SAKA NDESO NYANG SWARGA Dari Desa ke Syurga

Mengisahkan perjalanan inspiratif H. Sumitro, seorang anak desa dari Saradan, Madiun, yang lahir dari keluarga bersahaja—dengan Bapak yang hanya tamat kelas 5 Sekolah Rakyat dan Emak yang buta huruf. Namun, berkat keteguhan iman, kerja keras pantang menyerah, dan kekuatan doa restu orang tua di sepertiga malam, ia berhasil merengkuh puncak karier sebagai abdi negara (auditor BPKP) dan menyandang deretan gelar akademik serta sertifikasi profesi bergengsi (SE., Ak., MM., CA., CFrA., QIA.). Lebih dari sekadar memoar perjalanan karier, karya ini merupakan panduan berharga tentang parenting teladan, penjagaan integritas, dan esensi sejati dari kesuksesan yang tak hanya berorientasi pada pencapaian duniawi, tetapi juga kebahagiaan akhirat.

Bukti Nyata Keajaiban Doa, Kerja Keras, dan Integritas

Buku “Saka Ndeso Nyang Swarga – Dari Desa Ke Syurga” karya H. Sumitro, SE., Ak., MM., CA., CFrA., QIA., bukanlah sekadar autobiografi biasa. Karya ini adalah sebuah memoar mendalam yang merekam jejak perjalanan hidup seorang anak desa yang lahir dalam kesederhanaan, namun berhasil merengkuh puncak kesuksesan duniawi sekaligus merajut kebahagiaan spiritual yang luar biasa. Ditulis dengan gaya bahasa yang tulus, reflektif, dan penuh makna, buku setebal lebih dari 200 halaman ini merangkum empat dekade pengabdian seorang abdi negara di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Namun, lebih dari sekadar catatan karier, buku ini adalah panduan inspiratif tentang parenting (ilmu mendidik anak), pentingnya integritas, kekuatan doa orang tua, dan esensi sejati dari kesuksesan.

Judul “Saka Ndeso Nyang Swarga” sendiri memiliki makna filosofis yang berlapis. Kata “Saka Ndeso” (dari desa) mewakili titik awal sang penulis yang lahir di sebuah desa kecil bernama Saradan di Madiun, Jawa Timur, dari keluarga yang serba kekurangan secara materi. Sementara “Nyang Swarga” (ke syurga) melambangkan tujuan hakiki kehidupan, yang tidak hanya bermakna surga di akhirat kelak, tetapi juga surga dunia berupa keluarga yang harmonis, anak-anak yang berbakti, dan kehidupan yang penuh keberkahan serta ridha Allah SWT. Melalui buku ini, penulis membuktikan bahwa kemiskinan dan keterbatasan latar belakang bukanlah penghalang permanen untuk meraih prestasi tinggi, asalkan diiringi dengan kerja keras, keteguhan iman, dan doa restu dari orang tua.

Akar yang Kuat: Ajaran Kesederhanaan dan Keimanan dari Saradan

Kisah ini bermula di Kecamatan Saradan, Madiun, tempat penulis dilahirkan sebagai anak kelima dari tujuh bersaudara. Penulis menceritakan dengan penuh keharuan bagaimana ia dibesarkan oleh sepasang orang tua yang sangat sederhana. Bapaknya, H. Sarengat Ratmo, hanyalah seorang Pegawai Negeri Sipil golongan II/c di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Madiun yang pendidikannya hanya tamat kelas 5 Sekolah Rakyat (SR). Sementara Emaknya, Ibu Oemi, adalah seorang perempuan yang buta huruf latin, tidak bisa membaca maupun menulis namanya sendiri. Namun, dari keterbatasan pendidikan formal kedua orang tuanya inilah, H. Sumitro mendapatkan warisan nilai yang jauh lebih berharga daripada harta benda.

Sang Bapak, meski gajinya pas-pasan, memutar otak untuk menghidupi delapan anggota keluarganya dengan mengolah pekarangan rumah seluas kurang lebih 1.000 meter persegi menjadi kebun sayur dan peternakan ayam sederhana. Sang Bapak mengajarkan arti kerja keras, kejujuran, dan pantang menyerah. Di malam hari, Bapaknya selalu setia mendampingi anak-anaknya belajar di bawah temaram lampu, menanamkan pesan kuat bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan. Ada satu kalimat keramat dari Bapaknya yang selalu diingat penulis: “Kalau kamu ingin sukses, taklukkan Jakarta”.

