PENDIDIKAN SEBAGAI STRATEGI KEBUDAYAAN

Buku ini memberikan referensi yang berguna bagi mahasiswa, tenaga medis, maupun praktisi di bidang laboratorium medik, agar mereka dapat meningkatkan keterampilan dan pemahaman mereka mengenai alat-alat medis yang menjadi bagian penting dalam dunia kesehatan

Merawat dan Mentransformasikan Budaya Lokal

Pendidikan bukan sekadar transmisi pengetahuan dari generasi tua ke generasi muda. Ia adalah proses kebudayaan itu sendiri—sebuah mekanisme dinamis untuk mempertahankan, mentransformasikan, dan mengkonstruksi makna kehidupan bersama. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, pendidikan memegang peranan strategis dalam merawat dan menghidupkan kembali budaya lokal yang semakin terdesak oleh arus globalisasi dan homogenisasi nilai. Buku ini lahir dari kesadaran penulis sendiri akan urgensi menjadikan pendidikan sebagai alat utama dalam strategi kebudayaan, khususnya dalam konteks lokalitas yang sarat nilai, kearifan, dan identitas.
Budaya lokal merupakan sistem pengetahuan, nilai, simbol, dan praktik yang hidup dan tumbuh dalam komunitas tertentu. Clifford Geertz (1973) menyebut budaya sebagai sistem makna yang diwujudkan dalam simbol, yang membentuk struktur kehidupan sosial. Dalam masyarakat Indonesia, budaya lokal bukan hanya warisan nenek moyang, melainkan juga cara hidup yang membentuk identitas dan orientasi kolektif. Di sinilah letak pentingnya pendidikan sebagai strategi kebudayaan, bukan sekadar menanamkan keterampilan, tetapi juga merawat jiwa kolektif masyarakat melalui pewarisan nilai, bahasa, seni, dan pengetahuan lokal.
Namun, tantangan besar tengah dihadapi. Seiring dengan modernisasi dan globalisasi, terjadi pergeseran nilai dan dislokasi budaya. Sekolah—sebagai institusi formal pendidikan—sering kali
lebih sibuk memenuhi tuntutan standar nasional dan internasional, tetapi luput menggali potensi budaya lokal sebagai sumber belajar yang hidup dan kontekstual. Padahal, pendidikan yang membebaskan haruslah dimulai dari realitas dan pengalaman hidup peserta didik.
Dalam konteks Indonesia, ini berarti pendidikan harus bertolak dari akar budaya lokal, bukan semata mengadopsi model pendidikan luar yang belum tentu sesuai dengan konteks sosiokultural masyarakat.
Mengapa budaya lokal penting dalam strategi pendidikan? Karena di sanalah terkandung nilai-nilai kearifan yang telah teruji oleh waktu. Misalnya, praktik musyawarah dalam budaya Minangkabau, falsafah masohi di Maluku, semangat gotong royong di Jawa dan Bali, atau konsep adat dan syara’ bersendikan kitabullah di Sumatera Barat. Dan juga Maluku Utara yang dikenal dengan Pangaji. Nilai-nilai ini tidak hanya relevan untuk membangun masyarakat yang adil dan beradab, tetapi juga sangat kontekstual untuk membentuk karakter dan kepribadian bangsa yang berakar pada jati dirinya.
Sayangnya, banyak kebijakan pendidikan nasional belum secara serius memberi ruang bagi budaya lokal. Kurikulum nasional cenderung seragam dan tidak cukup fleksibel untuk mengakomodasi perbedaan kultural yang ada di berbagai daerah. Beberapa studi memang menunjukkan, bahwa pengajaran budaya lokal di sekolah-sekolah Indonesia umumnya bersifat simbolik dan seremonial, tidak dijadikan sebagai bagian integral dari proses pembelajaran. Hal ini menyebabkan terjadinya alienasi kultural di kalangan generasi muda, terutama di era digital, di mana mereka tumbuh dalam sistem pendidikan yang tidak merefleksikan kehidupan budaya mereka sendiri.
Di sinilah pentingnya pendekatan pedagogi kontekstual dan partisipatif. Pendidikan harus mampu mengintegrasikan budaya lokal ke dalam kurikulum, metode, dan materi ajar. Hal ini sejalan dengan
pendekatan pendidikan multikultural yang menekankan pentingnya mengenali dan mengapresiasi keragaman budaya dalam proses pendidikan. Di Indonesia, upaya ini mulai terlihat dalam kebijakan
muatan lokal (mulok), namun implementasinya masih memerlukan penguatan, baik dari sisi kebijakan, sumber daya manusia, maupun dukungan masyarakat.
Buku yang ditulis praktisi pendidikan, tokoh Muhammadiyah Maluku Utara, serta Rektor Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (Periode 2009-2013, 2003-2017), yang sekarang berkiprah sebagai
Wakil Bupati Halmahera Utara, Dr. Kasman Hi. Ahmad, M.Pd., dalam karyanya ini mencoba menempatkan pendidikan dalam kerangka kebudayaan, dengan memberi perhatian khusus pada bagaimana
budaya local, yang disebut Pangaji, dapat dijadikan fondasi dan sumber inspirasi dalam proses pembelajaran. Sub bahasan tentang budaya lokal dalam buku ini akan mengeksplorasi berbagai pendekatan, praktik,dan studi kasus tentang integrasi budaya lokal (Pangaji) ke dalam pendidikan, baik di tingkat formal maupun nonformal. Tujuannya adalah membangun kesadaran bahwa pendidikan yang berpihak pada kebudayaan lokal bukanlah suatu romantisme, melainkan strategi penting untuk membangun masyarakat yang berdaulat secara kultural.
Sebagai contoh, pembelajaran yang mengangkat cerita rakyat setempat, penggunaan bahasa ibu dalam pembelajaran awal, revitalisasi permainan tradisional sebagai metode pembelajaran aktif, hingga integrasi praktik pertanian lokal dalam kurikulum sains, merupakan wujud konkret pendidikan berbasis budaya. Hal-hal ini tidak hanya memperkaya pembelajaran, tetapi juga memperkuat rasa memiliki dan identitas kultural siswa.
Akhirnya, pendidikan sebagai strategi kebudayaan harus dilihat sebagai jalan panjang menuju transformasi sosial yang berkelanjutan. Ia memerlukan dukungan dari semua pihak—pendidik, pembuat
kebijakan, orang tua, dan masyarakat luas. Seperti diungkapkan oleh Ki Hadjar Dewantara (1935), “pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak, maksudnya menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.”
Buku ini merupakan undangan untuk melihat pendidikan dari sudut pandang yang lebih luas dan mendalam, bukan sekadar alat teknokratik untuk mencetak tenaga kerja, tetapi sebagai strategi
kebudayaan yang menumbuhkan manusia Indonesia yang berakar, terbuka, dan kreatif. Mari kita bersama-sama menjadikan pendidikan sebagai ladang subur bagi tumbuhnya budaya lokal, bukan kuburan sunyi tempat nilai-nilai leluhur dikuburkan oleh keseragaman system

Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!

DAFTAR ISI

Daftar Isi 1
Daftar Isi 2
Daftar Isi 3
Daftar Isi 4
Datar Isi 5
Previous
Next

Spesifikasi Buku

Cetakan I, Juli 2025;  168 hlm, ukuran 15,5 x 23 cm, kertas isi Bookpaper hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, jilid lem panas (soft cover) dan shrink bungkus plastik.

Harga Buku

Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.

Rp 120.000

Rp 109,000

Tentang Penulis

Dr. Kasman Hi. Ahmad, M.Pd.,

Merupakan sosok multitalenta. Selain dikenal sebagai akademisi, pendakwah, penulis, juga dikenal sebagai politikus yang mulai bersinar di panggung sejarah politik Maluku Utara.
Memulai pendidikan formal pada Madrasah Ibtidaiyah (1984) dan Madrasah Tsanawiyah Swasta Porimoi di Gorua (1987). Kemudian melanjutkan studi pada Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Ternate (1990). Tamat PGAN, memasuki Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin Ternate (Sekarang IAIN Ternate) Program Studi Pendidikan Agama Islam (1995). Tahun 1998 diangkat sebagai Dosen Negeri pada STAIN Ternate. Tahun 2007 menyelesaikan studi S2 pada Pasca Sarjana Magister Administrasi Pendidikan (MAP) Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (Uhamka-Jakarta), dan melanjutkan S3 Doktoral pada Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dengan konsentrasi pada Manajemen Pendidikan (Selesai 2013).
Semasa mahasiswa aktif sebagai Ketua I Senat Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin Ternate. Sekretaris Umum PC. IMM Maluku Utara (1991-1993), Ketua Umum PC. IMM Maluku Utara (1993-1995), Ketua Umum PD Pemuda Muhammadiyah Maluku Utara (1996- 2000), Anggota Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam PD Muhammadiyah Maluku Utara (1996-2000), Wakil Sekretaris PW Muhammadiyah Maluku Utara (2001-2005), Sekretaris Umum MUI Maluku Utara (2001-2005), pernah aktif sebagai Wakil Sekretaris DPD KNPI Tk. II Maluku Utara (1995-1998), Wakil Ketua DPD KNPI Tk. II Maluku Utara (1998-2000). Tahun 2001, dipercayakan sebagai Sekretaris Tim Pendiri Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, lalu menjadi Karo Akademik dan Kemahasiswaan, serta sebagai Plt. Pembantu Rektor I UMMU di samping sebagai staf pengajar. Pada 5 September 2009 dilantik sebagai Rektor UMMU (Periode 2009-2013), dan aktif sebagai Ketua PW Muhammadiyah Maluku Utara (2010-2015). Tahun 2021, Bapak tiga anak, dan kakek satu cucu ini, dipercayakan sebagai Ketua ICMI Orwil Maluku Utara (Periode 2021- 2026), di samping itu juga terpilih sebagai salah satu Pimpinan 13 PW Muhammadiyah Maluku Utara (Masa Khidmat 2023-2027). Dan, pada Pilkada Kabupaten Halmahera Utara Tahun 2024, terpilih bersama Dr. Piet Hein Babua sebagai Pasangan Bupati/Wakil Bupati Halmahera Utara (Periode 2025 – 2030) dengan meraih 37.775 suara atau 36,17% dari total suara sah.
Pada Musyawarah Partai Amanat Nasional Maluku Utara beberapa waktu lalu, Dr. Kasman Hi Ahmad, M.Pd., resmi menjadi Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Amanat Nasional (PAN) Provinsi Maluku Utara, berdasarkan SK Nomor PAN/A/Kpts/KU-SJ/035/ VI/2025.