Rekonstruksi Ilmu-Ilmu Agama Islam

https://4.bp.blogspot.com/-NuDLs6fG_5M/Vx8Qw6yXdZI/AAAAAAAAAvk/cBiR53hOplUKkuPnoL10dIURxC1EPmI3QCK4B/s72-c/Rekonstruksi%2BIlmu%2BAgama_iv230_44x.jpg click to zoom
Ditambahkan 23.59
Kategori Percetakan POD Produk
Harga Kegelisahan para akademisi muslim dan mereka yang berkecimpung di dunia ilmiah akademik Islam tentang pentingnya rekonstruksi ilmu-ilm...
Share
Hubungi Kami
Beli Sekarang

Review Rekonstruksi Ilmu-Ilmu Agama Islam



Kegelisahan para akademisi muslim dan mereka yang berkecimpung di dunia ilmiah akademik Islam tentang pentingnya rekonstruksi ilmu-ilmu keislaman hakikatnya adalah kegelisahan peradaban Islam secara keseluruhan. Berbicara tentang ilmu-ilmu keislaman lazimnya memunculkan gambaran yang memilukan dalam pikiran kita tentang ketertinggalan, kemunduran, dan arah tujuan yang tidak jelas. Kepiluan ini muncul ketika ilmu-ilmu keislaman dihadapkan dengan modernisasi dan globalisasi yang ditandai dengan kemajuan sains Barat, khususnya ketika dikaitkan dengan kenangan masa kejayaan Islam dimasa lalu. Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam pernah menjadi kiblat ilmu pengetahuan dunia sekitar abad ke-7 sampai abad ke-15. Setelah itu, masa keemasan itu mulai melayu, statis, bahkan mundur hingga abad ke-21 ini.
Sebagai agen peradaban dan perubahan sosial, ilmu-ilmu keislaman mau atau tidak harus terlibat dalam atmosfir modernisasi dan globalisasi dan dituntut untuk mampu memainkan perannya secara dinamis dan pro-aktif. Keberadaannya diharapkan mampu memberikan kontribusi dan perubahan positif yang berarti bagi perbaikan dan kemajuan peradaban umat islam, baik pada dataran intelektual teoritis maupun praktis. Ilmu-ilmu keislaman bukan hanya sekedar proses transformasi nilai-nilai moral untuk membentengi diri dari akses negatif globalisasi dan modernisasi, tetapi yang paling urgen adalah bagaimana nilai-nilai moral yang telah ditanamkan lewat ilmu-ilmu keislaman tersebut mampu berperan aktif sebagai generator yang memiliki pawer pembebas dari tekanan dan himpitan keterbelakangan sosial budaya, kebodohan, ekonomi dan kemiskinan di tengah mobilitas sosial yang begitu cepat.
Kehadiran ilmu-ilmu keislaman jika ditinjau dari kelembagaan maupun dari nilai-nilai yang ingin dicapainya masih memenuhi tuntutan yang bersifat formalitas dan bukan sebagi tuntutan yang bersifat substansial, yakni tuntutan untuk menelorkan pribadi-pribadi aktif penggerak sejarah dan pemain gesit-tangkas pelopor dan produsen peradaban Islam dimasa mendatang. Reformasi epistemologi ilmu-ilmu keislaman sangat penting dilakukan demi menghasilkan teori-teori bermutu yang mencerdaskan, terlebih dalam krisis kekinian yang menyangkut pengetahuan dan pendidikan umat saat ini. Krisis yang terjadi dalam dunia pengetahuan dan pendidikan umat saat ini didasari rendahnya motivasi belajar umat serta kurangnya rasa cinta dan penghargaan terhadap ilmu pengetahuan, terutama dalam bingkai ketauhidan.
Proses sekulerisasi pendidikan lewat jalur epistemologi, telah menggeser dimensi moral dan spiritual dari pendidikan Islam, di samping kurangnya pengetahuan dan kelemahan intelektual. Selain itu, ketergantungan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi wujud nyata dari keterbelakangan umat yang mengakibatkan krisis intelektual yang semakin parah.
Epistemologi sekuler hanya didasarkan pada kekuatan akal (rasional) dan empiris semata, sedangkan dalam epistemologi ilmu-ilmu keislaman pengetahuan tak hanya didasari oleh dua faktor tersebut, tetapi juga bersumber pada wahyu yang berasal dari Al-Quran dan As Sunnah. Wahyu itu justru menjadi kualitas tertinggi dari ilmu pengetahuan dasar. Wahyu melindungi akal dari kesalahan dan menyediakan informasi tentang suatu hal yang tidak kasat mata mengingat akal tidak bisa memahami secara penuh dunia yang empiris tanpa bantuan, sekaligus wahyu berperan sebagai imam bagi akal. Wahyu yang membimbing, mengarahkan, mengontrol, dan memberikan inspirasi terhadap epistemologi. Selain itu, pengetahuan manusia dalam disiplin ilmu juga sangat terbatas, sehingga wahyu diperlukan bagi manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Akal manusia bisa diperdaya dan kecerdasannya pun terbatas dalam menginterpretasikan beragam persepsi. Di sisi lain, manusia tidak bisa mengetahui hal yang tak kasat mata, di mana masa lalu dan masa depan diyakini tidak dapat diketahui.
Untuk mengatasi kendala-kendala, kelemahan-kelemahan, problematika ilmu-ilmu keislaman serta untuk membangun peradaban Islam yang lebih baik tersebut, perlu melakukan reformasi atau merekonstruksi ilmu-ilmu keislaman. Murtadha Muthahhari beranggapan bahwa penguasaan terhadap ilmu-ilmu Islam yang komprehensif akan memampukan kaum muslim dalam menggali sumber-sumber pemikiran Islam sekaligus mengambil manfaat secara tepat terhadap sumber-sumber ilmu lainnya di luar Islam. Itulah kiranya yang diidealkan oleh isi buku ini.


Judul
Rekonstruksi Ilmu-Ilmu Agama Islam
Penulis M.Amin Abdullah, dkk
Penerbit Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga
Tebal-



Komentar