TIGA BULAN DI NEGERI PARA ULAMA Menyusuri Jejak Ilmu di Bumi Kinanah

Buku ini adalah sebuah rekam jejak perjalanan intelektual dan spiritual karya Ahmad Khaerussalam yang mendokumentasikan pengalamannya secara utuh selama mengikuti program short course di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Melalui karya bertajuk “Tiga Bulan di Negeri Para Ulama: Menyusuri Jejak Ilmu di Bumi Kinanah” ini, penulis tidak sekadar menyajikan narasi deskriptif mengenai kemegahan arsitektur peradaban Islam, ziarah historis ke makam para nabi dan ulama besar, serta dinamika kehidupan akademik di bawah bimbingan para masyayikh, tetapi juga menghadirkan refleksi mendalam mengenai esensi ketawadhuan, adab menuntut ilmu, dan kebersahajaan masyarakat Mesir yang sangat lekat dengan nilai-nilai Al-Qur’an.

Menggali Kedalaman Ilmu dan Spiritual di Bumi Kinanah

Mesir, negeri yang dijuluki Bumi Kinanah, senantiasa menjadi magnet utama bagi para penuntut ilmu dari seluruh penjuru dunia. Daya tarik keilmuan dan sejarahnya terekam dengan sangat indah, hidup, dan mendalam dalam buku “Tiga Bulan di Negeri Para Ulama: Menyusuri Jejak Ilmu di Bumi Kinanah” karya Ahmad Khaerussalam. Buku setebal 282 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit Samudra Biru pada Agustus 2026 ini bukanlah sekadar catatan perjalanan wisata biasa atau jurnal harian seorang mahasiswa asing yang merantau ke luar negeri. Lebih dari itu, karya ini menyajikan narasi spiritual, perjuangan akademik yang berliku, dan refleksi mendalam dari seorang pemuda asal kampung sederhana di Menreli, Belawa, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, yang sukses menembus segala rintangan demi mewujudkan impian terbesarnya belajar di Universitas Al-Azhar, Kairo.

Penulis secara eksplisit menyatakan bahwa buku ini ditulis bukan hanya agar pengalamannya tidak memudar termakan waktu, melainkan untuk menjadi jendela kecil bagi siapa saja, khususnya para santri dan mahasiswa, yang memiliki cita-cita serupa namun belum memiliki kesempatan menginjakkan kaki di tanah Mesir. Sebagai sebuah literatur, buku ini sangat relevan dan amat direkomendasikan bagi pegiat literasi, pecinta sejarah peradaban Islam, maupun mereka yang sedang mencari motivasi untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi melalui jalur beasiswa. Resensi ini akan membedah secara komprehensif bagaimana buku ini mengisahkan transisi seorang pengabdi dari pelosok negeri menjadi bagian dari sivitas akademika di salah satu institusi Islam tertua dan paling berpengaruh di dunia.

Perjalanan Panjang dari Pelosok Negeri Menuju Pusat Peradaban Islam

Kisah dalam buku ini diawali dengan pengenalan latar belakang penulis yang tumbuh dan ditempa dalam lingkungan pesantren yang kental. Berawal dari pendidikannya di TK As’adiyah di Menreli, kemudian berpindah merantau ke MA Pondok Pesantren MIC Samarinda, hingga akhirnya kembali untuk memperdalam ilmu tafsir di Ma’had Aly As’adiyah Sengkang, penulis dididik dalam tradisi keilmuan Islam yang disiplin. Motivasi untuk belajar ke Mesir awalnya hanya sebatas angan-angan yang muncul setelah ia mendengar kisah-kisah heroik perjuangan ulama Bugis, al-‘Âlim al-‘Allâmah al-Hajj Muhammad As’ad al-Bugisy, serta kekagumannya yang mendalam pada sosok akademisi ulung Prof. Muhammad Quraish Shihab. Namun, setelah menyelesaikan studinya, ia tidak langsung berangkat ke luar negeri, melainkan terlebih dahulu mengabdi selama dua tahun di Pondok Pesantren As’adiyah Sabaruddin Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat. Di masa pengabdian yang dipenuhi keterbatasan fasilitas inilah, ia memetik pelajaran berharga bahwa ilmu tidak akan pernah utuh tanpa wujud nyata pengabdian dan pelayanan kepada masyarakat luas.

