MANHAJ KEISLAMAN MUHAMMADIYAH DAN SALAFISME Genealogi, Epistemologi, dan Orientasi Gerakan Sosial

Buku ini adalah kajian akademis yang mengupas secara mendalam pengaruh ideologis Salafisme terhadap Muhammadiyah yang selama ini dikenal teguh dengan prinsip moderasi dan pembaruannya. Melalui analisis komprehensif mengenai genealogi, epistemologi, dan orientasi gerakan sosial, karya ini menyoroti perbedaan fundamental antara pendekatan tekstual-literal Salafisme dengan paradigma tajdid serta ijtihad kontekstual Muhammadiyah.

Manhaj Keislaman Muhammadiyah dan Salafisme, Menjaga Benteng Islam Berkemajuan di Tengah Arus Puritanisme Global

Perkembangan diskursus keislaman di Indonesia pada abad ke-21 tidak dapat dilepaskan dari derasnya arus ideologi transnasional yang masuk dan berpenetrasi ke dalam lanskap sosial-keagamaan masyarakat. Salah satu fenomena yang paling menyita perhatian adalah ekspansi ideologi Salafisme yang secara masif mulai memengaruhi berbagai lapisan umat Islam, termasuk merangsek masuk ke dalam tubuh organisasi Islam modernis terbesar di Indonesia, Muhammadiyah. Merespons dinamika yang krusial tersebut, Dr. Sholihul Huda, SHI, M.Fil.I menghadirkan sebuah mahakarya akademis yang sangat tajam dan komprehensif berjudul Manhaj Keislaman Muhammadiyah dan Salafisme: Genealogi, Epistemologi, dan Orientasi Gerakan Sosial. Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Samudra Biru pada tahun 2026 ini bukan sekadar literatur perbandingan mazhab, melainkan sebuah autokritik, pemetaan ideologis, sekaligus panduan strategis bagi Muhammadiyah untuk mempertahankan identitasnya sebagai pelopor Islam moderat dan berkemajuan di tengah gempuran puritanisme global.

Secara cemerlang, buku setebal 182 halaman ini membedah anatomi kedua gerakan tersebut hingga ke akar filosofis dan epistemologisnya. Penulis menguraikan bagaimana Salafisme, dengan doktrin purifikasi yang kaku dan tekstual, mulai mengikis tradisi intelektual Muhammadiyah yang selama ini dikenal inklusif, rasional, dan adaptif terhadap modernitas. Melalui pendekatan historis, sosiologis, dan teologis, karya ini menjadi rujukan wajib bagi para akademisi, mahasiswa, pembuat kebijakan, dan secara khusus bagi para kader Muhammadiyah untuk menyadari ancaman laten yang sedang menggerogoti rumah besar Islam Berkemajuan.

Genealogi Pemikiran dan Benturan Dua Epistemologi Keislaman

Bagian pertama dari buku ini secara mendalam mengontraskan fondasi epistemologis antara Muhammadiyah dan Salafisme. Muhammadiyah, yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1912, lahir sebagai gerakan tajdid (pembaruan) yang tidak hanya berfokus pada purifikasi akidah dari bid’ah dan khurafat, tetapi juga pada transformasi sosial masyarakat Muslim. Epistemologi keislaman Muhammadiyah dibangun di atas Manhaj Tarjih, sebuah metodologi ijtihad yang mengintegrasikan pendekatan bayani (tekstual), burhani (rasional/keilmuan), dan irfani (etik-spiritual). Dengan paradigma Islam Berkemajuan, Muhammadiyah menempatkan maqashid al-syari’ah (tujuan universal syariat seperti keadilan dan kesejahteraan) sebagai kompas utama, sehingga agama selalu relevan untuk menjawab tantangan modernitas, demokrasi, hak asasi manusia, dan sains.

Sebaliknya, penulis membedah silsilah Salafisme kontemporer yang berakar dari pemikiran Ibn Taymiyyah dan kemudian dikonstruksi secara masif oleh gerakan Wahhabisme dari Arab Saudi pada abad ke-18. Karakter epistemologis utama Salafisme adalah skripturalisme atau tekstualisme literal (textual literalism). Paradigma ini menolak keras pendekatan hermeneutik modern, takwil filosofis, dan kontekstualisasi sejarah, dengan alasan bahwa agama telah final pada masa salaf al-shalih (generasi awal Islam). Buku ini juga memberikan kontribusi teoretis yang sangat penting dengan memperjelas perbedaan konseptual antara Salaf (kategori historis generasi awal), Salafi (identitas individu), Salafiyah (gerakan reformisme intelektual abad ke-19 ala Muhammad Abduh), dan Salafisme (ideologi puritan politik kontemporer). Pembedaan ini krusial agar publik tidak menyederhanakan sejarah dan terjebak pada klaim kebenaran tunggal (truth claim) yang sering didengungkan oleh kelompok Salafi modern.

