LAYANAN PUBLIK DI UJUNG JARI KEMUDAHAN, KETIMPANGAN,DAN KETERLIBATAN
Buku ini adalah sebuah karya akademis komprehensif yang mengkaji transformasi digitalisasi layanan publik secara kritis dan humanis. Membongkar narasi teknokratis yang selama ini mendominasi, literatur ini mengingatkan bahwa peralihan dari layanan tatap muka ke platform digital tidak hanya menawarkan kemudahan dan efisiensi, tetapi juga berpotensi menciptakan ketimpangan akses, eksklusi sosial, serta beban administratif baru bagi kelompok rentan di masyarakat.
Transformasi, Ketimpangan, dan Masa Depan E-Government di Indonesia
Di era modern yang ditandai dengan disrupsi teknologi, digitalisasi telah merasuk ke berbagai sendi kehidupan, tak terkecuali dalam sektor pemerintahan dan pelayanan publik. Pergeseran wujud layanan dari antrean fisik dan formulir kertas menuju layar ponsel dan portal daring seolah menjanjikan efisiensi, kecepatan, dan transparansi tanpa batas. Namun, apakah transformasi ini benar-benar membawa keadilan dan kemudahan bagi seluruh lapisan masyarakat? Ataukah digitalisasi justru menciptakan jurang ketimpangan baru yang lebih sunyi dan tak kasat mata?
Pertanyaan-pertanyaan kritis inilah yang menjadi napas utama dari buku Layanan Publik di Ujung Jari: Kemudahan, Ketimpangan, dan Keterlibatan. Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Samudra Biru pada tahun 2026 ini merupakan sebuah karya kolaboratif dari para akademisi dan praktisi—di antaranya Vita Pusvita, Moh. Muttaqin, Basuki Antariksa, dan kawan-kawan. Melalui tebal 254 halaman, buku ini hadir sebagai sebuah oase literatur yang mendobrak cara pandang teknokratis yang selama ini mendominasi wacana e-government di negara berkembang, khususnya di Indonesia.
Buku ini tidak hanya sukses menyajikan data dan analisis akademis yang komprehensif, tetapi juga berhasil membungkusnya dalam narasi yang humanis dan membumi. Buku ini mengajak pembaca untuk membongkar mitos bahwa teknologi secara otomatis akan menyelesaikan masalah birokrasi. Alih-alih memuja kecanggihan sistem, para penulis menempatkan warga sebagai subjek utama, mengingatkan kita bahwa pelayanan publik sejatinya adalah tentang bagaimana negara hadir dan berinteraksi dengan rakyatnya dalam pengalaman sehari-hari.
Buku ini disusun ke dalam empat babak pemikiran yang mengalir secara logis: Memahami Perubahan, Pengalaman Warga & Ketimpangan Digital, Mengukur Layanan Publik Digital, hingga bermuara pada Masa Depan & Arah Kebijakan. Melalui ulasan naratif ini, kita akan menyelami kedalaman gagasan dari buku Layanan Publik di Ujung Jari dan melihat mengapa literatur ini sangat krusial bagi para pembuat kebijakan, akademisi, dan masyarakat sipil.
Di Balik Narasi Kemudahan: Realitas Kesenjangan dan Pengalaman Warga
Bagian awal buku ini menelusuri akar historis dan konseptual dari digitalisasi layanan publik. Penulis dengan cerdas memaparkan bahwa perpindahan dari layanan tatap muka (offline) ke layanan berbasis internet (online) bukanlah sebuah proses yang netral. Digitalisasi sering kali didorong oleh tekanan global untuk modernisasi dan tuntutan efisiensi anggaran birokrasi. Namun, narasi kemudahan ini sering kali mengabaikan fakta bahwa internet bukanlah sekadar infrastruktur teknis berupa kabel serat optik atau sinyal nirkabel, melainkan sebuah infrastruktur sosial. Akses terhadap internet menentukan siapa yang memiliki kekuasaan, siapa yang mendapatkan privilese, dan siapa yang akhirnya terpinggirkan.
Buku ini dengan berani mengkritisi fenomena “eksklusi yang tidak disengaja” (unintentional exclusion). Ketika pemerintah secara masif mendigitalisasi layanan kependudukan, perpajakan, atau bantuan sosial, ada kelompok masyarakat yang diuntungkan dan ada yang tertinggal. Manfaat terbesar dari e-government terbukti hanya dinikmati oleh masyarakat perkotaan kelas menengah, generasi muda yang melek teknologi, dan mereka yang memiliki latar belakang pendidikan serta ekonomi yang mumpuni. Bagi mereka, layanan di ujung jari adalah sebuah privilese baru yang menghemat waktu dan biaya.
