Dasar-Dasar Ilmu Sosial (Best Practice & Lesson Learn)

Samudrabiru – Penerbitan karya ini tak lepas dari bantuan Universitas Negeri Yogyakarta. Melalui program kompetitif penulisan buku UNY telah mendorong semua dosen untuk menulis, terutama buku teks mata kuliah.

Lahirnya buku Dasar-Dasar Ilmu Sosial (Best Practice & Lesson Learn) ini merupakan bagian dari proses pendidikan berbasis teks. Buku ini ditulis berdasarkan rancangan perkuliahan yang tertuang dalam Rencana Pembelajaran Semester (RPS) mata kuliah Dasar-dasar Ilmu Sosial.

Mata kuliah ini merupakan bagian yang harus diambil mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial (FIS). Mata kuliah ini dirancang sebagai upaya membekali mahasiswa dalam menghadapi perubahan di masa yang akan datang. Mata kuliah ini juga diberikan sebagai bekal memahami realitas sosial.

Sebagai mahasiswa ilmu sosial diharapkan memahami konteks masalah yang timbul di masyarakat dan mengurainya melalui teori sosial yang ada. Tidak hanya itu, mahasiswa juga diharapkan mampu menerapkan teori sosial yang ada guna mengurai masalah yang ada di tengah masyarakat. Inilah yang meminjam istilah Fazlurahman sebagai double movement. Memahami teks ke konteks, dan konteks ke teks.

Sebagai ikhtiar akademik, karya ini tentu tidak sempurna. Masih banyak kekurangan di sana-sini. Terutama dalam menyusun sebuah kerangka akademik yang urut dan runut. Sebagai bacaan dan jawaban dari persoalan yang muncul di tengah masyarakat medio 2009 sampai 2016 tidak semua problem ditulis dalam karya ini.

Hanya persoalan yang menjadi polemik atau perbincangan hangat di tengah masyarakat. Tulisan-tulisan di dalam buku ini pun hanya diulas dengan teori-teori sederhana. Artinya, persoalan yang muncul diurai dengan pendekatan ilmu sosial yang mungkin telah jamak ada. Namun, tulisan ini memberi perspektif tentang bagaimana ilmu sosial memberi kontribusi positif dalam upaya mengurai persoalan masyarakat.

Lebih dari itu ilmu sosial mempunyai tangung jawab sosial untuk bersama (tumbuh kembang) bersama persoalan yang selalu muncul. Buku ini dirancang dimulai dari perbincangan persoalan rumah tangga dan keluarga. Sebagaimana ungkapan Mazhab Frankfrut keluarga merupakan modal perubahan sosial.

Dari keluargalah kebangkitan atau keterpurukan akan terjadi. Perbincangan dari keluarga inilah yang akan menjadi benteng bagi tegaknya sebuah kedaulatan negeri. Keluarga yang hebat akan melahirkan anak-anak kuat yang menjadi tulang punggung bangsa dan negara.

Setelah berbincang tentang keluarga beranjak pada komunitas masyarakat yang lebih besar yaitu desa dan kota. Desa merupakan entitas masyarakat yang penuh dengan sikap toleran, ikatan kekeluargaan yang erat, penuh penghormatan satu sama lain, dan juga sikap saling menghargai yang mudah kita temui di setiap sudut desa.

Inilah modal bangsa dalam membangun kedaulatan dan kebangsaan.
Demikian pula dengan kota. Kota adalah kumpulan orang cerdik pandai. Di sinilah sebuah keadaban dibangun. Kota merupakan potret dan wajah sebuah bangsa dan negara. 

Maka tidak aneh jika ada sebutan kota merupakan wajah peradaban. Saat kota baik maka peradaban yang terbangun juga sehat. Pembahasan selanjutnya terkait dengan pemerataan pembangunan.

Pembangunan selayaknya bertumpu pada potensi sumber daya manusia. Artinya, pembangunan mesti memikirkan masa depan sebuah peradaban. Pembangunan tidak harus dimaknai dalam arti fisik. Namun, pembangunan juga perlu diarahkan pada pemaknaan nonfisik.

