Self Publishing: Kupas Tuntas Rahasia Menerbitkan Buku Sendiri

https://3.bp.blogspot.com/-nMj5x-WfEbE/T2k4Onk9q0I/AAAAAAAAAQs/n-K0c-RRuVI/s72-c/self%2Bpublishing%2BFilm.jpg click to zoom
Ditambahkan 21.41
Kategori Percetakan Produk Reguler
Harga Rp 28.000 @ Pengantar Self Publishing di Era Cyberspace Oleh Hernowo (Penulis Buku Mengikat Makna) ...
Share
Hubungi Kami
Beli Sekarang

Review Self Publishing: Kupas Tuntas Rahasia Menerbitkan Buku Sendiri





























Rp 28.000 @


Pengantar
Self Publishing di Era Cyberspace
Oleh Hernowo
(Penulis Buku Mengikat Makna)

Para guru, dosen, penulis, wartawan, yang banyak terlibat dalam pekerjaan tulis-menulis—yang tetap dianggap sebagai salah satu aktivitas kreatif yang penting bagi peradaban—bisa ikut menjawab pertanyaan aktual dewasa ini, ”Apakah copy-and-paste merupakan musuh berpikir?”….
—NINOK LEKSONO, Redaktur Senior Kompas

Saya menerima kiriman naskah Self Publishing: Kupas Tuntas Rahasia Menerbitkan Buku Sendiri pada Senin, 11 November 2010. Pada Jumat, 8 November, saya baru saja menghadiri acara peluncuran sekaligus perayaan program “99 Writers in 9 Days” di ajang Indonesia Book Fair (IBF) Jakarta. Saya pulang dari Jakarta ke Bandung dengan banyak sekali pertanyaan dan rasa kaget. Salah satu di antaranya adalah, ternyata, hanya dalam waktu sembilan hari, program tersebut dapat menjaring 120 lebih penulis. Bahkan, ada kabar, “server” pemilik program sempat “hang” karena saking berebutnya para penulis meng-upload naskah ciptaannya.

Apa itu program “99 Writers in 9 Days”? Program ini adalah program self publishing dengan memanfaatkan era cyberspace dan sistem pencetakan POD. Pihak penyedia program memberikan pelayanan penampungan naskah di internet dan para penulis dapat meng-upload naskahnya di penampungan tersebut sekaligus memprosesnya menjadi buku. Yang menarik, para penulis kemudian dapat menghitung sendiri berapa biaya produksinya dan berapa harga jual yang akan ditetapkannya. Program self publishing secara online ini digagas oleh Mizan Digital Publishing (MDP) bekerja sama dengan www.nulisBuku.com.

Para penulis yang ikut program “99 Writers in 9 Days” berasal dari mana-mana. Meskipun sebagian besar berasal dari Jakarta, ada juga yang berasal dari Medan, Palembang, Makassar, dan Surabaya. Beberapa penulis yang berhasil meng-upload naskahnya, yang berasal dari luar Jakarta, ada yang ikut meramaikan acara peluncuran program tersebut. Mereka ikut hadir karena pada saat peluncuran, ke-120 naskah yang berhasil masuk, diluncurkan dalam bentuk buku-cetak. Naskah-naskah itu dicetak sesuai pesanan—beberapa di antaranya ada yang dipesan 3, 5, dan 10 eksemplar.

Ternyata era penerbitan buku digital yang sudah merebak di Indonesia pada tahun 2010 ini, telah dibarengi dengan era penerbitan buku yang dicetak dengan sistem POD (Print on Demand). Dengan harga buku yang tidak terlalu mahal, naskah-naskah yang ikut program “99 Writers in 9 Days”, dapat diwujudkan dalam bentuk buku-cetak meskipun hanya dicetak dengan oplah 1 (satu)—ya, satu—eksemplar. Ber-barengan dengan acara tersebut, Penerbit Mizan pun menggelar buku-buku lama—yang pada tahun-tahun awal penerbitan Mizan merupakan buku best seller—yang dapat dipesan dalam bentuk POD.

Ketika saya mendapatkan kesempatan untuk membaca naskah Self Publishing karya Mas Miftachul Huda, saya pun sembari membayangkan era baru dalam penerbitan buku. Kebetulan, dalam daftar isi naskah Self Publising, khususnya di Bab I ”Ayo Nulis Buku”, ada sebuah tulisan dengan judul ”Mitos Ancaman E-Book”. Saya langsung membaca bab tersebut dan merasakan bahwa keadaan memang sudah berubah, tidak seperti dulu—sekitar lima atau sepuluh tahun lalu. Saya menemukan kata-kata menarik yang ditulis oleh Mas Miftachul Huda berikut ini:

”Ada pengalaman sosial psikologis yang tidak bisa tergantikan ketika membaca versi digital. Ketika membaca koran misalnya, saya ada kebiasaan agak unik. Saya memulai membaca dari halaman belakang. Entah kenapa, saya juga bingung apa sebabnya. Halaman demi halaman saya selami, tapi dari halaman belakang. Artikel-artikel kecil dan ringan yang berada di sela-sela halaman, saya lahap dan betul-betul bisa menikmatinya. Tapi, ketika membaca koran versi digitalnya, saya tidak bisa merasakan kenikmatan yang serupa ketika membaca versi cetak.”