Sebaliknya, bagaimana nasib kelompok rentan? Masyarakat perdesaan yang terhalang infrastruktur jaringan, kelompok lanjut usia yang gagap teknologi, penyandang disabilitas yang tidak terakomodasi oleh desain antarmuka aplikasi, serta masyarakat berpenghasilan rendah kini dihadapkan pada tembok birokrasi yang baru. Tembok itu bernama “kesenjangan digital” (digital divide). Buku ini menyoroti bahwa kesenjangan ini bekerja dalam dua lapis: lapisan pertama adalah kesenjangan akses fisik terhadap perangkat dan koneksi internet, sementara lapisan kedua adalah kesenjangan kapabilitas atau literasi digital. Warga yang tidak memiliki literasi digital pada akhirnya harus bergantung pada perantara informal atau calo digital, yang tentu saja menambah biaya dan mereduksi kemandirian mereka.
Salah satu temuan paling menohok dalam buku ini adalah mengenai “beban administratif digital” (burden shifting). Alih-alih menyederhanakan proses, digitalisasi kerap kali hanya memindahkan beban kerja aparatur negara ke pundak warga. Warga kini dituntut untuk melakukan entri data sendiri, mengunggah dokumen dengan format tertentu, dan memahami alur verifikasi yang kompleks. Keadaan ini diperparah oleh penggunaan bahasa birokrasi dan jargon hukum yang kaku dalam platform digital. Aplikasi pemerintah sering kali tidak dirancang dengan prinsip desain antarmuka yang ramah pengguna (user-friendly interface), melainkan sekadar memindahkan kerumitan birokrasi fisik ke dalam layar ponsel. Kesalahan kecil dalam memilih menu dapat berakibat pada penolakan layanan, yang pada akhirnya memicu rasa frustrasi, kecemasan, dan penurunan kepercayaan publik terhadap pemerintah.
Melalui narasi di bagian ini, para penulis berhasil mengetuk nurani pembuat kebijakan bahwa perancangan layanan digital harus melepaskan asumsi tentang “pengguna ideal”. Pemerintah tidak boleh lagi berasumsi bahwa seluruh rakyat Indonesia memiliki gawai mutakhir, kuota internet tak terbatas, dan pemahaman administratif yang seragam. Memahami realitas warga adalah langkah pertama untuk menciptakan sistem layanan publik yang benar-benar adil dan inklusif.
Mengevaluasi Digitalisasi: Menuju Tata Kelola Pelayanan Publik yang Memanusiakan Manusia
Memasuki paruh kedua buku, fokus bahasan beralih pada bagaimana pemerintah selama ini mengukur keberhasilan transformasi digital. Penulis memberikan kritik tajam terhadap metode evaluasi konvensional yang terjangkit “bias teknokratis” dan “bias efisiensi”. Selama ini, keberhasilan digitalisasi hanya diukur dari seberapa banyak aplikasi yang telah diluncurkan, seberapa besar anggaran yang dihemat, atau seberapa cepat waktu pemrosesan di back-end server pemerintah. Angka-angka statistik dalam Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) atau Indeks Pelayanan Publik (IPP) sering kali menunjukkan predikat “Sangat Baik”, namun angka agregat tersebut menutupi penderitaan kelompok marginal. Fenomena ini diistilahkan dalam buku sebagai system success but citizen failure—sistemnya secara teknis berhasil berjalan tanpa eror, namun warganya gagal mengakses hak-hak sosial mereka.
Buku ini menawarkan pergeseran paradigma evaluasi yang revolusioner: dari pendekatan yang berpusat pada sistem (system-centric) menuju pendekatan yang berpusat pada warga (user-centric). Keberhasilan layanan publik digital seharusnya tidak diukur dari kemampuan teknologi semata, melainkan dari “Pengalaman Pengguna” (User Experience). Pengukuran harus bersifat holistik dengan memasukkan dimensi kemudahan penggunaan (usability), aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, serta penciptaan nilai publik (public value). Sebuah layanan digital baru bisa dikatakan berhasil jika ia mampu memperluas inklusi sosial, mengurangi ketimpangan, dan meningkatkan kepercayaan (trust) masyarakat terhadap institusi negara.