Jalan terang menuju Bumi Kinanah mulai terbuka ketika penulis mengetahui adanya program bergengsi Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) yang bekerja sama penuh dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Penulis memberanikan diri mendaftar, melewati proses seleksi yang sangat ketat dengan perasaan yang dipenuhi keraguan namun selalu diiringi kekuatan doa restu dari orang tua dan para guru. Hasil dari kegigihannya, ia diterima di Program Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas PTIQ Jakarta pada bulan Juni 2024. Kehidupan akademiknya di ibu kota sangatlah padat dan menantang; rutinitas perkuliahan yang mengharuskannya berangkat menembus kemacetan Jakarta sebelum pukul enam pagi, ujian komprehensif yang menguras pikiran, penyusunan proposal tesis, hingga akhirnya tiba pada fase penentuan negara tujuan short course. Nama penulis resmi tercantum sebagai peserta tujuan Universitas Al-Azhar, Mesir. Setelah melewati masa penantian yang mendebarkan untuk turunnya Letter of Acceptance (LoA), Letter of Guarantee (LoG), dan Visa, perjalanan udara menuju Kairo pun pada akhirnya terwujud.

Setibanya di tanah Mesir, penulis menetap di Madinat al-Bu’uts al-Islamiyyah, sebuah kawasan asrama internasional raksasa yang mempertemukan ribuan mahasiswa dari berbagai bangsa, bahasa, dan latar belakang budaya, mulai dari Asia Tenggara hingga Afrika. Pada acara opening ceremony, Penasihat Grand Syekh Al-Azhar, Prof. Dr. Nahla Al-Saidi, menegaskan sebuah pesan fundamental bahwa kehadiran mereka di sana bukan sekadar untuk menimba ilmu secara pasif, melainkan secara aktif dipersiapkan untuk menjadi duta moderasi beragama (rahmatan lil ‘alamin) dan agen kemanusiaan sekembalinya ke negara masing-masing. Selama perkuliahan yang membahas metodologi, tafsir, hadis, hingga pemikiran Islam kontemporer, penulis menyoroti betapa para dosen dan masyayikh Al-Azhar memiliki karakter yang sangat disiplin dalam menghargai waktu, namun juga dipenuhi kerendahan hati (ketawadhuan) yang luar biasa di balik keluasan intelektual mereka. Para ulama besar tersebut mengajar dengan penuh kasih sayang, tidak segan berkeliling kelas untuk berinteraksi menghampiri mahasiswa, dan sangat sabar mengulang penjelasan dengan lembut ketika ada mahasiswa yang keliru atau tidak mampu menjawab pertanyaan.

Selain dinamika formal di ruang kuliah, kehidupan akademik penulis di Mesir juga ditandai dengan kecintaannya pada literatur. Penulis mengisahkan decak kagumnya saat menyusuri sempitnya lorong-lorong pasar kitab di sekitar Masjid Al-Azhar, mendatangi toko buku legendaris Dar al-Lu’lu’ah yang rak-rak kayunya menjulang tinggi memuat lautan kitab hingga menyentuh langit-langit. Walaupun ia gagal menemukan sebuah kitab spesifik yang dicari, yakni Al-Bidâyah fî al-Tafsîr al-Maudhû’î karya Dr. Abdul Hayy al-Farmawi, ia tetap merasa puas memborong puluhan kilogram kitab-turats penting seperti Tafsir Ruh al-Ma’ani, Tafsir Abi Su’ud, dan Tafsir al-Sya’rawi.

Lebih menakjubkan lagi, buku ini memotret sisi paling otentik dan menyentuh dari Mesir melalui kebiasaan harian masyarakatnya yang sangat lekat dengan Al-Qur’an. Penulis sering kali menjumpai pemandangan luar biasa di mana para sopir angkutan, pedagang kecil, hingga kaum pemulung terlihat sangat tekun membaca mushaf di pinggir jalan, bergeming di tengah hiruk-pikuk kesibukan kota dan bisingnya suara klakson. Fenomena ini memberikan tamparan keras secara spiritual bagi penulis, menyadarkannya bahwa Al-Qur’an benar-benar hidup dan bernapas di urat nadi jalanan Kairo, bukan sekadar teori yang dikaji secara kaku dalam dinding akademik atau sekadar pajangan berdebu di rak-rak masjid. Sifat dermawan warga lokal juga sangat membekas di hati, seperti kisah mengharukan saat seorang penjual kitab tiba-tiba memberikan mushaf kecil secara cuma-cuma untuk adik temannya.

