BAHASA USING Belajar Bahasa, Percakapan, dan Budaya Using
Buku ini adalah sebuah jembatan berharga yang menghubungkan generasi masa kini dengan kekayaan warisan leluhur dan identitas budaya masyarakat Banyuwangi. Tidak sekadar menyajikan pedoman teoretis mengenai pelestarian bahasa daerah, karya kolaboratif para akademisi ini menawarkan pendekatan yang praktis, terstruktur, dan komprehensif dalam mempelajari Bahasa Using. Melalui metode dwibahasa, pembaca akan dibimbing secara bertahap—mulai dari pengenalan pelafalan dasar, penguasaan kosakata, hingga penerapan percakapan sehari-hari dalam berbagai konteks sosial, seperti di lingkungan keluarga, sekolah, dan pasar.
Merawat Identitas Budaya
Sebagai seorang pengulas buku dan praktisi SEO, saya kerap menemukan berbagai literatur pendidikan. Namun, dokumen rujukan “Bahasa Using_edit khusus ISBN.pdf” menghadirkan sebuah karya yang sangat istimewa dan bernilai sejarah tinggi. Buku berjudul BAHASA USING: Belajar Bahasa, Percakapan, dan Budaya Using ini merupakan sebuah mahakarya kolaboratif dari para akademisi berdedikasi tinggi, yaitu Dana Yudha Kristiawan, I Kadek Yudiana, Abd. Rahman, Dian Arief Pradana, Imro’atul Husna Afriani, dan Sahru Romadloni. Diterbitkan pada bulan Oktober 2026 oleh Penerbit Samudra Biru yang berpusat di Banguntapan, Bantul, DI Yogyakarta, buku setebal lebih dari 84 halaman ini dirancang sebagai jembatan emas yang menghubungkan generasi muda, khususnya anak-anak usia sekolah dasar, dengan kekayaan budaya daerah mereka.
Di tengah derasnya arus globalisasi yang perlahan menggerus eksistensi bahasa ibu, Penerbit Samudra Biru melalui pengantarnya menegaskan bahwa pengenalan bahasa daerah kepada anak-anak adalah sebuah langkah strategis yang tidak bisa ditunda. Upaya ini dirancang agar anak-anak memiliki kecintaan terhadap identitas, tradisi, dan nilai-nilai luhur masyarakat Banyuwangi. Buku ini disusun dengan pendekatan yang sangat cerdas, menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar utama. Pola dwibahasa ini dipilih agar para pembaca pemula yang belum terbiasa dengan Bahasa Using tetap dapat memahami materi, kosakata, dan instruksi dengan mudah. Untuk menunjang efektivitas pembelajaran, para penulis juga merancang Peta Konsep berupa “Alur Belajar” yang terdiri atas tujuh langkah sistematis: Mengenal Bahasa Using, Memahami Kosakata, Berlatih Dialog, Menulis Kalimat, Menggunakan Ungkapan Sopan, Mengenal Sastra Banyuwangi, dan Membuat Karya. Dengan kerangka yang terstruktur ini, membaca buku ini terasa bagaikan diajak berjalan-jalan menelusuri lorong-lorong kampung Using secara langsung.
Fondasi Berbahasa dan Praktik Percakapan Sehari-hari Masyarakat Using
Pada bagian pertama ulasan ini, kita akan membedah bagaimana buku ini menanamkan fondasi berbahasa, yang diawali dengan pengenalan identitas masyarakat Using itu sendiri. Masyarakat Using adalah entitas budaya yang memiliki sejarah panjang dan berkaitan sangat erat dengan eksistensi wilayah Blambangan di ujung timur Pulau Jawa. Saat ini, masyarakat Using mendiami berbagai desa di wilayah Banyuwangi, dengan Desa Kemiren sebagai salah satu desa adat yang dikenal sangat gigih dalam mempertahankan bahasa, kesenian, adat istiadat, dan tradisi warisan leluhur. Nilai-nilai kehidupan mereka sangat luhur; mereka diajarkan untuk senantiasa hidup bergotong royong, menjunjung tinggi penghormatan kepada orang tua, dan menjaga kelestarian alam sekitar. Mempelajari bahasa mereka berarti kita turut melestarikan nilai-nilai sosial yang luar biasa ini.
