NALAR EKOLOGI PEMBEBASAN Mozaik Pemikiran Lingkungan Hidup dan Gagasan Perubahan

Buku ini adalah sebuah karya intelektual yang merajut mozaik pemikiran lintas peradaban untuk membedah secara komprehensif akar krisis ekologis yang tengah melanda dunia. Melalui kritik tajam terhadap dominasi kapitalisme global dan rasionalitas sains modern yang cenderung mengeksploitasi alam tanpa batas, karya ini menawarkan jalan keluar melalui nalar ekologi pembebasan yang berlandaskan pada perpaduan etika lingkungan dan teologi spiritualitas Islam.

Membedah Krisis Lingkungan Melalui Mozaik Pemikiran Kritis dan Teologi Islam

Di tengah ancaman perubahan iklim dan degradasi lingkungan global yang kian masif, diskursus mengenai penyelamatan bumi sering kali terjebak pada solusi-solusi teknis dan elitis. Permasalahan ekologi kerap direduksi sekadar menjadi urusan emisi karbon, daur ulang limbah, atau transisi energi, tanpa menyentuh akar filosofis dan teologis mengapa manusia modern begitu rakus mengeksploitasi alam. Untuk mendobrak kebuntuan tersebut, David Efendi dan Nuruddin Al Akbar menghadirkan sebuah mahakarya intelektual berjudul Nalar Ekologi Pembebasan: Mozaik Pemikiran Lingkungan Hidup dan Gagasan Perubahan. Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Samudra Biru ini tampil sebagai literatur wajib yang merajut pemikiran kritis dari berbagai tradisi—baik Barat maupun Islam—untuk merumuskan kembali relasi antara manusia, Tuhan, dan alam semesta.

Sebagai seorang SEO expert dan pengamat literatur, saya melihat buku ini memiliki daya tarik yang luar biasa karena tidak hanya menyajikan kritik, tetapi juga peta jalan menuju gerakan sosial yang nyata. Buku ini dibagi menjadi dua bagian besar: bagian pertama membedah mozaik pemikiran politik lingkungan dari berbagai tokoh lintas peradaban, sedangkan bagian kedua berfokus pada praksis gerakan pembebasan ekologi, khususnya yang dimotori oleh kaum muda dan gerakan Islam seperti Kader Hijau Muhammadiyah. Dengan gaya bahasa yang analitis namun tetap naratif, penulis berhasil mengontekstualisasikan gagasan-gagasan berat menjadi bacaan yang mencerahkan.

Menggugat Dominasi Kapitalisme dan Rasionalitas Sains Modern

Pada paruh pertama bukunya, para penulis membongkar tatanan epistemologi modern yang menjadi biang keladi krisis ekologis saat ini. Melalui pembacaan kritis terhadap buku teks politik arus utama karya Andrew Heywood, penulis mengkritik bagaimana ilmu politik tradisional yang didominasi oleh kerangka liberalisme sering kali meminggirkan isu lingkungan. Lingkungan hanya dianggap sebagai objek kampanye di parlemen, bukan sebagai framework (kerangka kerja) politik itu sendiri. Di sinilah gagasan Cornelis Lay diangkat untuk mendorong greening politics, di mana logika ekologi harus mendisiplinkan praktik bernegara, menolak pemusatan kekuasaan yang destruktif (seperti energi nuklir), dan beralih pada kekuatan yang menyebar dan menghidupkan (seperti energi matahari).

Kritik terhadap sains modern yang “bebas nilai” juga digaungkan melalui pemikiran Ziauddin Sardar. Sardar menganalogikan sains kontemporer layaknya “Sentuhan Midas” (Midas Touch). Kemampuan sains untuk mengeksploitasi dunia memang mengagumkan, namun karena kering dari tanggung jawab sosial dan etika, ia justru menciptakan senjata pemusnah massal dan polusi yang mengancam kehidupan umat manusia itu sendiri. Hal ini senada dengan kritik Franz Magnis-Suseno terhadap “rasionalitas teknokratis”, di mana alam telah dilucuti dari nilai intrinsiknya dan direduksi sekadar menjadi objek instrumental untuk memuaskan hasrat ekonomi.

