Corporate Social Responsibility: Kunci Meraih Kemuliaan Bisnis

https://2.bp.blogspot.com/-R-eNsvcYmFs/VhskrVrEXYI/AAAAAAAAAcg/iA6YL5mgaI0/s72-c/blog.jpg click to zoom
Ditambahkan 20.16
Kategori Percetakan Produk Reguler
Harga Rp 36.000 @ Pengantar Pakar: Dari Bisnis yang Tercela menuju Bisnis yang Mulia Jalal Aktivis Lingkar Studi ...
Share
Hubungi Kami
Beli Sekarang

Review Corporate Social Responsibility: Kunci Meraih Kemuliaan Bisnis




















Rp 36.000 @

Pengantar Pakar:

Dari Bisnis yang Tercela menuju Bisnis yang Mulia
Jalal
Aktivis Lingkar Studi CSR
www.csrindonesia.com

Guncangan besar telah berkali-kali dihadapi oleh ideologi bernama kapitalisme. Menurut catatan Lehman Brothers—yang dikutip oleh Umair Haque dalam The New Capitalist Manifesto (2011)—guncangan dalam skala global itu semakin lama semakin kerap terjadi. Sepanjang abad 18, dunia diguncang 11 kali; abad 19 menyaksikannya 18 kali; dan masyarakat abad 20 menderita karena 33 kali guncangan ekonomi. Entah berapa kali yang akan kita derita di abad 21 ini.

Apakah kita semua akan berdiam diri dan membiarkan hal ini terjadi kembali? Konon hanya keledai yang jatuh 2 kali ke lubang yang sama. Kalau benar demikian, maka tampaknya Homo sapiens tidaklah lebih cerdas daripada Equus asinus. Tak pantas juga rasanya kita menyandang nama Latin yang artinya manusia bijak itu. Bagaimana mungkin kita bisa membebani diri dengan nama yang sedemikian mulia itu? Mungkin karena kitalah satu-satunya spesies yang memberi nama diri sendiri dan seluruh makhluk Tuhan lainnya. Hanya saja, rasanya memang kita menghadapi masalah kronis yang oleh masyarakat suku Jawa disebut sebagai kabotan jeneng alias keberatan nama. Bagaimana mungkin kita bisa menyebut diri bijak, kalau secara terus menerus kita menjerumuskan diri ke dalam sebuah kesalahan yang sama berkali-kali, semakin lama semakin kerap, dan semakin parah?

Apa yang sesungguhnya terjadi? Apakah memang alokasi sumber daya melalui pasar adalah cara yang tidak tepat? Rasanya tidak demikian. Ada banyak bukti bahwa pasar bisa mengalokasikan sumber daya bukan saja dengan tepat, namun juga dengan efisiensi yang tinggi. Lagipula, cara alokasi yang lain malahan mengandung kesalahan yang jauh lebih akut. Kita menyaksikan tumbangnya komunisme di abad lalu. Kita juga menyaksikan bahwa pemerintah yang sentral perannya dalam alokasi sumber daya di berbagai tempat di bumi ini gagal membangun kesejahteraan masyarakatnya. Jadi, tidak seharusnya kita menghentikan cara alokasi melalui pasar ini.

Hanya saja, berpongah ria dengan menyatakan bahwa pasar sekarang sudah mengalokasikan sumber daya dengan sangat baik juga tidak benar. Kita tahu bahwa alokasi yang sempurna oleh pasar juga hanya merupakan delusi parah. Informasi yang “simetris”, kita tahu persis, tak pernah terjadi. Tetapi, teori ekonomi yang menyatakan hal tersebut terus saja dipergunakan, dan pasar terus dijalankan seakan-akan teori itu adalah kenyataan. Kenyataannya sesungguhnya, kehidupan ekonomi jauh lebih rumit daripada itu. Informasi itu kerap disembunyikan oleh pelaku pasar agar “keunggulan kompetitif” bisa mereka pertahankan. Salah satu informasi yang paling kerap disembunyikan para produsen dan saudagar adalah apa yang disebut oleh ekonom Universitas Cambridge, Arthur Pigou, sebagai eksternalitas negatif.