Dari segi linguistik, meskipun penulisannya menggunakan huruf alfabet Latin yang sama dengan Bahasa Indonesia, Bahasa Using memiliki karakteristik fonologi atau pelafalan yang sangat unik dan membutuhkan ketelitian. Buku ini secara rinci membedah cara melafalkan huruf vokal, di mana pembaca diajarkan perbedaan pengucapan antara ‘e’ biasa, ‘é’ yang terdengar lebih jelas, dan ‘è’ yang diucapkan lebih terbuka. Bunyi-bunyi khas Bahasa Using juga dijabarkan dengan pendekatan yang mudah dipahami tanpa harus menggunakan istilah linguistik yang rumit. Terdapat empat ciri utama bunyi khas Using yang diulas. Pertama, diftongisasi pada vokal /i/ dan /u/ yang sering kali terdengar seolah memiliki dua bunyi, seperti [ai] dan [au]; contohnya, kata “siji” kadang terdengar seperti “sijai” dan “telu” menjadi “telau”. Kedua, pengucapan beberapa konsonan yang terdengar jauh lebih kuat atau “tebal”, seperti pada konsonan l, m, n, ng, ny, r, w, dan y. Ketiga, adanya penambahan bunyi penutup “k” pada kata-kata yang diakhiri huruf vokal, yang membuat kata “sate” diucapkan menjadi “satek” atau “limo” menjadi “limok”. Terakhir, fenomena palatalisasi atau luncuran bunyi “y” yang halus setelah konsonan, mengubah pengucapan kata “abang” menjadi “abyang” dan “wedang” menjadi “wedyang”.
Setelah menguasai pelafalan dasar, pembaca secara bertahap diperkenalkan dengan perbendaharaan kosakata fundamental yang paling sering digunakan. Buku ini memulainya dengan kata ganti orang (celukan), di mana kata “isun” atau “sun” digunakan untuk menyebut saya, “rika” atau “sira” untuk kamu, dan kata ganti sopan tingkat tinggi seperti “ndika” untuk orang yang sangat dihormati. Kosakata keluarga juga sangat beraneka ragam; pembaca akan mengenal sebutan “anang” untuk kakek, “adon” untuk nenek, serta “uwak” untuk paman dan bibi yang lebih tua. Tak hanya itu, buku ini juga memetakan istilah-istilah tata ruang rumah khas Using, seperti “pawon” (dapur), “balek” (ruang tamu), “latar” (halaman), hingga “ceraken” (tempat bumbu).
Bab dua dari buku ini berfungsi sebagai laboratorium praktik untuk mengaplikasikan kosakata tersebut ke dalam percakapan sehari-hari. Menyadari bahwa bahasa adalah alat komunikasi sosial, penulis menyajikan berbagai skenario dialog kontekstual yang sangat relevan dengan keseharian anak-anak, yaitu percakapan di rumah (Gesah Ring Umah), di sekolah (Gesah Ring Sekolah), dan di pasar (Gesah Nang Pasar). Dalam dialog di rumah, diperlihatkan interaksi antara anak dan bapak pasca berbelanja dari pasar; di sini anak menggunakan bahasa yang lebih sopan, sementara sang bapak merespons dengan ragam bahasa akrab sehari-hari. Di skenario sekolah, dialog menyoroti interaksi akademik, seperti seorang murid yang meminta maaf kepada gurunya (“Sepunteni”) karena meriang (“nggregesi”) sehingga belum merampungkan pelajaran. Skenario yang paling menarik adalah percakapan di pasar, di mana pembaca diajarkan kosakata transaksional yang kaya, seperti “sekendi” (berapa harga), “suwidak lima ewu” (enam puluh lima ribu), dan “susuk” (kembalian), sekaligus belajar tata cara tawar-menawar buah-buahan lokal seperti durian dan jirek (menteng putih). Bab ini ditutup dengan penjelasan gramatikal terkait penggunaan partikel preposisi penunjuk tempat yang sering rancu bagi penutur asing: “ring” untuk area luas, “ning” untuk tempat dekat, “nang” untuk menunjukkan lokasi pasti, “nong” untuk tempat yang jauh, dan “nyang” sebagai kata kerja yang berarti menuju atau pergi ke suatu tempat.