Buku ini semakin tajam ketika membedah pemikiran John Bellamy Foster dan Fred Magdoff. Penulis menolak narasi populer tentang Anthropocene (yang menyalahkan manusia secara umum atas kerusakan bumi) dan beralih pada kerangka Capitalocene. Akar krisis lingkungan bukanlah manusia sebagai spesies, melainkan logika kapitalisme yang menuntut pertumbuhan ekonomi dan akumulasi modal tanpa batas di planet yang memiliki batas ekologis. Solusi-solusi seperti perdagangan karbon (carbon trading) atau “kapitalisme hijau” hanyalah ilusi dan solusi palsu yang mengalihkan tanggung jawab sistemik menjadi sekadar rasa bersalah konsumen (consumer guilt). Oleh karena itu, krisis ini membutuhkan revolusi ekologis yang radikal dan kolektif, bukan sekadar perubahan gaya hidup individual.

Ekologi Spiritual dan Gerakan Pembebasan Hijau

Jika kritik terhadap kapitalisme dan sains modern menjadi alat untuk membongkar masalah, maka buku ini menawarkan teologi dan spiritualitas Islam sebagai fondasi untuk membangun kembali peradaban yang hancur. Penulis dengan apik merangkum “Teologi Lingkungan” dari para pemikir Muslim terkemuka. Seyyed Hossein Nasr, misalnya, menyoroti bahwa krisis ekologis berakar pada hilangnya konsep the sacred (yang sakral) dalam alam. Melalui gagasan Scientia Sacra (sains sakral), Nasr menyerukan agar manusia kembali menyadari bahwa alam semesta adalah tanda-tanda kebesaran Tuhan yang harus dihormati, bukan sekadar benda mati.

Gagasan ini diperkuat oleh Ismail Raji Al Faruqi melalui konsep Amanah. Manusia bukanlah pemilik mutlak bumi ini, melainkan khalifah yang diberi titipan oleh Tuhan untuk memakmurkan, bukan merusak. Kerusakan lingkungan, dalam kacamata Al Faruqi, adalah bentuk kezaliman dan pengkhianatan terhadap amanah ilahiah. Sementara itu, Syed Muhammad Naquib Al Attas membawa krisis lingkungan ini ke ranah mikrokosmos, yakni jiwa manusia. Baginya, krisis ekologi hanyalah gejala dari penyakit jiwa manusia modern yang materialistis dan serakah. Solusinya adalah virtue ethics melalui pendekatan tasawuf untuk mengendalikan hawa nafsu konsumtif.

Buku ini juga menghadirkan gagasan-gagasan yang sangat membumi, seperti konsep Green Deen (Agama Hijau) dari Ibrahim Abdul-Matin yang memaknai hadis bahwa “seluruh bumi adalah masjid”. Jika seluruh bumi adalah tempat ibadah yang suci, maka membuang sampah sembarangan atau mencemari sungai sama halnya dengan mengotori masjid. Kuntowijoyo, dengan Ilmu Sosial Profetiknya, mengajak kita untuk melakukan demistifikasi dan melawan “zaman mesin” yang mendehumanisasi manusia dan alam. Bahkan, pemikir seperti Gus Dur dan Hamka turut disorot atas kritik tajam mereka terhadap arogansi masyarakat teknokratis elit dan ancaman nuklir yang berpotensi memusnahkan peradaban.

Tidak berhenti pada tataran teori, Nalar Ekologi Pembebasan menjembatani pemikiran filosofis tersebut dengan praksis gerakan sosial di bagian keduanya. Penulis memaparkan bagaimana gagasan ekologis ini mewujud dalam aktivisme nyata, seperti perjuangan petani Kendeng melawan pabrik semen, lahirnya Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA), hingga penguatan gerakan sosial “Al-Ma’un Hijau” dan Kader Hijau Muhammadiyah. Teologi pembebasan tidak lagi hanya berbicara soal kemiskinan ekonomi, tetapi telah berevolusi menjadi “Ekologi Pembebasan” yang menempatkan alam sebagai kaum mustadh’afin (yang tertindas) oleh oligarki dan sistem kapitalisme ekstraktif.