Lebih jauh, buku ini mengupas tantangan masa depan layanan publik di negara berkembang di tengah arus otomasi dan integrasi kecerdasan buatan (AI). Otomasi memang menjanjikan konsistensi dan menekan angka pungutan liar karena meminimalisasi interaksi tatap muka. Namun, bahaya mengintai ketika manusia direduksi sekadar menjadi “entitas data administratif”. Algoritma yang bekerja tanpa simpati dapat menghasilkan keputusan yang diskriminatif, yang dikenal sebagai automating inequality. Ketika sebuah permohonan bantuan sosial ditolak oleh algoritma komputer tanpa alasan yang dapat dipahami, akuntabilitas negara dipertaruhkan. Buku ini menegaskan bahwa algoritma tidak bisa dimintai pertanggungjawaban moral; oleh karena itu, kontrol manusia (human-in-the-loop) tetap menjadi syarat mutlak dalam administrasi publik.
Di sinilah buku Layanan Publik di Ujung Jari menawarkan solusi kebijakan yang sangat bernas. Para penulis menyarankan pendekatan Hybrid Service Delivery sebagai arah kebijakan yang paling realistis bagi negara berkembang seperti Indonesia. Pendekatan hibrida ini mensyaratkan pemerintah untuk tidak memaksakan digitalisasi secara membabi buta, melainkan tetap mempertahankan kanal layanan konvensional (tatap muka) sebagai jalur alternatif. Mall Pelayanan Publik (MPP) atau agen layanan di tingkat desa harus terus dioptimalkan sebagai pendamping bagi masyarakat yang belum siap secara digital.
Akses terhadap layanan digital harus mulai dimaknai sebagai bagian dari Hak Sosial (Social Rights) warga negara, bukan sekadar komoditas teknis. Transformasi digital yang sukses adalah transformasi yang berlangsung secara bertahap, memperhatikan konteks kebudayaan lokal, dan secara aktif memberdayakan kapasitas literasi masyarakatnya. Ketergantungan yang berlebihan pada sistem digital juga mengharuskan pemerintah membangun ketahanan siber (cyber resilience) yang kuat. Insiden peretasan Pusat Data Nasional yang sempat menimpa Indonesia diangkat sebagai pelajaran berharga bahwa infrastruktur digital yang rapuh dapat melumpuhkan sendi-sendi pelayanan publik dan menghancurkan kepercayaan rakyat dalam semalam.
Sebagai penutup, resensi ini menyimpulkan bahwa buku Layanan Publik di Ujung Jari: Kemudahan, Ketimpangan, dan Keterlibatan adalah sebuah mahakarya akademik yang memiliki bobot sosiologis yang sangat tinggi. Ditulis dengan gaya bahasa yang analitis namun tetap mengalir dan naratif, buku ini berhasil mendekonstruksi wajah digitalisasi pemerintahan kita. Bagi para Search Engine Optimization (SEO) expert yang mencari literatur terpercaya mengenai e-government, reformasi birokrasi, user experience, dan inklusi sosial, buku ini menyajikan kata kunci dan kerangka pemikiran yang berlimpah.
Buku ini adalah bacaan wajib bagi para birokrat, pengembang teknologi (developer), akademisi ilmu pemerintahan, hingga masyarakat sipil yang peduli terhadap keadilan pelayanan publik. Membaca buku ini menyadarkan kita bahwa di ujung jari yang menyentuh layar ponsel, ada harapan seorang warga negara agar negaranya hadir, mendengarkan, dan memberikan solusi yang memanusiakan manusia. Digitalisasi tidak boleh menghilangkan empati; ia justru harus menjadi alat untuk merawat kesejahteraan rakyat secara lebih adil dan bermartabat.
Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!
DAFTAR ISI
Daftar Isi 1
Slider Caption
Slider Caption
Slider Caption
Slider Caption
Slider Caption
Slider CaptionSpesifikasi Buku
Cetakan I, Juni 2026; 268 hlm, ukuran 14,8 x 21 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, Hard cover dan shrink bungkus plastik.
Harga Buku
Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.
