DARI WISATA BUDAYA MENUJU EDUWISATA DIGITAL Model Tata Kelola Quintuple Helix Desa Wisata Adat Kemiren

Buku ini adalah sebuah referensi akademik dan panduan strategis yang membedah transformasi Desa Wisata Adat Kemiren dari destinasi wisata budaya konvensional menjadi ekosistem eduwisata digital yang holistik dan berkelanjutan. Melalui penerapan model tata kelola Quintuple Helix, karya ini menawarkan pendekatan inovatif yang mensinergikan peran pemerintah, akademisi, industri/UMKM, komunitas, dan lingkungan guna melindungi kearifan lokal sekaligus mendistribusikan manfaat pariwisata secara adil kepada masyarakat.ibur.

Merajut Masa Depan Desa Wisata Adat Kemiren, Dari Wisata Budaya Menuju Eduwisata Digital

Di era modern di mana pariwisata sering kali terjebak pada komodifikasi budaya dan eksploitasi massal, upaya untuk melestarikan warisan leluhur sembari mengadaptasi teknologi digital menjadi sebuah tantangan yang sangat kompleks. Merespons urgensi tersebut, sebuah mahakarya akademik dan panduan strategis hadir melalui buku Dari Wisata Budaya Menuju Eduwisata Digital: Model Tata Kelola Quintuple Helix Desa Wisata Adat Kemiren. Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Samudra Biru ini merupakan buah pemikiran kolaboratif dari para akademisi dan praktisi, yakni Safrieta Jatu Permatasari, Yovita Vivianty I. Atmadjaja, Herwin Kurniadi, dan Dana Yudha Kristiawan. Melalui ketebalan 166 halaman, karya ini menyajikan sebuah masterplan (rencana induk) yang revolusioner bagi Desa Kemiren di Banyuwangi, merombak paradigma lama pariwisata yang hanya berorientasi pada jumlah kunjungan menuju ekosistem pariwisata edukasi yang holistik, berkelanjutan, dan beradab.

Buku ini berangkat dari sebuah kegelisahan akademis sekaligus praktis: daya tarik Desa Kemiren tidak hanya bertumpu pada objek fisik semata, melainkan pada ekosistem budaya yang hidup (living cultural landscape). Arsitektur rumah adat, bahasa Osing, ritus, kuliner, manuskrip, hingga lanskap persawahan tidak dapat dipisahkan dari konteks kehidupan sosial dan ingatan kolektif masyarakatnya. Oleh karena itu, pendekatan pariwisata konvensional yang sering kali mereduksi kebudayaan sekadar menjadi “tontonan eksotis” memiliki risiko besar dalam merusak nilai autentisitas dan spiritualitas masyarakat lokal. Menyadari ancaman ini, para penulis menawarkan kerangka transformasi yang sistematis, menempatkan teknologi digital bukan sebagai alat eksploitasi, melainkan sebagai infrastruktur pelayanan dan pembelajaran yang dibingkai dengan tata kelola yang sangat ketat.

Transformasi Paradigma: Kemiren Sebagai Lanskap Pembelajaran Hidup dan Integrasi Digital

Pergeseran mendasar yang ditawarkan dalam buku ini adalah transformasi dari “Wisata Budaya” menjadi “Eduwisata Digital”. Eduwisata menuntut pengalaman kunjungan yang dipandu oleh sumber pengetahuan yang memiliki legitimasi, didukung oleh sistem digital yang mumpuni, serta dilaksanakan dengan penghormatan mutlak terhadap hak budaya, ruang privat, nilai spiritual, dan daya dukung lingkungan. Untuk mencapai visi tersebut, desain masterplan ini dibedah melalui empat lensa utama: lensa Eduwisata (fokus pada kualitas pembelajaran), Digitalisasi (teknologi sebagai infrastruktur pelayanan), Budaya (komunitas sebagai pemegang hak narasi), dan Spiritualitas (larangan merekayasa ritual sakral demi kepentingan wisata).

Dalam penerapannya, buku ini memperkenalkan konsep Kemiren sebagai Living Learning Landscape. Desa Kemiren tidak dipandang sebagai satu kompleks wisata buatan, melainkan sebuah jaringan titik belajar (learning nodes) yang memanfaatkan ruang kehidupan nyata masyarakat, seperti rumah adat, sanggar, dan lanskap sawah produktif seluas 103 hektare. Konsep ini diwujudkan ke dalam desain pengalaman eduwisata yang memuat berbagai portofolio paket pembelajaran, antara lain: Arsitektur & Weluri Osing, Dapur, Pangan & Makna Ritual, Nada Kemiren (seni musik Angklung dan Bonang), Bahasa & Tradisi Lisan (termasuk Mocoan Lontar Yusup), Jejak Gandrung & Barong, Sawah sebagai Ruang Belajar, hingga pengalaman Live-in Kemiren.

