Filsafat Ilmu Hubungan Internasional Futuristik Interdisipliner
Buku ini adalah sebuah mahakarya akademik visioner yang meredefinisi studi Hubungan Internasional (HI) dengan mendobrak sekat-sekat monodisipliner tradisional menuju pendekatan futuristik dan transdisipliner. Buku ini menawarkan peta navigasi komprehensif dalam menghadapi tantangan Great Global Transition 2025-2050 dengan mengeksplorasi isu-isu frontier science mutakhir, mulai dari diplomasi kecerdasan buatan (AI), tata kelola ruang angkasa (space politics), hingga keamanan ekologi global.
Mendobrak Kebekuan Monodisipliner: Dari Kritik Tokoh Hingga Inovasi "Drone Effect"
Buku ini secara brilian meletakkan kembali fondasi ilmu HI ke akarnya, yakni filsafat sebagai “ibu ilmu pengetahuan” (mother of sciences), sembari secara simultan mendobrak sekat-sekat monodisipliner menuju pendekatan transdisipliner yang futuristik. Penulis dengan cermat mengurai evolusi ilmu dari gagasan Socrates dan Immanuel Kant, hingga munculnya spesialisasi ilmu pasca-Revolusi Industri. Lebih jauh, buku ini memberikan apresiasi sekaligus kritik tajam terhadap para pemikir besar HI di Indonesia, seperti Prof. Juwono Sudarsono, Prof. Bob Sugeng Hadiwinata, dan Prof. Mohtar Mas’oed, guna merekontekstualisasi teori-teori mereka dengan realitas Post-Anthropocene. Sebagai seorang praktisi SEO dan pengulas literatur akademik, saya melihat karya ini memiliki bobot search intent yang luar biasa bagi siapa saja yang ingin mengeksplorasi masa depan tata kelola global dan kurikulum HI di Indonesia.
Bagian awal dan pertengahan buku ini diabdikan untuk melakukan dekonstruksi dan rekonstruksi terhadap struktur keilmuan Hubungan Internasional. Penulis secara lugas menempatkan HI pada “Pohon Ilmu Pengetahuan,” melacak kelahirannya pasca-Perang Dunia I hingga perkembangannya menjadi disiplin modern yang memiliki 102 ranting ilmu kajian yang sangat spesifik. Keberanian intelektual dari Prof. Sidik Jatmika dan Muhammad Indrawan Jatmika sangat terlihat ketika mereka melakukan telaah kritis terhadap kanon literatur HI di Indonesia. Misalnya, buku karya Prof. Mohtar Mas’oed (1990) yang selama puluhan tahun menjadi kitab suci mahasiswa HI dikritik karena terlalu didominasi paradigma positivistik dan mengabaikan aktor non-negara serta pendekatan post-positivis yang krusial di abad ke-21. Demikian pula karya Prof. Bob Sugeng Hadiwinata yang meskipun unggul dalam memetakan teori arus utama dan reflektivis, dinilai masih kurang mendalam dalam mengintegrasikan isu geopolitik kecerdasan buatan (AI geopolitics) dan keamanan siber (cyber security).
Untuk melampaui batasan teori-teori klasik tersebut, buku ini mengusulkan lompatan dari pendekatan monodisipliner menuju jenjang yang lebih kompleks: intradisipliner, krosdisipliner, multidisipliner, interdisipliner, hingga puncaknya adalah transdisipliner. Pendekatan transdisipliner menghancurkan batas formal antar-ilmu, memungkinkan HI untuk berkolaborasi dengan ilmu biologi molekuler, teknik elektro, ilmu antariksa, hingga data sains. Untuk mengoperasionalisasikan konsep ini, Prof. Sidik Jatmika memperkenalkan dua konsep inovatif yang sangat memikat: “Drone Effect” dan “Tiki Taka Effect”.
