TUHAN, ALGORITMA, DAN MANUSIA YANG TERPINGGIRKAN

 

Buku ini menyoroti bagaimana kapitalisme digital menciptakan bentuk baru eksploitasi yang lebih halus namun lebih dalam.

Manusia dan Berhala Barunya

Kita hidup di masa ketika teknologi yang sejatinya adalah nikmat dan anugerah Allah untuk memudahkan
urusan manusia—justru perlahan berubah menjadi berhala baru. Tanpa sadar, kita menyaksikan bagaimana mekanisme algoritma yang sering kali mengambil alih peran pengatur rezeki, menihilkan sisi kemanusiaan, dan memperlakukan sesama hamba Allah layaknya mesin yang tak berjiwa.

Buku ini adalah ikhtiar kecil penulis untuk menyuarakan jeritan hati saudara-saudara kita, kaum Mustadh’afin, yang
diwakili oleh sosok “Raka”. Mereka adalah para pejuang subuh, ksatria yang bertaruh nyawa di jalanan demi menegakkan tulang punggung keluarga, namun sering kali diperlakukan tidak adil oleh struktur muamalah yang penuh
gharar dan eksploitasi.

Melalui lembaran-lembaran ini, penulis mengajak para pembaca untuk merenung kembali. Sudahkah muamalah kita sesuai dengan ridha-Nya? Sudahkah kita memuliakan manusia sebagaimana Allah memuliakan Bani Adam? Dan bagaimana Islam, dengan kekayaan khazanah Fikih dan Tasawuf-nya, menawarkan jalan keluar melalui semangat
Ta’awun dan Syirkah yang berkeadilan.

Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!

DAFTAR ISI

Daftar Isi 1
Daftar Isi 2
Previous
Next

Spesifikasi Buku

Cetakan I, Mei 2026; 170 hlm, ukuran 14 x 20 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, Hard cover dan shrink bungkus plastik.

Harga Buku

Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.

Rp 135.000

Rp 126.300

Tentang Penulis

Najib Maulana Alfikri

Najib Maulana Alfikri, lahir di Tanjung Inten pada 3 Oktober 2001. Ia merupakan putra daerah Lampung Timur
yang tumbuh dalam kehangatan keluarga sebagai buah hati dari pasangan Muhammad Chadhiq dan Siti Hajar.
Jalan intelektualnya ditempa dalam rahim pendidikan Islam. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di TK Bustanul
Athfal Tanjung Inten dan MI Muhammadiyah Tanjung Inten, kemudian ia memilih jalan sebagai para pencari ilmu dengan cara menjadi santri. Masa remajanya ia melanjutkan di MTs Muhammadiyah 1 Purbolinggo dan MA Muhammadiyah 1 Purbolinggo—ia habiskan juga untuk menimba ilmu di
Pondok Muhammadiyah Darul Hikmah. Kultur menjadi santri ini terus ia rawat hingga jenjang perguruan tinggi, di
mana ia menuntaskan studi di Universitas Muhammadiyah Surakarta sembari tetap mendalami ilmu agama di Pondok
Hajjah Nuriyah Shabran