Buku ini berupaya menghadirkan berbagai refleksi akademik dan pengalaman empiris mengenai bagaimana diaspora Muslim merawat iman mereka dalam konteks kewargaan global.
Strategi Dakwah dalam Masyarakat Multikultural
Mobilitas jutaan manusia lintas negara dalam beberapa dekade terakhir telah melahirkan fenomena sosial yang kompleks, yaitu diaspora global. Komunitas Muslim merupakan bagian penting dari fenomena sosial tersebut. Mereka hadir dalam berbagai status mulai dari pelajar, pekerja, pengusaha, peneliti, maupun mengikuti anggota keluarga yang menetap di berbagai negara dengan latar sosial, politik, dan budaya yang beragam. Dalam konteks ini, dakwah tidak lagi hanya berlangsung dalam ruang sosial yang homogen, melainkan harus berhadapan dengan realitas masyarakat multikultural, sistem nilai yang plural, serta struktur kewargaan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, manajemen dakwah di kalangan diaspora Muslim membutuhkan pendekatan yang bijaksana, kontekstual, dan moderatif, atau dengan kata lain managing da’wah with wisdom.
Buku “Dakwah Transnasional dan Muslim Diaspora: Merawat Iman dalam Kewargaan Global” ini hadir sebagai upaya intelektual untuk menavigasi bagaimana praktik dakwah berkembang dan menempati posisi strategis dalam ruang transnasional yang semakin terbuka. Ini mengingat globalisasi telah mengubah cara individu dan komunitas membangun identitas, menjalin jaringan, serta mempraktikkan keyakinan agama mereka. Muslim diaspora tidak hanya hidup sebagai warga negara dalam batas teritorial tertentu, tetapi juga sebagai bagian dari jaringan sosial dan keagamaan yang melampaui batas-batas negara. Dalam situasi demikian, dakwah bukan sekadar penyampaian pesan agama, tetapi juga proses negosiasi identitas, dialog lintas budaya, dan pembangunan solidaritas transnasional.
Dalam perspektif teori sosial, fenomena ini dapat dipahami melalui konsep ruang publik yang dikemukakan oleh Jürgen Habermas. Habermas – yang wafat saat saya mulai menulis pengantar ini – memandang ruang publik sebagai arena diskursif di mana individu-individu berkumpul untuk berdialog secara rasional mengenai kepentingan bersama. Dalam ekosistem masyarakat modern, ruang publik menjadi tempat penting bagi pembentukan opini dan proses demokratisasi. Bagi diaspora Muslim, ruang publik di negara tujuan sering kali menjadi arena utama untuk mengekspresikan identitas keagamaan sekaligus berinteraksi dengan masyarakat luas. Fasilitas umum, masjid, pusat komunitas, organisasi mahasiswa, hingga ruang digital seperti media sosial dan forum daring dapat berfungsi sebagai ruang publik tempat diskursus keagamaan tersebut berlangsung.
Namun, ruang publik diaspora tidak selalu netral. Ia sering kali dipengaruhi oleh dinamika politik identitas, stereotip terhadap Islam, serta kebijakan negara yang berbeda-beda terhadap ruang ekspresi keagamaan. Dalam kondisi tersebut, dakwah memerlukan kebijaksanaan (wisdom) dalam mengelola pesan dan strategi komunikasi. Dakwah yang bijaksana bukan hanya berorientasi pada penyampaian doktrin, tetapi juga pada pembangunan dialog, penguatan nilai-nilai kemanusiaan universal, serta partisipasi aktif dalam kehidupan sosial masyarakat. Dengan demikian, dakwah dapat menjadi sebuah jembatan yang mempertemukan identitas keislaman dengan nilai-nilai kewargaan global. Dalam sebuah book-chapter yang saya tulis tahun 2017, saya menyebutnya sebagai dakwah yang bridging diversity, enriching humanity.