Rp 130.000
Rp 109.500
Tentang Penulis
Vita Pusvita
Vita Pusvita merupakan Peneliti Ahli Muda di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang memfokuskan kepakarannya pada kebijakan publik, kebijakan iptek-inovasi, informatika sosial, serta dampak sosial implementasi teknologi. Kompetensi akademisnya bersumber dari program Magister Teknologi Informasi (Chief Information Officer) Universitas Gadjah Mada, yang lulus pada tahun 2017. Rekam jejak profesionalnya terintegrasi secara global melalui Scopus Author ID (58509180100), Google Scholar (ID: zbXnItwAAAAJ), dan ORCID (0000-0002-5403-632X), dengan jalur korespondensi resmi via email vita005@brin.go.id. Aktivitas risetnya secara konsisten menyasar isu transformasi digital, kebijakan teknologi, dan pembangunan sosial. Fokus ini tecermin dalam keterlibatannya pada penelitian model mobilitas terintegrasi bagi penyandang disabilitas (2025), perumusan kerangka evaluasi adaptif dan platform pengukuran SPBE untuk reformasi birokrasi (2024), serta penguatan kecakapan digital eks pekerja migran (2023). Di tingkat daerah, ia berkontribusi strategis dalam penyusunan Rencana Induk Pengembangan TIK Kabupaten Tapanuli Selatan pada tahun 2021.
Moh. Muttaqin
Moh. Muttaqin aktif sebagai Peneliti Ahli Muda di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan fokus riset pada kebijakan publik, kebijakan iptek-inovasi, informatika sosial, serta implikasi sosial dari implementasi teknologi. Kompetensi akademisnya diperkuat oleh gelar Magister Teknologi Informasi dari Program Chief Information Officer (CIO) Universitas Gadjah Mada yang diselesaikannya pada tahun 2016. Rekam jejak ilmiahnya terintegrasi secara global melalui Scopus Author ID (58508685300), Google Scholar (ID: PREGPXYAAAAJ), dan ORCID (0000-0002-6345-6975), dengan jalur komunikasi resmi via email mohm004@brin.go.id. Aktivitas risetnya secara konsisten menyasar isu teknologi, transformasi digital, dan pembangunan sosial. Hal ini dibuktikan melalui keterlibatannya dalam riset model mobilitas terintegrasi bagi penyandang disabilitas (2025), serta perumusan kerangka evaluasi adaptif dan platform pengukuran SPBE untuk mendukung reformasi birokrasi (2024). Pada tahun 2023, ia meneliti penguatan keterampilan digital bagi eks pekerja migran Indonesia. Sementara di ranah regional, ia dipercaya menjadi Koordinator Tim dalam penyusunan Rencana Induk Pengembangan TIK Kabupaten Tapanuli Selatan pada tahun 2021 sebagai pilar penting digitalisasi daerah.
Basuki Antariksa
Basuki Antariksa adalah Peneliti Ahli Muda di Pusat Riset Kebijakan Publik (PRKP), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Bidang yang diminati adalah hukum/kebijakan kepariwisataan dan kekayaan intelektual komunal (KIK). Menyelesaikan pendidikan sarjana hukum di Universitas Padjadjaran (UNPAD) dan magister studi pembangunan di Institut Teknologi Bandung (ITB). Saat ini sedang menempuh studi doktoral di Fakultas Hukum UNPAD. Aktivitas penelitian dapat ditelusuri dalam Scopus Author ID (58678995200), Google Scholar, ORCID ID (0000-0002-9922-5861). E-mail yang dapat dihubungi adalah basu003@brin.go.id dan antariksa.basuki@gmail.com.
