AKU TAK LAGI MENYEBUT NAMAMU Kisah tentang kehilangan, penerimaan, dan cinta yang pulang dengan tenang
Jika hatimu pernah diam-diam menangis, mungkin ini buku yang diam-diam kamu butuhkan

Luka yang Mengajarkanku Mencintai Lagi
Saat hati patah, dunia terasa sempit. Dan ketika seseorang yang pernah kita cintai sepenuh jiwa memilih pergi, rasanya seperti sebagian dari diri kita ikut lenyap bersamanya.
“Aku Tak Lagi Menyebut Namamu” adalah perjalanan tentang kehilangan, perjuangan, luka, dan akhirnya… penyembuhan. Sebuah kisah yang lahir dari diam-diam yang menangis, dari puisi yang tak pernah terkirim, dan dari harapan yang dipendam dalam ruang paling sunyi hati.
Cerita ini bukan hanya tentang cinta yang gagal, tapi tentang bagaimana kita memilih untuk tetap berdiri setelah dihancurkan. Tentang menerima bahwa tidak semua yang kita cintai akan bertahan, dan tidak semua luka harus dihindari— karena kadang, luka adalah guru terbaik tentang siapa kita
sebenarnya.
Kisah Aina, Okta, dan Ari bukan tentang cinta segitiga. Ini adalah tentang keberanian mencintai lagi, setelah semua retak yang pernah ada. Ini adalah tentang memilih seseorang yang tinggal, bukan hanya yang datang.
Saya menulis ini dengan hati yang pernah hancur, dan semoga Anda membaca ini dengan hati yang siap untuk sembuh.
Terima kasih telah memberi waktu, ruang, dan kepercayaan untuk kisah ini hidup di dalam halaman-halaman berikutnya.
Semoga setiap kata yang Anda temui bisa menjadi pelukan kecil untuk hari-hari yang terasa sepi.
Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!
DAFTAR ISI


Spesifikasi Buku

Cetakan I, Juli 2025; 120 hlm, ukuran 14 x 20 cm, kertas isi Bookpaper hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, jilid lem panas (soft cover) dan shrink bungkus plastik.
Harga Buku
Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.
Rp 100.000
Rp 74,900

Tentang Penulis

Duta Marlianti
Penulis tumbuh besar di Purworejo. Kini, ia tinggal dan mengajar Matematika di sebuah Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Gunungkidul, Yogyakarta. Menulis adalah caranya mengurai perasaan yang tak sempat terucap, sekaligus merawat luka agar tak membusuk dalam diam. Bagi Duta, setiap kehilangan dan patah hati menyimpan cerita yang layak diabadikan bukan untuk membuka luka, tapi untuk mengingat bahwa seseorang pernah berani mencinta sepenuhnya. “Aku Tak Lagi Menyebut Namamu” adalah salah satu karya yang ia tulis dari tempat paling jujur di dalam dirinya. Kisah ini lahir dari ingatan tentang masa SMA, tentang cint yang tidak bisa tinggal, dan tentang bagaimana seseorang belajar sembuh dengan tetap menjadi dirinya sendiri. Saat tidak menulis atau mengajar, Duta menikmati waktu dengan membaca, mencatat langit senja, dan mendengarkan lagu-lagu pelan yang membuatnya merasa pulang.