AUDIT DIRI BERBASIS RISIKO Hari Ini Harus Lebih Baik dari Kemarin
Buku ini adalah panduan reflektif sekaligus praktis untuk membangun kehidupan yang lebih terarah melalui konsep audit diri berbasis risiko. Dengan memadukan prinsip manajemen risiko, muhasabah, dan tuntunan Al-Qur’an serta hadis, buku ini mengajak pembaca mengenali penyimpangan, mengevaluasi diri, dan membangun perbaikan secara konsisten.
Menata Kehidupan melalui Audit Diri
Buku “Audit Diri Berbasis Risiko: Hari Ini Harus Lebih Baik dari Kemarin” karya H. Sumitro menawarkan sebuah perspektif yang sangat segar, struktural, dan inovatif dalam literatur pengembangan diri islami kontemporer. Ditulis oleh seorang praktisi pengawasan dan auditor senior yang telah puluhan tahun mengabdi di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), buku ini berhasil menjembatani dua dunia yang seolah berbeda: ilmu manajemen risiko profesional dengan spiritualitas Islam yang mendalam. H. Sumitro, dengan latar belakang jabatannya yang prestisius hingga menjadi Kepala Perwakilan BPKP di berbagai provinsi serta Direktur di BPKP Pusat, membawa kerangka kerja tata kelola, pengendalian internal, dan audit yang biasa diterapkan pada entitas korporasi atau instansi pemerintah, lalu menundukkannya sepenuhnya untuk diaplikasikan pada objek yang paling krusial di dunia ini, yaitu jiwa manusia itu sendiri. Karya ini juga tidak lepas dari fondasi moral yang ditanamkan oleh kedua orang tua penulis, H. Syariat Ratmo dan Ibu Oemi, yang selalu berpesan agar penulis menjadi pribadi yang bermanfaat, tidak sombong, dan senantiasa menjaga kewajiban shalat. Sinopsis berformat ulasan naratif ini akan merangkum seluruh ketujuh bab di dalam buku ini secara komprehensif, membedah bagaimana penetapan visi hidup, identifikasi risiko dosa, hingga pelaksanaan audit personal dapat mengubah seorang hamba menjadi pribadi yang terus membaik dari hari ke hari.
Membangun Fondasi Visi, Misi, dan Mitigasi Risiko Kehidupan
Perjalanan transformasi dalam buku ini diawali dengan sebuah teguran keras namun sangat rasional pada Bab 1, di mana penulis mempertanyakan sebuah ironi yang menjangkiti manusia modern. Banyak organisasi dikelola dengan visi yang sangat jelas dan tertulis, namun ironisnya manusia sering kali menjalani hidupnya sendiri tanpa peta arah yang pasti, seakan-olah ia adalah sebuah kapal tanpa kompas di tengah lautan luas. Oleh karena itu, H. Sumitro mengajak pembaca untuk merenung dan menjawab tiga pertanyaan eksistensial yang menjadi fondasi seluruh ilmu dan amal: dari mana kita berasal, untuk apa kita berada di dunia ini, dan hendak ke mana kita setelah kematian menjemput. Kesadaran bahwa manusia diciptakan dari saripati tanah melalui proses yang sangat presisi menunjukkan bahwa hidup ini bukanlah kebetulan semata, melainkan memiliki pencipta dan tujuan mulia yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Penulis juga mengambil teladan dari proses pencarian kebenaran Nabi Ibrahim yang secara kritis mengamati alam semesta sebelum berserah diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta.
Memasuki Bab 2, buku ini secara lugas menancapkan visi penciptaan manusia yang tidak bisa ditawar atau direvisi lagi, yaitu mengabdi dan beribadah kepada Allah secara totalitas. Ibadah dalam pandangan penulis, merujuk pada pemahaman para ulama, bukanlah sekadar ritual murni (ibadah mahdhah) seperti shalat, puasa, dan haji semata. Ibadah juga mencakup ibadah ghairu mahdhah, yaitu seluruh aktivitas duniawi yang dilakukan dengan niat karena Allah dan sesuai dengan koridor syariat. Konsep ihsan diangkat sebagai standar mutu tertinggi (quality assurance) dalam beribadah, di mana seorang hamba beramal dengan kesadaran penuh bahwa ia senantiasa diawasi oleh Sang Pencipta. Visi besar pengabdian total inilah yang harus menjadi payung penawar dan menaungi seluruh visi-visi kecil duniawi—seperti karir, kekayaan, atau keluarga—agar manusia tidak terjebak menjadikan hawa nafsunya sebagai berhala baru.
