PARADOKS EKONOMI BIRU, JILID 1 Navigasi Kebijakan, Pasar Global, dan Realitas Pesisir Indonesia
Buku ini adalah sebuah analisis ekonomi politik yang komprehensif mengenai sektor kelautan dan perikanan Indonesia, yang secara kritis membongkar paradoks antara besarnya potensi narasi ekonomi biru dengan realitas struktural masyarakat pesisir serta ketatnya persaingan di pasar global. Melalui kajian mendalam terhadap dua dekade arah kebijakan pemerintah dan dinamika perdagangan internasional atas komoditas unggulan seperti udang, tilapia, tuna, hingga rajungan, karya ini memberikan landasan pemikiran yang krusial bagi para pemangku kepentingan untuk segera menggeser paradigma dari orientasi volume eksploitasi bahan mentah menuju penciptaan nilai tambah (value creation) yang berkelanjutan.
Menyelami Realitas Kelautan, Perikanan, dan Pasar Global Indonesia
Bagi Anda yang berkecimpung di sektor kelautan, perikanan, maupun perdagangan internasional, memahami arah kebijakan dan dinamika pasar global adalah sebuah keharusan mutlak. Di tengah ramainya diskursus mengenai potensi laut Indonesia, hadir sebuah karya komprehensif yang patut menjadi rujukan utama, yaitu buku rujukan yang merangkum keseluruhan realitas tersebut dalam file “Paradoks Ekonomi Biru Jilid 1”. Buku yang ditulis oleh Dr. Suhana, S.Pi, M.Si, dan diterbitkan pada Oktober 2026 oleh Penerbit Samudra Biru ini, menyajikan pandangan kritis setebal 416 halaman yang membongkar mitos dan realitas pengelolaan laut kita.
Sebagai sebuah artikel ulasan (resensi) berperspektif SEO, sinopsis ini akan membedah secara naratif dan utuh seluruh isi buku tersebut. Buku ini tidak hanya menawarkan deretan angka dan statistik yang kering, melainkan sebuah analisis ekonomi politik yang tajam mengenai posisi Indonesia di tengah sengitnya pertarungan geopolitik pangan laut dunia. Dari evolusi kebijakan domestik hingga analisis mendalam komoditas unggulan ekspor, buku ini mengajak pembacanya untuk melihat bahwa potensi laut yang besar tidak secara otomatis berbanding lurus dengan kesejahteraan nelayan atau dominasi pasar global. Berikut adalah rangkuman utuh dari mahakarya yang menavigasi arah kebijakan, pasar global, dan realitas pesisir Indonesia.
Mengurai Benang Kusut Kebijakan dan Lanskap Perikanan Global
Bagian pertama dari buku ini membawa pembaca pada refleksi kritis atas perjalanan dua dekade Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sejak 2005 hingga 2029. Dr. Suhana menyoroti bagaimana paradigma kebijakan di Indonesia kerap berubah arah: dari yang awalnya hanya berorientasi pada peningkatan produksi dan industrialisasi, bergeser ke arah pemberantasan IUU Fishing, dan kini berlabuh pada narasi Ekonomi Biru serta hilirisasi. Namun, paradoks utama yang diungkap adalah bahwa transformasi paradigma di atas kertas ini belum sepenuhnya didukung oleh ekosistem yang mumpuni di lapangan, seperti infrastruktur rantai dingin yang merata atau kesejahteraan nelayan yang terjamin secara struktural.
Dalam kancah perdagangan internasional, buku ini membongkar dualisme kekuatan perikanan Indonesia. Di tingkat kawasan ASEAN, Indonesia memang berhasil tampil sebagai “raja” dengan surplus perdagangan ikan yang terus meningkat, mengungguli negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia. Akan tetapi, ketika bertarung di pasar global yang sesungguhnya, Indonesia harus mengakui keunggulan Vietnam yang telah lebih dulu berfokus pada pasar bernilai tambah tinggi. Hal ini diperkuat dengan analisis kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat yang sering kali diklaim sebagai hubungan resiprositas, namun pada praktiknya menyimpan asimetri ketimpangan struktur ekonomi yang dapat menjebak Indonesia hanya sebagai pasar dan pemasok bahan mentah.
Buku ini juga sangat relevan dengan isu-isu kontemporer geopolitik dan regulasi global. Penulis menyoroti ancaman kebijakan proteksionisme Amerika Serikat melalui Section 301 yang membidik produk seafood impor dengan dalih standar keberlanjutan dan hak asasi manusia. Ada pula analisis tajam mengenai kerentanan ekonomi perikanan Indonesia terhadap konflik geopolitik di Selat Hormuz yang mengancam harga logistik dan energi. Merespons tekanan global, buku ini juga merekomendasikan rezim baru yang diadaptasi dari Eropa, yaitu “Less Volume, Higher Value”. Konsep ini sangat sejalan dengan kebijakan Penangkapan Ikan Terukur (PIT) di Indonesia, di mana keberhasilan tidak lagi diukur dari seberapa banyak ikan yang ditangkap (tonase), melainkan dari penciptaan kelangkaan yang dikelola, kualitas, dan harga jual yang optimal. Transformasi tata kelola laut global seperti Perjanjian BBNJ (High Seas Treaty), digitalisasi pengawasan CATCH, dan konsep Blue Food 2050 turut dikupas tuntas sebagai syarat mutlak agar produk perikanan Indonesia tidak tersingkir dari pasar dunia.
