LAUT PAPUA Ruang dan Masa Depan Menuju Indonesia Emas 2045

Buku ini disusun sebagai upaya menghadirkan kerangka
pikir strategis mengenai posisi dan masa depan Laut Papua, baik dalam konteks
Papua Emas 2041, Indonesia Emas 2045, maupun dinamika maritim global pada
masa mendatang.

Peran Strategis Laut Papua

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki ruang laut yang sangat luas dan strategis bagi keberlangsungan bangsa. Dalam konteks tersebut, Laut Papua menempati posisi yang sangat penting karena berada di ujung timur Indonesia, kaya akan sumber daya hayati dan nonhayati, serta memiliki nilai sosial, budaya,ekologis, ekonomi, dan geopolitik yang sangat besar. Dengan karakteristik tersebut, Laut Papua tidak dapat dipandang semata-mata sebagai hamparan perairan, melainkan sebagai ruang hidup, ruang pembangunan, dan ruang strategis yang menentukan masa depan Papua dan Indonesia.

Pada tingkat lokal, Laut Papua merupakan bagian dari ekosistem kehidupan masyarakat yang menyatu dengan nilai sosial, budaya, religi, dan kearifan lokal masyarakat adat. Laut bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga bagian dari identitas, pengetahuan, dan keberlanjutan hidup masyarakat Papua. Karena itu, pengelolaan Laut Papua harus memperhatikan kepentingan masyarakat lokal sebagai subjek utama pembangunan dalam rangka mewujudkan Papua Emas 2041. 

Pada tingkat nasional, Laut Papua memiliki arti penting bagi penguatan ekonomi biru, ketahanan pangan, pengembangan energi dan sumber daya strategis, serta pertahanan dan keamanan nasional, khususnya dalam konteks kawasan Indo-Pasifik. Posisi ini menjadikan Laut Papua sebagai salah satu pilar penting dalam mendukung agenda pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Pada tingkat internasional, Laut Papua juga memiliki arti strategis karena berada pada kawasan yang terhubung dengan dinamika maritim global, sekaligus menjadi bagian dari wilayah dengan kekayaan biodiversitas laut yang sangat tinggi. Oleh sebab itu, Laut Papua tidak hanya relevan dalam perspektif pembangunan daerah dan nasional, tetapi juga dalam konteks konektivitas, kerja sama, dan stabilitas kawasan serta dunia.

Dengan demikian, pengembangan Laut Papua harus dilihat secara komprehensif, tidak hanya dari aspek ekonomi dan sumber daya alam, tetapi juga dari dimensi ekologi, sosial-budaya, hukum, geopolitik, geostrategi, dan diplomasi maritim. Pendekatan yang menyeluruh ini penting agar Laut Papua dapat dikelola secara adil, berkelanjutan, dan berorientasi pada perdamaian serta kesejahteraan bersama.

Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!

DAFTAR ISI

Daftar Isi 1
Daftar Isi 2
Previous
Next

Spesifikasi Buku

Cetakan I, Mei 2026; 394 hlm, ukuran 17,5 x 25 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, Hard cover dan shrink bungkus plastik.

Harga Buku

Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.

Rp 200.000

Rp 192.700

Tentang Penulis

Dr. John Manangsang Wally, M.Kes

Dr. John Manangsang Wally, M.Kes, adalah seorang cucu dari Guru Penginjil asal Sangihe Talaud, bernama Frederik Bactiar Manangsang yang datang ke Papua pada tahun 1922, tiba di pulau Numfor Biak dan bertugas di situ beberapa tahun, selanjutnya pindah ke Manokwari, Sentani, Genyem, Kokonao, berakhir pensiun di kampung Kwimi Arso, Keerom, hingga wafat di Sentani tahun 1984. “Manangsang Yunior” ini, sejak usia 6 tahun, ia diangkat sebagai anak adat suku Wally oleh Ondofolo Afey Daniel Wally kampung Babrongko, menggantikan Omnya yang terlebih dulu diadopsi oleh Ondofolo yang sama, saat Om Marthen Mansngsang Umani Wally itu dilahirkan di kampung Babrongko (1949), namun mamanya meninggal karena perdarahan, sehingga bayi itupun menjadi warga di situ hingga wafat pada tahun 1969 dan John ini diambil menggantinya. Itulah sebabnya John ini sering dipanggil juga John Manangsang Wally. Sejak lahir hingga menamatkan SMP-nya di kecamatan Sentani, dan SMA-nya di Abepura Jayapura. Setelah menamatkan pendidikan dokternya di FKUI Jakarta 1989, ia kembali ke Papua dan ditempatkan sebagai Kepala Puskesmas Tanah Merah Boven Digoel, pada tahun 1990 (2 tahun), salah satu distrik tempo dulu dari Kabupaten Merauke yang kini telah menjadi ibu kota dari Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua Selatan.

Setelah melalui jalan pengabdiannya yang panjang di tanah Papua, ia pernah menjadi anggota DPR Papua tahun 2004-2009 dari partai PNBK, pimpinan Bung Erros Djarot, dan sebelum pensiun, ia sempat diminta oleh Gubernur Papua, Bapak Lukas Enembe (alm) untuk melaksanakan tugas sebagai direktur Rumah Sakit Umum Abepura (2014-2016). Setelah “pensiun”, ia melanjutkan pendidikan Pasca Sarjananya yang sempat terhenti karena melaksanakan tugas direktur di RSUD Abepura itu, dan lulus Magister Kesehatan di FKM UNHAS 2016. Selain tugas dan panggilan profesinya sebagai tenaga kesehatan, ia juga aktif dalam kegiatan dan organisasi sosial kemasyarakatan, budaya dan adat Sentani, juga menjadi anggota dari komunitas Analisis Papua Strategis (APS) yang keanggotaannya terdiri dari berbagai profesi dan keahlian yang mempunyai kepedulian bagi pembangunan Papua. Latar beelakang mereka dari berbagai disiplin ilmu, dan tersebar mulai dari Papua, berbagai daerah di nusantara Indonesia, sampai ke 17 negara di berbagai belahan bumi. Sebagai anggota APS, ia banyak ikut membahas, mengkaji, menganalisis, dan mencari bentuk serta formula yang dapat dipersembahkan kepada masyarakat lokal dan pemerintah guna membangun kehidupan masyarakat Papua lebih baik.