NAKHODA NASYAH Mozaik Kepemimpinan Ketua PWNA se-Indonesia
Buku ini adalah sebuah antologi memoar reflektif yang mendokumentasikan jejak kepemimpinan 22 Ketua Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) dari seluruh pelosok Nusantara pada periode 2022-2026. Melalui narasi yang otentik, karya ini membedah ragam tantangan sosiologis dan geografis di setiap daerah, serta bagaimana para pemimpin perempuan muda Muhammadiyah meresponsnya dengan inovasi gerakan yang berakar kuat pada nilai-nilai Islam Berkemajuan. Dari dakwah inklusif di wilayah kepulauan, inisiasi kemandirian ekonomi, advokasi kemanusiaan, hingga program kesadaran ekologis di masyarakat urban dan pedesaan, seluruh kisah yang terhimpun membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan bukanlah sekadar posisi struktural, melainkan wujud nyata dari resiliensi, kolaborasi ekstrem, dan pengabdian yang berdampak langsung pada akar rumput.
Menyelami Mozaik Kepemimpinan Perempuan Muda Berkemajuan di Seluruh Pelosok Nusantara
Dalam diskursus pergerakan dan organisasi Islam di Indonesia, peran perempuan sering kali direduksi menjadi sebatas pelengkap struktural atau pengurus urusan domestik semata. Namun, buku Nakhoda Nasyiah: Mozaik Kepemimpinan Ketua PWNA se-Indonesia hadir untuk mendobrak stigma tersebut dan menyajikan narasi epik yang sangat otentik mengenai kekuatan, resiliensi, dan visi kepemimpinan perempuan muda Muhammadiyah. Diterbitkan oleh Penerbit Samudra Biru pada tahun 2026 dan dieditori dengan apik oleh Syahdara Anisa Makruf, karya setebal 274 halaman ini bukanlah sekadar laporan pertanggungjawaban organisasi yang kaku. Sebaliknya, buku ini adalah sebuah antologi memoar reflektif dari 22 Ketua Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) dari berbagai provinsi di Indonesia yang menakhodai kapal besar bernama Nasyiatul Aisyiyah (NA) pada periode kepemimpinan 2022-2026.
Sebagai sebuah literatur kepemimpinan, buku ini sangat direkomendasikan bagi para akademisi, aktivis, dan masyarakat luas karena menawarkan perspektif grassroots (akar rumput) yang kaya. Sang editor, Syahdara Anisa Makruf, dalam pengantarnya menegaskan bahwa kepemimpinan bukanlah sekadar tentang jabatan struktural, melainkan tentang keberanian mengambil keputusan, proses bertumbuh, keteguhan memegang nilai dasar, serta kesediaan tulus untuk melayani umat. Dari ujung barat di Bumi Serambi Mekkah hingga ujung timur Nusantara, para “Nakhoda” ini membagikan kisah nyata mereka dalam membumikan nilai-nilai Islam Berkemajuan. Mereka membuktikan bahwa keberagaman geografis, demografis, dan sosiologis di Indonesia bukanlah hambatan, melainkan kekuatan luar biasa yang memperkaya strategi dakwah, pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan advokasi kemanusiaan.
Mengarungi Badai dan Merawat Akar: Tantangan Kepemimpinan di Berbagai Bentang Demografi
Setiap provinsi di Indonesia memiliki denyut nadi dan tantangan sosiologisnya masing-masing. Buku ini secara brilian memotret bagaimana para ketua PWNA menyesuaikan gaya kepemimpinan mereka dengan realitas lokal. Di wilayah pesisir seperti Kepulauan Riau, Desmice mengusung filosofi “Kepemimpinan Bersama Ombak”. Dengan 96% wilayahnya yang berupa lautan, seorang pemimpin di Kepri tidak bisa bekerja layaknya birokrat di daratan yang hanya duduk di balik meja. Pemimpin harus berani menyeberangi lautan ganas dengan kapal kayu untuk menyapa kader di pulau-pulau terluar seperti Natuna, Anambas, dan Lingga, membawa tidak hanya Al-Qur’an, tetapi juga pelatihan UMKM bagi ibu-ibu nelayan agar tidak bergantung pada tengkulak. Ombak mengajarkan mereka untuk terus bergerak, menyatukan setiap pantai yang disentuh, dan membawa rezeki, bukan kehancuran.