Tristania Risma Anastasia Pangaribuan
Tristania Risma Anastasia Pangaribuan merupakan peneliti ahli muda di Badan Riset dan Inovasi Nasional, tepatnya pada Pusat Riset Kebijakan Publik, Organisasi Riset Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat (OR TKPEKM). Ia menyelesaikan pendidikan Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Padjadjaran dan memiliki keterlibatan dalam kajian kebijakan publik, komunikasi digital, transformasi sosial, serta inklusivitas layanan publik. Tristania juga memiliki profil akademik pada Scopus dan ORCID dengan Scopus ID 58509673200 serta ORCID ID 0009-0002-4187-3273. Keterlibatannya dalam penelitian dan publikasi tiga tahun terakhir mencakup isu transformasi digital masyarakat, literasi digital, pelayanan publik berbasis teknologi, serta inklusi sosial dan pemberdayaan kelompok rentan. Pada tahun 2023, ia terlibat dalam penelitian mengenai penguatan keterampilan digital bagi eks pekerja migran Indonesia. Pada tahun yang sama, ia juga menghasilkan sejumlah publikasi, antara lain Literasi Digital Masyarakat Kabupaten Bandung Barat, Managing Culture Shock in Nusantara to Prevent Mental Health Problems, serta Relasi Sosiodemografi terhadap Kesadaran Keamanan dan Privasi Data Pengguna WhatsApp di Provinsi Jawa Barat. Pada tahun 2024, Tristania terlibat dalam penelitian mengenai kebutuhan layanan transportasi bagi penyandang disabilitas. Ia juga menerbitkan artikel berjudul Partisipasi Pengguna Internet Indonesia dalam Pemanfaatan LAPOR! sebagai Layanan Pengaduan Publik di Jurnal Pekommas yang membahas partisipasi masyarakat dalam pemanfaatan platform pengaduan publik digital. Selanjutnya, pada tahun 2025, ia terlibat dalam penelitian mengenai model mobilitas terintegrasi bagi penyandang disabilitas. Pada tahun yang sama, ia turut menulis bab dalam bunga rampai perspektif kebijakan publik berjudul Makan Bergizi Gratis untuk Anak Indonesia: Membangun Generasi Sehat dan Cerdas.
Dian Hafit Syaifullah
Dian Hafit Syaifullah adalah Peneliti Ahli Muda di Pusat Riset Kebijakan Publik (PRKP), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Bidang yang diminati adalah kebijakan layanan dasar publik. Menyelesaikan pendidikan sarjana ekonomi di Universitas Indonesia dan magister manajemen di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka). Aktivitas penelitian dapat ditelusuri dalam Scopus Author ID (58204759700), Google Scholar (ID: yeYEsiIAAAAJ), ORCID ID (0000-0002-8089-8847). E-mail yang dapat dihubungi adalah dian069@brin.go.id dan dianhafitsyaifullah@gmail.com. Mengawali karir sebagai fungsional di Kementerian Agama (2008), Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, dengan terakhir kali sebagai peneliti Manajemen Organisasi (2020). Sejak tahun 2021 berkarir sebagai peneliti di Pusat Riset Kebijakan Publik Badan Riset Dan Inovasi Nasional. Mulai terlibat dalam isu teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam kapasitasnya sebagai peneliti riset aksi (Participation Action Research/PAR) Zona Integritas beberapa satuan kerja Kementerian Agama menuju Wilayah Bebas Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (2018 – 2020) terutama dalam efektivikasi berbagai aplikasi sangat terjangkau dalam mempermudah layanan publik berbagai satuan kerja Kementerian Agama namun sangat meringankan masyarakat.
Ahmad Budi Setiawan
Ahmad Budi Setiawan Adalah Peneliti Ahli Madya pada kelompok riset Layanan Dasar Publik (LDP) yang bernaung pada Pusat Riset Kebijakan Publik (PRKP), Organisasi Riset Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat (OR TKP EKM), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Bidang riset yang ditekuni meliputi bidang Ekonomi Digital, Manajemen Keamanan Informasi, Cyber Security, Difusi Inovasi dan Kebijakan TIK. Ahmad mendapatkan gelar akademis Sarjana Teknik Informatika (ST) dari Institut Teknologi Indonesia, Serpong, Tangerang Selatan dan Master Teknologi Informasi (MTI) dari Magister Teknologi Informasi, Fakultas Ilmu Komputer (FASILKOM), Universitas Indonesia. Untuk Pendidikan non-formal, Ahmad juga memiliki sertifikasi Insinyur Profesional Madya (IPM) dari Persatuan Insinyur Indonesia dan Information Security System Lead Auditor (ISMS-LA) dari International Register of Certificated Auditors (IRCA).
