MENULIS JALAN PULANG 60 Hari di Pulau Dewata
Buku ini adalah sebuah memoar reflektif yang merekam perjalanan batin dan pengabdian panjang seorang birokrat, Adrinal Tanjung, selama enam puluh hari penugasannya di Pulau Dewata. Melalui gaya bahasa yang puitis dan jujur, karya ini tidak sekadar menyajikan catatan perjalanan geografis, melainkan menawarkan perenungan mendalam tentang keseimbangan hidup, kehangatan keluarga, makna persahabatan, hingga keberanian untuk melambat dan merasa cukup di tengah hiruk-pikuk dunia modern serta tuntutan profesi.
Menyelami Labirin Makna di Pulau Dewata dan Jalan Sunyi Kepenulisan Birokrat
Di tengah laju dunia yang serba cepat dan hiruk-pikuk kehidupan birokrasi yang penuh dengan tumpukan dokumen serta rutinitas tanpa henti, menemukan ruang untuk merenung dan berdialog dengan diri sendiri adalah sebuah kemewahan. Buku Menulis Jalan Pulang: 60 Hari di Pulau Dewata karya Adrinal Tanjung hadir sebagai sebuah oase literasi yang menawarkan keteduhan batin tersebut. Diterbitkan oleh Penerbit Samudra Biru pada tahun 2026, buku setebal 216 halaman ini bukan sekadar catatan harian atau jurnal perjalanan wisata biasa. Lebih dari itu, karya yang menandai dua dekade perjalanan kepenulisan sang penulis dan menjadi bukunya yang ke-55 ini, merupakan sebuah memoar spiritual, refleksi kepemimpinan, dan manifestasi rasa syukur seorang abdi negara atas segala skenario kehidupan yang telah digariskan oleh Sang Pencipta.
Buku “Menulis Jalan Pulang SB_rev 16.pdf” ini diawali dengan sebuah kejutan takdir yang tak terduga. Pada suatu pertengahan Oktober, di saat sang penulis sedang disibukkan oleh persiapan pernikahan putra sulungnya, Ilham, serta agenda reuni akbar Akuntansi 1989 Universitas Andalas, sebuah Surat Keputusan mutasi tiba-tiba turun. Penulis ditugaskan untuk berpindah tugas ke Pulau Dewata, Bali. Di titik inilah pergolakan batin terjadi. Namun, berpegang pada keyakinan bahwa di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan (Inna ma’al ‘usri yusra), Adrinal melangkah ke Bali bukan dengan hati yang berat, melainkan dengan jiwa yang terbuka untuk menerima hikmah. Enam puluh hari pertamanya di Bali kemudian bermetamorfosis menjadi sebuah ruang jeda yang sangat subur bagi perenungan dan produktivitas literasinya.
Pada bagian pertama buku ini, pembaca akan diajak menyusuri “Labirin Makna di Pulau Dewata”. Bali di mata Adrinal Tanjung bukanlah sekadar deretan pantai eksotis yang dipenuhi turis, melainkan cermin besar tempat ia memantulkan pertanyaan-pertanyaan hakiki tentang kehidupan. Dari deburan ombak di Pantai Sanur saat senja turun, keheningan religius di Masjid Al Ihsan, riuhnya kawasan Canggu yang memantik inspirasi kreatif, hingga pesona spiritual di Pura Tanah Lot, setiap sudut Bali memberikan pelajaran berharga tentang keseimbangan hidup. Penulis merekam interaksi-interaksi kecil yang penuh kehangatan, seperti ketika ia diberi tumpangan oleh seorang perempuan muda saat hujan deras di Denpasar, atau percakapan bermaknanya dengan driver ojek online asal Sumba. Pengalaman ini menyadarkannya bahwa di mana pun kita berada, asalkan kita melangkah dengan niat baik, semesta akan selalu mengirimkan orang-orang baik untuk menemani perjalanan kita.
Lebih jauh, penulis juga menyoroti kisah “hijrah kecil” para perantau di Bali. Dari seorang pengusaha rumah makan Padang yang sukses memadukan etos kerja Minang dengan harmoni lokal, hingga pemuda dari Malang yang merintis usaha di kawasan Uluwatu, semuanya mengajarkan bahwa Bali adalah panggung bagi mereka yang berani keluar dari zona nyaman demi merajut harapan baru.