Benturan kedua epistemologi ini paling nyata terlihat dalam menyikapi konsep-konsep kunci keagamaan. Mengenai bid’ah (inovasi agama), Salafisme memahaminya secara literal dan sapu bersih, menganggap segala tradisi lokal seperti tahlilan, ziarah, hingga ritual budaya sebagai kesesatan. Di sisi lain, Muhammadiyah secara cerdas membedakan antara bid’ah dalam ibadah mahdhah yang dilarang, dengan inovasi dalam wilayah muamalah (sosial) yang justru didorong demi kemaslahatan, seperti mendirikan rumah sakit, sekolah modern, hingga berdakwah melalui teknologi digital.

Perbedaan tajam juga terlihat dalam konsep Amar Makruf Nahi Mungkar. Bagi Salafisme, hal ini direduksi sekadar menjadi pemurnian ritual dan penertiban simbolik masyarakat dari hal-hal yang dianggap musyrik. Sementara bagi Muhammadiyah, Nahi Mungkar bermakna perlawanan terhadap kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan struktural, dan korupsi melalui kerja-kerja peradaban seperti filantropi (Lazismu) dan pemberdayaan sosial. Bahkan dalam ranah penetapan awal Ramadan dan Idulfitri, literalisme Salafi bersikukuh pada rukyat visual dengan mata telanjang, sedangkan Muhammadiyah yang pro-sains menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal berbasis keilmuan astronomi modern, membuktikan bahwa Muhammadiyah tidak mempertentangkan antara wahyu ilahi dan akal manusia.

Ancaman Infiltrasi Ideologis dan Strategi Transformasi Dakwah Muhammadiyah

Memasuki paruh kedua, buku ini menyingkap tabir sosiologis mengenai bagaimana ideologi Salafisme secara senyap namun terstruktur melakukan infiltrasi ke dalam rumah besar Muhammadiyah. Penetrasi ini tidak terjadi secara konfrontatif, melainkan memanfaatkan kesamaan narasi awal mengenai “pemurnian agama” dan slogan “kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah”. Infiltrasi merangsek masuk melalui jaringan pesantren Salafi, majelis taklim, dan yang paling masif adalah melalui media digital. Penulis menguraikan bagaimana tokoh-tokoh populer Salafi kontemporer seperti Khalid Basalamah dan Syafiq Riza Basalamah sangat piawai memanfaatkan platform YouTube, Instagram, dan TikTok untuk menyebarkan narasi keagamaan yang hitam-putih dan sederhana, yang terbukti sangat memikat generasi muda Muslim urban yang tengah mengalami krisis identitas.

Dampak sosiologis dari infiltrasi ini sangat membahayakan (darurat). Buku ini mencatat terjadinya erosi ideologi di mana sebagian kader Muhammadiyah mulai menanggalkan nalar kritis dan inklusivitasnya, beralih pada pola keberagamaan yang eksklusif dan anti-tradisi lokal. Muncul fenomena “Arabisme sosial-keagamaan”, di mana keislaman direduksi sekadar menjadi atribut budaya Timur Tengah (seperti gaya berpakaian dan istilah bahasa Arab), seolah-olah budaya Arab adalah satu-satunya representasi Islam yang autentik. Hal ini secara perlahan mencerabut akar Islam Indonesia yang sejak berabad-abad lalu mampu berdialog secara harmonis dengan kebudayaan Nusantara. Jika dibiarkan, radikalisasi ideologis ini akan mengubah wajah Islam Indonesia yang plural, moderat, dan toleran, menjadi entitas yang terpolarisasi, segregatif, dan rentan terhadap takfirisme (mengkafirkan sesama Muslim).

Menghadapi invasi ideologis tersebut, Dr. Sholihul Huda tidak hanya memberikan diagnosis, tetapi juga meresepkan strategi resolusi yang komprehensif bagi Muhammadiyah. Organisasi ini telah menunjukkan tiga pola respons: inklusif (mengedepankan dialog), eksklusif (penegasan batas ideologi Islam Berkemajuan), dan edukatif (penguatan literasi dan kaderisasi). Penulis sangat menekankan pentingnya pendekatan edukatif dan pembaruan strategi dakwah. Majelis Tabligh Muhammadiyah dituntut untuk bertransformasi dan terjun secara agresif ke arena peperangan narasi di media sosial.