Lebih jauh, penulis menyoroti integrasi ekonomi lokal yang tidak lagi ditempatkan sekadar sebagai aktivitas belanja oleh-oleh di akhir kunjungan. Sebaliknya, UMKM kuliner (seperti pecel pithik dan kelemben), kerajinan batik, dan tenun udeng dijadikan bagian integral dari pengalaman pembelajaran. Wisatawan diajak untuk memahami filosofi, bahan, dan keterampilan di balik produk-produk tersebut. Pengalaman komprehensif ini difasilitasi melalui konsep Digital Visitor Journey yang menghubungkan enam tahapan krusial: Discovery (penemuan), Learning (pembelajaran pra-kunjungan), Selection (pemilihan paket), Booking (reservasi terukur), On-site learning (pembelajaran di lokasi yang dibantu dengan QR code dan audio), hingga Reflection & feedback (refleksi dan evaluasi pascakunjungan). Integrasi digital ini memastikan wisatawan “belajar sebelum membeli” dan pengelola mampu mengendalikan kapasitas daya tampung desa.

Namun, buku ini dengan sangat tegas memberikan rambu-rambu bahwa “akses digital tidak selalu berarti keterbukaan penuh”. Ada sebuah arsitektur pengetahuan budaya yang diikat oleh Hak Akses dan Persetujuan Budaya (Cultural Consent). Penulis mengklasifikasikan aset budaya ke dalam empat tingkatan akses yang ketat: (1) Terbuka-edukatif, untuk budaya yang dapat dijadikan materi pembelajaran publik; (2) Terbatas/bersyarat, yang memerlukan izin khusus dan pendampingan; (3) Ritus/sakral, yang murni merupakan otoritas spiritual dan dilarang keras untuk direkayasa sebagai atraksi pariwisata; dan (4) Privat, yaitu ruang keluarga atau manuskrip rahasia yang tertutup untuk kunjungan wisata. Klasifikasi ini diwujudkan secara digital dengan membedakan antara portal layanan publik (open service layer) dan arsip budaya terkendali (governed cultural archive). Dengan demikian, digitalisasi hadir untuk melestarikan dan memperluas literasi, bukan untuk mengkomodifikasi ruang sakral dan privasi warga desa.

Arsitektur Tata Kelola Quintuple Helix dan Peta Jalan Keberlanjutan 2026-2035

Visi besar eduwisata digital Kemiren mustahil terwujud tanpa adanya struktur kelembagaan yang kuat. Untuk itu, buku ini mengusulkan model tata kelola Quintuple Helix yang melibatkan lima pilar utama: Pemerintah, Akademisi, Industri/UMKM, Komunitas/Media, dan Lingkungan. Menariknya, “Lingkungan” diposisikan sebagai entitas mandiri—sebuah heliks yang berfungsi sebagai batas daya dukung ekologis yang tidak dapat dinegosiasikan demi keuntungan ekonomi. Kolaborasi ini diikat dengan pembagian hak keputusan yang jelas mengenai siapa yang berhak mengusulkan, memutuskan, melaksanakan, dan bahkan menghentikan program wisata apabila terdeteksi adanya pelanggaran etika budaya atau kerusakan lingkungan.

Buku ini secara brilian membedah kesenjangan strategis (strategic gaps) yang selama ini menghambat pengembangan Kemiren, yang meliputi kesenjangan pelindungan (seperti manuskrip dan tradisi yang terancam punah), kesenjangan layanan digital, serta kesenjangan distribusi ekonomi. Untuk mengatasi masalah pemerataan ekonomi, penulis merancang konsep “Rantai Manfaat Lokal”, di mana sistem rotasi diberlakukan secara adil. Sistem ini memastikan bahwa pendapatan pariwisata tidak hanya dinikmati oleh elit pengelola atau pemilik modal besar, tetapi juga mengalir langsung kepada para pemandu, pelaku seni, maestro, petani, pemilik rumah adat, dan pengrajin kecil yang menjadi “dapur” dari pengalaman eduwisata itu sendiri.