Struktur Tata Bahasa, Kesantunan, dan Kekayaan Sastra Lisan Banyuwangi
Pada anak judul yang kedua ini, kita akan membahas bab ketiga dan keempat yang berfokus pada penguasaan struktur kalimat formal, tata krama, serta eksplorasi sastra lokal yang memukau. Di bab ketiga, buku ini menggunakan pendekatan pedagogis yang brilian dengan meminjam kerangka sintaksis Bahasa Indonesia, yakni pola Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan (S-P-O-K). Penjelasan ini dikemas sedemikian rupa agar sangat mudah dicerna oleh anak sekolah dasar. Dengan panduan kognitif sederhana seperti “siapa yang melakukan” (Isun, rika, emak), “melakukan apa” (ginau, mangan, maca), “apa yang dikenai” (jajan, buku), dan “di mana/kapan” (ning kelas, nang pawon), pembaca dibimbing untuk menyusun struktur kalimat deklaratif yang utuh secara mandiri. Pengenalan kalimat positif dan negatif juga menjadi poin utama; pembaca diajarkan menggunakan partikel penyangkalan “sing/using” untuk tidak, “durung” untuk belum, dan “dudu/madak” untuk bukan. Kemampuan berkomunikasi asertif disempurnakan melalui pengenalan kata tanya, seperti “paran” (apa), “sapa” (siapa), “apuwa” (mengapa), “wayakendi” (kapan), dan “sekendi” (berapa dalam bentuk halus).
Keunggulan utama buku ini sebagai sebuah karya pelestarian budaya mencapai puncaknya di bab keempat, yang membedah anatomi tata krama dan khazanah sastra Using. Sikap sopan santun merupakan urat nadi kehidupan masyarakat Banyuwangi, yang termanifestasi dalam ungkapan-ungkapan verbal untuk menjaga kerukunan dan menghormati figur yang lebih tua. Anak-anak dididik untuk menjadikan ungkapan dasar seperti “kesuwun” atau “terami” (terima kasih), “amit” (permisi), dan “sepurane” atau “sepuntene” (maaf) sebagai kebiasaan sehari-hari. Tidak sekadar bahasa harian, buku ini memperkenalkan “Basa Besiki”, yaitu strata bahasa halus (krama) dalam Bahasa Using. Dipengaruhi oleh dinamika interaksi kemasyarakatan dengan bahasa Jawa, Besiki menggunakan leksikon khusus seperti “kula” (saya), “ndika” (anda), “melampah” (berjalan), dan “tilem” (tidur). Kesantunan ini juga tergambar jelas saat menyambut tamu; tuan rumah dianjurkan mengucapkan “lajuwa” (silakan masuk) atau “kampaha teng geriyankula” (silakan mampir ke rumah saya). Bahkan, dalam perhelatan adat dan seni seperti upacara selametan atau pertunjukan tari Gandrung, terdapat doa-doa penutup khusus berbahasa Using yang dirapalkan agar acara berjalan “gangsar” (lancar) dan para tamu dilimpahi “seger-waras” (kesehatan).
Di ranah sastra lisan, buku ini menjadi ensiklopedia mini yang luar biasa. Penulis mengulas “Basanan”, yaitu seni pantun tradisional khas Banyuwangi yang sering dikumandangkan dalam ritual adat, yang berfungsi sarat akan petuah dan nilai-nilai kearifan lokal. Basanan dikategorikan menjadi bentuk empat baris (dengan rumus rima silang abab atau rima terus aaaa) serta bentuk dua baris. Sebuah contoh yang tertulis rapi dalam buku: “Manuk sekuter nunggang perau / Njaluk pinter kudu patheng ginau”, menggambarkan sebuah nasihat pendidikan yang dikemas dengan sampiran alam. Selain Basanan, ada “Wangsalan”, yakni gaya bahasa kiasan atau permainan kata metaforis yang maknanya sengaja disamarkan secara cerdas. Contoh klasik wangsalan adalah “mbelung nangka”; karena biji nangka disebut “beton”, maka kata yang menyerupainya adalah “katon” (terlihat/tampak), sehingga maknanya adalah rindu karena terbayang-bayang. Wangsalan ini secara magis disisipkan dalam percakapan untuk memperhalus maksud atau bahkan menyembunyikan teguran agar tidak menyakiti hati pendengarnya.
