Sepatu Kecil di Depan Pintu
Melalui imajinasi yang liar namun dekat dengan keseharian, cerpen-cerpen Gus Muchibin dalam buku ini mengajak kita menyelami kisah-kisah yang mengejutkan, menggugah, dan sulit dilupakan.

Kredo Puisi Bagus Penjaga Suasana Hati
Apa yang harus dilakukan orang setiap harinya? Pengarang legendaris Jerman Johann Wolfang von Goethe menyebut empat hal. Pertama mendengar lagu indah. kedua membaca puisi bagus, ketiga melihat lukisan, keempat mengucapkan kata-kata masuk akal.
Kriteria yang disarankan Goethe sangat jelas: bagus. Artinya bukan yang tidak bagus atau jelek. Harus indah. Saran logis. Mendengarkan lagu tidak bermutu malah akan merusak mood. Tidak memunculkan bahagia. Justru mencuatkan duka lara. Begitu juga dengan puisi. Hanya puisi bagus yang bisa mengalirkan kebahagiaan yang bermuara menebalkan kecerdasan. Puisi acak-acakan asal tulis, jika dibaca malah bikin emosi. Realitas ini benar terjadi. Pun dialami berkali-kali para penyuka puisi.
Ukuran puisi bagus memang beragam. Tergantung masing-masing orang. Namun secara umum, ada tiga yang selalu jadi acuan: tema, diksi, dan logika. Puisi berkualitas harus kuat di tiga hal itu.
Meski baru bermula, puisi-puisi Anggara Deni Anugrah sudah menerbitkan selera. Layak dibaca. Kekuatannya nampak. Dari tema dan kelincahan mengolah diksi. Anggara juga punya napas panjang. Puisinya tidak hanya beberapa larik. Menegaskan, Anggara sangat menikmati proses menulis. Hingga lahir puisi-puisi panjang. Seperti Wujudku Tergantung Namamu,Tinta yang Tak Kering di Helaan Waktu, Lonceng Terakhir, Barisan di Bawah Matahari 30, Menit Bersama Tembok, Yang Tertinggal di Tanggal Hari Ini, Peta yang Tak Pernah Diberi Kompas.
Anggara juga punya ciri khas menarik. Memungut tema yang tak terpikir para penulis pemula. Contohnya, membahas sebuah sepatu.
Sepatu kecil di depan pintu,
Masih tertinggal jejak tanah basah
Serpih kenangan
Tentang pagi yang sibuk oleh tawa
Demikian luas daya imaji Anggara. Lingkup pribadi yang biasanya menjadi tema para penulis remaja, tidak harus dijejali dengan atmosfer cinta. Puisi Anggara justru jauh dari hal remeh itu. Lewat puisi Sepatu Kecil di Depan Pintu, Anggara ingin mengungkit kenangan masa kecil.
Sepatu itu pernah berlari di lorong rumah
Memburu cahaya matahari
Dengan langkah yang belum tahu arah Sepatu kecil ,yang kini diam menunggu,
Barangkali menyimpan getar hari yang tak akan terulang
Tak itu saja. Anggara juga kepikiran mengurai boneka kayu.Tema umum yang jauh dari kesan klise. Benda yang selalu menggiring kemunculan kenangan.
Boneka kayu tak tumbuh seperti aku,
Masih menyimpan suara
Anak kecil yang memanggil pulang
Di sekolah ,penghapus papan tulis menjadi benda berguna. Di imaji Anggara, penghapus menguarkan filsafat tinggi. Seperti ditulis di puisi Penghapus yang Tak Pernah Bersih
Menyeka jejak dosa dari papan
Tapi sisa-sisa masa lalu tetap membekas
Seperti janji-janji yang tak bisa dihapus
Dari ruang yang selalu sama
Tiap kali kembali putih
Ada hitam menunggu
Menghujani dengan angka dan huruf
Tak ingin diingat
Dapatkan Bukunya Sekarang Juga!
DAFTAR ISI



Spesifikasi Buku

Cetakan I, Juli 2025; 89 hlm, ukuran 14 x 20 cm, kertas isi HVS hitam putih, kertas cover ivory 230 gram full colour, jilid lem panas (soft cover) dan shrink bungkus plastik.
Harga Buku
Sebelum melakukan pembayaran, cek ketersediaan stock kepada admin. Jika buku out of stock pengiriman membutuhkan waktu – 3 hari setelah pembayaran.
Rp 120.000
Rp 67,600

Tentang Penulis

Anggara Deni Anugrah
aktif menulis puisi dan terlibat dalam berbagai kegiatan seni dan literasi di Yogyakarta. Menggunakan nama pena Anggara, ia tinggal di Gatak, Timbulharjo, Sewon, Bantul, dan saat ini tercatat sebagai mahasiswa Universitas Gadjah Mada pada jurusan Manajemen dan Penilaian Properti.
Karyanya telah dipublikasikan di media cetak dan online, serta tergabung dalam beberapa buku antologi puisi bersama, di antaranya Sekuncuo Doa untuk Ibu, Ruang Kerja Tuhan, Lah, Kok?, Melodi Kehidupan, dan Tentang Kita.
Dalam dunia seni dan literasi, Anggara aktif sebagai anggota gerakan literasi #SelasaSastra, sekretaris Paguyuban Sastrawan Bantul (Saban), serta aktor dalam Paguyuban Pelaku Seni Ujwala SMKN 1 Bantul. Selain itu, ia juga aktif mempromosikan kegiatan sastra di kalangan pelajar, serta berkecimpung dalam proses alih wahana karya sastra ke bentuk pertunjukan dialog dan teater.
Sejak tahun 2022, Anggara terlibat dalam pelaksanaan Festival Sastra Yogyakarta (wilayah Bantul) dan turut menjadi promotor berbagai kegiatan sastra di lingkungan sekolah dan komunitas.