KHUTBAH JUMAT PENGGUGAH JIWA Refleksi Waktu dan Usia Sepanjang Tahun

Buku ini adalah kumpulan naskah khutbah yang dirancang khusus untuk membangkitkan kesadaran spiritual umat Islam melalui refleksi mendalam atas perputaran waktu dan usia sepanjang kalender Hijriyah. Karya ini tidak sekadar menyajikan tuntunan ibadah mahdhah, tetapi juga menukik tajam pada urgensi kesalehan sosial, pelurusan akidah, hingga pesan-pesan moral dalam merespons berbagai dinamika kehidupan bermasyarakat.

Khutbah Jumat Penggugah Jiwa: Navigasi Spiritual di Tengah Pusaran Waktu

Di era modern yang serba cepat dan mekanis ini, manusia kerap kali terjebak dalam rutinitas duniawi yang melelahkan—berangkat pagi, pulang petang, dan terus-menerus berlomba mengejar pencapaian materi. Dalam hiruk-pikuk tersebut, waktu berlalu tanpa disadari, sering kali meninggalkan ruang kosong di kedalaman jiwa. Momentum shalat Jumat yang sejatinya didesain oleh syariat sebagai “jeda spiritual” dan oase bagi dahaga batin, tidak jarang hanya berlalu sebagai ritual mingguan yang kering makna, sekadar untuk menggugurkan kewajiban fardhu. Merespons krisis makna dan keterasingan spiritual inilah, Dr. H. M. Miftahudin, S.Ag., M.Sy., menghadirkan sebuah karya reflektif yang luar biasa bertajuk Khutbah Jumat Penggugah Jiwa: Refleksi Waktu dan Usia Sepanjang Tahun.

Diterbitkan oleh Penerbit Samudra Biru pada November 2026, buku setebal 276 halaman ini bukanlah sekadar antologi teks pidato keagamaan biasa. Karya ini disusun dengan kesadaran penuh bahwa bertambahnya hitungan waktu pada hakikatnya adalah penanda pasti berkurangnya jatah usia manusia di dunia. Melalui 56 judul khutbah yang dikurasi dengan cermat, penulis merajut pesan-pesan ketakwaan yang selaras dengan perputaran waktu dalam kalender Hijriah. Gaya bahasa yang digunakan sangat formal, elegan, namun tetap membumi, sehingga mampu mengetuk relung hati para pendengar maupun pembaca. Buku ini hadir sebagai jangkar pengingat yang menyadarkan kita bahwa waktu tidak akan pernah berjalan mundur, dan sisa umur harus dikelola sebaik mungkin sebelum kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta.

Memaknai Perjalanan Waktu Sepanjang Kalender Hijriah

Kekuatan utama dari buku Khutbah Jumat Penggugah Jiwa terletak pada struktur penulisannya yang kronologis dan tematik, mengikuti siklus bulan-bulan dalam kalender Islam. Penulis membawa pembaca menapaki perjalanan spiritual yang sistematis, dimulai dari bulan Muharram hingga Dzulhijjah, di mana setiap fase waktu memiliki karakteristik dan tuntunan amal ibadahnya masing-masing.

Pada bagian awal, buku ini menyoroti bulan Muharram sebagai momentum muhasabah (introspeksi diri) dan evaluasi spiritual. Penulis tidak hanya mengajak umat untuk bertaubat dari kesalahan masa lalu, tetapi juga menekankan pentingnya kesalehan sosial melalui anjuran menyantuni anak yatim. Memasuki bulan Safar, Dr. Miftahudin dengan tegas mendekonstruksi mitos dan takhayul warisan jahiliyah yang masih kerap mengakar di masyarakat—yang menganggap Safar sebagai bulan sial atau penuh bala. Melalui dalil-dalil yang kuat, penulis meluruskan akidah umat, menegaskan bahwa tidak ada waktu yang membawa kesialan, dan setiap detik adalah kesempatan untuk mengukir amal saleh.