Setelah visi utama ditetapkan, Bab 3 mengupas bagaimana menerjemahkan visi besar tersebut ke dalam misi, program, dan target hidup yang konkret berdasarkan peran masing-masing. Selayaknya organisasi yang memiliki rencana strategis dan program kerja tahunan, manusia juga harus menyusun program per tahapan usianya. Masa muda harus dimanfaatkan untuk membangun fondasi iman dan menuntut ilmu sebelum datangnya masa tua, sementara masa produktif digunakan untuk berkarya dan membina keluarga yang kuat tauhidnya. Penulis mencontohkan kisah Nabi Yusuf yang merancang program pangan selama tujuh tahun paceklik sebagai bukti valid bahwa perencanaan yang matang, terukur, dan detail tidaklah bertentangan dengan konsep tawakal. Tawakal yang sejati justru dilakukan setelah ikhtiar dan perencanaan dilaksanakan secara maksimal, sesuai dengan hadits Nabi tentang mengikat unta terlebih dahulu sebelum bertawakal.
Keunggulan utama dan karakteristik paling unik dari buku ini mulai sangat terasa pada Bab 4, yang secara khusus membahas manajemen risiko kehidupan. Dalam kerangka ini, risiko didefinisikan sebagai segala hal atau potensi yang dapat menyimpangkan manusia dari jalan yang lurus (shirathal mustaqim). H. Sumitro secara tajam mengidentifikasi tiga sumber utama risiko penyimpangan: dorongan hawa nafsu dari dalam diri sendiri, godaan syaitan yang tak pernah lelah menyelinap dari berbagai arah, serta pesona kehidupan dunia yang fana dan sering kali melalaikan. Penulis sangat menekankan bahwa dosa kecil yang dibiarkan dan terus diakumulasi adalah layaknya rayap yang diam-diam meruntuhkan fondasi rumah keimanan. Konsep ini sangat sejalan dengan prinsip risiko akumulatif dalam ilmu manajemen risiko modern, di mana hal-hal yang dianggap remeh bisa menjadi bencana besar. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk menyusun ‘peta risiko pribadi’ yang disesuaikan dengan lingkungan, tingkat kekayaan, profesi, dan kerentanan masing-masing individu.
Analisis risiko pada Bab 4 kemudian ditindaklanjuti secara taktis pada Bab 5 melalui penyusunan rencana tindak pengendalian yang berlapis (layered defense). Penulis merumuskan sembilan lapis pengendalian yang sangat komprehensif untuk membentengi diri manusia. Pengendalian lapis pertama adalah taubat nasuha, yang berfungsi sebagai mekanisme koreksi absolut ketika penyimpangan telah terlanjur terjadi. Lapis berikutnya adalah secara sadar membangun lingkungan yang mendukung ketaatan, serta menjadikan rutinitas dzikir sebagai benteng penjaga ketenangan hati. Shalat lima waktu diposisikan sebagai titik pemeriksaan rutin (checkpoint) harian yang berfungsi mencegah manusia agar tidak tersesat terlalu jauh. Puasa sunnah diusulkan sebagai sarana evaluasi mingguan, sementara menuntut ilmu agama, bersedekah untuk mengendalikan cinta dunia, menerima nasihat, dan puasa Ramadhan sebagai evaluasi tahunan melengkapi sistem pertahanan holistik tersebut. Bahkan, layaknya manajemen risiko di perusahaan profesional, penulis menyarankan adanya rencana kontingensi (contingency plan), di mana seorang hamba harus segera beristighfar dan kembali kepada Allah detik itu juga apabila pertahanan dirinya bobol dan ia terjerumus ke dalam dosa.
Mengeksekusi Audit Diri dan Menjaga Istiqomah untuk Perbaikan Berkelanjutan
Setelah seluruh sistem perencanaan dan pengendalian dibangun, Bab 6 hadir sebagai pilar sekaligus titik kritis dari keseluruhan buku ini: pelaksanaan audit diri (muhasabah). Visi, misi, dan manajemen risiko yang canggih tidak akan bermakna tanpa evaluasi nyata yang membandingkan antara target ketaatan dengan realisasi amal harian. Terinspirasi dari pesan Sayyidina Umar bin Khattab untuk “menghisab diri sebelum dihisab”, H. Sumitro dengan tegas menyatakan bahwa audit diri menuntut tingkat kejujuran yang absolut. Audit yang dilakukan tanpa independensi dan objektivitas terhadap kelemahan diri sendiri hanya akan membuahkan rasa aman yang palsu. Seseorang harus meneliti perbuatannya sekecil apa pun, menghindari sikap ujub (bangga diri), menjaga keseimbangan antara rasa takut (khauf) dan harap (raja’) kepada Allah, serta menjaga kemurnian hatinya dari penyakit riya agar evaluasi ini bernilai murni karena Allah semata.