Inilah esensi pembangunan yang sebenarnya. Membangun fisik memang penting, namun pembangunan nonfisik juga jauh lebih penting. Melalui pembangunan nonfisik, maka pemerataan akan menjadi sebuah keniscayaan. Pemerataan bukan sekadar berarti bentuk keberpihakan, namun juga merupakan wujud dari keadilan.

Setelah membahas pembangunan dan pemerataan, pembahasan selanjutnya adalah tentang persoalan sumber daya manusia, sumber daya alam dan kebencanaan.

SDA dan SDM perlu bersinergi menjadi alam agar tetap lestari. Manusia perlu memahami bahwa bumi yang kita pijak tidak pernah “melar”. Bumi tetap dan tidak bertambah luas. Namun, jumlah manusia semakin banyak.

Banyaknya manusia di tengah tidak ada penambahan luas bumi tentu menimbulkan masalah. Masalah tidak hanya terkait ketersediaan lahan, namun juga masalah pangan dan endemik penyakit. Manusia perlu mengelola alam sehingga tetap mampu menyediakan hal-hal yang dibutuhkan manusia.

Jika tidak maka alam akan punah karena ulah manusia. Oleh karena itu menjadi simbiosis mutualisme antara manusia dan alam menjadi sebuah keniscayaan. Persoalan masyarakat yang sering muncul juga adalah gesekan konflik yang seringkali didasari oleh sentiment suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA).

Konflik SARA perlu diurai guna membangun harmoni. Membiarkan konflik terjadi maka bangsa Indonesia akan kehilangan masa depan yang gemilang. Konflik atas nama apapun apalagi SARA bukanlah watak bangsa. Oleh karena itu, perlu akal waras, hati tulus, dan tindakan nyata mewujudkan sebuah tatanan kehidupan yang beradab.

Saat masyarakat telah terbangun cita keadabannya, maka ia akan mudah mengurai persoalan kriminalitas yang muncul. Problem kriminalitas muncul karena masyarakat tidak saling percaya. Persoalan ketidakpercayaan yang kemudian disulut oleh problem pribadi menjadi seseorang nekat melakukan pelanggaran.

Pelanggaran kriminalitas membutuhkan penegakan nilai kemanusiaan, sehingga setiap orang dapat berdiri atas nama manusia yang memiliki akal dan rasa. Kriminalitas yang sering muncul disebabkan oleh kemanusiaan yang hilang. 

Manusia kembali menjadi pengerkah, serigala yang garang dan rakus. Padahal manusia sudah dianugerahi akal budi agar kembali kepada kemanusiaan utama (homo homini socius).

Perwujudan homo homini socius inilah yang akan menjamin kehidupan penuh keadaban. Hukum pun akan tegak karena aparat penegak hukum berdiri di jalur keadilan. 

Hukum pun akan menjadi panglima keadilan, karena ia tidak pandang bulu. Ia menjadi pisau yang tajam ke atas maupun ke bawah.
Saat hukum telah tertata berbasis keadilan, maka demokrasi dan penegakan hak asasi manusia akan mengikuti.

Artinya, demokrasi dan HAM akan menjadi sebuah teorisasi yang mewujud. Demokrasi akan menjamin kehidupan berbangsa dan bernegara. Demikian pula dengan HAM, ia akan menjamin hak-hak individu dalam berbangsa dan bernegara.

Hal tersebut di atas perlu didukung oleh sistem pendidikan yang kuat. Pendidikan merupakan pengangkatan manusia muda ke taraf insani. Melalui pendidikan manusia akan memahami potensi diri dan kondisi lingkungannya. Pendidikan yang baik akan melahirkan generasi muda hebat dan berkarakter.

Pendidikan perlu diarahkan pada kondisi pemanusiaan, yaitu upaya nyata mewujudkan kehidupan penuh keadaban.

Semoga ikhtiar kecil ini bermanfaat dan menjadi nilai ibadah bagi saya. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terbitnya buku ini, terutama kepada istri dan anak-anak saya yang dapat memahami “kesibukan” ayahnya. Terima kasih. Selamat membaca. (Penulis dalam pengantar bukunya)

Judul Buku : Dasar-Dasar Ilmu Sosial (Best Practice & Lesson Learn)
Penulis : Benni Setiawan
Penerbit : Samudra Biru
Cetakan : I Desember 2017
Dimensi : xviii + 231 hlm, 14 x 20 cm
Harga : Rp