MERAWAT JIWA, KELUARGA, DAN SEMESTA Refleksi Keislaman tentang Dakwah, Kemanusiaan, dan Lingkungan

Buku ini adalah sebuah karya refleksi intelektual dan spiritual yang secara komprehensif membumikan nilai-nilai teologi Islam ke dalam realitas sosial, kemanusiaan, dan pelestarian lingkungan hidup. Ditulis oleh puluhan praktisi dan penyuluh agama, literatur ini secara holistik mengurai lima pilar utama: aksi dakwah dan pelayanan kemanusiaan bagi kelompok rentan, peran keluarga sebagai madrasah pembentuk karakter di era disrupsi digital, urgensi ekoteologi dalam merawat semesta, penguatan spiritualitas dan adab bermedia sosial, hingga penerapan fikih sosial yang inklusif dan berbasis kearifan lokal.

Islam dan hubungan antar sesama

Karya literatur keislaman kontemporer sering kali terjebak pada diskursus teologis yang melangit, mengabaikan realitas sosial yang membumi. Namun, sebuah antologi luar biasa berhasil menjembatani jurang tersebut. Di dalam file “Merawat Jiwa, Keluarga, dan Semesta_ISBN.pdf”, tersaji sebuah refleksi intelektual dan spiritual yang sangat kaya, merangkum intisari dakwah, kemanusiaan, dan lingkungan dalam satu napas ajaran Islam. Buku setebal 168 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit Samudra Biru pada Juli 2026 ini merupakan hasil kolaborasi pemikiran dari 23 penulis yang mendedikasikan hidupnya sebagai Penyuluh Agama Islam dan penggerak masyarakat di wilayah Yogyakarta.

Melalui 24 tulisan yang bernas, buku ini membuktikan bahwa Islam bukan sebatas ritual peribadatan di dalam masjid, melainkan sebuah jalan hidup yang menyentuh lorong-lorong gelap Lembaga Pemasyarakatan, bangsal rumah sakit, hingga lapak-lapak UMKM milik kelompok rentan. Teologi Islam dibumikan untuk menjawab tantangan modernitas, krisis ekologi, dan disrupsi digital yang kian menggerus nilai-nilai kemanusiaan. Buku ini terbagi menjadi lima pilar utama yang saling menguatkan, merangkai sebuah peta jalan menuju kehidupan yang harmonis, berkeadilan, dan penuh keberkahan.

Fondasi Kemanusiaan dan Madrasah Keluarga di Era Disrupsi

Bagian awal buku ini mengajak pembaca untuk menyelami makna dakwah yang sesungguhnya melalui tindakan nyata pelayanan kemanusiaan. Penjara atau Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang sering kali distereotipkan sebagai sarang kriminalitas, justru diubah wajahnya menjadi sebuah “pesantren” di Lapas Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta. Di balik tembok dengan pengamanan tingkat tinggi (maximum security), warga binaan difasilitasi untuk belajar membaca huruf hijaiyah, menghafal Al-Qur’an, dan memperbaiki tata cara ibadah melalui Madrasah Al-Qur’an “Al Fajar”. Proses ini membuktikan bahwa setiap manusia, seburuk apa pun masa lalunya, memiliki hak untuk kembali kepada fitrah kebaikannya dan meraih optimisme hidup melalui pembinaan mental-spiritual.

Pelayanan kemanusiaan ini meluas hingga ke bangsal-bangsal RSUD Jogja, di mana sentuhan spiritual dan bimbingan rohani hadir sebagai penawar luka batin bagi para pasien. Sakit dimaknai bukan sebagai bentuk penderitaan atau kelemahan, melainkan sebagai wujud kasih sayang Allah untuk menggugurkan dosa. Rohaniawan hadir memberikan talqin, doa, dan terapi zikir yang secara psikologis terbukti mampu mengurangi kecemasan pasien dan keluarga di masa-masa kritis. Tidak berhenti di situ, kepedulian juga diarahkan kepada Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS), seperti Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan lansia telantar di BRSBKL DIY, yang mendapatkan penguatan akidah dan harga diri melalui pembinaan ibadah praktis yang sangat sederhana dan memanusiakan.