Menyusuri Jejak Sejarah, Menemukan Makna Kehidupan di Bumi Para Nabi

Buku ini menjadi semakin kaya dan memikat ketika penulis membawa pembaca pada rentetan petualangan menyusuri jejak peradaban yang membentang dari era Firaun hingga masa kejayaan imperium Islam. Pengalaman perdana menjalani bulan suci Ramadan di Mesir dikisahkan dengan sangat deskriptif dan emosional. Suasana Ramadan tergambar begitu semarak dengan hadirnya tradisi Fanous Ramadan (lampion warna-warni kuno yang menghiasi seluruh kota), buka puasa gratis di jalanan (Ma’idat ar-Rahman) yang dapat dinikmati oleh siapa saja tanpa memandang status sosial masyarakat, hingga pengalaman langka menyaksikan tradisi meriam penanda waktu berbuka puasa (Midfa‘ al-Iftar) secara langsung. Menjelang jatuhnya hari raya Idul Fitri, penulis harus menghadapi ujian kesabaran yang berat ketika telantar menunggu bus agen travel dari jam tiga pagi yang akhirnya terkonfirmasi gagal berangkat. Hal ini memaksanya untuk merogoh kocek lebih dalam menaiki armada Uber demi mengejar momen agar bisa melaksanakan shalat Ied di hamparan pelataran Masjid Misr Kabir yang luar biasa megah.

Sebagai seorang penuntut ilmu agama sejati, rute penjelajahan penulis sangat kental dengan nilai ziarah historis dan spiritual. Buku ini mendokumentasikan serangkaian kunjungan spiritual yang mendalam ke kawasan pemakaman Qarafah (Kairo Tua). Penulis menziarahi makam para sahabat mulia Nabi, yakni Sayyidina ‘Uqbah bin ‘Amir dan ‘Amr bin al-‘Ash, sosok panglima penakluk legendaris yang mendirikan kota Islam pertama Fustat di daratan Mesir. Jejak para tokoh spiritual sufi juga ditelusuri lewat ziarah ke makam Rabi’ah al-‘Adawiyah, ikon tasawuf perempuan yang amat masyhur dengan konsep mahabbah ilahiyyah (cinta Ilahi) murni tanpa dilandasi pamrih mengejar surga atau ketakutan akan neraka. Rombongan mahasiswa ini juga secara bergantian mengunjungi makam pakar hadis terkemuka Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani pengarang kitab mahakarya Fath al-Bârî, lalu makam Imam al-Laits bin Sa’ad di mana penulis dijamu bagaikan tamu kehormatan oleh seorang kakek tua penjaga makam, serta makam sang peletak dasar mazhab besar, Imam Syafi’i, yang dinaungi oleh kubah kayu raksasa nan megah berukir artistik peninggalan keemasan era Ayyubiyah.

Eksplorasi tidak berhenti di ibu kota, melainkan berlanjut ke wilayah luar Kairo. Di kota pesisir laut Alexandria, di tengah perjalanan penulis menyempatkan diri mampir ke deretan penjual buku jalanan yang koleksinya sangat berlimpah. Di sana ia juga menuruni anak tangga ruang bawah tanah kuno untuk berziarah ke pusara makam Nabi Daniel dan Luqman al-Hakim. Penulis pun menyempatkan diri untuk mengunjungi makam Imam al-Bushiri, sosok penyair ulung pengarang Qasidah Burdah yang puji-pujian syairnya sangat hidup dan dihormati dalam tradisi keagamaan di Nusantara. Sementara itu, dalam ekspedisinya di semenanjung Sinai yang didominasi oleh hamparan gurun tandus dan pegunungan batu kapur yang keras, penulis menyinggahi lokasi bersejarah yang diyakini oleh masyarakat setempat sebagai makam Nabi Harun dan Nabi Saleh.

Selain deretan makam para ulama dan nabi, eksotisme daya tarik Mesir juga dipotret secara detail melalui deskripsi arsitektur masjid-masjid kuno yang menjadi saksi bisu pergantian dinasti. Masjid Al-Azhar yang usianya telah melebihi seribu tahun tetap berdiri kokoh sebagai episentrum keilmuan Islam sejagat. Terdapat pula ulasan menawan tentang Masjid Muhammad Ali Pasha yang bergaya arsitektur khas Ottoman di atas dataran tinggi kompleks Benteng Shalahuddin, hingga Masjid Sultan Hasan dan Masjid al-Rifa’i yang berdiri berdampingan secara epik di sebuah alun-alun, seolah berdialog menjembatani era kejayaan Dinasti Mamluk dan masa Mesir modern akhir abad ke-19. Tidak ketinggalan, kebersahajaan dan orisinalitas Masjid Ibn Tulun dengan fitur menara spiral eksteriornya yang sangat ikonik juga tak luput dari bidikan kekaguman sang penulis.

