Buku ini mengajak Anda menjelajahi masa depan ilmu pengetahuan melalui pendekatan yang berani dan visioner—menggabungkan sains, teknologi, humaniora, dan nilai-nilai lokal Indonesia untuk menjawab tantangan dunia yang semakin kompleks dan tak terduga.
Meretas Batas Keilmuan Menuju Indonesia Emas 2045
Buku karya Prof. Dr. Sidik Jatmika, M.Si. yang terekam secara utuh dalam dokumen Pendekatan Futuristik Interdisipliner_ISBN.pdf menyajikan sebuah paradigma monumental bagi dunia akademik dan perumusan kebijakan di Indonesia. Karya yang diterbitkan oleh Penerbit Samudra Biru pada April 2026 ini membedah urgensi transformasi pendekatan keilmuan dalam menghadapi kompleksitas abad ke-21. Penulis membongkar keterbatasan pendekatan monodisipliner yang kaku dan reduksionistik, serta menawarkan kerangka berpikir lintas batas yang memadukan berbagai disiplin ilmu untuk mengantisipasi masa depan. Melalui analisis yang sistematis, buku ini menempatkan kajian futuristik interdisipliner bukan sekadar sebagai wacana teoretis, melainkan sebagai fondasi strategis untuk merespons fenomena Great Global Transition 2025-2050, sebuah era yang ditandai oleh disrupsi teknologi, krisis iklim, ketimpangan global, dan fragmentasi tata kelola internasional.
Perkembangan Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 telah memicu transformasi fundamental yang tidak dapat lagi diurai melalui satu sudut pandang keilmuan saja. Digitalisasi, kecerdasan buatan (AI), dan mahadata (big data) menghadirkan tantangan epistemologis dan etis yang menuntut ilmu pengetahuan untuk tidak sekadar berorientasi pada inovasi teknis, tetapi juga pada nilai-nilai humanisme dan keberlanjutan. Oleh karena itu, buku ini hadir sebagai peta navigasi intelektual yang merangkum evolusi pemikiran manusia tentang masa depan, sekaligus menyajikan rancang bangun kolaborasi keilmuan—mulai dari tingkat intradisipliner hingga transdisipliner—dengan mengambil studi kasus utama pada disiplin Ilmu Hubungan Internasional (HI).
Evolusi, Metodologi, dan Konsep Kunci dalam Kajian Futuristik
Pemahaman terhadap masa depan telah berevolusi secara signifikan seiring berjalannya sejarah peradaban manusia. Buku ini melacak jejak kajian futuristik mulai dari fase profetik-mistikal pada abad ke-16 yang direpresentasikan oleh Nostradamus dengan ramalan-ramalan simboliknya yang bersandar pada astrologi dan takdir kosmik. Kajian ini kemudian mengalami institusionalisasi ilmiah pada abad ke-20 melalui pemikiran sosiologis Alvin Toffler yang memperkenalkan konsep guncangan masa depan (future shock) dan gelombang peradaban. Selanjutnya, kajian masa depan memasuki fase aplikatif dan manajerial melalui karya John Naisbitt yang menggunakan analisis tren empiris (megatrends) sebagai alat perencanaan strategis. Buku ini juga menyoroti pentingnya menggali kekayaan kearifan lokal Indonesia, seperti Ramalan Jayabaya, pemikiran Ronggowarsito, dan epik La Galigo dari tradisi Bugis, sebagai sumber epistemologis yang memuat refleksi kultural tentang siklus perubahan zaman dan harmoni sosial.
Sebagai sebuah disiplin ilmiah, kajian futuristik modern bertumpu pada metodologi yang sistematis untuk mengelola ketidakpastian. Penulis menguraikan tiga pendekatan utama: foresight yang bersifat partisipatif dan normatif untuk membangun visi masa depan, forecasting yang berorientasi pada prediksi kuantitatif berbasis data historis, serta scenario planning yang menyusun berbagai gambaran masa depan alternatif secara logis. Metodologi ini diperkuat dengan teknik pengumpulan data seperti Metode Delphi untuk mencapai konsensus ahli, Trend Analysis untuk memetakan pola perubahan stabil, dan Horizon Scanning untuk mendeteksi sinyal-sinyal awal perubahan yang berpotensi menjadi disrupsi. Menariknya, buku ini juga mengangkat media populer seperti serial animasi The Simpsons sebagai instrumen prediksi budaya (cultural forecasting), yang membuktikan bahwa sinematografi animasi mampu menjadi medium reflektif untuk memproyeksikan transformasi sosial dan inovasi teknologi.