Di sisi lain, sang Emak, meskipun buta huruf, dijuluki penulis sebagai “Profesor Tanpa Ijazah”. Emak Oemi sangat fasih menghafal Al-Qur’an dan bacaan shalat dengan tartil yang indah. Ia mendidik anak-anaknya bukan dengan teori dari buku, melainkan dengan keteladanan yang nyata. Doa-doa Emak di sepertiga malam di atas sajadahnya, air matanya saat memohon kepada Allah, serta kedisiplinannya dalam mengingatkan anak-anak untuk tidak pernah meninggalkan shalat, menjadi fondasi spiritual terkuat bagi keberhasilan H. Sumitro. Dari Emaknya, penulis belajar bahwa ilmu agama dan keimanan yang tulus adalah gelar terbesar dalam kehidupan.

Berbekal pesan dan doa orang tuanya, anak desa ini meniti tangga pendidikan dengan gemilang. Ia selalu menjadi juara kelas sejak Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP), hingga menjadi lulusan terbaik di Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) pada tahun 1981. Ketangguhannya teruji ketika ia menolak tawaran kemudahan untuk langsung bekerja di BUMN, dan memilih jalan terjal dengan mendaftar ke Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) di Jakarta yang seleksinya sangat ketat. Keberangkatannya ke Jakarta dengan ongkos bus yang hanya dibayar setengah karena ketiadaan biaya, menjadi momen emosional yang mengobarkan tekadnya untuk mengubah nasib keluarga. Kerja kerasnya berbuah manis, ia diterima di STAN dan lulus pada tahun 1984.

Merajut Sukses Dunia Akhirat: Karier, Keluarga, dan Warisan Rohani

Setelah lulus dari STAN, karier H. Sumitro sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di BPKP pun dimulai. Tugas pertamanya membawanya jauh ke timur, tepatnya di Makassar, Sulawesi Selatan. Di sinilah dedikasinya sebagai auditor yang berintegritas mulai diuji dan ditempa. Selama hampir 40 tahun masa pengabdiannya, ia telah berpindah tugas hingga 19 kali, berkeliling dari Sabang sampai Merauke, termasuk ke Jawa Timur, Lampung, Maluku, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, hingga Papua Barat. Dalam setiap penugasannya, ia memegang teguh prinsip untuk tidak pernah menerima sesuatu di luar haknya, sekecil apa pun itu. Baginya, mengaudit laporan keuangan negara bukan sekadar mencari-cari kesalahan, melainkan tugas mulia untuk mendidik, membenahi sistem, dan menjaga agar uang rakyat dikelola dengan kejujuran demi pembangunan bangsa. Integritas inilah yang membuatnya dihormati oleh banyak kepala daerah, seperti yang diungkapkan oleh mantan Bupati Tulang Bawang Barat, H. Umar Ahmad, dalam kata pengantar buku ini.

Sembari meniti karier, semangat belajarnya tak pernah padam. Penulis sadar bahwa pendidikan berkelanjutan adalah investasi terbaik. Sambil bekerja, ia berhasil meraih gelar Sarjana Ekonomi (SE) dari STIE YPUP Makassar, lulus Ujian Negara Akuntansi (UNA) untuk meraih gelar Akuntan (Ak) setelah berjuang hingga percobaan kelima, dan menyelesaikan studi Magister Manajemen (MM) di Universitas Bandar Lampung. Lebih hebatnya lagi, ia melengkapi profesionalismenya dengan tiga sertifikasi bergengsi sekaligus: Chartered Accountant (CA), Certified Fraud Auditor (CFrA), dan Qualified Internal Auditor (QIA).

Kesuksesan H. Sumitro di dunia kerja berbanding lurus dengan keberhasilannya membina rumah tangga. Ia mempersunting Dra. Hj. Susi Purwati, MM., yang merupakan cinta masa remajanya sejak SMP di Saradan. Istrinya adalah seorang dosen di PKN STAN yang telah mengajar ribuan mahasiswa, dan sekaligus menjadi pilar kekuatan keluarga. Bersama sang istri, penulis menerapkan pola asuh (parenting) yang luar biasa, memadukan keteladanan, kedisiplinan, kasih sayang, dan nilai-nilai Islam. Penulis menegaskan bahwa tidak pernah ada perbedaan pendapat antara ayah dan ibu di depan anak-anak mengenai pola asuh, sehingga anak tidak mendapatkan celah untuk membenturkan orang tuanya.