Implementasi dari tata kelola tersebut diterjemahkan ke dalam panduan praktis yang sangat berharga bagi para praktisi pariwisata, yaitu enam Standar Operasional Prosedur (SOP) Inti. Keenam SOP tersebut mencakup: (1) Reservasi, penerimaan, dan orientasi; (2) Pemanduan dan interpretasi budaya-spiritual; (3) Etika budaya, dokumentasi, dan komersialisasi; (4) Alur paket, rute, waktu, dan kapasitas; (5) Lingkungan dan kenyamanan warga; serta (6) Keluhan, keamanan, evaluasi, dan tindak lanjut. Melalui SOP ini, mitigasi risiko seperti overcapacity, komersialisasi berlebihan, hingga konflik narasi dapat dikendalikan dengan safeguards yang jelas, di mana pelanggaran dokumentasi atau keluhan warga dapat memicu penghentian sementara program wisata (stop/go decisions).

Sebagai puncak dari perencanaan strategis, buku ini menyusun sebuah Roadmap (Peta Jalan) Eduwisata Digital Kemiren untuk periode 2026-2035 yang terbagi ke dalam empat fase progresif. Fase I (2026-2027) berfokus pada pembangunan fondasi pelindungan budaya, uji coba SOP, dan registrasi aset. Fase II (2028-2030) ditujukan untuk penguatan layanan digital, standardisasi, dan integrasi UMKM. Fase III (2031-2033) diarahkan pada konsolidasi dan pembangunan jejaring pembelajaran. Terakhir, Fase IV (2034-2035) merupakan tahap evaluasi komprehensif dan pembaruan masterplan.

Proses panjang selama satu dekade ini akan dikawal secara ketat melalui sistem Monitoring dan Evaluasi (M&E) yang adaptif, menggunakan indikator-indikator kunci yang tidak hanya berpatokan pada jumlah kunjungan, tetapi berfokus pada kualitas dan integritas sistem. Penulis memperkenalkan indikator inovatif seperti Indeks Pelibatan Aktor Quintuple Helix (IPA-QH), Kualitas Collaborative Governance (KCG), dan Indeks Kesiapan Implementasi Masterplan (IKIM). Data dari indikator-indikator ini, ditambah dengan masukan (keluhan) dari warga dan kualitas pembelajaran pengunjung, akan menjadi instrumen kritis dalam proses “pembelajaran kebijakan”. Dengan demikian, masterplan ini bukanlah dokumen kaku, melainkan sebuah instrumen hidup yang senantiasa beradaptasi untuk melindungi kebudayaan Osing di tengah arus perubahan zaman.

Secara keseluruhan, Dari Wisata Budaya Menuju Eduwisata Digital adalah sebuah literatur yang sangat mengesankan, memadukan kekayaan teori sosiologi-budaya, manajemen strategis, dan inovasi teknologi ke dalam sebuah rancangan aksi nyata yang aplikatif. Bahasa yang digunakan sangat akademis, terstruktur, namun tetap mengalir secara naratif sehingga memudahkan para pemangku kebijakan, akademisi, mahasiswa, hingga pegiat desa wisata untuk mengadopsi model tata kelola ini. Buku ini memberikan tamparan keras sekaligus solusi cerdas bagi industri pariwisata nasional: bahwa kebudayaan dan ruang hidup masyarakat adat bukanlah komoditas murahan untuk dieksploitasi, melainkan sebuah ruang sakral, perpustakaan hidup, dan ekosistem kebijaksanaan yang harus dihormati, dilindungi, dan dipelajari dengan penuh etika demi keberlanjutan peradaban di masa depan.

Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!

DAFTAR ISI

Daftar Isi 1
Slider Caption
Slider Caption
Slider Caption
Slider Caption
Previous
Next

Spesifikasi Buku

Cetakan I, Oktober 2026; xvi + 166 halaman; ukuran 15,5 x 23 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, jilid lem panas (soft cover) dan shrink bungkus plastik.

Harga Buku

Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.

Rp .125.000

Rp 114.200

Tentang Penulis

Safrieta Jatu Permatasari, S.IP., M.Si.

merupakan dosen pada Program Studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi. Lahir di Banyuwangi, pada tanggal 12 Oktober 1985. Menempuh dan menyelesaikan pendidikan S1 Ilmu Politik di Universitas Airlangga (2009), S2 Ilmu Komunikasi di Universitas Dr.
Soetomo Surabaya (2011), serta S1 Administrasi Negara di Universitas Dr. Soetomo (2015). Ia pernah dipercaya sebagai Ketua Program Studi Administrasi Publik periode 2021–2025 dan saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan periode 2025-2029 FISIP Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi. Bidang keilmuan dan penelitiannya meliputi administrasi publik, kebijakan publik, pemerintahan desa, pembangunan masyarakat, komunikasi publik, serta pariwisata berkelanjutan berbasis potensi lokal. Penulis aktif dalam pendidikan, penelitian, publikasi ilmiah, danpengembangan kelembagaan. Berbagai penelitiannya mengangkat isu kebijakan publik, pemerintahan dan kemandirian desa, pemberdayaan masyarakat, pelayanan publik, serta pengembangan pariwisata
berbasis tradisi dan potensi lokal Banyuwangi.