Saya tentu sangat setuju dengan pendapat tersebut. Saya sendiri masih merasakan kenikmatan membaca versi cetak dan kenikmatan itu tak saya dapatkan ketika saya membaca versi digitalnya. Namun, saya menyadari sekali bahwa generasi yang lebih muda daripada saya, yang tumbuh saat ini, jauh lebih akrab dengan medium digital ketimbang medium kertas. Berkat game secara online, lalu ponsel layar lebar, iPad, laptop versi netbook, dan gadget lain yang akan terus berkembang dan bertambah kecanggihannya, generasi muda kita akan terbiasa membaca teks lewat medium digital! E (lectronic)-book akan lebih mereka akrabi ketimbang P(rint)-book.

Saya tak perlu membawa data yang dihasilkan dari riset Don Tapscott—lewat kedua bukunya, Growing Up Digital: The Rise of the Net Generation (1996) dan Grown Up Digital: How the Net Generation is Changing Your World (2008)—untuk menunjukkan bahwa, saat ini, telah tumbuh generasi Net yang sangat berbeda dengan generasi saya! Dan itu tidak hanya terjadi di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat misalnya, tetapi juga di Indonesia. Generasi tersebut, sekali lagi, tak lagi akrab dengan pembacaan teks lewat medium kertas—mereka telah terbiasa dengan medium digital.

Bagi saya, bukan soal teks itu akan dibaca (dinikmati) lewat kertas atau digital. Saya malah lebih merisaukan tentang apakah medium digital dapat juga ikut berperan dalam membangkitkan minat membaca-teks generasi Net itu? Saya khawatir bahwa dunia digital lebih dipenuhi oleh musik, gambar, dan hal-hal lain di luar teks. Jika toh ada yang menyukai teks, maka teks yang disukai itu adalah deretan teks yang ringan—yang tidak membebani ketika dibaca. Ini tentu hanyalah sebentuk kerisauan saya yang mungkin saja tidak berpijak pada sebuah penelitian yang sahih dan akurat.

Terlepas dari semua itu, saya tentu menyambut gembira dengan penerbitan buku Self Publishing ini. Buku ciptaan Mas Miftachul Huda ini—merujuk ke program “99 Writers in 9 Days”—merupakan sebentuk dukungan luar biasa untuk para penulis yang masih ragu dan grogi untuk menerbitkan karyanya. Buku ini, bagi saya, bagaikan cambuk yang dapat melecut keberanian siapa saja yang ingin menerjuni dunia tulis-menulis secara total—sebagaimana dikatakan sendiri oleh penulisnya dengan baik:

”Kehadiran buku ini, pada dasarnya, berusaha menjelaskan segamblang-gamblangnya ilmu self publishing yang masih gelap. Harapannya, buku ini bisa bermanfaat bagi mereka yang putus harapan karena tidak ada satu penerbit pun yang bersedia menerbitkan. Selain itu, buku ini juga bisa dimanfaatkan bagi siapa saja yang ingin mempunyai bisnis sampingan. Sebab ternyata self publishing juga bisa menjadi usaha sampingan dan bisnis yang menjanjikan.”

Nah, sedikit menambahkan data soal self publishing, saya ingin membuka rahasia di sini terkait dengan buku pertama saya, Mengikat Makna, yang terbit pada 12 Juli 2001. Meskipun ketika saya menerbitkan buku pertama saya itu, saya bekerja di Penerbit Mizan—yang waktu itu menjadi payung Penerbit Kaifa—saya ternyata tidak diberi kemudahan. Orang tentu banyak menyangka bahwa karena saya bekerja di situ, lantas saya dengan mudah dapat menerbitkan Mengikat Makna. Kenyataannya tidaklah demikian.

Buku pertama saya, Mengikat Makna, sesungguhnya ditolak oleh Penerbit Kaifa karena topiknya tidak ”sexy” alias tidak komersial. Meskipun begitu, saya tetap diberi peluang untuk bisa diterbitkan oleh Penerbit Kaifa, asalkan saya mendapatkan dana produksi untuk pencetakan buku tersebut dengan oplah sebanyak 3.000 (tiga ribu) eksemplar. Kebetulan, waktu itu ada program IKAPI yang memberi peluang untuk mendanai buku-buku yang tidak memenuhi selera pasar tapi buku itu penting untuk diterbitkan. IKAPI, kalau tidak salah, bekerja sama dengan Ford Foundation dalam program itu. Saya pun mengusulkan buku pertama saya, Mengikat Makna, ke program tersebut. Alhamdulillah, usulan saya diterima dan saya mendapatkan dana itu. Pada 12 Juli 2001, akhirnya, terbitlah buku pertama saya, Mengikat Makna.

Bayangkan saja jika waktu itu buku pertama saya batal terbit. Apa yang akan saya lakukan? Mungkin saya akan menerbitkan buku itu sendiri (self publishing) sebagaimana tatacaranya telah disampaikan dengan baik oleh Mas Miftachul Huda lewat buku Self Publishing ini. (Bandung, 1 November 2010
Hernowo)

Indentitas Buku
Judul Buku: Self Publishing: Kupas Tuntas Rahasia Menerbitkan Buku Sendiri
Penulis: Miftachul Huda
Penerbit: Samudra Biru
Cetakan: I, 2010
Dimensi: 142 hlm, 14 x 20 cm



Komentar