Sebagai penutup kekayaan budaya, buku ini juga mengeksplorasi warisan musikal bernama Gendhing Banyuwangi. Ini adalah lantunan lagu daerah bernuansa melodi khas yang menyatukan harmoni nada dan kekuatan naratif sastra Using. Gendhing yang disajikan sering kali merekam memori kolektif tentang kasih sayang, interaksi sosial, hingga keindahan alam bumi Blambangan. Lagu sakral seperti “Padha nonton” dengan lirik puitis “Ombak umbul ring segara / Segarane ya tawang agung” dihadirkan untuk menumbuhkan apresiasi musikal pembaca. Terakhir, disajikan pula “Guritan Using”, yaitu bentuk puisi modern berbahasa daerah yang menjunjung tinggi keindahan diksi dan kebebasan mengekspresikan emosi, seperti yang dicontohkan pada mahakarya bertajuk “Taman Blambangan” yang merekam potret keramaian tata kota Banyuwangi dengan balutan diksi nan elok.
Menjelang lembaran akhir, para akademisi perumus buku ini tidak melupakan elemen pedagogik yang tak kalah krusial. Buku ini ditutup dengan sesi Evaluasi Akhir yang terdiri atas 20 soal pilihan ganda dan 5 soal esai, dilengkapi rubrik penilaian praktik berbicara komprehensif yang menilai pelafalan, ketepatan kosakata, kelancaran, hingga kesopanan. Terdapat pula Glosarium tematik yang disusun sangat rapi, mengelompokkan kosakata berdasarkan kata ganti, kata benda di rumah, lingkungan, kata kerja, hingga ungkapan sastra, yang amat memudahkan proses belajar mandiri. Dengan profil para penulis ahli—mulai dari Dr. Dana Yudha Kristiawan yang ahli dalam pembuatan narasi pembelajaran lokal, hingga Bapak Sahru Romadloni dengan fokus sejarah lokal—buku ini menjamin tingginya kredibilitas materi. Sebagai simpulan, buku yang diterbitkan oleh Penerbit Samudra Biru ini tidak sekadar berfungsi sebagai buku pegangan sekolah, melainkan sebuah artefak literasi dan monumen pelestarian peradaban budaya suku Using yang patut dimiliki, dibaca, dan dipraktikkan oleh seluruh masyarakat demi menjaga keberlanjutan jiwa dan ruh budaya Banyuwangi.
.
Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!
DAFTAR ISI
Daftar Isi 1
Slider CaptionSpesifikasi Buku
Cetakan I, Oktober 2026; xii + 84 halaman; ukuran 15,5 x 23 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, jilid lem panas (soft cover) dan shrink bungkus plastik.
Harga Buku
Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.
Rp 85.000
Rp 82.300
Tentang Penulis
Dana Yudha Kristiawan Ph.D
adalah seorang akademisi dan praktisi di bidang pengembangan bahan ajar Pendidikan Bahasa Inggris. Beliau menyelesaikan pendidikan Sarjana di bidang Pendidikan Bahasa Inggris di IKIP PGRI Semarang, dan melanjutkan studi Magister di bidang yang sama di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Bali. Dr. Kristiawan meraih gelar Doktor dari University of Newcastle, Australia, dengan fokus pada integrasi pendidikan perdamaian dan Teaching English to Speakers of Other Languages (TESOL). Sebagai seorang pengembang bahan ajar, beliau memiliki komitmen untuk menciptakan bahan ajar yang relevan, inovatif, dan berbasis multimodality. Karyanya mencakup pengembangan modul pembelajaran digital storytelling untuk meningkatkan literasi bahasa Inggris, serta bahan ajar berbasis multimodal yang mengintegrasikan pembelajaran lintas budaya dan penelitian aksi partisipatif di pesantren. Selain itu, Dr. Kristiawan juga berfokus pada pengembangan kurikulum untuk pengajaran Bahasa Inggris dalam konteks pariwisata, dengan memasukkan narasi budaya lokal sebagai bahan ajar. Kontribusinya dalam pendidikan perdamaian melalui penggunaan humor dan narasi lokal juga menjadi bagian penting dari karya-karyanya. Dengan latar belakang pendidikan yang kuat dan pengalaman praktis di bidang pengembangan bahan ajar, Dr. Kristiawan terus berinovasi dan berbagi pengetahuannya dalam berbagai forum internasional untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Abd. Rahman