Karya ini juga menyoroti perjuangan kelompok rentan, yaitu lansia dan penyandang difabel, dalam meraih kemandirian ekonomi. Di tengah digitalisasi birokrasi sertifikasi halal yang sering kali mengeksklusi mereka yang gagap teknologi, para penyuluh agama hadir “menjemput bola” sebagai pendamping dan advokat digital. Kisah Mbah Karjiyah sang penjual getuk, Mbah Warjiyem, hingga komunitas difabel di Cupable Coffee menjadi bukti empiris bahwa legalitas sertifikat halal mampu meruntuhkan stigma sosial dan mendongkrak kelas UMKM kelompok rentan ke pasar modern. Pembelajaran Al-Qur’an bagi para lansia pun menjadi sorotan penting, menghapus rasa malu di usia senja untuk terus mengeja ayat suci sebagai bekal meraih husnul khatimah.

Beralih pada ranah domestik, keluarga diposisikan sebagai madrasah pertama dan utama dalam membentuk karakter generasi bangsa. Di tengah gempuran era digital yang memicu kecanduan gawai dan degradasi moral, keteladanan pola asuh Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam diangkat sebagai solusi komprehensif. Ada empat pilar pendidikan ala Nabi Ibrahim yang sangat relevan: penanaman tauhid sebagai fondasi ketahanan mental (psychological resilience), pemberian teladan nyata (uswah hasanah), pendekatan dialogis-demokratis saat berkomunikasi dengan anak, dan kekuatan doa ikhtiar langit yang tak pernah putus. Keluarga juga diwajibkan untuk mengenali tipe kepribadian anak—koleris, sanguinis, melankolis, atau plegmatis—agar pendekatan pengasuhan dapat dilakukan secara bijak sesuai fitrah masing-masing. Lebih jauh, lingkungan keluarga adalah cikal bakal penanaman moderasi beragama, di mana anak-anak diajarkan sejak dini untuk menghargai perbedaan tradisi dan keyakinan demi mencegah tumbuhnya pemahaman ekstremisme dan radikalisme di masyarakat.

Merawat Bumi, Membangun Karakter, dan Fikih Sosial Kontemporer

Tanggung jawab seorang Muslim tidak berhenti pada interaksi antarmanusia, tetapi juga mencakup pelestarian alam semesta. Ekoteologi Islam menegaskan kedudukan manusia sebagai khalifah yang memikul amanah agung untuk menjaga keseimbangan bumi, bukan mengeksploitasinya secara rakus. Perilaku membuang sampah sembarangan dan deforestasi secara teologis dipandang sebagai bentuk fasad (kerusakan) yang dilarang keras. Program “Masyarakat Jogja Olah Sampah” (Mas JOS) menjadi contoh brilian bagaimana nilai-nilai ekoteologi diterjemahkan ke dalam aksi konkret di tingkat rumah tangga melalui pemilahan sampah, pengurangan plastik sekali pakai, dan gaya hidup sederhana yang tidak berlebih-lebihan. Alam semesta adalah milik Allah yang ditundukkan untuk manusia, sehingga pemanfaatannya wajib tunduk pada aturan moral, menolak egoisme sektoral, dan mewajibkan pelestarian keanekaragaman hayati demi keberlanjutan generasi mendatang.

Untuk menghadapi dinamika dan badai kehidupan yang tidak pasti, spiritualitas menjadi jangkar penyeimbang. Tawakal atau penyerahan diri secara total kepada Allah setelah berikhtiar maksimal adalah kunci imunitas mental yang membebaskan manusia dari kecemasan berlebih (overthinking) dan depresi. Kehidupan adalah siklus ujian; bahkan kekayaan dan kekuasaan pun sejatinya adalah ujian syukur, sebagaimana yang dialami Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam. Seni menjadi insan damai mengharuskan seseorang membersihkan diri dari hawa nafsu, riya, dan rasa dengki, serta mengubah setiap krisis menjadi batu loncatan untuk menaikkan derajat keimanan. Akhlak mulia juga diuji melalui kemampuan memaafkan. Memaafkan sering kali terasa lebih berat daripada meminta maaf karena menuntut kebesaran jiwa untuk menelan rasa sakit dan kekecewaan. Namun, dari kelapangan dada itulah kemuliaan sejati akan lahir.

