LANGKAH SHAR'I PETUGAS KESEHATAN HAJI INDONESIA

Di buku yang sedang Anda baca ini tergambar bagaimana para petugas kesehatan haji malah menjadi tenggelam dalam tugasnya dari sejak awal keberangkatan hingga akhir proses kepulangan jemaah haji.

ANTARA NIAT BERTUGAS DAN NAFSU BERIBADAH

Sungguh kuat magnet ibadah haji bagi mereka yang selalu berharap ingin mendekatkan dirinya ke Sang Khalik melalui jalur “mudik” ke Baitullah. Apalagi bagi umat muslim di Indonesia, setelah melihat lamanya antrian Jemaah yang sudah mendapatkan porsi mencapai sekitar 5,2 juta orang dengan rata-rata kuota haji tiap tahunnya hanya berkisar 200 ribuan. Maka apabila niat itu baru terbersit sekarang dan telah tersedia rejeki untuk membayar setoran awal, jika langsung mendaftar insya Allah baru akan berangkat sekitar 26 tahun yang akan datang. Sungguh suatu masa tunggu yang sangat panjang.
Oleh karena itu sungguh sangat manusiawi jika sebagian dari teman-teman tenaga kesehatan memilih jalur menjadi Petugas Kesehatan Haji sebagai alternatif untuk “mudik” ke rumah Allah. Ini merupakan refleksi kesadaran bahwa kita semua berasal dan diciptakan oleh Allah, dan akan kembali kepada NYA. Maka pengharapan untuk bisa segera sampai ke Baitullah bagi yang belum pernah ke sana, atau kerinduan untuk selalu berkunjung kembali bagi yang sudah pernah, pasti selalu menjadi bagian dari alunan doa yang selalu dipanjatkan oleh orang-orang yang selalu mengingat “jalan pulang”. Fenomena ini terlihat dari semakin meningkatnya jumlah tenaga Kesehatan yang mendaftar dan mengikuti seleksi untuk dapat menjadi tenaga kesehatan haji dari tahun ke tahun.
Sementara itu, kuota yang tersedia bagi tenaga kesehatan untuk formasi sebagai petugas kloter maupun PPIH Arab Saudi dari tahun ke tahun malah semakin menurun. Artinya persaingan diantara peserta seleksi semakin ketat, di samping jenis profesi yang dibutuhkan juga semakin sedikit, disesuaikan dengan kebijakan dan strategi penyelenggaraan kesehatan haji yang akan diimplementasikan. Tapi yakinlah bahwa tidak ada yang kebetulan yang terjadi di dunia ini. Semuanya sudah di skenariokan oleh yang Maha Pembuat Skenario. Bahkan sehelai daun yang jatuh di tengah hutan belantara pun telah tertulis di lauhul mahfudz. Maka proses seleksi untuk menjadi petugas kesehatan haji hanyalah bagian dari skenario perjalanan ikhtiar untuk bercermin apakah kita sudah pantas untuk melayani para tamu Allah atau belum.
Bagi yang lolos dan sudah memegang visa pun belum dapat dikatakan berhasil menjadi petugas, karena itu baru tahap awal sebelum dia melaksanakan tugas pokoknya. Tugas itu dimulai sejak mereka bersatu dengan jemaahnya di embarkasi sebelum keberangkatan bagi tenaga kesehatan haji di kloter, atau sejak mereka mempersiapkan KKHI dan atau klinik-klinik sektor di Makkah atau Madinah bagi PPIH Arab Saudi. Sejak itulah ujian untuk menjadi petugas Kesehatan haji dimulai.
Keberadaannya di dua tanah suci, dengan iming-iming pahala yang beribu kali lipat akan diperoleh bagi mereka yang shalat di dua masjid haram tentu membuat nafsu untuk beribadah di kedua tempat tersebut sangat menggebu. Sementara integritasnya menuntut realisasi komitmen melayani jemaah haji dengan sepenuh hati. Dua kutub yang sama-sama mempunyai daya tarik yang sangat kuat. Apalagi dihadapkan pada kondisi godaan: “Kapan lagi? Ini kesempatan yang sangat langka. Belum tentu akan mendapatkan kesempatan seperti ini di tahun mendatang…” dan seterusnya. Salah satu kutub menjadi lebih kuat daya tariknya.
Jika tidak dibarengi dengan niat yang Ikhlas dan integritas yang tinggi, tentu akan banyak petugas kesehatan yang tergelincir memuaskan hawa nafsunya untuk “beribadah”. Apalagi jika keberadaannya di tempat-tempat suci tersebut berhasil diabadikan untuk me-refresh statusnya di media sosial. Sungguh sebuah momen yang membanggaakan…
Namun bagaimana jika akibat seringnya dia melakukan itu berakibat berkurangnya waktu dan atau energi yang tercurahkan untuk melayani para tamu Allah, yang sebenarnya sebagai amanah utama yang menjadikan mereka berada disana. Apakah ini sebuah perilaku kebaikan? Mari kita renungkan…
Alhamdulillah, sepanjang pengamatan kami terhadap kinerja para petugas kesehatan haji di Arab Saudi, hanya sedikit sekali petugas dengan tipe seperti itu. Beberapa petugas yang kami temui di episode terakhir penugasannya di Arab Saudi, baik di hotel maupun di Bandara menjelang kepulangannya ke tanah air, banyak yang menumpahkan keseruannya saat bertugas. Bahkan ada yang sampai menangis karena letihnya saat bertugas. Saya pikir dia akan kapok dan tidak akan mau bertugas lagi dengan kondisi penugasan seperti itu. Namun ternyata dugaan saya salah. Bila dikasih kesempatan, mereka ingin bertugas kembali. Masya Allah…
Di buku yang sedang Anda baca ini tergambar bagaimana para petugas kesehatan haji malah menjadi tenggelam dalam tugasnya dari sejak awal keberangkatan hingga akhir proses kepulangan jemaah haji. Bahkan banyak diantara mereka setelah mendapatkan pengalaman sebagai petugas kesehatan haji, terus berusaha untuk menjaga kemabrurannya dengan tetap berkhidmat melayani jemaah haji. Bagi mereka, menjadi petugas haji tidak harus ke Arab Saudi. Proses ibadah haji dimulai di negeri sendiri. Membantu mempersiapkan kesehatan fisik dan mental calon jemaah haji pun bagian dari bakti untuk negeri guna menggapai Ridha Ilahi. Insya Allah pahala haji pun akan diperoleh meskipun tidak beribadah haji ke tanah suci.

Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!

DAFTAR ISI

Daftar Isi 1
Daftar Isi 2
Daftar Isi 3
Daftar Isi 4
Previous
Next

Spesifikasi Buku

Cetakan I, Desember 2025;  290 hlm, ukuran 15,5 x 23 cm, kertas isi HVS 72 gram, warna hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, jilid lem panas (soft cover) dan shrink bungkus plastik.

Harga Buku

Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.

Rp 170.000

Rp 154,400

Tentang Penyunting

dr. Erwinsyah 'Erick Blue', MH.Kes., dkk

Pernah bertugas sebagai TKH 2010, PPIH 2016, 2018, 2019, 2022, Fasilitator TKH dan PPIH. Riwayat pendidikan: S1 Kedokteran FK Unhas, Profesi Dokter FK Unhas dan S2 Magister Hukum Kesehatan Unhas Kesehariannya berdinas di BBPK Makassar.