Dalam menghadapi kerumitan masalah nasional dan global, Prof. Sidik Jatmika memperkenalkan dua konsep orisinal yang sangat aplikatif bagi para peneliti, yaitu Drone Effect dan Tiki Taka Effect. Drone Effect merepresentasikan kemampuan peneliti untuk menaikkan ketinggian analisis intelektualnya, sehingga mampu melihat permasalahan secara menyeluruh, sistemik, dan lintas sektor layaknya pandangan dari sebuah drone. Konsep ini membebaskan akademisi dari sekat-sekat disiplin yang sempit menuju perspektif makro yang holistik. Sementara itu, Tiki Taka Effect yang terinspirasi dari strategi permainan sepak bola berbasis umpan pendek, menggambarkan kelincahan, kecepatan, dan kecerdasan taktis peneliti dalam bertukar ide dan metode secara kolaboratif guna menghasilkan solusi inovatif dan adaptif. Kedua konsep ini menjadi roh utama dalam mendorong lompatan kualitas inovasi akademik di Indonesia.
Implementasi Lintas Disiplin pada Ilmu Sosial, Sains, dan Teknologi
Buku ini secara komprehensif membedah bagaimana pendekatan interdisipliner diimplementasikan melalui struktur taksonomi keilmuan, dengan menggunakan Ilmu Hubungan Internasional (HI) yang memiliki hingga 100 ranting ilmu sebagai laboratorium analisis utama. Kolaborasi keilmuan ini dipetakan ke dalam lima tingkat integrasi yang semakin kompleks, sejalan dengan roadmap riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan kebutuhan kurikulum pendidikan tinggi menuju Indonesia Emas 2045.
Pada tingkat pertama, kolaborasi Intradisipliner menjembatani ranting-ranting ilmu di dalam satu disiplin yang sama. Penulis menyajikan studi kasus integrasi antara Analisis Politik Luar Negeri dan Kajian Wilayah. Pendekatan ini membuktikan bahwa kebijakan luar negeri negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok tidak dapat dipahami murni dari kalkulasi kekuasaan semata, melainkan sangat bergantung pada memori historis, identitas nasional, dan budaya strategis di wilayah tersebut.
Tingkat kedua adalah kolaborasi Krosdisipliner, yang mempertemukan berbagai cabang ilmu di dalam satu rumpun yang sama, yakni rumpun Ilmu Sosial. Buku ini mengupas integrasi HI dengan Ilmu Hukum dalam mengkaji Hukum Internasional, di mana norma hukum tidak lagi dilihat secara kaku, melainkan sebagai instrumen geopolitik dan tata kelola global untuk merespons ancaman siber dan regulasi kecerdasan buatan. Kolaborasi HI dengan Ilmu Ekonomi melahirkan kajian Ekonomi Politik Internasional yang menyoroti pergeseran kekuatan ekonomi global, disrupsi rantai pasok, dan transisi energi. Selanjutnya, persilangan HI dengan Sosiologi menghasilkan kajian Sosiologi Hubungan Internasional yang membedah isu migrasi lintas negara, gerakan sosial global, dan identitas hibrida di era digital. Persilangan dengan Administrasi Negara dan Kebijakan Publik memunculkan analisis mendalam tentang paradiplomasi, di mana pemerintah daerah dan kota bertindak sebagai aktor diplomasi langsung di panggung internasional.
Pada tingkat ketiga, pendekatan Multidisipliner menggabungkan lebih dari satu bidang kajian dalam satu rumpun secara terpadu. Salah satu contoh penerapannya adalah kajian Hukum Bisnis Global yang menyatukan HI, Hukum, dan Ekonomi. Kajian ini membedah persoalan kompleks seperti pajak digital global, pelindungan data lintas batas, dan carbon border adjustment mechanism (CBAM). Contoh lainnya adalah kajian Pariwisata Global yang mengintegrasikan HI, Psikologi, dan Agama. Pariwisata global kini dipahami bukan sekadar sebagai industri ekonomi, melainkan sebagai diplomasi budaya (soft power), yang sangat dipengaruhi oleh motivasi psikologis wisatawan, persepsi risiko keamanan, serta nilai-nilai spiritualitas seperti yang terwujud dalam pariwisata halal dan wisata religi.