James McWilliams dari Universitas Yale pernah berhitung detail mengenai berapa sesungguhnya harga yang harus dibayarkan warga AS atas setangkup burger sapi yang dimakannya. Pasar telah bersepakat bahwa harga makanan popular itu adalah sekitar USD3, dan bervariasi tergantung tempat dan faktor-faktor lainnya. McWilliams menulis di Washington Post edisi 16 November 2009, dan membawa kabar buruk bahwa sesungguhnya setiap tangkup burger yang dimakan itu mengandung subsidi untuk daging, air, dan sebagainya sebanyak USD20 serta biaya pemulihan kesehatan lingkungan dan manusia sebesar USD10! Jadi, sebetulnya harga burger yang tepat itu sekitar 10 kali lipat dari yang selama ini dibayarkan. Hanya saja persekongkolan antarpelaku pasar—dan pemerintah—telah membuat informasi ini tidak bocor ke banyak pihak. Orang dengan nyaman mencaplok burger, karena merasa harga yang dibayarkan cukup pantas dengan kenikmatan yang diperoleh. Apakah warga AS akan terus membayar untuk kenikmatan itu apabila setangkup burger diberi harga yang sesuai—alias tidak menyembunyikan eksternalitas negatif—dengan yang seharusnya?

Kebanyakan bisnis hingga sekarang beroperasi seperti halnya pembuat burger di AS (dan belahan bumi lainnya) itu. Secara sengaja atau tidak, berbagai dampak negatif disembunyikan dari mata konsumen, agar biaya bisa dibuat semurah mungkin dan produk bisa dibeli dengan “harga yang pantas.” Namun tentu saja dampak negatif itu tak menghilang, karena yang terjadi hanyalah penggeseran ke penanggungnya. Dalam kasus burger di AS, yang harus menanggung beban adalah mereka yang kehilangan hutan di Amazon, mereka yang kesulitan air, dan mereka yang harus kegerahan di bawah langit yang semakin memanas lantaran produksi metana dari peternakan. Dalam setiap kasus bisnis yang melakukan eksternalisasi atas dampak negatif itu, pasti ada korban yang harus menanggungnya. Dalam catatan Matthew Kiernan dalam Investing in a Sustainable World (2009), perusahaan telah membuat sekitar 75% masalah sosial dan lingkungan di dunia ini.

Pertanyaannya kemudian adalah soal apakah kita tidak malu sebagai spesies yang mengaku bijak? Ke manakah kesadaran bahwa kita adalah makhluk yang oleh Tuhan diberi amanat untuk memelihara segala ciptaanNya? Kalau Anda muslim, apakah bisnis yang selama ini berjalan bisa dikatakan sesuai dengan peran manusia sebagai penjaga Bumi alias khalifatul fil ard? Ke mana pula hilangnya spirit dar-u al mafāsid muqaddam-un ‘alā jalb-u al mashālih (mencegah kerusakan itu lebih didahulukan daripada melakukan perbuatan baik) dari bisnis? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu sebagian akan Anda peroleh kalau Bagian Tiga buku ini dibaca.

Permasalahan dari cara ber-business as usual dari sebagian besar perusahaan—seperti yang diungkap dalam Bagian Dua buku ini—adalah bahwa keuntungan hanya bisa mereka peroleh karena mengabaikan pengelolaan dampak negatifnya. Mereka hanya “menyembunyikan di kolong tempat tidur” atau “melemparkan ke halaman tetangga.” Dan, sekarang ada banyak pihak yang dengan gigih mengacak-acak “kolong tempat tidur” mereka, serta menunggui kapan perusahaan-perusahaan itu melemparkan sampahnya ke “halaman tetangga.” Kebanyakan dari mereka yang gigih melakukan hal-hal ini adalah para aktivis kelompok-kelompok masyarakat sipil, terutama LSM, jurnalis dan akademisi. Kita sepatutnya berterima kasih kepada mereka, karena hanya kerja keras mereka saja maka perusahaan-perusahaan kemudian mulai mengubah tata cara berbisnisnya.

Edmund Burke pernah menuliskan Managing a Company in an Activist World (2005) yang menjelaskan bagaimana perusahaan berubah karena para aktivis itu. Para pakar seperti John Elkington dan Jodie Thorpe (2005) serta Alyson Warhurst (2001) juga pernah menyusun argumentasi yang sama: perusahaan itu berubah menjadi lebih baik karena memang mendapatkan serangan banyak kelompok. Serangan itu—banyak di antaranya, walaupun tidak seluruhnya—terkait dengan kinerja sosial dan lingkungan yang buruk. Kinerja yang buruk tersebut sangat terkait erat dengan logika yang dibongkar oleh Pigou itu.