Memasuki bagian kedua buku, narasi bergeser pada sebuah refleksi kritis dan mendalam mengenai profesinya melalui tajuk “Jalan Sunyi Sang Birokrat Penulis”. Adrinal mengajukan sebuah pertanyaan retoris yang sangat relevan: mengapa para birokrat, yang sehari-harinya bergulat dengan perumusan kebijakan publik dan dinamika pembangunan, justru sangat enggan untuk menulis?. Alasan klasik seperti kesibukan yang tiada akhir, ketakutan akan kritik, hingga pandangan pragmatis bahwa menulis tidak memberikan imbalan finansial atau pengaruh pada promosi jabatan, sering kali menjadi tameng penghalang. Padahal, tokoh-tokoh besar bangsa seperti Mohammad Hatta dan B.J. Habibie telah membuktikan bahwa birokrasi dan dunia intelektual (kepenulisan) bisa saling menguatkan.
Bagi Adrinal, menulis memiliki lima manfaat esensial bagi seorang birokrat: menjernihkan pikiran di tengah keruwetan masalah, menjadi sarana refleksi diri, merekam jejak pengetahuan organisasi, memperkuat kapasitas kepemimpinan, dan memberi makna abadi pada sebuah perjalanan pengabdian. Dengan idealisme inilah, ia menginisiasi komunitas “Satu Birokrat Satu Buku” (Sabisabu) dan mendirikan Yayasan Pusako Adrinal Tanjung, sebuah wadah untuk melembagakan semangat literasi di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) agar rekam jejak birokrasi bangsa ini tidak hilang ditelan zaman. Ia membuktikan bahwa kesibukan bukanlah alasan untuk berhenti berkarya; bahkan waktu delay pesawat selama satu jam pun dapat diubah menjadi bait-bait tulisan yang bermakna.
Akar Keluarga, Cahaya Kecukupan, dan Perayaan Dua Dekade Berkarya
Bagian ketiga dan keempat buku ini menyuguhkan sisi yang sangat emosional dan personal. Di tengah padatnya penugasan, Adrinal selalu menyadari bahwa keluarga adalah “akar” yang menjaganya tetap kokoh dan “rumah” tempatnya selalu kembali bergembira. Ia menuliskan refleksi yang sangat romantis dan menyentuh untuk sang istri tercinta yang merayakan ulang tahun ke-56, mengenang perjalanan cinta mereka yang bermula dari bangku kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Andalas hingga mengarungi 27 tahun pernikahan yang penuh warna.
Puncak emosi dalam bagian ini adalah ketika penulis menceritakan momen sakral pernikahan putra sulungnya, Ilham. Di balik megahnya Gunung Cikuray di Garut yang menjadi saksi ijab kabul berbalut adat Sunda, serta kemeriahan resepsi adat Minangkabau di Bekasi, terselip sebuah doa tulus dari seorang ayah. Bagi Adrinal, pernikahan bukanlah sekadar pesta kebanggaan atau ajang unjuk prestise, melainkan sebuah mitsaqan ghaliza (perjanjian yang kokoh) yang menuntut kesiapan jiwa. Rasa syukur itu semakin meluap dan mewujud dalam air mata bahagia ketika putra bungsunya berhasil diterima di Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran melalui jalur SNBP, sebuah kejutan manis yang membuktikan bahwa penjagaan Tuhan selalu lebih indah dari segala kecemasan manusia.
Menjelang usianya yang ke-55, penulis masuk ke dalam fase “Cahaya Kecukupan”. Ia merenungkan esensi kehidupan yang mulai melambat. Mengutip filsafat Lao Tzu dan hadis Nabi Muhammad SAW tentang keserakahan manusia, Adrinal memaparkan bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan pada jabatan tinggi, popularitas, atau akumulasi kekayaan, melainkan pada kemampuan hati untuk merasa “cukup” (qana’ah). Pemikiran ini semakin diperdalam saat ia merenungkan kepergian penyanyi Vidi Aldiano, yang menyadarkannya bahwa kematian adalah kepastian yang tidak pernah menunggu kesiapan manusia. Refleksi ini mengajarkan bahwa memaafkan adalah jalan untuk merdeka dari beban masa lalu, dan duka atau luka sejatinya adalah cahaya yang menuntun manusia pulang ke haribaan-Nya.
Pada bagian kelima dan epilog, buku ini diakhiri dengan perayaan dua dekade sang penulis dalam berkarya. Sebuah pencapaian yang “berdarah-darah” namun membahagiakan. Adrinal mendedikasikan halaman-halaman terakhirnya untuk mengapresiasi para sahabat dan mentor yang menjadi peneguh langkahnya. Ia menyebutkan nama-nama yang menjadi saksi sejarahnya, seperti St. Irmendas, Rizal Suhaili, Rolaw P. Samosir, hingga kawan-kawan dari Ikatan Alumni FEB Unand seperti Darmansyah, Yevri Zulfiqar, dan Denny Abdi yang terpilih sebagai Ketua Umum IKA Unand. Kehadiran mereka membuktikan bahwa dalam jalan sunyi kepenulisan, seseorang tidak pernah benar-benar berjalan sendirian.