Pada bab-bab akhir, buku ini menyuguhkan visualisasi panorama alam dan rekam jejak peradaban yang sungguh monumental. Penulis menceritakan momen berkesan saat menikmati dingin menusuknya angin malam dan memandangi gemerlap cahaya kota metropolitan di tepian aliran Sungai Nil yang legendaris. Saat berada di kota Alexandria, kekaguman kebangsaan memuncak saat ia secara tak terduga mendapati aksara Lontara’ peninggalan asli masyarakat Bugis terpahat dengan bangga di dinding luar Bibliotheca Alexandrina, sebuah fasilitas perpustakaan megah dan super modern berskala internasional. Keseruan pacuan adrenalin juga tersaji apik dalam petualangan menunggang kuda melintasi gurun pasir gersang menuju situs Piramida Giza, lengkap dengan insiden mendebarkan saat terjatuhnya seorang kawan, yang akhirnya ditutup dengan lanskap siluet matahari terbenam yang magis berlatar belakang tiga piramida raksasa. Sebagai pamungkas yang menyentuh relung batin paling dalam, penulis mengisahkan perjalanannya menyusuri keindahan pesisir Laut Merah di kota Dahab, sebelum memulai pendakian spiritual malam hari membelah udara dingin Gunung Sinai (Jabal Musa)—tempat bersejarah di mana Nabi Musa menerima wahyu—yang menjadi klimaks petualangannya sebelum berkemas kembali ke tanah air.

Secara keseluruhan, buku “Tiga Bulan di Negeri Para Ulama” adalah sebuah karya sastra non-fiksi gemilang yang ditulis dengan gaya naratif, sangat jujur, dan menggugah hati. Ahmad Khaerussalam berhasil memadukan ragam cerita petualangan, rentetan catatan sejarah kuno, dan perenungan spiritual yang mendalam ke dalam sebuah bingkai tulisan yang renyah dan amat mudah dinikmati pembaca. Buku ini sangat direkomendasikan karena tidak sekadar menceritakan keindahan fisik infrastruktur dan sejarah kuno Mesir, tetapi juga mentransformasikan nilai-nilai luhur adab, etika dalam menuntut ilmu, potret kesederhanaan hidup, serta kebesaran hati para pewaris nabi yang patut diteladani. Membaca buku ini laksana ikut serta melangkahkan kaki menyusuri jalanan Kairo yang berdebu, mendengarkan sayup-sayup lantunan ayat suci di pinggir jalan yang riuh, dan duduk bersimpuh khusyuk menyerap setetes lautan ilmu di bawah bimbingan para ulama Al-Azhar yang mulia.

Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!

DAFTAR ISI

Daftar Isi 1
Daftar Isi 2
Slider Caption
Slider Caption
Previous
Next

Spesifikasi Buku

Cetakan I, Agustus 2026;  xii +282 halaman, ukuran 13 x 20 cm, kertas isi Bookpaper hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, jilid lem panas (soft cover) dan shrink bungkus plastik.

Harga Buku

Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.

Rp 125.000

Rp 115.500

Tentang Penulis

Ahmad Khaerussalam

Ahmad Khaerussalam lahir di Belawa, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, pada 25 Oktober 1999. Ia menempuh pendidikan di TK As’adiyah No. 21 Menreli, MI As’adiyah No. 66 Timoreng, MTs As’adiyah No. 1 Belawa, dan Pondok Pesantren Muslimin Indonesia Center (MIC) Samarinda, Kalimantan Timur. Selanjutnya, ia menyelesaikan pendidikan sarjana S1 di Ma’had Aly As’adiyah Sengkang, Takhassus Tafsir wa ‘Ulûmuhu al-Tafsîr.
Saat ini ia merupakan mahasiswa Program Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas PTIQ Jakarta sekaligus mahasiswa Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) Angkatan V. Sebelum melanjutkan studi Magisternya, ia pernah mengabdi sebagai guru dan pembina di Pondok Pesantren Muslimin Indonesia Center (MIC) Samarinda, Kalimantan Timur dan Pondok Pesantren As’adiyah Sabaruddin Topoyo, Sulawesi Barat.
Selain menulis buku, ia juga pernah menulis beberapa artikel ilmiah dan artikel populer yang dipublikasikan di berbagai jurnal dan media daring. Tiga Bulan di Negeri Para Ulama: Menyusuri Jejak Ilmu di Bumi Kinanah merupakan buku keduanya. Buku ini ditulis berdasarkan pengalamannya mengikuti program short course PKUMI di Universitas Al-Azhar, Mesir, sebagai catatan perjalanan yang memadukan pengalaman belajar, perjalanan, dan refleksi selama berada di Negeri Para Ulama.