Memasuki bulan Rabiul Awal dan Rabiul Akhir, narasi khutbah difokuskan pada penguatan rasa cinta (mahabbah) kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Penulis mengurai kemuliaan dan keistimewaan Rasulullah yang diabadikan dalam Al-Qur’an, sekaligus mengingatkan umat akan pentingnya meneladani akhlak beliau di tengah masyarakat. Pesan-pesan pedagogis juga disisipkan melalui khutbah tentang konsep pendidikan anak menurut Luqmanul Hakim, mengingatkan para orang tua bahwa anak adalah amanah, anugerah, sekaligus ujian yang harus dididik dengan keteladanan.

Perjalanan spiritual semakin menanjak ketika memasuki bulan Rajab dan Sya’ban. Peristiwa agung Isra’ Mi’raj direfleksikan tidak hanya sebagai mukjizat fisik, tetapi sebagai momentum diwajibkannya shalat—yang merupakan mi’raj-nya orang-orang beriman. Penulis juga membahas peristiwa historis pemindahan arah kiblat dari Masjid Al-Aqsa ke Ka’bah di Makkah, sebagai simbol ketaatan absolut kepada wahyu Ilahi dan lambang persatuan umat Islam. Bulan Sya’ban diposisikan sebagai fase pemanasan (persiapan fisik, mental, dan spiritual) melalui perbanyak puasa sunnah dan shalawat, sebelum menyambut “tamu agung” bulan suci Ramadhan.

Ketika membahas Ramadhan, buku ini menyajikan spektrum pemaknaan yang sangat kaya. Puasa tidak direduksi sebatas menahan lapar dan dahaga, melainkan dijabarkan sebagai proses pembakaran (sesuai akar kata Ramadhan) atas segala penyakit hati seperti ego, iri, dengki, dan kesombongan. Khutbah-khutbah di bulan ini secara tajam mendorong tumbuhnya jiwa kepedulian dan empati sosial, urgensi mengejar Lailatul Qadar, hingga hakikat zakat fitrah sebagai penyempurna ibadah. Selanjutnya, siklus tahunan ini ditutup dengan khutbah-khutbah di bulan Dzulqa’dah dan Dzulhijjah yang sarat akan nilai-nilai pengorbanan. Melalui keteladanan paripurna Nabi Ibrahim as. dan putranya, Nabi Ismail as., umat diajak untuk memahami bahwa ibadah kurban (udhhiyah) pada hakikatnya adalah medium untuk mengorbankan sifat-sifat kebinatangan (bahimiyyah) dalam diri manusia demi merengkuh keridhaan Allah SWT.

Relevansi Khutbah dengan Problematika Umat Kontemporer

Selain menavigasi umat melalui siklus kalender Hijriah, keunggulan lain yang membuat buku ini sangat menonjol adalah kejelian penulis dalam merespons berbagai problematika sosial kontemporer. Dr. Miftahudin menyadari bahwa mimbar Jumat tidak boleh terasing dari realitas zaman. Oleh karena itu, beliau menghadirkan sejumlah naskah khutbah tematik yang secara berani dan lugas menyoroti penyakit-penyakit sosial modern yang tengah menggerogoti moralitas bangsa.

Salah satu khutbah yang paling menggugah dan relevan dengan kondisi saat ini adalah peringatan keras tentang bahaya judi online. Penulis menelanjangi ilusi kekayaan instan yang ditawarkan oleh teknologi perjudian digital, menegaskan bahwa praktik tersebut tidak hanya diharamkan secara syariat, tetapi juga secara sistematis menghancurkan ekonomi keluarga, merusak tatanan sosial, dan menjerumuskan pelakunya ke dalam kehancuran dunia-akhirat. Dalam khutbah lainnya, penulis juga mengangkat tema darurat narkoba, menyeru seluruh elemen umat—mulai dari orang tua, pendidik, hingga tokoh agama—untuk bersinergi melindungi generasi muda dari ancaman zat adiktif yang merusak akal (karunia Allah yang paling mulia).