Tingkat keempat adalah kolaborasi Interdisipliner, yang mendobrak batas antar-rumpun keilmuan, seperti memadukan rumpun Ilmu Sosial dengan Ilmu Alam dan Keteknikan. Buku ini mencontohkan integrasi HI dengan Ilmu Kedokteran dan Kesehatan dalam merumuskan Tata Kelola Diplomasi Kesehatan Global. Pandemi COVID-19 telah membuktikan bahwa krisis medis dapat menjadi ancaman keamanan eksistensial bagi negara, sehingga membutuhkan diplomasi kesehatan yang tangguh untuk menjamin distribusi vaksin dan kesiapsiagaan global. Kolaborasi HI dengan Ilmu Kebumian (Geologi, Geodesi, Geografi) melahirkan analisis strategis mengenai keamanan pertambangan global. Persaingan geopolitik atas mineral kritis seperti nikel dan litium menuntut pemahaman geologis yang kuat agar diplomasi sumber daya dapat berjalan seimbang dengan mitigasi risiko lingkungan. Integrasi HI dengan Teknik Mesin membedah keamanan perhubungan global, di mana inovasi rekayasa transportasi, efisiensi mesin rendah emisi, dan standar keselamatan menjadi instrumen vital dalam konektivitas internasional. Sementara itu, perpaduan HI dengan Teknik Sipil menyoroti keamanan konstruksi global, di mana standar keselamatan kerja internasional dan rekayasa infrastruktur lintas batas menjadi bagian tak terpisahkan dari tata kelola geopolitik modern.
Tingkat tertinggi dari evolusi kolaborasi ini adalah Transdisipliner, yang menggabungkan cabang-cabang ilmu dari lebih dari dua rumpun berbeda untuk menghasilkan hibrida keilmuan yang sepenuhnya baru. Kajian transdisiplin mengintegrasikan HI, Ilmu Hukum, dan Teknologi Informasi dalam merumuskan Tata Kelola Hukum Teknologi Digital Global. Ruang siber dan kecerdasan buatan telah menciptakan realitas tanpa batas yang menguji kedaulatan yurisdiksi tradisional suatu negara. Hukum perlindungan data dan keamanan siber tidak akan efektif tanpa pemahaman mendalam tentang arsitektur perangkat lunak dan etika algoritma. Lebih jauh, buku ini mengulas kajian hukum teknologi dirgantara dalam perspektif konstitusional Indonesia. Di era modern, kedaulatan negara tidak lagi terbatas secara horizontal, tetapi berekspansi secara vertikal hingga ke ruang angkasa. Pengelolaan satelit komunikasi, sistem navigasi, dan keamanan peluncuran roket menuntut arsitektur hukum yang mampu mengawinkan regulasi internasional dengan inovasi teknologi luar angkasa demi melindungi keamanan pertahanan dan memaksimalkan ekonomi ruang angkasa (space economy). Keseluruhan model kolaborasi dalam buku ini membuktikan bahwa ilmu pengetahuan harus terus bergerak secara dinamis, melintasi batas-batas konvensionalnya, demi menjawab tantangan peradaban masa depan.
Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!
DAFTAR ISI
Daftar Isi 1
Daftar Isi 2
Daftar Isi 3
Daftar Isi 4
Daftar Isi 5
Previous
Next
Spesifikasi Buku
Cetakan I, Maret 2026; 278 hlm, ukuran 15,5 x 23 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, Hard cover dan shrink bungkus plastik.
Harga Buku
Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.
Rp 160.000
Rp 149,800
Tentang Penulis
Profesor Dr. Sidik Jatmika, MSi
guru besar Hubungan Internasional pada Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Dengan pidato pengukuhan Guru Besar 21 April 2025 berjudul: Muhammadiyah School of Thought: Diplomasi Keamanan Manusia sebagai elaborasi kajian Hubungan Internasional perspektif Islam dan Keindonesiaan yang moderat, berkemakmuran serta berkeadilan.
Kepakaran : Direktur Institut for Futures & Interdisciplinary Studies (InFIS) fokus kajian Isu Keamanan Manusia (Human Security); Gerakan Sosial Transnasional (Transnational Social Movement ); Sosiologi Hubungan Internasional (Sociology of International Relations); Timur Tengah dan Politik Islam Global (Middle East, Islam & Global Politics).
Pendidikan : S1 Hubungan Internasional, Universitas Gadjah Mada (1987-1992)
Master S2 Ilmu Politik UGM (1996-1998); Program Doktor S3 Sosiologi UGM (2003 – 2006)
Pengajaran : dosen program S1, S2, S3 Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (sejak 1993). Visiting Professor Universiti Malaysia Sabah (UMS, 2017). Visiting Professor, Ateneo de Davao, Philipinnes (2018). Dosen Tamu Universitas Slamet Riyadi Surakarta (2025), Universitas Katholik Parahyangan Bandung (2024), Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (2023), Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, UMKT (2020)