PENDEKATAN FUTURISTIK INTERDISIPLINER Untuk Pengembangan Ilmu di Indonesia

Buku ini mengajak Anda menjelajahi masa depan ilmu pengetahuan melalui pendekatan yang berani dan visioner—menggabungkan sains, teknologi, humaniora, dan nilai-nilai lokal Indonesia untuk menjawab tantangan dunia yang semakin kompleks dan tak terduga.

Interdisiplin Futuristik, Mengapa Penting Dipelajari?

abad ke-21 ditandai oleh perubahan global yang sangat cepat sebagai akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dua konsep utama yang merepresentasikan dinamika tersebut adalah Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0. Keduanya menjadi penanda penting transformasi ekonomi, sosial, dan keilmuan yang berdampak langsung pada cara manusia bekerja, belajar, dan mengembangkan pengetahuan. Dalam konteks global, perubahan ini menghadirkan tantangan multidimensional yang menuntut respons keilmuan yang adaptif, integratif, dan berorientasi masa depan.
Revolusi Industri 4.0 merujuk pada fase industrialisasi yang ditandai oleh integrasi sistem fisik dan digital melalui teknologi seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), Internet of Things (IoT), big data, robotika, dan otomatisasi cerdas. Transformasi ini mengubah pola produksi, distribusi, dan konsumsi secara fundamental (Schwab, 2016). Dunia industri tidak lagi bergantung pada tenaga manusia semata, melainkan pada sistem cerdas yang mampu belajar dan mengambil keputusan secara mandiri. Dampaknya, terjadi disrupsi besar dalam struktur pasar tenaga kerja, munculnya profesi baru, serta
hilangnya sejumlah pekerjaan tradisional yang tidak adaptif terhadap teknologi (Brynjolfsson & McAfee, 2014).
Buku ini menjelaskan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan di abad ke-21 tidak bisa lagi menggunakan pendekatan satu disiplin ilmu saja , tetapi harus menggunakan pendekatan interdisipliner dan futuristik untuk menghadapi perubahan global yang cepat dan kompleks.
Pendekatan interdisipliner digunakan untuk memahami masalah kompleks masa kini, sedangkan pendekatan futuristik digunakan untuk menganalisis dan merancang masa depan. Kedua pendekatan ini saling melengkapi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan kebijakan pembangunan.
Isi buku ini menjelaskan bahwa masa depan ilmu pengetahuan harus dikembangkan melalui integrasi berbagai disiplin ilmu dan pendekatan futuristik agar mampu menghadapi perubahan global, teknologi, dan krisis dunia, serta membangun peradaban yang humanistik, beretika, dan berkelanjutan.

Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!

DAFTAR ISI

Daftar Isi 1
Daftar Isi 2
Daftar Isi 3
Daftar Isi 4
Daftar Isi 5
Previous
Next

Spesifikasi Buku

Cetakan I, Maret 2026; 278 hlm, ukuran 15,5 x 23 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, Hard cover dan shrink bungkus plastik.

Harga Buku

Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.

Rp 160.000

Rp 149,800

Tentang Penulis

Profesor Dr. Sidik Jatmika, MSi

guru besar Hubungan Internasional pada Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Dengan pidato pengukuhan Guru Besar 21 April 2025 berjudul: Muhammadiyah School of Thought: Diplomasi Keamanan Manusia sebagai elaborasi kajian Hubungan Internasional perspektif Islam dan Keindonesiaan yang moderat, berkemakmuran serta berkeadilan.
Kepakaran : Direktur Institut for Futures & Interdisciplinary Studies (InFIS) fokus kajian Isu Keamanan Manusia (Human Security); Gerakan Sosial Transnasional (Transnational Social Movement ); Sosiologi Hubungan Internasional (Sociology of International Relations); Timur Tengah dan Politik Islam Global (Middle East, Islam & Global Politics).
Pendidikan : S1 Hubungan Internasional, Universitas Gadjah Mada (1987-1992)
Master S2 Ilmu Politik UGM (1996-1998); Program Doktor S3 Sosiologi UGM (2003 – 2006)
Pengajaran : dosen program S1, S2, S3 Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (sejak 1993). Visiting Professor Universiti Malaysia Sabah (UMS, 2017). Visiting Professor, Ateneo de Davao, Philipinnes (2018). Dosen Tamu Universitas Slamet Riyadi Surakarta (2025), Universitas Katholik Parahyangan Bandung (2024), Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (2023), Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, UMKT (2020)