Tantangan yang jauh berbeda dihadapi oleh Dwi Setyowati di DKI Jakarta. Memimpin di kota megapolitan ini berarti berhadapan dengan kompleksitas masyarakat urban, tuntutan ekonomi yang tinggi, kemacetan, hingga kencangnya arus disrupsi digital. Di Jakarta, para ibu muda Nasyiah memikul beban ganda dan berlipat: bekerja, mengurus rumah tangga, melakukan pengasuhan anak, menempuh studi, sekaligus aktif berorganisasi. Tekanan ini membuat perempuan urban sangat rentan terhadap stres dan gangguan mental. Oleh karena itu, pendekatan kepemimpinan di Jakarta sangat mengedepankan prinsip kemanusiaan dan kebersamaan, di mana organisasi harus menjadi safe space (ruang aman) yang humanis alih-alih menjadi pabrik program kerja yang mengeksploitasi kader.
Buku ini juga menghadirkan narasi haru dari daerah-daerah di mana umat Islam atau persyarikatan Muhammadiyah berada di posisi minoritas atau masih dalam tahap awal perkembangan. Di Sulawesi Utara, Fauziah Ermasuriaty harus merawat harapan di tanah kemajemukan. Di sana, sekolah Muhammadiyah terkadang masih dipandang sebelah mata, sehingga tantangan utamanya bukanlah mencari jumlah massa yang besar, melainkan membangun legitimasi dan kepercayaan sosial masyarakat lintas agama. Hal serupa dialami oleh Mely Noor Rohmah di Bali. Kepemimpinannya di Pulau Dewata diibaratkan sebagai proses “merawat bara” di tengah keterbatasan sumber daya dan kesibukan duniawi para kader. Di Bali, keberhasilan tidak diukur dari megahnya acara, melainkan dari konsistensi menjaga api semangat agar tidak padam, serta menumbuhkan ranting-ranting kecil melalui program kajian rutin KARUNIA dan kemandirian ekonomi Kedai NA.
Sementara itu, di wilayah dengan akar tradisi keagamaan yang sudah mapan seperti Aceh dan Sumatera Barat, tantangannya adalah merelevansikan nilai-nilai sejarah dengan ancaman krisis modern. Rika Widia Sari dari Aceh meniti kepemimpinan yang berakar pada nilai syariat dan resiliensi, mewarisi ketangguhan laksamana perempuan masa lalu seperti Keumalahayati, untuk menghadapi krisis kesehatan mental remaja pasca-tsunami dan gempuran era digital melalui Pos Pelayanan Remaja Sehat (Pashmina). Di Lampung, Ani Lidyawati harus mengorkestrasi perubahan sosial ekonomi di wilayah transit gerbang Sumatera ini dengan berpegang teguh pada falsafah lokal Piil Pesenggiri (kehormatan diri) dan Nengah Nyappur (kemampuan berbaur) untuk memastikan organisasi tetap inklusif namun tidak kehilangan arah ideologisnya. Di Sulawesi Barat, Rhena J. Tapion membangun kolektivitas kader di “Bumi Malaqbiq” yang terpisah oleh bentang jarak geografis yang luas, dari Polewali Mandar hingga Pasangkayu, dengan menata fondasi administratif agar organisasi dapat diwariskan dengan sehat.
Inovasi Gerakan dan Kolaborasi Aksi: Wujud Nyata Dakwah Perempuan Berkemajuan
Lebih dari sekadar paparan konseptual, kekuatan utama dari Nakhoda Nasyiah terletak pada bukti-bukti empiris berupa inovasi program yang revolusioner dari setiap Pimpinan Wilayah. Buku ini menampar keras budaya elitisme organisasi yang hanya sibuk berteori di menara gading. Di Riau, Hardhina Rosmasita mengkritik tajam pragmatisme modern dengan melakukan dekonstruksi strategi dakwah. Ia menolak organisasi yang hanya menjadi pabrik seremonial. PWNA Riau melakukan desentralisasi dana dakwah ke 12 kabupaten/kota melalui program “Nasyiah Berbagi”, menciptakan “Ralina” (Rumah Literasi) sebagai benteng perlawanan intelektual terhadap pendangkalan akal oleh algoritma digital, dan yang paling ekstrem: melakukan dakwah langsung ke balik jeruji besi di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA).
Gerakan inovatif yang berporos pada akar rumput (grassroots) juga digelorakan secara masif oleh Desi Ratna Sari di Jawa Timur. Mengusung wajah gerakan “PROGRESSIF” (Profetik, Gesit, Responsif, Kolaboratif, Inklusif), PWNA Jatim tidak hanya berhasil melipatgandakan jumlah Pimpinan Cabang dari 107 menjadi 206 dan Ranting dari 134 menjadi 406, tetapi juga membangun inkubator bisnis tangguh bernama APUNA (Asosiasi Pengusaha Nasyiatul Aisyiyah). Tidak berhenti di situ, mereka bahkan mengadakan “Kelas Politik Perempuan” untuk mencetak kader legislatif, serta menginisiasi “Ranting Tangguh Bebas Stunting” sebagai wujud nyata dukungan pada program kesehatan nasional.