Di era post-truth, adab bermedia sosial menjadi ujian tersendiri bagi integritas seorang Muslim. Lisan dan tulisan digital yang tidak terkendali dapat memicu fitnah dan permusuhan yang merusak harmoni sosial. Prinsip tabayyun (verifikasi informasi) mutlak diterapkan sebelum membagikan sebuah berita, demi menghindari penyebaran hoaks. Menjauhi ghibah digital, menjaga privasi kehormatan diri dari bahaya pamer harta yang memicu penyakit ‘ain, serta membatasi screen time agar tidak melalaikan ibadah adalah etika krusial yang diuraikan secara mendalam. Keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani harus terus dijaga; Islam menolak ekstremitas asketisme yang menyiksa fisik sekaligus menolak materialisme yang membunuh jiwa.

Pada bagian pamungkas, buku ini membedah fikih sosial dan realitas bermasyarakat. Dedikasi para pembimbing ibadah haji dan umrah digambarkan sebagai panggilan jiwa yang suci, menuntut kesabaran ekstra dalam melayani tamu-tamu Allah (Duyufurrahman) dengan latar belakang yang heterogen. Kesadaran filantropi Islam juga dibahas melalui evolusi praktik wakaf, yang kini tidak lagi terbatas pada aset tak bergerak seperti tanah masjid, tetapi telah merambah pada inovasi wakaf uang produktif yang lebih mudah diakses melalui platform digital untuk mengentaskan kemiskinan umat.

Sebuah tinjauan kritis juga diberikan pada pemahaman hadis mengenai larangan wanita memakai parfum. Melalui analisis sanad dan ‘illat (causa) hukum, ditarik kesimpulan proporsional bahwa larangan keras yang menyamakan wanita pemakai parfum dengan pelacur berlaku jika tujuannya adalah tabarruj (memamerkan diri) dan memancing syahwat laki-laki. Namun, penggunaan wewangian sekadar untuk menutupi bau badan agar tidak mengganggu kekhusyukan jamaah lain diperbolehkan, merujuk pada praktik istri-istri Nabi. Terakhir, efektivitas resolusi konflik berbasis kearifan lokal disoroti sebagai metode unggul dalam menyelesaikan sengketa komunal. Tradisi musyawarah, tepa selira, dan nilai kerukunan desa terbukti jauh lebih manjur merekatkan kembali kohesi sosial yang retak dibandingkan pendekatan litigasi formal di meja hijau.

Secara keseluruhan, buku ini adalah sebuah ensiklopedia mini yang memancarkan pencerahan. Setiap lembarnya merangkai benang merah bahwa Islam adalah agama yang responsif, inklusif, dan senantiasa relevan melintasi zaman. Karya ini sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang merindukan oase pemikiran yang tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menghaluskan budi, menyehatkan keluarga, dan melestarikan semesta.

Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!

DAFTAR ISI

Daftar Isi 1
Slider Caption
Slider Caption
Previous
Next

Spesifikasi Buku

Cetakan I, Juli 2026; 186 hlm, ukuran 15,5 x 23 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, Hard cover dan shrink bungkus plastik.

Harga Buku

Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.

Rp 125.000

Rp 115.700

Tentang Penulis

Muhammad Mahlani, Prety Etika, Rochimatullaili, Samsul Ma’arif, Titi Patiha, Arin Marliana, Eko Agus Wibowo, Sugiharto, Sulfiyah, Siti Jamilah,
N. Sholihat, Mohammad Da’i, Ismiyati, Suparman, Iqbal Haraka Mahendra, Siti Daimah, Siti Chadamiyatul Jannah, Muhamad Ali Nur Khasan
Jafar Arifin, Karmin, Umi Kultsum, Charis Thohari Rohman, Endro Dwi Widodo