KENANGAN DARI KAMPUNG HALAMAN Bunga Rampai dari Kabupaten Kaur

Buku ini adalah jendela kenangan dan kebanggaan tentang Kaur tempat di mana keberagaman bahasa, budaya, dan kisah hidup dirangkai dalam tulisan yang hangat dan menginspirasi.

Kaur dalam Ingatan: Cerita, Budaya, dan Keberagaman yang Menyatukan

Kaur, sejak zaman pra kemerdekaan sudah dikenal sebagai wilayah administratif, entah itu berupa OnderAfdeeling Kaoer pada era Belanda, sebagai wilayah yang terbentang dari Krui-Lampung
sampai ke Air Padang Guci pada masa Inggris, maupun sebagai Kewedanaan pada awal kemerdekaan Indonesia. Saat ini Kaur sebagai salah satu kabupaten yang ada di propinsi Bengkulu. Satu hal menarik tentang Kaur, yakni keberagaman bahasa, adat budaya dan masyarakatnya. Sejak dahulu terdapat tiga entitas dominan di Kaur yakni; orang Besemah (Pasemah) Kaur, orang Semende (Semendo) Kaur, dan orang Kaur. Dan masyarakat serta suku pendatang lainnya. Meskipun demikian, semuanya adalah entitas masyarakat Kaur sebagai kabupaten di propinsi Bengkulu.
Satu contoh keberagaman yang ada adalah terkait dengan bahasa. Bagaimana saling memahami dan saling mengerti untuk kata Sehijean atau Seijean. Sempat terjadi debat di Grup WhatsApp Silaturahmi PWK Nusanstara terkait dua kata tersebut. Dimana sehijean adalah bahasa yang digunakan oleh ‘orang Kaur’ yang identik dengan kosa kata de dan pemakaian tanda apostrof [‘] sebagai pengganti r yang apabila diucapkan menjadi/terdengar seperti huruf ‘ain [ ع] dalam bahasa Arab. Sedangkan seijean merupakan bahasa yang dipakai oleh ‘orang Besemah dan Semende’ Kaur yang identik dengan penggunaan bahasa dide. Sehijean ataupun seijean, pada dasarnya bermakna sama, yakni
saling asah, saling asuh dan saling asih.
Persatuan dalam keberagaman tetap dijaga dari generasi ke generasi. Sebagaimana para penulis dalam buku ini – yang merupakan warga Kaur, berasal dari Kaur, ataupun orang yang pernah tinggal di Kaur yang saat ini ada di perantauan, bersatu menggoreskan pena sama-sama mengingatkan kembali tentang Kaur. Buku ini ditulis oleh para penulis seumpama ‘satu anggota keluarga’. Mengapa ‘satu keluarga’? tidak lain dikarenakan penulisnya sudah jadi nenek/datuk sampai ke cucunya. Secara usia ada penulis yang kelahiran 1940-an, dan penulis generasi kelahiran 1980-an. Spirit yang tua mendorong dan menginisiasi, yang muda mengeksekusi, sehingga jadilah karya tulis ini.
Berbagai tulisan dalam buku ini telah dibagi dalam tujuh bagian. Keindahan sungai dan laut dapat dibaca pada bagian satu, tradisi dan budaya di bagian dua, dan bagian seterusnya dengan tema; kenangan akan kampung halaman, kuliner, dongeng dan permainan tradisional, kisah dan pengalaman inspiratif, puisi pantun dan prosa, dan bagian tak kalah penting informasi tentang cengkeh di Kaur.

Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!

DAFTAR ISI

Daftar Isi 1
Daftar Isi 2
Daftar Isi 3
Daftar Isi 4
Daftar Isi 5
Daftar Isi 6
Daftar Isi 7
Daftar Isi 8
Daftar Isi 9
Daftar Isi 10
Previous
Next

Spesifikasi Buku

Cetakan I, Juli 2025; 294 hlm, ukuran 14,8 x 21 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, jilid lem panas (soft cover) dan shrink bungkus plastik.

Harga Buku

Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.

Rp 120.000

Rp 115,500

Tentang Penulis

Hj. AISYAH ALWIE, BA, dkk

saat ini mempunyai 5 anak dan 12 cucu, Tinggal di Bintuhan sampai tahun 1967 bersama orang tua Sayyid Alwie Ahmad (Habib Alwie) di Kampung Masjid Bintuhan, lalu ikut orang tua pindah ke Palembang. Setelah menikah ikut suami dan berdomisili di Cairo Mesir, Makkah, Jeddah dan Riyadh selama 11 tahun. Saat ini tinggal di Palembang, komplek Prima Indah blok B no 07 Sukamaju Sako Palembang. Pendidikan SR 1 di Bintuhan, PGAN Palembang, SP IAIN Palembang, IAIN Raden Fatah Palembang. ABA Methodist Palembang. Dirasah Khassah Al-Azhar Cairo Mesir.