Selain perspektif ruang publik, buku ini juga memanfaatkan kerangka transnasionalisme yang telah dikembangkan oleh Steven Vertovec. Vertovec menjelaskan bahwa transnasionalisme merujuk pada berbagai hubungan, jaringan, dan praktik sosial yang melampaui batas-batas negara. Dalam konteks Muslim diaspora, individu sering kali mempertahankan hubungan yang kuat dengan negara asal sekaligus membangun kehidupan baru di negara tempat mereka tinggal. Relasi ini membentuk hibriditas identitas yang dinamis, yaitu sebagai warga global yang tetap terkoneksi erat dengan akar budaya dan agamanya.
Bagi komunitas Muslim diaspora, transnasionalisme tercermin dalam berbagai aktivitas keagamaan seperti jaringan ormas Islam lintas negara, komunitas ulama dan pengajian internasional, pertukaran pengetahuan keislaman melalui platform digital, hingga kegiatan solidaritas kemanusiaan dan filantropi yang melibatkan berbagai negara. Dengan demikian, dakwah dalam konteks ini tidak lagi bersifat lokal semata, tetapi memiliki dimensi global yang memungkinkan pertukaran gagasan dan praktik keagamaan secara lebih luas. Oleh karena itu, manajemen dakwah perlu mempertimbangkan dinamika jaringan global tersebut, sekaligus memastikan bahwa nilai-nilai Islam, khususnya Islam Indonesia, tetap dapat dipraktikkan secara kontekstual dan moderatif dalam masyarakat yang beragam.
Buku ini berupaya menghadirkan berbagai refleksi akademik dan pengalaman empiris mengenai bagaimana diaspora Muslim merawat iman mereka dalam konteks kewargaan global. Para penulis yang berkontribusi dalam buku ini datang dari berbagai latar belakang disiplin ilmu dan pengalaman berdiaspora di berbagai negara. Mereka mengangkat tema-tema yang beragam, mulai dari praktik dakwah di komunitas mahasiswa internasional, dinamika identitas di negara minoritas Muslim, pencarian kuliner halal nan autentik di berbagai negara, hingga strategi membangun harmoni sosial di tengah masyarakat multikultural.
Melalui beragam perspektif tersebut, buku ini menunjukkan bahwa dakwah transnasional bukan sekadar fenomena religius, tetapi juga fenomena sosial, budaya, dan politik. Dakwah menjadi bagian dari proses pembentukan identitas diaspora yang terus menerus bergerak dan beradaptasi. Dalam konteks ini, kebijaksanaan menjadi kunci utama. Dakwah yang bijak adalah dakwah yang mampu membaca konteks sosial, memahami sensitivitas budaya, serta mengedepankan nilai-nilai rahmah, kesetaraan, keadilan, dan kemaslahatan bersama.
Buku ini diharapkan dapat berkontribusi bagi pengembangan kajian dakwah kontemporer dan studi Islam interdispliner, khususnya dalam konteks globalisasi, migrasi, dan diaspora. Lebih dari itu, buku ini juga diharapkan dapat menjadi referensi praktis bagi para praktisi dakwah, mahasiswa, dan komunitas Muslim yang hidup di luar negeri dalam mengelola aktivitas dakwah secara lebih reflektif, konstruktif, dan berkelanjutan.
Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!
DAFTAR ISI
Daftar Isi 1
Daftar Isi 2
Previous
Next
Spesifikasi Buku
Cetakan I, Maret 2026; 126 hlm, ukuran 15,5 x 23 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, Hard cover dan shrink bungkus plastik.
Harga Buku
Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.
Rp 100.000
Rp 93,500
Tentang Penulis
Bayu Mitra A. Kusuma, dkk
Dosen, Sekprodi, dan Koordinator International Undergraduate Program (IUP) di MD FDK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia meraih gelar doktoral dari The Ph.D. Program in Asia-Pacific Regional Studies, National Dong Hwa University, Hualien, Taiwan.