Kesadaran ekologis sebagai wujud pengejawantahan ayat suci Al-Qur’an juga menjadi sorotan tajam. Di Jawa Tengah, Monica Subastia menerjemahkan filosofi lokal melalui kompas gerakan “Rahajeng”. Gerakan ini membuktikan bahwa menyelamatkan bumi tidak perlu harus berorasi di mimbar internasional, melainkan bisa dimulai dari bilik dapur melalui gerakan “Ibu Jaga Bumi” dengan metode Zero Waste dan penciptaan rumah ramah lingkungan (Eco-Sakinah Home). Di Kalimantan Selatan, Aziza Fitriah menyelaraskan gerakan ekologis melalui “Green Nasyiah” dengan melakukan Workshop Ecoenzym hingga Ekspedisi Rambai yang menyusur sungai untuk memantau kualitas air bersama komunitas lokal. Tidak melupakan tantangan digital disinformasi, PWNA Kalsel juga menggelar Akademi Digital Lansia (ADL) Tular Nalar untuk melindungi kelompok usia rentan dari hoaks. Hal senada diimplementasikan di Nusa Tenggara Barat, di mana Miftahul Jannah memimpin program Eco-Family dan pengelolaan sampah berbasis 3R, serta secara rutin mendampingi tahanan wanita di Lapas Kelas II Kota Mataram untuk menghafal Al-Qur’an.
Semangat sinergi dan peruntuhan sekat ego sektoral digaungkan dengan lantang oleh Nelly Megawati dari Sumatera Selatan. PWNA Sumsel meyakini bahwa dampak besar hanya bisa diraih melalui kolaborasi ekstrem (Pentahelix). Mereka merajut kemitraan erat dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) hingga melahirkan program DRPPA (Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak) yang menjangkau 12 desa di 4 kabupaten. Di Sulawesi Tengah, Rifka Yunita merespons isu kesehatan mental dan kekerasan gender melalui seminar “Toxic Parents? No Way” serta melatih paralegal perempuan untuk memberikan pendampingan hukum yang riil bagi korban kekerasan. Sementara di Bengkulu, Marfuah Indah Purwanti merajut kemandirian lewat WARUNA (Warung Usaha Nasyiatul Aisyiyah) dan layanan kesehatan akar rumput melalui PASMINA.
Keseluruhan bab dalam buku Nakhoda Nasyiah: Mozaik Kepemimpinan Ketua PWNA se-Indonesia ini merangkai satu pesan mahapenting: perempuan adalah subjek peradaban. Buku ini menjadi dokumen sejarah yang sangat berharga yang membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan dalam Islam bukanlah tentang dominasi, melainkan tentang rahmah (belas kasih), kerja kolaboratif, dan pemecahan masalah (problem-solving) yang berdampak langsung bagi masyarakat miskin, perempuan tertindas, dan lingkungan yang rusak. Untuk Anda para peneliti sosiologi Islam, penggiat gender, mahasiswa, maupun masyarakat umum yang ingin menyelami bagaimana wajah Islam Berkemajuan benar-benar dihidupkan dalam praktik kehidupan berbangsa, buku ini adalah bacaan yang mutlak harus dimiliki. Dapatkan inspirasi kepemimpinan tanpa batas dari para srikandi Nusantara ini, dan saksikan bagaimana perubahan besar senantiasa bermula dari tangan-tangan lembut yang berani merangkul badai dan merawat akar!
Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!
DAFTAR ISI
Daftar Isi 1
Slider Caption
Slider CaptionSpesifikasi Buku
Cetakan I, Agustus 2026; 276 hlm, ukuran 15,5 x 23 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, Hard cover dan shrink bungkus plastik.
Harga Buku
Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.
Rp 160.000
Rp 149.000
Tentang Penulis
Ani Lidyawati, Aziza Fitriah, Desi Ratna Sari, Desmice,
Dwi Setyowati, Fauziah Ermasuriaty, Hardhina Rosmasita,
Marfuah Indah Purwanti, Mely Noor Rohmah, Miftahul Jannah,
Monica Subastia, Nelly Megawati, Rhena J. Tapion, Rifka Yunita,
Rika Widia Sari, Rini Astuti, Rini Marlina, Ririn Fitria,
Syahdara Anisa Makruf, Unaimah Sanaya, Winda Sri Handayani