Drone Effect adalah analogi konseptual di mana seorang peneliti HI dituntut untuk “menaikkan ketinggian analisis intelektualnya” layaknya sebuah drone. Dengan pandangan makro dari udara, peneliti tidak lagi terjebak pada sekat sempit satu disiplin ilmu, melainkan mampu melihat gambaran utuh dan interkoneksi antara dinamika sosial, ekonomi, teknologi, politik, dan ekologi global. Hasil dari Drone Effect ini melahirkan “Enam Beyond” (Six Beyond of IR Studies), di mana kajian HI melampaui negara bangsa (beyond nation-states), melampaui keamanan militer tradisional, hingga melampaui isu lingkungan konvensional menuju isu keberlanjutan yang mencakup ruang siber dan antariksa. Sementara itu, “Tiki Taka Effect” mengambil metafora dari strategi sepak bola modern yang mengandalkan umpan pendek dan kerja kolektif yang lincah. Dalam konteks riset, hal ini bermakna kelincahan taktis tim peneliti lintas disiplin untuk merespons dan memecahkan masalah global yang dinamis melalui pertukaran ide, metode, dan data secara cepat dan adaptif. Kedua konsep ini menyadarkan kita bahwa inovasi akademik di masa depan tidak bisa lagi dilakukan dalam gaya “liga tarkam” yang bermain di zona nyaman, melainkan harus menggunakan visi “liga Eropa” yang kaya taktik dan multidimensional.
Frontier Science dan Tata Kelola Global di Era Disrupsi
Kekuatan utama dan daya pikat terbesar dari buku ini terletak pada keberaniannya membawa diskursus HI masuk ke wilayah Frontier Science (Ilmu Garis Depan). Memasuki era Great Global Transition 2025-2050, dunia dihadapkan pada multikrisis yang saling berkelindan: krisis iklim, pandemi, migrasi masif, dan lompatan teknologi yang disruptif. Sistem tata kelola global (global governance) yang ada saat ini terfragmentasi dan sering kali gagal merespons isu-isu yang melampaui batas negara-bangsa. Oleh karena itu, buku ini mengeksplorasi empat domain frontier science yang akan mengubah secara radikal wajah Hubungan Internasional: Artificial Intelligence (AI) dan Autonomous Diplomacy, Space Politics & Extraterrestrial Relations, Quantum Politics, serta Geoengineering.
Di bidang AI, buku ini membahas bagaimana mesin tidak lagi sekadar menjadi alat, melainkan bertransformasi menjadi aktor dalam politik global. Konsep Autonomous Diplomacy (Diplomasi Otonom) di mana sistem AI dapat menganalisis skenario kebijakan, menjadi negosiator, hingga memprediksi eskalasi konflik, membawa tantangan etika dan hukum yang belum pernah ada sebelumnya. Pada domain antariksa (Space Politics), HI dituntut untuk membahas tata kelola ekstra-terestrial (Extraterrestrial Governance). Isu-isu masa depan seperti perlombaan pertambangan asteroid (space mining), kolonisasi Mars, hingga kedaulatan orbit tidak dapat diselesaikan dengan teori realisme atau liberalisme usang. Buku ini secara cerdas mengangkat studi kasus Visi Mars UEA 2117, di mana Uni Emirat Arab memproyeksikan koloni manusia di Mars sebagai strategi geopolitik, ekonomi, dan diplomasi sains yang sangat ambisius. Hal ini diperkuat dengan tinjauan mengenai kedaulatan vertikal ruang udara dan ruang angkasa dalam perspektif hukum konstitusional Indonesia, di mana penguasaan teknologi satelit dan roket adalah kunci pertahanan dan kesejahteraan.
Lebih jauh, penulis tidak lupa mengontekstualisasikan pendekatan transdisipliner ini dengan realitas pembangunan strategis di Indonesia. Buku ini membedah Proyek Strategis Nasional (PSN) dan pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara bukan semata sebagai proyek infrastruktur fisik, melainkan sebagai laboratorium raksasa dari pendekatan futuristik transdisipliner. IKN yang dirancang sebagai forest city dan smart city dengan emisi nol bersih (net-zero) menuntut peleburan ilmu arsitektur, teknik lingkungan, geopolitik, ekonomi digital, hingga antropologi. IKN adalah cerminan Agile Global Governance di mana pemerintah, investor global, komunitas adat, dan ilmuwan data berkolaborasi secara iteratif.