Karir peneliti bermula pada tahun 2008, Ketika masih menjadi CPNS di Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Komunikasi dan Informatika, sejak itu Ahmad sudah menjadi calon peneliti dan pada tahin 2010, Ahmad mengikuti Diklat Calon Peneliti Tingkat Pertama di Pubindiklat LIPI. Ahmad resmi menduduki jabatan fungsional Peneliti Ahli Pertama sejak 2010, selanjutnya Ahmad menduduki jabatan fungsional Peneliti Ahli Muda sejak Oktober 2013, kemudian Ahmad menduduki jenjang Peneliti Ahli Madya sejak bulan Maret 2017. Pada Januari 2022, Ahmad memutuskan untuk bergabung dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Hilarion Hamjen
Hilarion Hamjen,S.T.,M.A.P. adalah seorang peneliti Ahli Muda pada kelompok riset Manajemen dan inovasi publik, Pusat Riset Kebijakan Publik, Organisasi Riset Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Saat ini ia juga aktif sebagai mahasiswa doktoral program studi pembangunan setelah menyelesaikan pendidikan Magister Ilmu Administrasi Publik di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin dan pendidikan Sarjana Teknik Telekomunikasi di Universitas Telkom Bandung.Rekam jejak akademisnya dapat ditelusuri melalui google scholar, scopus Author ID (58310634200) dan ORCID (0000-0002-1927-1113).dengan minat riset pada bidang terkait pembangunan, administrasi publik, smart city, kebijakan lingkungan dan energi terbarukan serta teknologi informasi dan komunikasi (TIK).Komunikasi lebih lanjut dapat menghubungi email hila001@brin.go.id
Muhammad Belanawane Sulubere
Muhammad Belanawane Sulubere, S.Sos., merupakan seorang peneliti di Pusat Riset Kebijakan Publik, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Berbekal latar belakang pendidikan sarjana di bidang Antropologi Sosial dari Universitas Indonesia, ia menerapkan pendekatan penelitian interdisipliner yang memadukan wawasan dari ekonomi politik, sosiologi, dan geografi sosial. Melalui lensa antropologi ekonomi, Muhammad fokus memahami struktur-struktur yang mereproduksi kesenjangan sosial serta bagaimana dinamika tersebut ditentang oleh individu maupun gerakan kolektif. Saat ini, proyek penelitiannya mengeksplorasi integrasi pendekatan kebijakan sosial yang produktif ke dalam reformasi perlindungan sosial, serta bagaimana pendekatan tersebut berkonvergensi dengan kepentingan politik elite yang bersifat jangka pendek. Ia berupaya mengungkap konsekuensi luas dari meningkatnya finansialisasi kebijakan sosial, yang dinilainya tidak hanya memperlemah negara kesejahteraan di Indonesia, tetapi juga memperpanjang politik perlindungan sosial yang ada sekaligus menutup peluang lahirnya kerangka redistributif baru. Secara metodologis, ia terinspirasi oleh tradisi kaya para antropolog dan geografer sosial kritis yang memanfaatkan etnografi untuk membedah bagaimana kehidupan sehari-hari masyarakat bertransformasi akibat perubahan ekonomi global.
Oktolina Simatupang
Oktolina Simatupang adalah seorang fungsional peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan jenjang Peneliti Ahli Muda. Ia meraih gelar Magister Ilmu Komunikasi pada tahun 2015 dari Universitas Sumatera Utara. Memulai karir sebagai peneliti pada Juli 2011 di Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan bidang kepakaran Komunikasi dan Media. Sejak Januari 2022 resmi melanjutkan karir peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional. Sejumlah penelitian terkait kebijakan publik pernah ia lakukan bersama dengan rekan-rekan peneliti BRIN diantaranya: “Penguatan Keterampilan Digital bagi Eks Pekerja Migran untuk Peningkatan Kesejahteraan” pada tahun 2021, “Layanan Transportasi Publik Bagi Penyandang Disabilitas” pada tahun 2024, dan “Model Mobilitas Terintegrasi bagi Penyandang Disabilitas” pada tahun 2025. Ia menulis naskah berjudul “Managing Culture Shock in Nusantara to Prevent Mental Health Problems” yang diterbitkan oleh Springer Nature Singapore pada tahun 2023 dalam buku “Assembling Nusantara: Mimicry, Friction, and Resonance in the New Capital Development”. Lalu pada tahun 2025, ia menulis bab berjudul “Makan Bergizi Gratis untuk Anak Indonesia: Membangun Generasi Sehat dan Cerdas” yang diterbitkan dalam sebuah bunga rampai kebijakan publik. Di tahun 2026, ia tergabung dalam tim penelitian yang meneliti tentang “Modal Sosial Sebagai Basis Kolaborasi Multisektoral: Studi Kualitatif Dalam Mendukung Keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG)”. Informasi identitas akademiknya dapat diakses melalui Scopus Author ID: 58508442100 dan ORCID ID: 0000-0002-8219-822X. Ia dapat dihubungi pada alamat email okto003@brin.go.id
Diana Sari
Diana Sari adalah peneliti ahli muda di Badan Riset dan Inovasi Nasional. Beberapa penelitian yang dilakukan terkait kebijakan publik di bidang transportasi, perlindungan dan pemberdayaan lansia, disabilitas, bidang ketenagakerjaan, diantaranya terkait tenaga kerja informal, pemetaan kompetensi lulusan vokasi, keterampilan digital eks pekerja migran. Penulis juga melakukan riset di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK) meliputi literasi digital pada UMKM, penyusunan roadmap pembangunan sektor Teknologi Informasi dan Komunikasi, penelitian terkait kebijakan TIK, smart city, penyiaran digital, dan kajian aspirasi daerah bidang komunikasi dan informatika berkolaborasi dengan beberapa pemerintah daerah dan mitra lainnya. Minat riset pada manajeman dan kebijakan publik, perencanaan wilayah dan kota, literasi/kompetensi digital, smart city serta kebijakan publik terkait kelompok rentan. Publikasi dan kontak penulis dapat di akses melalui Scopus (Author ID: 57208863824), Google Scholar (User ID: X2xLBJAAAAAJ), dan ORCID (ID: 0000-0003-1502-7516). dapat dikontak melalui e-mail: dian083@brin.go.id.
