HUKUM PIDANA KHUSUS Teori, Pembuktian, dan Perkembangan Tindak Pidana Khusus dalam Sistem Hukum Indonesia

Buku ini adalah referensi akademik yang komprehensif mengenai teori, mekanisme pembuktian, dan perkembangan tindak pidana khusus dalam sistem hukum Indonesia. Karya ini mengupas secara mendalam berbagai bentuk kejahatan modern yang kompleks, mulai dari tindak pidana korupsi, pencucian uang, narkotika, terorisme, hingga kejahatan siber dan lingkungan hidup. Selain itu, literatur ini juga menganalisis implikasi yuridis dari pemberlakuan KUHP Nasional (Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023) terhadap harmonisasi penegakan hukum pidana khusus ke depannya.

Mengurai Kompleksitas Kejahatan Modern dalam Sistem Hukum Indonesia

Kejahatan dalam peradaban manusia tidak pernah bersifat statis, melainkan terus bermetamorfosis seiring dengan pergerakan zaman. Evolusi teknologi, globalisasi, dan kompleksitas sistem keuangan telah merombak wajah kriminalitas dari perbuatan konvensional—seperti pencurian atau penganiayaan—menjadi kejahatan kerah putih yang terorganisasi, lintas batas, berbasis digital, dan sering kali melibatkan entitas korporasi. Menjawab tantangan disrupsi kejahatan yang semakin rumit ini, buku Hukum Pidana Khusus: Teori, Pembuktian, dan Perkembangan Tindak Pidana Khusus dalam Sistem Hukum Indonesia karya Assist. Prof. Dr. Setyo Utomo, SH., M.Hum., M.Kn., dan Sofyan, S.Sos., S.H., M.H., hadir sebagai literatur yang esensial dan sangat relevan. Diterbitkan oleh Penerbit Samudra Biru, buku setebal 284 halaman ini menyuguhkan kajian akademik yang mendalam, membongkar anatomi hukum pidana di luar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang dirancang untuk merespons ancaman kejahatan berskala masif.

Buku ini memosisikan hukum pidana khusus bukan sekadar sebagai pelengkap atau bayang-bayang dari hukum pidana umum, melainkan sebagai bagian integral dari sistem hukum nasional yang memiliki asas, karakteristik, dan ruang lingkup pembuktian tersendiri. Penulis dengan apik menguraikan bagaimana asas Lex Specialis Derogat Legi Generali bekerja sebagai fondasi utama, di mana hukum yang bersifat khusus mengesampingkan hukum yang bersifat umum guna memberikan kepastian hukum yang lebih presisi terhadap kejahatan tertentu. Dengan bahasa yang sistematis namun mudah dipahami, buku ini merangkum seluruh spektrum tindak pidana khusus, menjadikannya rujukan yang komprehensif bagi mahasiswa, akademisi, praktisi hukum, maupun masyarakat luas yang ingin memahami arah penegakan hukum pidana modern di Indonesia.

Anatomi Kejahatan Khusus dan Revolusi Sistem Pembuktian

Pergeseran paradigma kejahatan menuntut adanya revolusi dalam sistem pembuktian, dan buku ini mengupas tuntas bagaimana hukum acara pidana beradaptasi dengan realitas tersebut. Jika KUHAP klasik membatasi alat bukti pada keterangan saksi, ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa, hukum pidana khusus memperluas spektrum tersebut untuk menjerat pelaku kejahatan modern. Penulis menyoroti vitalnya pengakuan terhadap informasi dan dokumen elektronik beserta hasil cetaknya sebagai alat bukti yang sah, terutama dalam menangani Tindak Pidana Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) serta kejahatan siber. Ruang siber yang tanpa batas fisik mengharuskan aparat penegak hukum menguasai forensik digital, menjaga rantai penguasaan barang bukti (chain of custody), menganalisis nilai hash, hingga melacak log server dan Internet Protocol (IP) address agar alat bukti tidak mudah dipatahkan di meja hijau.

