SEMESTA BERKEMAJUAN Transformasi Sosial dan Pendidikan Muhammadiyah di Thailand

buku ini dapat memberikan sumbangan pemikiran yang signifikan dalam memahami fenomena transnasionalisme gerakan Islam moderat dan menjadi referensi yang otoritatif dalam studi tentang Muhammadiyah di luar negeri.

MUHAMMADIYAH SEBAGAI GERAKAN JIHAD-SOSIAL MODERAT BERKEMAKMURAN DAN BERKEADILAN

Apakah sebuah gerakan keagamaan yang lahir dari kritik terhadap tradisi lokal dapat bertransformasi menjadi kekuatan global yang adaptif? Pertanyaan ini menjadi titik pijak untuk memahami esensi Muhammadiyah, sebuah organisasi yang didirikan lebih dari seabad lalu di jantung kebudayaan Jawa, namun kini gaungnya melintasi batas-batas negara. Muhammadiyah sering kali didefinisikan sebagai gerakan pemurnian atau modernis, sebuah label yang meskipun akurat, tidak sepenuhnya menangkap denyut nadi gerakannya. Esensi Muhammadiyah sesungguhnya terletak pada konsep jihad-sosial, sebuah perjuangan tanpa henti untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga unggul secara intelektual, sejahtera secara ekonomi, dan adil secara sosial.
Gerakan ini merupakan antitesis dari pemahaman jihad yang sempit dan sering disalahartikan sebagai perjuangan fisik semata. Bagi Muhammadiyah, medan jihad yang sesungguhnya adalah arena kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Senjatanya bukanlah pedang, melainkan pena, sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan. Konsep ini berakar dari sebuah pemahaman mendalam atas spirit Al-Qur’an yang diterjemahkan ke dalam aksi nyata, sebuah etos yang dikenal sebagai dakwah bil hal atau dakwah melalui perbuatan (Qodir et al., 2020). Paradigma ini menjadi mesin penggerak yang memungkinkan Muhammadiyah membangun ribuan lembaga pendidikan, kesehatan, dan sosial di seluruh Indonesia.
Landasan etik dari seluruh gerakannya adalah Islam Wasathiyah, atau Islam jalan tengah. Konsep ini menempatkan Muhammadiyah sebagai gerakan yang moderat, toleran, dan senantiasa mencari titik
keseimbangan antara pemurnian akidah (tajdid) dan dinamika modernitas (ishlah). Wasathiyah bukanlah sikap kompromistis yang lemah, melainkan sebuah posisi ideologis yang kokoh, yang menolak ekstremisme dalam segala bentuknya, baik fundamentalisme sempit maupun liberalisme tanpa
batas (Jubba et al., 2022). Prinsip ini memungkinkan Muhammadiyah untuk berdialog secara konstruktif dengan berbagai kelompok, termasuk negara dan komunitas agama lain.
Dalam konteks kebangsaan Indonesia, Muhammadiyah merumuskan sebuah teori politik kenegaraan yang unik, yaitu Darul Ahdi Wa Syahadah. Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila dipandang sebagai “negara konsensus” (Darul Ahdi) yang wajib dijaga bersama. Peran Muhammadiyah di dalamnya adalah sebagai “saksi” (Syahadah), yaitu mengisi ruang kebangsaan dengan nilai-nilai kebajikan, keadilan, dan kemajuan (Sholikin, 2020). Posisi ini menempatkan
Muhammadiyah sebagai mitra kritis pemerintah, yang loyal kepada negara namun tidak ragu untuk menyuarakan koreksi jika kebijakan publik menyimpang dari kepentingan rakyat.
Visi besar dari seluruh pilar gerakan ini adalah terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, sebuah tatanan sosial yang maju, makmur, dan berkeadilan. Islam Berkemajuan, sebagai slogan utama
gerakan, bukanlah sekadar jargon, melainkan sebuah kerangka kerja yang sistematis untuk mentransformasi masyarakat. Pilar utamanya adalah modernisasi pendidikan dan kesehatan, yang dipandang sebagai kunci untuk membebaskan manusia dari belenggu kebodohan dan penyakit (Takdir & Munir, 2025). Gerakan ini secara inheren bersifat inklusif, artinya layanan pendidikan dan kesehatannya terbuka bagi siapa saja tanpa memandang suku, agama, atau golongan.
Gerakan berkemakmuran dan berkeadilan menjadi dimensi praksis dari Islam Berkemajuan. Muhammadiyah secara aktif terlibat dalam pemberdayaan ekonomi umat melalui pengembangan kewirausahaan, koperasi, dan lembaga keuangan mikro. Pada saat yang sama, persyarikatan
ini memberikan perhatian serius pada advokasi dan pendampingan bagi kelompok-kelompok rentan untuk memastikan mereka mendapatkan akses terhadap keadilan (Latief & Nashir, 2020). Ini adalah manifestasi dari teologi Al-Maaun, spirit utama yang menjadi sumber inspirasi gerakan sejak awal berdirinya.
Kombinasi antara fondasi teologis yang kuat, pandangan keagamaan yang moderat, komitmen kebangsaan yang jelas, serta visi kemajuan yang transformatif inilah yang menjadi DNA gerakan Muhammadiyah. Kekuatan inilah yang memungkinkannya tidak hanya bertahan, tetapi juga
berkembang dan melakukan ekspansi gagasan hingga ke mancanegara, termasuk di Kerajaan Thailand. Memahami pilar-pilar fundamental ini menjadi langkah awal yang esensial sebelum membedah bagaimana Muhammadiyah berdialog, beradaptasi, dan berkontribusi dalam lanskap
sosial-keagamaan Thailand yang kompleks.
Buku ini ditujukan bagi para mahasiswa, dosen, peneliti, aktivis organisasi masyarakat sipil, serta para pengambil kebijakan yang memiliki minat pada studi Islam, hubungan internasional, pendidikan multikultural, dan dinamika masyarakat Asia Tenggara. Harapan penulis, buku ini dapat memberikan sumbangan pemikiran yang signifikan dalam memahami fenomena transnasionalisme gerakan Islam moderat dan menjadi referensi yang otoritatif dalam studi tentang Muhammadiyah di luar negeri. Akhir kata, penulis menyadari bahwa buku ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, segala bentuk kritik dan saran yang membangun akan diterima dengan lapang dada demi perbaikan di masa mendatang.

Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!

DAFTAR ISI

Daftar Isi 1
Daftar Isi 2
Daftar Isi 3
Daftar Isi 4
Daftar Isi 5
Daftar Isi 6
Daftar Isi 7
Slider Caption
Previous
Next

Spesifikasi Buku

Cetakan I, Januari 2026; 482 hlm, ukuran 15,5 x 23 cm, kertas isi Bookpaper hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, jilid lem panas (soft cover) dan shrink bungkus plastik.

Harga Buku

Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.

Rp 250.000

Rp 225,400

Tentang Penulis

Assoc. Prof. Dr. Sri Roviana, S. Ag, MA,

Meraih gelar Doktor (S3) Studi Islam dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 2020 dengan disertasi berjudul “Memperebutkan Ruang Publik: Gerakan Perempuan dan Pemberlakuan Syariat Islam di Aceh 2005-2019”, menganalisis strategi gerakan perempuan dalam menegosiasikan dan menguji kebijakan publik yang diskriminatif pasca-MoU Helsinki. Riset ini menyoroti agensi perempuan dalam menciptakan ruang publik tandingan (counter-publics spare) dan melakukan ijtihad untuk menafsirkan ajaran agama yang berpihak pada keadilan gender (Islamic Feminism). Keahliannya diperkuat dengan studi sebelumnya pada S2 Sosiologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Saat ini, bidang kepakaran utamanya berfokus pada Pendidikan Multikultural dalam konteks Pendidikan Agama Islam (PAI) dan mengintegrasikan

Prof. Dr. Sidik Jatmika, MSi

Prof. Dr. Sidik Jatmika, MSi adalah Guru Besar Keamanan Manusia (Human Security Diplomacy) dan ahli Sosiologi Hubungan Internasional, Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Indonesia. E-mail : sidikjatmika @umy.ac.id. Mobile phone: 081 827 9041. Pada 1993 sebagai delegasi Indonesian pada Asia-Pasific Youth Conference at Bangkok and Chiang Mai, Thailand. Sejak 1993 – 2026 ( 33 tahun) sebagai Penasihat Persatuan Mahasiswa Islam Patani (Selatan Thailand) di Indonesia. Mampu berbahasda Melayu – Pathani ( Kecek Nayu Taning) dan sedikit Bahasa Thailand. Penulis 60 buku, termasuk “Indonesia Rak Thai: Long Journey of of Indonesia-Thailand Happy Sisterhood” (2022). Pada 21 April 2025 menyampaikan pidato pengukuhan Guru Besar berjudul: “MUHAMMADIYAH SCHOOL OF THOUGHT: Diplomasi Keamanan Manusia sebagai elaborasi kajian Hubungan Internasional perspektif Islam dan Keindonesiaan yang moderat, berkemakmuran serta berkeadilan.”