Langkah konkret yang diusulkan adalah produksi konten-konten digital yang menggugah, rasional, dan estetis untuk mengampanyekan moderasi beragama. Muhammadiyah harus mencetak “Mubaligh Digital Muhammadiyah” dari kalangan generasi Z yang tidak hanya mumpuni secara sanad keilmuan, tetapi juga fasih dalam algoritma media sosial. Selain itu, menghidupkan kembali tradisi intelektual melalui kajian-kajian kritis di tingkat perguruan tinggi Muhammadiyah mutlak diperlukan untuk membentengi umat dari doktrinasi puritan yang dangkal.

Sebagai kesimpulan, Manhaj Keislaman Muhammadiyah dan Salafisme adalah sebuah magnum opus yang sangat krusial bagi peta jalan pemikiran Islam di Asia Tenggara. Buku ini dengan sangat brilian mendudukkan persoalan teologis pada porsi sosiologisnya yang tepat. Dengan gaya bahasa yang terstruktur, referensi akademik yang kaya, dan analisis yang berani, karya ini membuktikan bahwa Muhammadiyah memiliki resiliensi epistemologis untuk bertahan dan memimpin peradaban. Bagi siapa pun yang peduli pada masa depan keberagamaan yang toleran, damai, dan berkemajuan di Indonesia, buku ini adalah sebuah manifestasi literasi yang mencerahkan pikiran dan meneguhkan pijakan.

Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!

DAFTAR ISI

Daftar Isi 1
Slider Caption
Slider Caption
Previous
Next

Spesifikasi Buku

Cetakan I, Mei 2026; 196 hlm, ukuran 15,5 x 23 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, Hard cover dan shrink bungkus plastik.

Harga Buku

Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.

Rp 125.000

Rp 119.400

Tentang Penulis

Associate Prof. Dr. Sholihul Hudu, S.H.I., M.Fil.I

Associate Prof. Dr. Sholihul Hudu, S.H.I., M.Fil.I bin H. Atrup, yang biasa dipanggil Gus Sholikh, lahir di Lamongan pada 29 Juni 1981 dari pasangan
H. Atrup dan Hj. Rasmo’ah. Beliau menikah dengan Maulida Puji Ayu K, Amd.Keb., dan dikaruniai seorang putri bernama Galena Hayfa Nadda Ignacia,
yang saat ini sedang belajar di Pesantren Madrasah Mua’limat Muhammadiyah Yogyakarta. Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas
Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) dan merupakan dosen tetap pada Program Doktor (S3) Studi Islam di sekolah pascasarjana
tersebut. Beliau menempuh pendidikan di S1 Politik Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya (2006), S2 Filsafat Islam Pascasarjana UIN
Sunan Ampel Surabaya (2014), dan S3 Filsafat Islam Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya (2019). Gus Sholikh juga memiliki
pengalaman belajar di pesantren, yakni Pesantren Ar-Roudlatul Ilmiyah Kertosono Nganjuk dan Pesantren Luqmanul Hakim OKUPalembang. 

Di bidang organisasi, beliau aktif di Muhammadiyah dengan berbagai jabatan, antara lain Ketua Umum Korkom IMM IAIN
Sunan Ampel Surabaya (2003), Ketua Bidang Hikmah PC IMM Kota Surabaya (2024-2025), Ketua Bidang Hikmah DPD IMM Jawa Timur (2006-2008), serta Sekretaris PW Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur (2010). Beliau juga menjabat Wakil Ketua PW PemudaMuhammadiyah Jawa Timur (2014-2018) dan Wakil Sekretaris MEK Muhammadiyah Jawa Timur (2010-2014). Gus Sholikh juga pernah menjadi Sekretaris Umum FOKAL IMM Jawa Timur (2017- 2022) dan Wakil Ketua FOKAL IMM Jawa Timur (2025-2030), serta Wakil Ketua Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jawa Timur (2022-2027). Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Masangan Wetan Cabang Sukodono Sidoarjo (2023-2028), serta Anggota Tim Pengembang AIK Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah (2024-2026). Selain itu, Gus Sholikh juga menjabat sebagai Direktur Akademi Mubaligh Muda
Muhammadiyah (AMM) MT PWM Jawa Timur (2022-2027).