Buku ini ditutup dengan sebuah keputusan besar yang sangat inspiratif. Setelah 16 tahun menduduki jabatan struktural di birokrasi, Adrinal Tanjung memilih untuk melangkah mundur dan beralih ke jabatan fungsional sebagai Analis Kebijakan Madya. Sebuah pilihan yang mungkin dihindari oleh banyak orang yang haus akan kekuasaan, namun bagi Adrinal, ini adalah jalan pembebasan. Keputusan ini memberinya ruang yang lebih lapang, waktu yang lebih jujur, dan kebebasan untuk terus menulis serta mendidik birokrat muda. Baginya, menulis adalah cara ia mensyukuri hidup, mendokumentasikan jejak sejarah, dan pada akhirnya, menulis adalah caranya menemukan “jalan pulang” kepada kejujuran dan hakikat pengabdian kepada Tuhan.
Sebagai konklusi, Menulis Jalan Pulang: 60 Hari di Pulau Dewata adalah sebuah karya sastra birokrasi yang langka dan amat berharga. Dengan gaya bahasa yang puitis, jujur, santun, dan sangat reflektif, Adrinal Tanjung berhasil membuktikan bahwa di balik seragam abdi negara, terdapat jiwa humanis yang peka terhadap lingkungan dan spiritualitas. Sinopsis naratif ini merangkum bahwa buku ini sangat direkomendasikan bagi siapa saja—baik itu sesama birokrat, penulis pemula, maupun pembaca umum—yang sedang mencari ketenangan di tengah hiruk-pikuk kehidupan, atau bagi mereka yang sedang mencari alasan untuk berhenti sejenak, bersyukur, dan menemukan jalan pulangnya sendiri.
Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!
DAFTAR ISI
Daftar Isi 1
Daftar Isi 2
Slider Caption
Slider CaptionSpesifikasi Buku
Cetakan I, Mei 2026; 246 hlm, ukuran 14,8 x 21 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, Hard cover dan shrink bungkus plastik.
Harga Buku
Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.
Rp 120.000
Rp 104.300
Tentang Penulis
Adrinal Tanjung
Adrinal Tanjung, lahir di Padang, 28 Januari 1971, adalah putra asli Minang yang menapaki
kehidupan dengan bekal rasa ingin tahu, ketekunan, dan semangat untuk terus belajar. Jejak pendidikan-nya dimulai dari SD Negeri 71 Padang lulus
tahun 1983, berlanjut ke SMPN 20 Padang lulus tahun 1986 dan SMAN 2 Padang lulus pada tahun 1989. Saat ini, Adrinal adalah seorang birokrat di sebuah institusi pemerintahan. Di tengah kesibukan sebagai aparatur sipil negara, Adrinal tetap menjaga semangat menulis dan berkarya. Ia merupakan pendiri Komunitas Satu Birokrat Satu Buku (Sabisabu)—yang kini berkembang menjadi Yayasan Pusako Adrinal Tanjung, sebuah wadah literasi yang menggerakkan para birokrat untuk menulis dan berkarya. Bagi Adrinal, menulis bukan sekadar aktivitas pribadi, melainkan jalan berbagi, menyemai ilmu, dan meninggalkan jejak intelektual bagi generasi penerus birokrasi.
Hingga saat ini, tak kurang 50 buku dan ratusan artikel telah lahir dari pemikiran dan pengalamannya— mencakup tematema literasi, birokrasi, pengawasan, dan pengembangan diri. Perjalanan menulis Adrinal dimulai dari artikel-artikel bertema keuangan dan pengawasan, ia mulai menyelami dunia jurnalisme dengan lebih serius: menulis reportase, mewawancarai tokoh-tokoh nasional, hingga menyusun tulisan reflektif yang memperluas cakrawala berpikirnya. Ia menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Ekonomi Universitas Andalas dan memperoleh gelar Akuntan tahun 1994. Gelar Magister diperolehnya dari Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) Jakarta dalam bidang Ilmu Administrasi, serta menempuh sebagian studi Magister Manajemen di Universitas Esa Unggul Jakarta. Adrinal juga sempat menempuh Program Doktor Ilmu Sosial di Universitas Pasundan Bandung, meskipun belum diselesaikan karena berbagai kesibukan.
Di tengah dunia birokrasi yang sering berjalan linear dan teknokratis, Adrinal memilih jalur berbeda: menulis untuk menghidupkan makna dalam kerjakerja pemerintahan. Ia aktif mendorong para ASN, khususnya dari Ranah Minang, untuk menulis dan membagikan pengalaman mereka sebagai bentuk kontribusi terhadap bangsa dan negara.