Selain bukti digital, revolusi pembuktian juga menyentuh aspek finansial melalui pendekatan follow the money (mengikuti aliran uang) yang menjadi ujung tombak dalam menangani kejahatan bermotif ekonomi, khususnya korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Buku ini secara tajam mendeskripsikan bagaimana pelaku kejahatan menyamarkan hasil kejahatan asal (predicate crime) melalui tiga fase pencucian uang: placement (penempatan), layering (pelapisan transaksi), dan integration (pengintegrasian ke dalam sistem ekonomi legal). Dalam hal ini, peran Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) sebagai lembaga intelijen keuangan (financial intelligence unit) sangat krusial dalam menganalisis transaksi mencurigakan dan memberikan petunjuk awal bagi aparat penegak hukum. Instrumen perampasan aset (asset recovery) dan pembuktian terbalik terbatas (omkering van het bewijslast) juga dieksplorasi secara detail sebagai strategi memiskinkan koruptor dan merampas keuntungan finansial dari sindikat kejahatan, dengan tetap menjaga keseimbangan asas praduga tak bersalah.

Buku ini juga memberikan porsi analisis yang mendalam terhadap berbagai varian tindak pidana khusus yang menjadi pusat perhatian publik. Pada ranah korupsi, penulis tidak hanya membahas penyuapan dan gratifikasi, tetapi juga membedah anatomi korupsi dalam sektor pengadaan barang dan jasa pemerintah. Mulai dari titik rawan pada tahap perencanaan, persekongkolan dalam pemilihan penyedia, hingga manipulasi dalam serah terima pekerjaan yang merugikan keuangan negara, semuanya diurai beserta mekanisme audit kerugian negara yang menjadi syarat mutlak pemidanaan.

Spektrum kejahatan kemudian meluas pada Tindak Pidana Ekonomi yang mencakup manipulasi pasar modal (insider trading), kejahatan perbankan, penghindaran pajak, hingga penyelundupan kepabeanan yang sering kali berbalut transaksi bisnis yang tampak sah di permukaan. Dalam bab Tindak Pidana Lingkungan Hidup, buku ini menyoroti kejahatan ekologis yang berdampak laten dan merusak kehidupan antargenerasi. Penulis menekankan pentingnya penerapan prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability) bagi entitas korporasi, di mana penegakan hukum tidak sekadar berorientasi pada pemenjaraan atau denda, melainkan wajib mencakup tindakan pemulihan ekosistem yang sejalan dengan keadilan ekologis.

Lebih jauh, buku ini mengeksplorasi ketegangan antara pendekatan represif dan rehabilitatif dalam Tindak Pidana Narkotika dan Psikotropika. Penulis berargumen bahwa hukum harus diterapkan secara proporsional: hukuman maksimal bagi bandar, pengedar, dan produsen yang tergabung dalam sindikat, namun memberikan ruang rehabilitasi medis dan sosial yang humanis bagi para pecandu dan korban penyalahgunaan melalui mekanisme asesmen terpadu. Terakhir, dalam analisis Tindak Pidana Terorisme, buku ini membedah kejahatan luar biasa yang bertujuan menyebarkan ketakutan massal bermotif ideologis atau politik. Penulis tidak hanya mengulas tindakan represif aparat, tetapi juga menekankan signifikansi upaya pencegahan melalui kontra-radikalisasi, deradikalisasi, pemutusan rantai pendanaan teror, dan yang tak kalah penting, pemenuhan hak-hak pemulihan bagi para korban terorisme.