adalah seorang dosen dan praktisi Pendidikan yang menyelesaikan pendidikan Sarjana pada tahun 2009 di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi kemudian melanjutkan studi Magister di bidang yang sama di Universitas Islam Malang dan lulus pada tahun 2012. Penelitian dan pengabdian yang dilakukan fokus pada pengajaran Bahasa Inggris, khususnya keterampilan berbicara (speaking) dan menulis (writing), dan praktik refleksi sebagai pendekatan penting dalam pengembangan profesionalisme calon guru dan guru, dengan tujuan membantu mereka meningkatkan kompetensi pedagogis, berpikir kritis, dan kesadaran reflektif dalam mengajar. Beberapa penelitian dan pengabdian yang telah dipublikasikan pada jurnal nasional terakreditasi SINTA dan jurnal internasional bereputasi mengkaji tentang penggunaan tugas refleksi kolaboratif berbasis photovoice untuk mengembangkan kompetensi komunikasi lintas budaya, penggunaan photovoice sebagai refleksi diri, penggunaan digital storytelling berbasis kolaborasi dalam belajar Bahasa Inggris, sikap mahasiswa terhadap pembelajaran berbicara di luar kelas, dan geografi emosi dosen dalam pengembangan profesi berbasis virtual.
Imro‘atul Husna Afriani
adalah seorang akademisi di bidang Pendidikan, khususnya pendidikan bahasa inggris, di Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, Lahir pada tanggal 23 September 1985 di Jember, anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan H. Marhan, S.Sos dan Hj. Zubaidah, S.H., M. Hum yang bertempat di Banyuwangi kota. Menempuh Pendidikan Sarjana pada jurusan Sastra Inggris Di Universitas Jember (UNEJ) dan lulus pada tahun 2009. Kemudian Menyelesaikan Pendidikan Magister di Program
Pascasarjana Universitas Islam Malang (UNISMA) pada Program Studi Pendidikan bahasa inggris dan lulus pada tahun 2012. Pengalaman
kerja dimulai pada tahun 2012 –hingga sekarang ini dengan menjadi
I Kadek Yudiana, M.Pd.
lahir di Desa Belantih, Kintamani, Bangli, Bali, Tanggal 08 Oktober 1987. Menikmati masa Pendidikan Sekolah Dasar di SDN 3 Belantih tahun lulus tahun 2000. Masa SMP dienyam pada SMPN 2 Kintamni lulus Tahun 2003. Kemudian melanjutkan masa SMA pada SMAN 1 Bangli dan lulus thaun 2006. Setelah lulus dari SMA kemudian mengambil Strata-1 pada Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja pada Program Studi Pendidikan Sejarah dan lulus tahun 2010. Setelah lulus Strata-1 tahun 2011 melanjutkan untuk mengambil gelar Magister pada Universitas Sebelas Maret Surakarta pada program Studi Pendidikan Sejarah dan lulus pada tahun 2013. Saat ini menjadi tenaga pengajar pada program studi Pendidikan sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Penidikan Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi dan sekaligus sebagai Kaprodi Pendidikan Sejarah. Penulis juga aktif dalam melakukan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Adapun penelitian yang sudah dihasilkan antara lain: tahun 2013 menuli Pura Segara Penimbangan di Desa Panji, Buleleng, Bali (Kajian Tentang Analisis Nilai-Nilai Pendidikan Karakter) tentang “Peran Etnis Cina Dalam Perdagangan di Bali Utara Pada Tahun 1850-1942”; Tahun 2014 menuli Pura Segara Penimbangan di Desa Panji, Buleleng, Bali (Kajian Tentang Analisis Nilai-Nilai Pendidikan Karakter) tentang “Dampak Sosial dan Ekonomi Penutupan Lokalisasi (Studi Kasus Penutupan Lokalisasi di Kabupaten Banyuwangi)”; Tahun 2015 menulis “Pura Segara Penimbangan di Desa Panji, Buleleng, Bali (Kajian Tentang Analisis Nilai-Nilai Pendidikan Karakter)”; tahun 2016 menulis ”Model Pengemebangan Pariwisata Budaya di Kabupaten Banyuwangi”; tahun 2017 menulis “Analisis Kerukunan Antar Umat Beragama Pada Masyarakat Multikultur di Ujung Timur Pulau Jawa (Studi Kasus di Desa Patoman, Blimbingsari, Banyuwangi)”; tahun 2018 menulis “Model Pengembangan Pariwisata Sejarah Berbasis Sumberdaya Arkeologi Di Kabupaten Banyuwangi” dan “Model Pengembangan Desa Kebangsaan untuk menangkal radikalisme di Desa Patoman, Blimbingsari, Banyuwangi”. Saat ini fokus dalam mengkaji pengintegrasian sejarah dan kebudayaan dalam pembelajaran sejarah. Selain itu juga aktif menjadi beberapa pengurus oraganisasi, antara lain: Aktif sebagai pengurus pusat Perkumpulan Prodi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI)2021-Sekarang; Sekretaris Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kabupaten Banyuwangi 2021 – Sekarang.
