilogi 2017 dan edisi 4 2021 (Tim Penulis), (7) Pengelolaan Sumber Daya Kelautan Berkelanjutan, Penerbit Graha Ilmu, Yogyakarta, 2017, (8) Renaisans Negara Maritim Indonesia, Penerbit Plantaxia Yogyakarta, 2022, (9) Menuju Pembangunan Maritim Berkeadilan, Penerbit Mitra Cendikia Media 2021. (10) Nelayan Tradisional Menghadapi
Perubahan Iklim, Penerbit Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia 2021; (11) Perampasan Ruang Laut dan Marjinalisasi Nelayan. Penerbit Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia 2022. (12) Model Negara Kesejahteraan Indonesia: Pendekatan Heterodoks, IPB Press 2022 (Tim Editor dan Penulis Chapter), (13) Tataniaga Rajungan di Wilayah Pesisir Timur Provinsi Lampung, IPB Press 2022. Proses Terbit (Editor dan Penulis Chapter) dan (14) Tranformasi Ajaran Agama Melawan Krisis Iklim, IPB Press 2023 (Penulis). Kini, sebagai Dosen Tetap pada Program Studi Agribisnis, Fakultas Bio-Industri, Universitas Trilogi, Jakarta. Selain itu, beraktivitas juga pada organisasi sosial kemasyarakatan: Dewan Pakar Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) 2015-2020; Dewan Pakar Asosiasi Pedagang Kaki Lima Kota Bogor (APKALI), 2014-2019 dan Dewan Pakar Pengurus Besar Inisiator Perjuangan Ide Rakyat (INSPIRA) 2020- sekarang.