Buku ini juga menyentuh ranah ekoteologi (teologi lingkungan) melalui khutbah bertajuk “Bumi yang Terluka: Panggilan Iman untuk Memulihkan Alam”. Merespons krisis iklim, cuaca ekstrem, dan kerusakan lingkungan akibat eksploitasi kerakusan manusia, penulis mengingatkan kembali mandat manusia sebagai khalifah (penjaga) di muka bumi. Kerusakan alam dibedah melalui perspektif Al-Qur’an (Surat Ar-Rum ayat 41), di mana pelestarian lingkungan—seperti mengurangi sampah plastik, menghemat air, dan menanam pohon—diposisikan bukan sekadar agenda ekologis, melainkan sebagai manifestasi keimanan dan sedekah jariyah.

Tidak berhenti pada isu sosial dan ekologis, penulis juga memberikan porsi refleksi kebangsaan melalui naskah Khutbah Kemerdekaan. Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 dimaknai sebagai rahmat Allah yang harus diisi dengan kerja keras, pemberantasan kebodohan, dan pencegahan praktik korupsi. Mensyukuri kemerdekaan berarti tidak mengkhianati pengorbanan para pahlawan dengan tindakan yang merugikan negara. Selain itu, terdapat pula khutbah khusus untuk peristiwa gerhana (Kusuf dan Khusuf), yang mengajak umat untuk memaknai fenomena astronomis sains bukan sebagai mitos, melainkan sebagai demonstrasi kekuasaan Allah yang harus direspons dengan shalat, istighfar, dan taubat.

Lebih dalam lagi, buku ini secara konsisten menyentil kesadaran umat tentang bahaya menjadi orang yang “bangkrut” (muflis) di akhirat. Mengutip hadits Rasulullah SAW, penulis mengingatkan bahwa pahala shalat, puasa, dan zakat yang menggunung dapat habis tak bersisa jika di dunia seseorang gemar menzalimi sesamanya—mencaci maki, memfitnah, atau memakan harta orang lain secara batil. Hal ini menegaskan pesan sentral buku ini: bahwa ibadah ritual (vertikal) harus selalu berbanding lurus dengan kesalehan sosial (horizontal). Keseimbangan antara pola pikir (rasionalitas dan ikhtiar duniawi) dengan dzikir (spiritualitas dan kedekatan dengan Allah) adalah kunci untuk meraih kehidupan yang baik (hayatan thayyibah).

Secara keseluruhan, Khutbah Jumat Penggugah Jiwa: Refleksi Waktu dan Usia Sepanjang Tahun adalah sebuah mahakarya literatur dakwah yang sangat komprehensif, rasional, dan menyentuh hati. Dr. H. M. Miftahudin telah berhasil meramu teologi Islam klasik dengan analisis sosial modern ke dalam format khutbah yang mudah dicerna namun sarat akan gizi spiritual. Buku ini tidak hanya berfungsi sebagai “senjata” yang sangat berharga bagi para khatib, da’i, maupun asatidz dalam menyusun materi ceramah yang segar dan berbobot, tetapi juga sangat layak dijadikan bacaan kontemplatif bagi masyarakat umum di rumah. Dengan membaca lembar demi lembarnya, kita diajak untuk berhenti sejenak dari kecepatan zaman, menundukkan kepala, dan menyadari bahwa setiap tarikan napas adalah modal yang berharga untuk “membeli” kebahagiaan abadi di kampung akhirat kelak.

Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!

DAFTAR ISI

Daftar Isi 1
Slider Caption
Slider Caption
Previous
Next

Spesifikasi Buku

Cetakan I, Oktober 2026; xii + 276 halaman; ukuran 15,5 x 23 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, jilid lem panas (soft cover) dan shrink bungkus plastik.

Harga Buku

Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.

Rp .170.000

Rp 153.500