Hasil dari pendidikan berbasis keteladanan ini melahirkan keturunan yang sangat membanggakan. Anak pertamanya, Dr. Khadijah Rizky Sumitro, MKed. Klin., SpA., Subsp. GH (K), mewarisi kecerdasan luar biasa dengan IQ 149 (kategori near genius). Khadijah menjalani program akselerasi sejak SD hingga SMA, masuk Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga di usia 15 tahun, dan kini menjadi Dokter Spesialis Anak sekaligus Subspesialis Gastrohepatologi Anak (Konsultan). Anak keduanya, Ir. H. Muhammad Shiddiq Sumitro, ST., MSc., juga memiliki IQ 149, masuk STEI ITB di usia 16 tahun, dan berhasil meraih gelar Master of Science bidang energi terbarukan dari TU Delft, Belanda, pada usia 22 tahun. Shiddiq kini memimpin perusahaan teknik berskala internasional yang beroperasi di Eropa dan Indonesia.

Kebanggaan penulis semakin lengkap dengan hadirnya menantu-menantu yang juga berprestasi tinggi. Suami Khadijah, Eko Ari Wicaksono, SE., MPA., adalah sesama auditor BPKP yang memiliki kepakaran di bidang ekonomi dan administrasi publik. Sementara istri Shiddiq, Hj. Marina Ika Iriani, SFarm., Apt., MSi., PhD., adalah ilmuwan farmasi kelas dunia lulusan universitas terkemuka di luar negeri. Kehebatan generasi ini pun mulai menurun kepada cucu-cucu mereka. Salah satunya, Fatimah Arsyila Wicaksono, putri dari Khadijah, yang tidak hanya merah nilai akademik nyaris sempurna di bangku SD (rata-rata 97,28), tetapi juga telah diwisuda sebagai Hafizah Juz 30. Penulis menyadari bahwa warisan terbaik bagi keluarga bukanlah harta benda yang bisa habis, melainkan generasi yang hebat secara akademik dan taat kepada perintah Allah.

Di balik rentetan kesuksesan gemerlap tersebut, buku ini mengingatkan pembaca bahwa fondasi sesungguhnya dari kehidupan H. Sumitro adalah spiritualitas yang terus dijaga. Kekayaan baginya bukanlah seberapa banyak uang yang terkumpul, melainkan sifat qana’ah (merasa cukup) atas segala nikmat yang diberikan Tuhan. Penulis dan keluarganya senantiasa merutinkan amalan-amalan rohani, seperti selalu membaca Al-Qur’an minimal dua halaman setiap hari, menunaikan tahajud di sepertiga malam dengan mengenakan pakaian putih bersih layaknya menghadap raja, serta melantunkan wirid ratusan kali. Pencapaian spiritual tertingginya dirasakan saat ia, istri, anak-anak, hingga cucunya, diberikan rezeki oleh Allah untuk berkali-kali menunaikan ibadah haji dan umroh. Berdiri di depan Ka’bah membuat seluruh gelar dan jabatannya terasa sangat kecil, mengingatkannya bahwa segala kesuksesan di dunia hanyalah titipan yang harus dipertanggungjawabkan.

Masa pensiunnya pada 31 Oktober 2022 sama sekali tidak menghentikan langkah pengabdiannya. Hanya sehari setelah pensiun resmi dari BPKP, H. Sumitro langsung diminta mendampingi Gubernur Lampung sebagai Tenaga Ahli bidang percepatan keuangan dan pembangunan daerah, dan selanjutnya dipercaya menjadi Tenaga Khusus Walikota Bandar Lampung. Bersama timnya, ia berhasil membantu Pemerintah Kota Bandar Lampung meraih kembali Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Ia membuktikan prinsip hidupnya: “Jabatan adalah amanah, bukan anugerah. Datanglah untuk bekerja dan pergilah begitu pekerjaan selesai, tanpa menunggu tepuk tangan”. Selain itu, ia juga aktif sebagai penulis produktif yang telah menerbitkan puluhan buku dan menjadi narasumber inspiratif (motivator parenting) di hadapan ribuan peserta di seluruh Indonesia.

