Modul Live-in Interacting Agamawan Muda Lintas Agama

https://1.bp.blogspot.com/-pQRzFWFzjTo/Vx7nIjNy1tI/AAAAAAAAAtQ/XNKxNBXIXzMjjZS5aANEwZKFkgvjRZ5pQCK4B/s72-c/Modul%2BLive%2BInteracting.jpg click to zoom
Ditambahkan 21.03
Kategori Percetakan POD Produk
Harga Kegiatan live-in interacting agamawan muda lintas iman sudah enam kali diselenggarakan oleh Dialogue Centre, Pascasarjana UIN Sunan Ka...
Share
Hubungi Kami
Beli Sekarang

Review Modul Live-in Interacting Agamawan Muda Lintas Agama



Kegiatan live-in interacting agamawan muda lintas iman sudah enam kali diselenggarakan oleh Dialogue Centre, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga di enam propinsi sejak tahun 2006. Kegiatan ini mampu menyedot perhatian para aktivis agama dari kalangan generasi muda sekaligus juga menjadi berita di pelbagai media cetak di 6 kota propinsi, masing-masing Banjarmasin, Palangkaraya, Pontianak, Tarakan, Palu dan Manokwari, Sorong, Biak. Yang menarik dari sambutan para agamawan lintas iman adalah proses kegiatan yang bermula dari “saling curiga” satu sama lain di hari pertama, berakhir dengan perjumpaan yang penuh keakraban bahkan persaudaraan, terbukti semua peserta membentuk wadah agamawan muda lintas iman untuk melanjutkan “provokasi” positif akan kesadaran keragaman yang menjadi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari.

Keberhasilan program tersebut juga bisa dilihat salah satunya dari keaktifan para alumni peserta program dalam kegiatan dan kerja lintas iman di daerah mereka masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa program ini layak untuk diteruskan, ditularkan serta dikembangkan di daerah-daerah seluruh Indonesia dengan tujuan untuk merawat dan menjaga keharmonisan kehidupan agama dalam semangat kebangsaan NKRI.
Di samping itu, Dialog Centre meyakini bahwa agama dalam kehidupan umat manusia merupakan unsur vital dan hampir bisa dipastikan dapat ditemukan dalam setiap sejarah kehidupan manusia. Pentingnya agama dalam kehidupan umat manusia membuat Sri Aurobindo menyebut peradaban materiil manusia sebagai system of civilization dan agama sebagai trancendental power, dua hal yang tidak bisa dilepaskan satu sama lain. Jika salah satu di antara dua hal tersebut hilang maka yang terjadi adalah krisis yang membawa kepada kekacauan sosial dan psikis manusia, yang sebenarnya akan mengancam keberlanjutan kehidupan manusia itu sendiri.
Dalam kehidupan sosial, agama tidak hanya menjadi legitimasi etik bagi pemeluknya, melainkan juga memiliki peran penting dalam ranah kehidupan sosial masyarakat. Dalam dunia ekonomi, misalnya, muncul istilah bank syariah, bank mu’amalah, kredit syari’ah dan lainnya yang kesemuanya merujuk pada nilai etis dan sosial agama (Islam). Sedangkan dalam bidang kesenian, nilai etis dan ajaran agama juga menjadi salah satu rambu, demikian pula dalam ranah politik.
Peran agama dalam masyarakat belakangan ini menguat yang tercermin tidak saja pada struktur sosial masyarakatnya, melainkan juga dalam struktur politik bernegara. Fenomena tersebut membenarkan prediksi John Naisbitt dan Patricia Aburdane tentang “kebangkitan agama-agama” pada abad ke-21 yang ditandai dengan semakin meningkatnya hasrat masyarakat untuk kembali ke agama sebagai sumber utama rujukan masyarakat. Tetapi di sisi lain, kebangkitan agama menjadi kekhawatiran tersendiri, pasalnya, kebangkitan yang terjadi adalah kebangkitan dalam arti formal, yaitu peningkatan secara kuantitatif jumlah penganut semua agama baik Islam, Kristen, Katholik, Hindu, maupun Buddha di tengah-tengah masyarakat. Kebangkitan agama belum sepenuhnya diiringi dengan kemauan untuk menjalankan ajaran agama secara substantif. Mereka cenderung mengamalkan simbol-simbol ritual agama yang tidak dibarengi dengan kesadaran spiritual. Model pengenalan agama yang menekankan simbol-simbol ritual ini menampilkan wajah kehidupan beragama yang kurang anggun dan tidak jarang terkesan menyeramkan, karena semangat penuh fanatik dari masing-masing pengikut agama terkadang mengakibatkan pecahnya konflik antaragama.
Atas dasar realitas ganda dalam tradisi agama tersebut, serta uji coba keberhasilan kegiatan live ini di 6 kota propinsi, penyusunan modul kegiatan yang detail dan lengkap menjadi keniscayaan. Tentu, modul ini menjadi panduan bagi alur kegiatan untuk menghasilkan suasana kebersamaan yang dinamis di kalangan agamawan lintas iman sebagai pesertanya. Terbitnya modul ini mudah-mudahan bisa menjadi salah satu wasilah mewujudkan cita-cita kita bersama untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik di masa mendatang dengan salah satu kontributornya adalah para agamawan pelbagai agama. Dengan demikian, agama telah menjadikan dirinya sebagai pembawa misi profetik bagi peningkatan derajat kemanusiaan.


Judul
Modul Live-in Interacting Agamawan Muda Lintas Agama
Penulis Tim Dialogue Centre
Penerbit Dialogue Centre Press PPS UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Tebalxviii+78 



Komentar