JEJAK LANGKAH DALAM SEBUAH PENGABDIAN
Buku “Jejak Langkah dalam Sebuah Pengabdian” adalah potret nyata bahwa menjadi pendidik bukan sekadar memindahkan teori dari buku ke kepala siswa, melainkan sebuah proses menyelami hati dan membangun karakter manusia. Ditulis dari keringat dan refleksi sepuluh mahasiswa yang mengabdi di sekolah-sekolah dasar pelosok Banjarnegara, karya ini merekam tawa, tantangan, serta inovasi tak terduga di ruang kelas pedesaan. Mulai dari strategi menumbuhkan budaya literasi di jam istirahat, penanaman karakter religius, hingga kreativitas menyulap botol bekas menjadi media belajar, setiap halamannya membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas bukanlah penghalang bagi terciptanya pendidikan yang bermakna.
Menggali Esensi Pendidikan di Pelosok Desa
Sebagai seorang ahli SEO dan pengamat literatur pendidikan, menemukan sebuah karya yang lahir dari rahim pengalaman nyata adalah sebuah permata yang berharga untuk diulas. Buku berjudul Jejak Langkah dalam Sebuah Pengabdian yang disusun oleh Kelompok 14 Program Asistensi Mengajar dan Magang Terintegrasi (PAMMT) UIN Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto Tahun 2025 ini adalah salah satu karya tersebut. Buku ini mendokumentasikan serangkaian narasi reflektif dari sepuluh mahasiswa yang mengabdi selama enam bulan di berbagai sekolah dasar di Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara. Melalui pendekatan naratif yang emosional dan analitis, karya ini tidak hanya menjadi laporan magang atau Kuliah Kerja Nyata (KKN) biasa, melainkan sebuah manuskrip hidup tentang bagaimana calon pendidik bertransformasi, beradaptasi, dan menemukan makna sejati dari pendidikan di tengah masyarakat pedesaan.
Lebih dari Sekadar Mengajar: Transformasi Mahasiswa Menjadi Pendidik Sejati
Bagian pertama dari narasi besar buku ini menyoroti pergolakan batin dan transformasi personal para mahasiswa ketika mereka pertama kali menginjakkan kaki di sekolah penempatan. Realitas di lapangan sering kali menampar kesadaran mereka bahwa teori-teori pedagogi yang dipelajari di bangku kuliah tidak selalu dapat diaplikasikan secara kaku. Maulida Khusna, dalam refleksinya di SD Negeri 1 Majalengka, membuka buku ini dengan sebuah kesimpulan yang sangat menyentuh: “Mengajar bukan hanya tentang menyampaikan materi, tetapi tentang belajar memahami manusia”. Ia menceritakan bagaimana dinamika menghadapi siswa yang bertengkar, mengelola kelas yang beragam, hingga mendampingi siswa dalam kegiatan Pramuka dan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) hingga ke tingkat provinsi, telah membentuk kedewasaannya. Keterlibatannya dalam program KKN seperti sosialisasi anti-bullying dan pemberdayaan UMKM sabun di Desa Winong semakin mempertegas bahwa ruang lingkup seorang guru membentang jauh melampaui tembok sekolah.
Pengalaman transformatif serupa juga dialami oleh Khayatun Nisa yang ditugaskan di kelas 3 SD N 2 Majalengka. Berhadapan dengan sebuah kelas kecil yang hanya berisi 11 siswa—5 laki-laki yang sangat kinestetik dan 6 perempuan yang telaten—ia menemukan keindahan dalam pendekatan personalized learning. Khayatun tidak menggunakan metode ceramah yang membosankan; ia justru menerapkan konsep Deep Learning yang bertumpu pada tiga pilar: Delight (kegembiraan), Empathy (koneksi emosional), dan Meaning (kebermaknaan materi). Ia mengajak anak-anak bermain peran sebagai pedagang di pasar tradisional untuk belajar perkalian, hingga mengobservasi selokan sekolah untuk belajar tentang lingkungan sehat. Pengalamannya membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas geografis bukanlah penghalang bagi terciptanya proses belajar yang revolusioner.
