JAHILIYAH DALAM PANDANGAN SAYYID QUTB : SEBUAH KAJIAN TAFSIR FI ZILAL AL-QURAN

https://3.bp.blogspot.com/-qEY0xroH6IE/VvAPqrCmEfI/AAAAAAAAAfU/f_JFRRS7j8EnfOubyHEuwFQyxYd0NgXHQ/s72-c/Sayyid-Qutb%2BConvert.jpg click to zoom
Ditambahkan 08.16
Kategori Percetakan POD Produk Reguler
Harga Term jahiliyah dalam Al-Qur’an menempati posisi sentral dalam bingkai keberagamaan al-Qur’an (Islam) di samping term penting lainnya sep...
Share
Hubungi Kami
Beli Sekarang

Review JAHILIYAH DALAM PANDANGAN SAYYID QUTB : SEBUAH KAJIAN TAFSIR FI ZILAL AL-QURAN



Term jahiliyah dalam Al-Qur’an menempati posisi sentral dalam bingkai keberagamaan al-Qur’an (Islam) di samping term penting lainnya seperti kufr, hilm, sabar, islam. Oleh karena itu, kajian tentang jahiliyah adalah sebuah keniscayaan untuk melihat dan memahami konsep besar agama itu sendiri. Keterkaitan kajian jahiliyah dengan figur Sayyid Qutb dan Tafsir Fi Zilal al-Qur’an tidak bisa dipisahkan karena studi ini hendak melihat relevansi antara konsep dan praktik. Term jahiliyah pada satu sisi adalah sebuah konsep sedangkan produk penafsiran Sayyid Qutb tentang jahiliyah dalam tafsir Fi Zilal al-Qur’an dengan segala bentuk keterpengaruhannya dan interaksi yang diakibatkannya serta telah berlangsung dengan lingkungan seputar adalah bentuk praktek pada sisi yang lainnya; jahiliyah yang dikaitkan langsung dengan sosial kemasyarakatan kontemporer (di Mesir).
Hasil dari studi ini menginformasikan bahwa proses penafsiran jahiliyah yang dilakukan Sayyid Qutb dilalui dua periode dan situasi, yaitu sebelum di penjara dan saat di penjara. Dua situasi tersebut berpengaruh pada hasil penafsiran tentang jahiliyah meskipun tidak signifikan. Sedangkan yang terkait dengan karakteristik jahiliyah, maka hal itu terbagi menjadi tiga, pertama, jahiliyah dalam pengertian kebodohan yang menggejala pada semua orang, kedua, jahiliyah yang mendarah daging yang susah dihilangkan, dan ketiga, jahiliyah yang kadarnya rendah sehingga mudah dihilangkan. Dalam konteks kesejarahan al-Qur’an, jahiliyah model pertama menjangkit semua orang (siapapun, diungkap dengan ism nakirah), jahiliyah kedua menimpa semua umat para Nabi yang kufur, dan jahiliyah ketiga menjangkit para Nabi, Ahlu Bayt, budak sahabat Nabi, Ahli Kitab, orang mukmin lainnya. Tafsir Tafsir Fi Zilal al-Qur’an yang tampil dengan gaya yang simpel, vulgar, dan menyala-nyala mendapat inspirasi dari beberapa tokoh seperti Abu al-A’la al-Mawdudi, Abu al-Hasan al-Nadwi, Abbas Muahmud Al-Aqqad dan Abdul Qadir Audah, masing-masing memiliki pengaruh yang berbeda satu sama lain dan bersifat parsial. Sementara Zilal mampu memberikan pengaruh pada sejumlah kelompok Ikhwanul Muslimin muda (Qutbis) untuk menjadi komunitas yang memerangi aksi jahiliyah dengan cara aksi jihad. Di luar Mesir, seperti Aljazair, Tunisia, Sudan dan bahkan Iran, pengaruh pemikiran Qutb dalam menciptakan semangat kebangkitan Islam cukup besar. Di Indonesia satu organisasi Islam yang dinilai merefleksikan pandangan Qutb dan mengakomodir total tafsir Fi Zilal al-Qur’an adalah Jama’ah Islamiyah atau Majlis Mujahidin Indonesia yang oleh pihak tertentu disebut sebagai Islam Radikal.
Pandangan yang menonjol yang dikedepankan oleh Sayyid Qutb terhadap isu dan kasus serta term jahiliyah ini, selain deskripsi di atas, terdapat tiga hal yang merupakan suatu penemuan dan kontribusi keilmuan yang dihasilkan dari studi ini. Pertama, perspektifnya tentang sejarah dan pribadi Rasulullah yang a historis dan tak tersentuh oleh noda dan salah walaupun bersifat sementara. Sehingga ‘memaksa’ Qutb untuk mengalihkan tafsir jahiliyah yang seharusnya dikenakan kepada Rasulullah, justru dikenakan kepada para budak muslim yang dalam konteks ayat justru yang harus diberi penghormatan karena ketaqwaannya. Kedua, Qutb memberikan pandangan yang menegaskan tentang term jahiliyah yang tidak mengenal dimensi ruang dan waktu. Penegasan ini sekaligus memberikan sanggahan terhadap pendapat sebelumnya yang mengatakan bahwa jahiliyah itu hanya terbatas dan terjadi pada masyarakat Arab pra-Islam atau terjadi dan dikenakan kepada komunitas non muslim seperti yang dinyatakan Abu al-A’la al-Mawdudi. Ketiga, secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa pandangan Qutb tentang jahiliyah dalam kasus-kasus tertentu sangat mencerminkan pandangan yang normatif-tekstualis yang oleh sebagian kalangan dimasukkan dalam model penafsiran yang radikal. (kasus tafsir QS. Al-Ahzab 33:33 tentang perempuan yang marginal dan subordinat dalam perspektif kritik para feminis terhadap beberapa tafsir) meskipun penulis sendiri kurang sepakat karena pendapat dan pandangan tersebut seringkali tidak didasari oleh alasan-alasan yang signifikan.


Judul
JAHILIYAH DALAM PANDANGAN SAYYID QUTB : SEBUAH KAJIAN TAFSIR FI ZILAL AL-QURAN
Penulis
M.Fajrul Munawir, M.Ag
Penerbit Samudra Biru
Tebal
176 halaman
RP 45,000.00



Komentar