Yovita Vivianty I. Atmadjaja

merupakan akademisi di bidang manajemen keuangan dan investasi pada Program Studi Manajemen, Universitas 17 Agustus
1945 Banyuwangi, tempat ia berkiprah sejak tahun 2004. Dengan latar pendidikan formal yang selaras dengan bidang keilmuannya, penulis konsisten mengembangkan kompetensi melalui berbagai pelatihan profesional dan forum ilmiah yang berfokus pada peningkatan kualitas pengajaran,
penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Karya-karya yang dihasilkan mencerminkan ketertarikannya pada dinamika teori dan praktik keuangan modern. Di antara publikasi bukunya adalah Evolusi Teori Keuangan: Dulu, Kini, dan Nanti, Referensi Manajemen Keuangan: Mengoptimalkan Nilai Perusahaan, serta Pasar Modal: Sebuah Pengantar. Penulis juga aktif mempublikasikan hasil penelitian mengenai kepemilikan institusional, kebijakan hutang, dan indikator
kinerja perusahaan di berbagai jurnal nasional, serta berkontribusi dalam diskusi akademik tingkat regional dan nasional. Komitmennya untuk terus memperkaya wacana ilmiah menjadikan penulis sebagai salah satu kontributor penting dalam pengembangan kajian manajemen keuangan di lingkungan akademik.

Herwin Kurniadi, S.Sos., M.Si.

adalah dosen tetap pada Program Studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi. Lahir di Banyuwangi, 27 Juli 1986. Penulis memiliki latar belakang pendidikan S1 dan S2 Administrasi Publik, FISIP Universitas Hasanuddin Makassar. Ia aktif dalam kegiatan pendidikan, penelitian, dan publikasi ilmiah di bidang administrasi publik, khususnya kebijakan publik, reformasi administrasi, pemerintahan desa, pelayanan publik,
pemberdayaan masyarakat, dan tata kelola pariwisata. Sejumlah penelitiannya berfokus pada isu pemerintahan dan pembangunan daerah di Kabupaten Banyuwangi. Ia juga aktif dalam penelitian kolaboratif dan publikasi ilmiah sebagai bagian dari kontribusinya terhadap pengembangan ilmu administrasi publik.

Dana Yudha Kristiawan Ph.D

adalah seorang akademisi dan praktisi di bidang pengembangan bahan ajar Pendidikan Bahasa Inggris. Beliau menyelesaikan pendidikan Sarjana di bidang Pendidikan Bahasa Inggris di IKIP PGRI Semarang, dan melanjutkan studi Magister di bidang yang sama di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Bali. Dr. Kristiawan meraih gelar Doktor dari University of Newcastle, Australia, dengan fokus pada integrasi pendidikan perdamaian dan Teaching English to Speakers of Other Languages (TESOL). Sebagai seorang pengembang bahan ajar, beliau memiliki komitmen untuk menciptakan bahan ajar yang relevan, inovatif, dan berbasis multimodality. Karyanya mencakup pengembangan modul pembelajaran digital storytelling untuk meningkatkan literasi bahasa Inggris, serta bahan ajar berbasis multimodal yang mengintegrasikan pembelajaran lintas budaya dan penelitian aksi partisipatif di pesantren. Selain itu, Dr. Kristiawan juga berfokus pada pengembangan kurikulum untuk pengajaran Bahasa Inggris dalam konteks pariwisata, dengan memasukkan narasi budaya lokal sebagai bahan ajar. Kontribusinya dalam pendidikan perdamaian melalui penggunaan humor dan narasi lokal juga menjadi bagian penting dari karya-karyanya. Dengan latar belakang pendidikan yang kuat dan pengalaman praktis di bidang pengembangan bahan ajar, Dr. Kristiawan terus berinovasi dan berbagi pengetahuannya dalam berbagai forum internasional untuk meningkatkan kualitas pendidikan.