Dian Arief Pradana
adalah seorang akademisi dan praktisi pendidikan dengan bidang keilmuan Teknologi Pembelajaran. Pendidikan Sarjana pada proram studi
Teknologi Pendidikan di Universitas Negeri Malang lulus tahun 2012. Pendidikan Magister diselesaikan di Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Program Studi Teknologi Pembelajaran dan lulus tahun 2014, serta pendidikan doktoral di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang pada Program Studi Teknologi Pembelajaran (TEP) lulus pada tahun 2023. Dengan latar belakang pendidikan dan pengembangan pembelajaran dalam bidang pendidikan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan telah membantu mengimplementasikan teknologi dalam pendidikan ke berbagai sektor baik pendidikan formal, informal, sosial, ekonomi, dan pemerintahan daerah. Beberapa sumber belajar yang telah dikembangkan adalah Bahan Ajar Candi Sebagai Situs Religi dan Sumber Belajar Sejarah, Bahan Ajar Situs sejarah Banyuwangi sebagai objek pembelajaran dan pariwisata, Modul Pembelajaran Strategi dan Inovasi Pembelajaran, Modul Pembelajaran Praktik Pembelajaran Mikro, Modul Pembelajaran Sejarah Lokal, Buku ajar Pendidikan Kewirausahaan dengan Model Project Based Learning, Buku Desain Model Agroeduwisata Kopi Sebagai Sarana Wisata dan Edukasi. Buku ajar Pembelajaran Kewirausahaan menggunakan Flipped Classroom dengan Project Based Learning (PjBL), serta buku ajar lainnya yang digunakan pada jenjang pendidikan tinggi sebagai sumber belajar utama maupun pendukung pembelajaran di kelas.
Sahru Romadloni, S.Pd, M.Pd.
Lulus (S1) Universitas Jember FKIP Program studi Pendidikan Sejarah tahun 2014, Lulus jenjang Magister (S2) tahun 2016 Program
Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta. Saat ini adalah dosen di Program Studi Pendidikan Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi. Kepala Pusat Studi Pancasila dan Kebijakan Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi. Aktif sebagai narasumber berbagai kegiatan dari Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PPWK) Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Banyuwangi tahun 2018-sekarang. Penulis buku Soekarno dan Demokrasi Pancasila tahun 2020. Penulis Buku Ajar Kajian Pemikiran Kebangsaan Indonesia (KPKI) tahun 2021, Penulis Buku Banyuwangi Rebound Tahun 2022,
Penulis Buku Pembelajaran Sejarah Lokal: Buku Ajar Tahun 2024, Buku Ajar Keuangan Negara : Perkembangan Digitalisasi Layanan Publik Tahun 2025, Buku Ajar Eksplorasi Sejarah Lokal Melalui Gamifikasi Panduan Belajar Mahasiswa Abad 21 Tahun 2025 dan Buku Ajar Kebijakan Fiskal Dan Finansial : Evaluasi Dan Reformasi Menuju Tata Kelola Modern Tahun 2025.