Harmonisasi KUHP Nasional dan Masa Depan Penegakan Hukum

Salah satu wacana paling progresif yang disajikan dalam buku ini adalah analisis komprehensif mengenai transisi hukum pidana Indonesia pasca-diundangkannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP Nasional). Buku ini menangkap momen krusial dari reformasi hukum pidana yang berupaya melepaskan diri dari bayang-bayang warisan kolonial menuju sistem kodifikasi yang lebih berakar pada nilai-nilai ke-Indonesiaan. Penulis menyoroti bagaimana KUHP Nasional yang baru ini melakukan kodifikasi dengan menarik beberapa core crimes dari tindak pidana khusus ke dalam Buku Kedua KUHP, seperti Tindak Pidana Korupsi, Tindak Pidana Pencucian Uang, Tindak Pidana Narkotika, Tindak Pidana Terorisme, dan Tindak Pidana Berat terhadap Hak Asasi Manusia.

Langkah kodifikasi ini melahirkan tantangan yuridis baru terkait harmonisasi dan tumpang tindih kewenangan. Buku ini memberikan panduan akademis yang jernih bahwa masuknya norma-norma kejahatan khusus ke dalam KUHP Nasional tidak lantas menghapus eksistensi atau relevansi undang-undang pidana khusus di luar KUHP. Sebaliknya, undang-undang sektoral seperti UU Tipikor, UU TPPU, atau UU ITE tetap berkedudukan sebagai lex specialis yang sangat vital untuk mengatur aspek-aspek teknis operasional yang tidak tercakup dalam KUHP, seperti hukum acara khusus, penyadapan, kelembagaan spesifik (misalnya KPK, BNN, atau PPATK), perlindungan saksi (justice collaborator), serta mekanisme perampasan aset dan pemulihan kerugian. Buku ini memperingatkan para aparat penegak hukum untuk menguasai interpretasi yang harmonis antara aturan umum dalam KUHP Nasional dan aturan khusus dalam undang-undang sektoral agar tidak terjadi kekeliruan dalam penerapan pasal yang dapat merugikan keadilan dan kepastian hukum.

Pada akhirnya, buku ini juga merefleksikan sebuah pesan filosofis bahwa ketegasan penegakan hukum pidana khusus tidak boleh melegitimasi pelanggaran terhadap prinsip-prinsip negara hukum. Seberapapun canggih dan berbahayanya kejahatan modern, aparat penegak hukum harus tetap berpegang teguh pada asas legalitas, keadilan substantif, proporsionalitas, dan prinsip due process of law yang melindungi hak-hak asasi manusia. Tindakan seperti pembekuan aset, penyadapan komunikasi, maupun penahanan harus selalu diawasi secara ketat guna menghindari kesewenang-wenangan aparat. Melalui perpaduan antara kekayaan teori, analisis yuridis yang tajam, dan pemetaan tantangan pragmatis di lapangan, buku ini sukses berdiri sebagai literatur masterpiece yang memandu para pembacanya untuk menavigasi labirin hukum pidana khusus di Indonesia demi mewujudkan sistem peradilan yang tidak hanya modern dan responsif, tetapi juga berkeadilan dan bermartabat.

Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!

DAFTAR ISI

Daftar Isi 1
Daftar Isi 2
Slider Caption
Slider Caption
Slider Caption
Slider Caption
Slider Caption
Slider Caption
Slider Caption
Previous
Next

Spesifikasi Buku

Cetakan I, Juni 2026; 300 hlm, ukuran 15,5 x 23 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, Hard cover dan shrink bungkus plastik.

Harga Buku

Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.

Rp 180.000

Rp 157.900

Tentang Penulis

Assist. Prof. Dr. Setyo Utomo, S.H., M.Hum., M.Kn.

Assist. Prof. Dr. Setyo Utomo, S.H., M.Hum., M.Kn. Merupakan praktisi hukum, akademisi, dan birokrat senior yang memiliki pengalaman panjang dalam bidang
penegakan hukum, pendidikan hukum, serta kebijakan publik. Lahir di Pati, Jawa Tengah, pada 29 November 1973, beliau mengabdikan sebagian besar karier profesionalnya di lingkungan Kejaksaan Republik Indonesia dan pemerintahan, dengan rekam jejak yang menunjukkan integritas, kompetensi, dan dedikasi tinggi dalam penguatan supremasi hukum di Indonesia. Perjalanan pendidikan Dr. Setyo Utomo dimulai dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta dengan gelar Sarjana Hukum pada tahun 1997. Kecintaannya terhadap pengembangan ilmu hukum mendorong beliau melanjutkan studi Magister Hukum di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Jakarta serta Magister Kenotariatan di Universitas Padjadjaran Bandung. Puncak perjalanan akademiknya diraih melalui Program Doktor Ilmu Hukum di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, yang diselesaikan dengan prestasi membanggakan sebagai peringkat pertama dengan predikat Summa Cum Laude.