Secara keseluruhan, buku ini membuktikan bahwa karya ini adalah sebuah “buku putih” (white paper) yang mendesak perombakan kurikulum pendidikan tinggi HI di Indonesia. Dengan menyajikan matriks, diagram taksonomi pohon ilmu, hingga usulan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) berbasis Futures Studies, Prof. Dr. Sidik Jatmika dan Muhammad Indrawan Jatmika telah memberikan cetak biru (blueprint) yang revolusioner. Buku ini menyadarkan kita bahwa masa depan bukanlah sesuatu yang sekadar ditunggu, melainkan harus diantisipasi dan dibentuk mulai hari ini. Bagi akademisi, peneliti BRIN, praktisi diplomasi, hingga mahasiswa yang ingin tetap relevan di era disrupsi, buku ini adalah bacaan wajib yang akan memperluas cakrawala pemikiran secara radikal dan menginspirasi lahirnya kebijakan-kebijakan yang berpusat pada human security, etika global, dan keberlanjutan peradaban umat manusia.
Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!
DAFTAR ISI
Daftar Isi 1
Daftar Isi 2
Slider Caption
Slider Caption
Slider Caption
Slider CaptionSpesifikasi Buku
Cetakan I, April 2026; 348 hlm, ukuran 15,5 x 23 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, Hard cover dan shrink bungkus plastik.
Harga Buku
Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.
Rp 185.000
Rp 175.700
Tentang Penulis
Prof. Dr. Sidik Jatmika, M.Si.
Prof. Dr. Sidik Jatmika, M.Si. adalah guru besar Hubungan Internasional pada Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Dengan pidato pengukuhan Guru Besar 21 April 2025 berjudul: Muhammadiyah School of Thought: Diplomasi Keamanan Manusia sebagai elaborasi kajian Hubungan Internasional perspektif Islam dan Keindonesiaan yang moderat, berkemakmuran serta berkeadilan. Lahir di Klaten, Jawa Tengah, 3 Mei 1969. Kepakaran: Direktur Institut for Futures & Interdisciplinary Studies (InFIS) fokus kajian Isu Keamanan Manusia (Human Security); Gerakan Sosial Transnasional (Transnational Social Movement); Sosiologi Hubungan Internasional (Sociology of International Relations); Timur Tengah dan Politik Islam Global (Middle East, Islam & Global Politics). Pendidikan: S1 Hubungan Internasional, Universitas Gadjah Mada (1987-1992), Master S2 Ilmu Politik UGM (1996-1998), Program Doktor S3 Sosiologi UGM (2003 – 2006)
Muhammad Indrawan Jatmika, S.IP., M.A.
Muhammad Indrawan Jatmika, S.IP., M.A. adalah dosen Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Sosial, Budaya, dan Politik, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur. Selain sebagai staff pengajar Indrawan juga merupakan Kepala Kantor Internasional UPN Veteran Jawa Timur. Kepakaran indrawan antara lain adalah Kajian Asia Tenggara, Gerakan Sosial dan Politik Global, dan Studi Minoritas. Lahir di Klaten, Jawa Tengah, 13 November 1995. Kepakaran: Kajian Asia Tenggara, Gerakan Sosial dan Politik Global, dan Studi Minoritas. Pendidikan: S1 Hubungan Internasional, Universitas Gadjah Mada (2013-2017). Master in Southeast Asian Studies, Chulalongkorn University Thailand (2017-2018); Pengajaran: Dosen Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial, Budaya, dan Politik, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (2021- Sekarang) Seminar Internasional: Southeast Asian Studies: Ideas, Audiences,
Approaches, and Aspirations, Institute of East Asian Studies, Thammasat University, Rangsit Campus, Thailand, 13–14 November 2025; The 7th International Relations on Indonesian Foreign Policy Conference (IROFONIC) 2023. Melaksanakan Summer School di Tillburg, University, Nederland (2015).