Sebagai penutup, buku Saka Ndeso Nyang Swarga adalah sebuah literatur wajib bagi siapa pun yang sedang mencari makna dari perjuangan hidup. Melalui buku ini, H. Sumitro mengajarkan bahwa untuk mengubah takdir, kita tidak perlu memiliki segalanya di awal; kita hanya butuh rasa syukur yang tulus, kerja keras yang tidak pernah kompromi, integritas yang tidak bisa dibeli, serta keimanan yang menyandarkan segalanya hanya kepada Allah SWT. Pesan terbesarnya bergaung kuat dari halaman pertama hingga terakhir: kemiskinan bisa ditaklukkan, keterbatasan bisa ditembus, namun akhlak mulia dan keluarga yang dekat dengan Sang Pencipta adalah harta karun abadi yang sesungguhnya. Sebuah narasi luar biasa yang dengan meyakinkan membuktikan bahwa anak desa yang sederhana, kelak, atas izin-Nya, mampu menuntun seluruh keluarganya melangkah menembus batas dunia menuju gerbang syurga.

Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!

DAFTAR ISI

Daftar Isi 1
Slider Caption
Slider Caption
Previous
Next

Spesifikasi Buku

Cetakan I, Oktober 2026; xl + 200 halaman; ukuran 14 x 20 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, jilid lem panas (soft cover) dan shrink bungkus plastik.

Harga Buku

Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.

Rp 120.000

Rp 102.900

Tentang Penulis

Sumitro, SE., Ak., MM., CA., CFrA., QIA.

lahir di Dusun Kampung Baru, Desa Sugihwaras, Kecamatan Saradan, Kabu- paten Madiun, Jawa Timur. Sumitro kecil yang lahir sebagai bocah ndeso, memang bercita-cita sesuai pesan bapaknya adalah jadi orang yang lebih sukses dari orang tuanya. Sekolah Dasar ditamatkannya di Saradan Tahun 1974, kemudian SMEP Negeri Saradan tamat Tahun 1977, dilanjutkan SMEA Negeri Pembina Madiun tamat 1981. Sumitro remaja tidak mau bergelut di desanya, kemudian saya dengan kehendak ALLAH dapat melanjutkan kuliah D3 di Sekolah Tinggi Akuntasi Negara (STAN) Jakarta. Ketika bekerja di Makassar, Alhamdulillah dapat menyelesaikan kuliah S1 jurusan Akuntansi di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi pada Yayasan Pendidikan Ujung Pandang (STIE-YPUP), tak mau hanya jadi Sarjana Ekonomi (SE) tetetapi bukan Akuntan, upaya keras dan serius dan mengadu kemampuan / nasib mengikuti Ujian Negara Akuntansi (UNA) Profesi dan Alhamdulillah dapat lulus dan memperoleh gelar Akuntan pada tahun 1993. Ketika bertugas di Lampung, keinginan dan kesempatan yang cocok membuatnya ingin punya gelar S2 dan itupun dapat diperoleh dengan mengambil Magister Manajemen bidang study Manajemen Sumber Daya Manusia (MM SDM) di Universitas Bandar Lampung.

Saat ini, bahkan sejak tahun 1984 Sumitro bekerja dan mengabdi di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), hampir seluruh Nusantara pernah dijelajahinya, mulai Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Lampung, Jakarta, Maluku, Kalimantan Barat, Jakarta lagi dan Jawa Tengah. Kemudian ke Jakarta lagi, Jawa Timur dan saat ini di Papua Barat. Dan beliau telah menikah dengan Susi Purwati, dari hasil perkawinan tersebut, Sumitro dan Susi Purwati, dikaruniai ALLAH SWT 2 orang anak yang Alhamdulillah keduanya cerdas dan istimewa dengan IQ = 149. Anak yang ke 1 lahir tanggal 7 Agustus 1990 nama Khadijah Rizky Sumitro, SMP hanya dilalui pakai program akselerasi 2 tahun, demikian juga SMA, Fakultas Kedokteran Unair hanya dijalani 3,5 tahun, waktu wisuda Sarjana Kedokteran masih di usia 19 tahun sebagai Sarjana Kedokteran termuda, setelah mengabdi sebagai dokter PTT di RSUD Manokwari, dan pada 11 Maret 2020 telah lulus Magister Kedokteran Klinik (M.Ked. Klin) dan dilantik sebagai Dokter Spesialis Anak termuda di Unair.