Ari Cahyo Nugroho
Ari Cahyo Nugroho, S.Sos., M.I.Kom., merupakan seorang Peneliti Madya di Kelompok Riset Layanan Dasar Publik (LDP), Pusat Riset Kebijakan Publik (PR KP), Organisasi Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat (OR TKP EKM) di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Keahliannya terletak pada bidang Komunikasi dan Masyarakat Jaringan. Ia memperoleh gelar Sarjana (S1) dalam Ilmu Komunikasi (Jurnalistik), dan kemudian meraih gelar Magister (S2) dalam Ilmu Komunikasi dengan fokus pada Media Bisnis. Aryo, seperti yang biasanya dipanggil, telah memiliki pengalaman sebagai wartawan sejak tahun 2001, dengan kontribusinya pada berbagai surat kabar nasional. Pada tahun 2008, ia bergabung sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, di mana ia bertugas sebagai Peneliti, Editor, dan Pejabat Struktural Program, Keuangan, dan Anggaran di Badan Litbang SDM (Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia). Aryo juga aktif dalam penulisan makalah ilmiah, beberapa di antaranya telah diterbitkan dalam jurnal-jurnal kebijakan pemerintah, komunikasi, dan media. Pada tahun 2022, ia bergabung dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional sebagai Peneliti Madya. Email: ari.cahyo.nugroho@brin.go.id.
Istiana Hermawati
Istiana Hermawati adalah Peneliti Ahli Utama di Pusat Riset Kebijakan Publik, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan fokus penelitian pada kesejahteraan sosial, kemiskinan, pemberdayaan kelompok rentan, issue perempuan dan anak serta evaluasi program. Ia menyelesaikan pendidikan S1 Pendidikan Luar Sekolah di IKIP Karang Malang Yogyakarta (1993), S2 Sosiologi, Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial di Universitas Indonesia (2003), dan S3 Penelitian dan Evaluasi Pendidikan dengan konsentrasi Metodologi Penelitian di Universitas Negeri Yogyakarta (2011). Istiana aktif membangun portofolio akademik melalui Scopus Author ID (57215564750), Google Scholar dan ORCID (0000-0003-4095-3546). Ia dapat dihubungi melalui email isti008@brin.go.id atau istiana1410@gmail.com. Dalam lima tahun terakhir, ia memimpin dan berpartisipasi dalam berbagai penelitian strategis mengenai pengentasan kemiskinan, tata kelola layanan publik, digitalisasi pemerintahan, serta penguatan kapasitas masyarakat. Tahun 2025, ia memimpin riset Tata Kelola Kelembagaan ULD Ketenagakerjaan bagi Penyandang Disabilitas Lulusan Perguruan Tinggi, serta terlibat dalam kajian penguatan layanan haji dan strategi pemberdayaan ekonomi berkelanjutan. Pada 2024, Istiana berkontribusi dalam penelitian pengukuran digital mindset ASN, evaluasi TAGANA, dan pemanfaatan bantuan sosial di Kulon Progo. Tahun 2023, ia memimpin kajian pemberdayaan petani melalui korporasi untuk mewujudkan kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani di kabupaten kulon progo dan penelitian daya saing pertanian berbasis rantai pasok di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.