Adaptasi terhadap lingkungan pedesaan yang sepi dan tenang juga dikisahkan dengan apik oleh Lu’lu Qurro’aina Zaki di SD Negeri 2 Winong. Di sekolah yang hanya memiliki sekitar 30 siswa secara keseluruhan ini, Lu’lu diamanahi sebagai wali kelas 2. Ia belajar bahwa kesunyian pedesaan justru menciptakan suasana belajar yang kondusif dan intim. Tantangan terbesarnya adalah meredam rasa gugup di awal dan mengelola kelas anak-anak usia dini yang sangat aktif. Namun, dengan kesabaran dan kreativitas, ia berhasil memenangkan hati para siswanya hingga momen perpisahan magang dipenuhi dengan derai air mata haru dari anak-anak yang merasa kehilangan sosok guru yang tak pernah marah tersebut.
Kisah tentang menemukan makna pendidikan yang memanusiakan manusia diulas secara mendalam oleh Lulu Zahiroh di SD Negeri 2 Wiramastra. Ditempatkan di kelas 1, ia harus berhadapan dengan siswa yang baru belajar mengenal budaya sekolah, di mana sebagian sudah lancar membaca dan sebagian lain masih mengeja. Lulu menyadari bahwa pendidikan sejati adalah proses membangun hubungan antarmanusia yang disertai dengan empati dan keteladanan. Begitu pula dengan Khifti Cholifatun di SD Negeri 2 Pucang yang membuktikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan non-akademik, seperti mendampingi lomba MAPSI hingga meraih juara 3 tingkat kecamatan dan mengikuti kegiatan Jambore, adalah bagian tak terpisahkan dari pembentukan mental seorang pendidik.
Di sisi lain, Nadia Anisatun Nabila membagikan kisah ketangguhannya di SD Negeri 2 Gemuruh. Perannya yang difokuskan sebagai guru pengganti (rolling) menuntutnya untuk selalu siap masuk ke kelas mana saja dan beradaptasi dengan kilat terhadap berbagai karakter siswa yang berbeda setiap harinya. Ketangkasannya diuji ketika ia harus melatih kepramukaan, mendampingi Olimpiade Sains dan Agama (OSA) seorang diri hingga meraih juara harapan 1, dan bahkan menguras energi untuk melatih pentas seni tari lintas kelas pada perayaan Maulid Nabi. Jejak langkah Nadia adalah bukti nyata bahwa seorang guru haruslah sosok yang multitalenta dan pantang menyerah.
Selain mengeksplorasi dimensi emosional dan transformasi pedagogis, buku ini juga merekam berbagai inovasi praktis dan program penanaman karakter yang dieksekusi dengan brilian oleh para mahasiswa. Janias Juliani Sholikhah Dachi menyoroti betapa krusialnya pendidikan karakter religius sejak dini di SDN 1 Serang. Ia memaparkan program pembiasaan Salat Duha dan hafalan surat-surat pendek Al-Qur’an sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Janias menggarisbawahi pentingnya pendekatan diferensiasi; di mana siswa kelas 1 diberikan ruang khusus dan bimbingan intensif untuk sekadar mengenal gerakan dan bacaan, sementara siswa kelas 2 hingga 6 dilatih untuk lebih mandiri dan memahami nilai kebersamaan dalam ibadah berjamaah.
Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!
DAFTAR ISI
Daftar Isi 1
Daftar Isi 2Spesifikasi Buku
Cetakan I, Agustus 2026; vii + 149 halaman ukuran 14,8 x 21 cm, kertas isi Bookpaper hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, jilid lem panas (soft cover) dan shrink bungkus plastik.
Harga Buku
Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.
Rp 90.000
Rp 83.300
Tentang Penulis
Maulida Khusna│Esri Nur Maelani│Janias Juliani Sholikhah Dachi│Khayatun Nisa│
Khifti Cholifatun│Lu’lu Qurro’aina Zaki│Lulu Zahiroh│Lutfi Putri Anggeraini│Maya Fanda Annisa│Nadia Anisatun Nabila