Sebagai kesimpulan, buku Nalar Ekologi Pembebasan adalah sebuah literatur monumental yang berhasil menjahit puzzle pemikiran ekologi dari Barat hingga Islam klasik dan kontemporer menjadi sebuah kerangka kerja pembebasan yang solid. Buku ini adalah bacaan wajib bagi para akademisi, aktivis lingkungan, mahasiswa, hingga pembuat kebijakan yang ingin memahami krisis iklim melampaui data-data statistik. Dengan membaca buku ini, kita disadarkan bahwa memperjuangkan kelestarian lingkungan bukanlah sekadar tren atau proyek politis, melainkan sebuah panggilan spiritual yang sangat mendalam demi merawat “rumah suci” yang diwariskan Tuhan kepada umat manusia.

Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!

DAFTAR ISI

Daftar Isi 1
Daftar Isi 2
Previous
Next

Spesifikasi Buku

Cetakan I, April 2026; 356 hlm, ukuran 15,5 x 23 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, Hard cover dan shrink bungkus plastik.

Harga Buku

Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.

Rp 195.000

Rp 178.600

Tentang Penulis

David Efendi

David Effendi Bersama teman-teman pegiat RBK di tahun 2014 mempromosikan pendidikan ekoliterasi melalui komunitas. Beragam pihak dilibatkan untuk memperkuat pengetahuan ekologi dan menunjukkan keberpihakan dan kepeduliannya pada semesta manusia dan alam raya yang melingkupinya. Melalui buku, dokumentasi kegiatan, aktivisme di ruang publik model pendidikan lingkungan diujicobakan melalui sekolah pemuda ekoliterasi, literasi camp, riset riset dan jurnalisme ekologi diupayakan serta pendayagunaan media digital untuk kampanye. Tahun 2018 terlibat inisiasi penguatan kader hijau Muhammadiyah dengan membangun dialog antar generasi agar saling berkolaborasi serta mengkomunikasikan dengan beragam lembaga CSO yang concern di isu lingkungan. Beragam seminar dan diskusi publik tematik politik lingkungan dibangun dan berpartisipasi dalam beragam konferensi internasional dan nasional dengan membawa topik agama dan lingkungan hidup. 2020 dan 2021 menjadi pemrakarsa kampanye dan aksi langsung faith for climate justice di Indonesia yang disupport oleh Greenfaith International. Terhitung 2022 ini menjadi salah satu vocal Greenfaith internasional network untuk Indonesia.

Nuruddin Al Akbar

Nuruddin Al Akbar sebagai salah satu kontributor penulis di RBK, Nuruddin memiliki ketertarikan kuat pada isu agama dan lingkungan hidup. Ketertarikan ini salah satunya tidak dapat dilepaskan dari kekecewaan Nuruddin terhadap paradigma “klasik” yang diskursus ekologi yang menempatkan agama -khususnya agama monoteistik- secara vis a vis dengan gagasan lingkungan hidup. Selain menjadi kontributor penulis di RBK, Nuruddin juga terlibat aktif dalam berbagai seminar, konferensi, diskusi dan juga riset ilmiah dalam kaitannya dengan isu lingkungan hidup. Nuruddin misalnya terlibat aktif dalam riset yang diselenggarakan oleh Polgov Research Centre Fisipol Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan HE-Delft Institute for Water Education, Universitas Amsterdam, Amrta Institute & KRuHA tentang Politik Air (Water Citizenship) pada tahun 2021-2022 lalu. Diantara beberapa karya Nuruddin terkait dengan isu lingkungan hidup ialah: Between Worldview of Death and Worldview of Life: Learning Ecology from Indigeneous Woman (2023); Environmental Crisis as a Neurotic Problem of Modern Man: Islamic (eco) psycho- spiritual approach (2022); Gus Dur and Ecology: Seeing Nature as a Friends (2022); Gus Dur and Ecology: Critique of Scientism; (2022); Post-Truth Coronavirus Outbreak: Engel’s Perspective (2020), Governing the Revolutionary Subject in the Time of Pandemic: A Preliminary Analysis [bersama David Efendi] (2020); National Front for the Natural Resources Sovereignty (FNKSDA) as a “Green” Indonesian Islam Movement (2019) [bersama Listiana Asworo]; dan Beyond the Binary Logic of Populist Articulations in 2019 Indonesian Election: A Poststructuralist Analysis of ‘Sexy
Killers’ Documentary (2019) [bersama Lutfi Hamzah Husin].