Dalam karier profesionalnya, Dr. Setyo Utomo telah menduduki berbagai jabatan strategis di lingkungan Kejaksaan Republik Indonesia.Pengalaman beliau mencakup tugas sebagai Jaksa Fungsional, Kepala Cabang Kejaksaan Negeri, Kepala Kejaksaan Negeri, Asisten Pengawasan Kejaksaan Tinggi, hingga berbagai posisi kepemimpinan yang berkaitan dengan penegakan hukum dan pembinaan sumber daya manusia. Pengalaman tersebut memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai dinamika sistem peradilan pidana, penanganan tindak pidana korupsi, pencucian uang, kejahatan korporasi, serta pengelolaan aset hasil kejahatan.

Saat ini, Dr. Setyo Utomo mengemban amanah sebagai Asisten Deputi Koordinasi Budaya, Informasi, dan Komunikasi Hukum pada Kementerian Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Republik Indonesia. Sebelumnya, beliau juga dipercaya sebagai Asisten Deputi Penegakan Hukum pada Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Republik Indonesia. Jabatan tersebutsemakin memperkuat perannya dalam merumuskan, mengoordinasikan, dan mengintegrasikan berbagai kebijakan strategis di bidang hukum nasional.

Sofyan, S.Sos., S.H., M.H.

Sofyan, S.Sos., S.H., M.H. lahir di Bandar Lampung pada 24 Oktober 1964. Beliau merupakan seorang birokrat senior dan praktisi hukum yang telah mengabdikan diri lebih dari empat dekade di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Pendidikan tinggi yang ditempuh meliputi bidang Administrasi Negara, Ilmu Hukum, serta Magister Hukum yang diperoleh dari Universitas Lampung. Karier pengabdiannya dimulai sebagai aparatur sipil negara pada
 tahun 1985 dan terus berkembang melalui berbagai jabatan strategis, antara lain Kepala Subbagian Tata Usaha, Kepala Bagian Umum Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Lampung, Kepala Divisi Administrasi pada beberapa Kantor Wilayah, Kepala Biro Perlengkapan Sekretariat Jenderal, Direktur Pelayanan Komunikasi Masyarakat Direktorat Jenderal HAM, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sulawesi Tenggara, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Kalimantan Timur, hingga Kepala Pusat Pembudayaan dan Bantuan Hukum. Saat ini beliau mengemban amanah sebagai Penyuluh Hukum Utama, jabatan fungsional tertinggi di bidang penyuluhan hukum. 

Pengalaman panjang dalam bidang administrasi pemerintahan, pelayanan publik, pembinaan hukum, hak asasi manusia, penyuluhan hukum, serta pengelolaan organisasi menjadikan Sofyan memiliki perspektif yang komprehensif mengenai pembangunan hukum nasional. Dedikasi dan kinerjanya memperoleh berbagai penghargaan negara, termasuk Satyalancana Karya Satya X Tahun, XX Tahun, dan XXX Tahun, sebagai bentuk pengakuan atas pengabdian yang konsisten kepada bangsa dan negara. Melalui berbagai karya ilmiah dan kontribusi pemikiran yang dituangkan dalam buku ini, Sofyan berupaya memberikan sumbangsih akademik dan praktis bagi pengembangan ilmu hukum serta penguatan sistem hukum Indonesia yang berkeadilan, modern, dan responsif terhadap dinamika masyarakat.