Buku ini bermuara pada Bab 7 yang menyoroti satu kata kunci terakhir yang paling menentukan keberhasilan segalanya: Istiqomah. Segala rencana brilian dan proses audit diri yang mendetail akan sia-sia jika tidak berujung pada konsistensi dan perbaikan yang berkelanjutan. Penulis menggarisbawahi ajaran Rasulullah bahwa amal yang paling dicintai oleh Allah adalah amal yang dilakukan secara terus-menerus (kontinu), betapapun sedikit atau kecilnya amal tersebut. Perbaikan kecil namun dikawal secara disiplin dari hari ke hari akan terakumulasi menjadi perubahan spiritual yang masif dalam jangka panjang. Ini adalah wujud nyata dari konsep PDCA (Plan-Do-Check-Act) yang secara aplikatif diadopsi ke dalam siklus kehidupan seorang mukmin sejati. Penulis menyadari bahwa tantangan terbesar bukanlah pada saat seseorang memulai langkah ketaatan, melainkan pada bagaimana mempertahankan semangat dan sistem ketaatan tersebut ketika momentum awal mulai memudar seiring berjalannya waktu. Untuk itulah, sistem audit diri ini harus dirawat secara prosedural, bukan hanya mengandalkan letupan motivasi emosional yang fluktuatif, melainkan harus ditopang oleh kesabaran paripurna, shalat yang khusyuk, dan doa yang terus-menerus memohon turunnya pertolongan dan hidayah Allah.
Secara keseluruhan, buku “Audit Diri Berbasis Risiko: Hari Ini Harus Lebih Baik dari Kemarin” adalah sebuah mahakarya literasi yang berani mengubah paradigma tradisional tentang penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Penulis sukses membuktikan bahwa instrumen keilmuan profesional seperti manajemen tata kelola dan evaluasi risiko, jika dikalibrasi ulang dengan cahaya tauhid serta keteladanan Rasulullah, para Khulafaur Rasyidin, dan kearifan para ulama salaf, dapat bertransformasi menjadi instrumen spiritual yang sangat tajam dan ampuh. Karya ini tidak ditujukan untuk sekadar dibaca, diletakkan di rak, dan dilupakan, melainkan disusun untuk dioperasikan sebagai buku panduan (workbook) yang terus ditinjau ulang sepanjang hayat. Pada akhirnya, buku ini adalah sebuah ikhtiar sistematis dan terstruktur yang menuntun para pembacanya untuk meraih tujuan final yang didambakan oleh setiap insan beriman: berpulang ke haribaan Sang Khalik dalam keadaan husnul khatimah yang penuh dengan ridha dan pemaafan.
Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!
DAFTAR ISI
Daftar Isi 1
Slider CaptionSpesifikasi Buku
Cetakan I, Agustus 2026; xxxii + 132 halaman; ukuran 14 x 20 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, jilid lem panas (soft cover) dan shrink bungkus plastik.
Harga Buku
Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.
Rp 90.000
Rp 85,100
Tentang Penulis
Sumitro, SE., Ak., MM., CA., CFrA., QIA.
lahir di Dusun Kampung Baru, Desa Sugihwaras, Kecamatan Saradan, Kabu- paten Madiun, Jawa Timur. Sumitro kecil yang lahir sebagai bocah ndeso, memang bercita-cita sesuai pesan bapaknya adalah jadi orang yang lebih sukses dari orang tuanya. Sekolah Dasar ditamatkannya di Saradan Tahun 1974, kemudian SMEP Negeri Saradan tamat Tahun 1977, dilanjutkan SMEA Negeri Pembina Madiun tamat 1981.
Sumitro remaja tidak mau bergelut di desanya, kemudian ia dengan kehendak ALLAH dapat melanjutkan kuliah D3 di Sekolah Tinggi Akuntasi Negara (STAN) Jakarta. Ketika bekerja di Makassar, Alhamdulillah dapat menyelesaikan kuliah S1 jurusan Akuntansi di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi pada Yayasan Pendidikan Ujung Pandang (STIE-YPUP), tak mau hanya jadi Sarjana Ekonomi (SE) tetetapi bukan Akuntan, upaya keras dan serius dan mengadu kemampuan / nasib mengikuti Ujian Negara Akuntansi (UNA) Profesi dan Alhamdulillah dapat lulus dan memperoleh gelar Akuntan pada tahun 1993. Ketika bertugas di Lampung, keinginan dan kesempatan yang cocok membuatnya ingin punya gelar S2 dan itupun dapat diperoleh dengan mengambil Magister Manajemen bidang study Manajemen Sumber Daya Manusia (MM SDM) di Universitas Bandar Lampung. Saat ini, bahkan sejak tahun 1984 Sumitro bekerja dan mengabdi di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), hampir seluruh Nusantara pernah dijelajahinya, mulai Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Lampung, Jakarta, Maluku, Kalimantan Barat, Jakarta lagi dan Jawa Tengah. Kemudian ke Jakarta lagi, Jawa Timur dan saat ini di Papua Barat.