Anatomi Komoditas Unggulan dan Realitas Pesisir yang Menantang
Memasuki bagian kedua, Dr. Suhana melakukan bedah anatomi yang sangat mendetail terhadap komoditas-komoditas unggulan ekspor Indonesia, yang menjadi urat nadi perekonomian perikanan nasional. Pembahasan dimulai dari komoditas udang. Terdapat sebuah paradoks besar (Paradoks Superpower) di mana Amerika Serikat sebagai konsumen dan penentu harga udang terbesar di dunia, sesungguhnya sangat bergantung pada pasokan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Namun, dominasi pasar AS ini membuat negara eksportir sangat rentan. Buku ini secara spesifik mengulas anomali pada tahun 2025, ketika terjadi lonjakan penolakan (import refusal) udang Indonesia oleh otoritas AS (FDA). Melalui analisis pareto, penulis membongkar bahwa krisis tersebut rupanya terpusat pada satu perusahaan akibat kontaminasi spesifik (radioaktif), bukan karena kegagalan sistemik seluruh industri udang nasional. Meskipun demikian, hal ini menjadi peringatan keras akan pentingnya traceability (ketertelusuran) dan sanitasi.
Komoditas berikutnya yang dibedah adalah ikan Tilapia (Nila). Di saat pasar tilapia dunia berubah dan China yang selama ini mendominasi volume mulai melemah akibat perang dagang, ekspor tilapia Indonesia justru memperlihatkan daya saing yang luar biasa. Indonesia cerdik dengan tidak bermain di pasar bervolume besar yang murah, melainkan fokus pada segmen premium berbentuk fillet beku berkualitas tinggi yang diminati Amerika Serikat dan Eropa. Strategi ini berhasil menyelamatkan pembudidaya Indonesia saat harga tilapia global sempat jatuh. Namun, penulis mengingatkan perlunya diversifikasi pasar ke Amerika Latin (Meksiko) dan Afrika agar tidak terjebak pada ketergantungan pasar AS.
Buku rujukan “Paradoks Ekonomi Biru Jilid 1” ini juga menguliti realitas pahit pada industri Tuna, Cakalang, dan Tongkol (TCT). Indonesia berbangga sebagai produsen TCT terbesar di dunia, namun fakta yang menampar adalah bahwa Thailand—yang bukan produsen utama—justru merajai nilai ekspor tuna global. Hal ini terjadi karena terjadinya kebocoran nilai (structural leakage of value) akibat lemahnya kapasitas hilirisasi, minimnya fasilitas rantai dingin (cold chain), dan struktur produksi yang didominasi nelayan kecil tanpa akses langsung ke industri pengolahan. Saat harga cakalang global melonjak tajam pada awal tahun 2026 akibat kelangkaan pasokan (krisis overfishing dan kebijakan FAD), nelayan Indonesia tetap kesulitan menikmati keuntungan maksimal karena terjebak dalam rantai distribusi yang panjang dan dominasi korporasi pengolah global.
Krisis kelangkaan juga terjadi pada komoditas Rajungan dan Gurita. Buku ini mencatat pola “boom and bust” pada industri rajungan, di mana lonjakan ekstrem produksi pada tahun 2017 telah mengakibatkan penurunan stok yang drastis di tahun-tahun berikutnya, menandakan bahwa industri ini sudah mendekati batas produksi biologisnya. Di sisi cephalopoda, terjadi sebuah divergensi pasar yang unik: harga gurita dunia melambung tinggi akibat terbatasnya pasokan dari Maroko dan Mauritania, sementara di saat yang bersamaan, harga cumi-cumi hancur karena melimpahnya pasokan (jumbo squid) dari Peru dan Argentina. Melalui pendekatan teori bioekonomi Gordon-Schaefer, buku ini membuktikan bahwa kelangkaan dan kenaikan harga komoditas laut adalah sinyal alarm batas eksploitasi alam yang tidak boleh lagi direspons dengan peningkatan penangkapan, melainkan dengan penciptaan nilai tambah (value creation).
Sebagai pamungkas yang menyatukan seluruh benang merah, buku ini menyajikan bagian ketiga yang menukik pada realitas akar rumput masyarakat pesisir, mengkritisi kebijakan struktural seperti nilai tukar nelayan, subsidi yang sering kali salah sasaran, hingga kerentanan tenaga kerja perikanan. Keseluruhan narasi dalam buku ini bermuara pada satu kesimpulan tegas: Indonesia tidak boleh lagi hanya berpuas diri menjadi produsen bervolume raksasa atau sekadar pengekspor bahan mentah bagi dunia. “Paradoks Ekonomi Biru Jilid 1” adalah sebuah mahakarya literatur ekonomi perikanan yang wajib dibaca oleh para pembuat kebijakan, akademisi, investor, hingga aktivis lingkungan yang ingin memahami dan membenahi masa depan laut Indonesia agar benar-benar berdaulat, berkelanjutan, dan memberikan kemakmuran yang berkeadilan.
Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!
DAFTAR ISI
Daftar Isi 1
Slider Caption
Slider Caption
Slider CaptionSpesifikasi Buku
Cetakan I, Oktober 2026; x + 416 halaman; ukuran 15,5 x 23 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, jilid lem panas (soft cover) dan shrink bungkus plastik.
Harga Buku
Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.
Rp .210.000
Rp 204.600