TERNATE: KOTAKU, RUMAHKU Catatan-Catatan Sosiologis

Risalah kecil ini menghimpun tulisan-tulisan dengan tema Kota Ternate. Tulisan ini merupakan refleksi penulis yang sangat menarik untuk dibaca. Kota Ternate merupakan kota kecil, dengan banyak hal yang menarik untuk ditulis dan direfleksikan sebagai catatan-catatan sosiologis.

Catatan-Catatan Sosiologi untuk Kota Ternate

Tidak sebagaimana laiknya buku-buku mengenai Kota Ternate yang umumnya mengulas sisi sejarah, buku ini tidak memiliki otoritas dan kompetensi memberikan sebuah penilaian “sejarah” namun hanya memaparkan tafsiran dan pandangan sederhana tentang realitas Kota Ternate selama ini.

Dengan istilah lain, saya mencoba menangkap “gerak tubuh kota” yang memproduksi ciri khas sebuah perkotaan melalui catatan sosiologis. Kota Ternate merupakan kota kecil, memang tidak dapat disepadankan dengan kota-kota menengah atau kota lain yang ada di Indonesia. Selain keterbatasan lahan, kota ini terbentuk dengan kondisi yang sudah terpola sejak lama, termasuk pengaturan tata ruang yang luasnya tidak lebih dari 43 Km.

Dengan kondisi yang demikian, kota ini tanpa disangka justru memiliki proses urbanisasi yang demikian rumit dan dinamis. Yang kemudian, menghasilkan warga masyarakat urban. Ungkapan Henri Lefevbre dalam bukunya: The Urban Revolution (2003:1) memberikan penegasan tentang hal ini, bahwa masyarakat urban merupakan masyarakat yang dihasilkan dari proses urbanisasi yang lengkap. 

Sekalipun urbanisasi saat ini masih bersifat virtual (maya), namun akan menjadi suatu kenyataan di masa depan. Memang, banyak hal yang mengiringi perjalanan kota dalam wujudnya yang ada saat ini. Di antaranya, soal identitas yang belum terlihat dengan tegas, walau telah mengambil tema: Rempah. 

Namun hal itu, secara pejal, belum menggambarkan bagaimana rempah menjadi kekuatan. Sebaliknya, proses urbanisasi di Kota Ternate berjalan begitu kontradiktif. Perhatikan bagaimana soal makanan, terjadi kontestasi yang begitu kasat mata. Lalu, bangunan-bangunan (rumah) yangmengisi ruang-ruang kota sama sekali kurang mengapresiasi model bangunan khas yang menjadi ciri kultur Kota Ternate, dan itu tak pernah ada. 

Kota kemudian berjalan dengan tanpa memori, tanpa tradisi yang kuat. Kota bukan hanya persoalan sosiologi perkotaan tetapi juga sosiologi secara umum. Karena itu, karakteristik kota di suatu masyarakat berbeda dengan karakteristik di masyarakat lain atau pada periode sejarah yang lain. (Evers dan Korff, 2002:10).

Perjalanan Kota Ternate dari masa ke masa, menunjukkan suatu karakteristik yang beragam, walau pun tetap berpangkal pada nilai-nilai adat tradisi sebagai akar sejarah kehadiran kota ini. Hal yang sangat disadari bersama, bahwa proses perkembangan Kota Ternate dari waktu ke waktu yang terus menerus mengalami peningkatan pembangunan, terutama pembangunan fisik, menjadikan wilayah kota, dalam hal ini lahan kota kian menyempit, padat, dan sesak (Oesman, 2014).

Kota, sebagaimana dinyatakan Hans-Dieter Evers, merupakan suatu pemusatan penduduk di dalam wilayah yang sempit. Karena itu, kota menjadi pusat produksi barang atau jasa, yang tidak dikonsumsi secara individual, melainkan secara kolektif…pertumbuhan kota yang pesat itu dapat
diterangkan dengan migrasi (Evers, 1985:10-11).

Kota Ternate harus dihadirkan sebagai “Kota” (dengan K besar) dan sekaligus sebagai “Rumah” (dengan R besar), sehingga di kota ini, tautan sosial melalui interaksi dan komunikasi tetap terjaga. Pun demikian halnya kontestasi atau kompetisi dalam ruang publik tetap berada dalam koridor yang sehat, sehingga tidak ada sakit hati, marginalisasi, atau merasa diabaikan. Kota Ternate harus menjadi bagian dari
kehidupan generasi saat ini dan di masa mendatang, sebagai bagian untuk membangun peradaban. 

Risalah kecil sederhana ini tidak hendak menawarkan konseptualisasi rumit tentang kota. Tulisan-tulisan yang ada dalam buku ini hanya lebih merupakan sebuah sisi lain yang saya amati mengenai Kota Ternate. Tentunya, tidak semua yang terurai dalam buku ini mewakili “ruh” Kota Ternate.

Karena itu, risalah kecil menghimpun tulisan-tulisan dengan tema Kota Ternate, merupakan refleksi saya, disadari masih memiliki kelemahan dan kekurangan pada beberapa bagian. Kelemahan dan kekurangan itulah yang harusnya menjadi sisi penting untuk dikembangkan lebih jauh. Boleh jadi, sisi itu yang perlu disulam dan dijahit kembali untuk penyempurnaan buku kecil ini, sekalipun saya menyadari, bahwa tidak ada buku yang sempurna.

Sebagai catatan, kumpulan tulisan yang berserakan ini, tentu akan terjadi pengulangan bahasan. Inilah salah satu titik krusial dari risalah ini. Saya berharap hal itu tidak menghalangi untuk terus menelusuri tulisan-tulisan yang ada dalam risalah ini.

Kiranya, segala kelemahan risalah kecil sederhana ini, dalam hal ini kontennya, sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya. Terima kasih kepada semuanya yang telah ikut—secara tidak langsung lahirnya risalah ini. Akhirnya, kepada orangtua dan keluarga kecil saya, buku ini saya persembahkan. Semoga
bermanfaat. Ternate, Akhir Februari 2025 (Herman Oesman dalam Pengantar Buku Ini)

Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!

DAFTAR ISI

Daftar Isi 1
Daftar Isi 2
Daftar Isi 3
Daftar Isi 4
Previous
Next

Spesifikasi Buku

Cetakan I, Februari 2025;  196 hlm, ukuran 15,5 x 23 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, jilid lem panas (soft cover) dan shrink bungkus plastik.

Harga Buku

Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu +– 3 hari setelah pembayaran.

Rp 135.000

Rp 119,400

Tentang Penulis

Herman Oesman

Herman Oesman, lahir di Bitung 56 tahun lalu dan dibesarkan di Tobelo, Halmahera Utara, telah menikah dengan 3 anak. Saat ini bekerja sebagai Dosen Tetap pada Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dan Dosen Pascasarjana (S2) Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. Menyelesaikan pendidikan SD Negeri (1981), SMP Negeri (1984), SMA Negeri (1987) di Tobelo, dan menamatkan FISIP Sosiologi Universitas Pattimura Ambon (1994). Menempuh S2 Sosiologi di Departemen Sosiologi FISIP Universitas Indonesia (2005), dan S3 Sosiologi di FISIP Universitas Indonesia (2015). Pengalaman Pekerjaan: Bekerja sebagai Redaktur pada Tabloid Mingguan Ternate Pos (2000 – 2002), Bekerja sebagai Redaktur Tabloid Berita Mingguan Aspirasi (2002 – 2005); Dosen Program Studi Sosiologi FISIP UMMU dan: Dosen Pascasarjana UMMU (2001 – sekarang).