Pigou tentu saja sudah lama sekali memperkenalkan idenya dalam perdebatan ilmiah—dia meninggal tahun 1959—namun hingga sekarang eksternalitas tetap menjadi karakteristik bisnis yang utama. Oleh karenanya, kerja keras untuk membongkar karakter bisnis yang seperti ini sangat diperlukan. Apa yang dilakukan oleh kedua penulis buku ini di antaranya adalah untuk meneruskan kerja Pigou ini, terutama untuk pemangku kepentingan di Indonesia, yang masih meraba-raba bagaimana seharusnya bisnis dilakukan. Dengan menggarisbawahi aktivitas bisnis sebagai pedang bermata dua, mereka memberikan peringatan. Sementara, bagian-bagian lain memberikan berbagai gagasan jalan keluar. Bagian Tiga berbicara mengenai substansi CSR; Bagian Empat mengajak kita mengintip standar tanggung jawab sosial yang komprehensif, ISO 26000 Guidance on Social Responsibility; dan Bagian Lima mengajak kampus kembali memainkan perannya sebagai perantara yang progresif dalam hubungan antara perusahaan dan masyarakat. Catatan penting untuk ISO 26000 adalah bahwa standar tersebut telah diramalkan akan menjadi standar CSR paling penting setidaknya dalam 10 tahun ke depan oleh Richard Welford, sang pendiri CSR Asia dan akademisi yang sangat dihormati. Kita perlu berterima kasih karena buku ini memungkinkan kita mengintip ringkasan isinya.

Kerja keras membongkar praktik bisnis yang tak bertanggung jawab lalu memberikan ide perbaikan adalah sebuah tindakan mulia yang perlu dilakukan oleh jauh lebih banyak lagi orang. Dibutuhkan banyak posisi dan peran dalam hal ini—it takes every kind of people to make the world go ‘round, kata biduan Robert Palmer—dan baiknya buku ini adalah menyediakan pemikiran mengenai bagaimana peran-peran yang berbeda itu bisa dimainkan oleh kita semua. Tentu tidak semua peran masuk ke dalam buku yang ringkas ini, namun dipastikan akan banyak pembaca yang terinspirasi untuk menemukan tempatnya di dalam kondisi bisnis yang sedang berubah ini.

Buku ini juga mengajak pembaca untuk menjadi progresif dengan melihat tanggung jawab sosial yang sekarang sudah disepakati definisi dan cakupannya. Dengan membaca Bagian Empat, kita akan menjadi tahu bahwa CSR bukan lagi sekadar filantropi atau pengembangan masyarakat. CSR—sekali lagi karena kelakuan mayoritas bisnis di masa lalu dan sekarang—kini didefinisikan dengan ketat sebagai manajemen dampak untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan, dan cakupannya merentang dari tata kelola, HAM, ketenagakerjaan, lingkungan, praktik operasi yang adil, isu konsumen dan pengembangan serta pelibatan masyarakat. Di situ juga bisa dipelajari bahwa CSR itu seharusnya bersifat terpadu dengan seluruh bangunan perusahaan, bukan sekadar tempelan sebagaimana yang banyak dipraktikkan oleh kebanyakan perusahaan (termasuk di Indonesia) yang mengaku sudah menjalankan CSR-nya.

Mungkin yang juga penting dilihat sebagai peran buku ini adalah penyiapan pengetahuan bagi para pembaca yang ingin menapaki jalan menanjak soal CSR berikutnya. Sudah sangat jelas bahwa perilaku bisnis yang bertangung jawab sudah digadang-gadang oleh para pakar paling progresif dalam bidang ini untuk menjadi kandidat kuat satu-satunya bentuk bisnis yang akan bisa diterima eksistensinya di masa datang. Selain Haque yang membuka wacana di awal tahun 2011 dengan manifestonya, ada juga para pendahulunya, yaitu Patrick Dixon dan Johan Gorecki menulis Sustainagility (2010), Jeffrey Hollender dan Bill Breen membuat The Responsibility Revolution (2010), Aron Cramer dan Zachary Karabell dengan Sustainable Excellence (2010)-nya. 

Di tahun ini, tak mungkin juga pembicaraan mengenai hal itu akan surut. Sudah ada The Age of Responsibility (2011) karangan Wayne Visser, serta buku Carol Sanford bertajuk The Responsible Business (2011), dan dipastikan akan menyusul berbagai judul lagi dalam waktu dekat.

Sudah sangat jelas terbaca dari berbagai literatur mutakhir yang disebutkan di atas bahwa bisnis akan kembali mendapatkan kepercayaan para pemangku kepentingannya hanya apabila dapat membuktikan diri sebagai penyedia barang dan jasa yang membantu memecahkan masalah sosial dan lingkungan—bukan menambah masalah sosial dan lingkungan yang selama ini sudah ada. Untuk itu, bisnis harus secara bersungguh-sungguh menghindari dan meminimumkan dampak negatif mereka, lalu memaksimumkan dampak positifnya melalui berbagai inovasi atas produk dan tata cara berproduksi. Dalam pemikiran Sanford, perusahaan tampaknya harus menapaki kurva belajar CSR dari responsibility project, melalui responsibility program, menuju responsible business. Perusahaan yang baru mulai tentu akan melihat tanggung jawab dan keberlanjutan sebagai projek belaka, belum menjadi ruh—atau merujuk kepada Visser: DNA—dalam berbisnis. Dari berbagai contoh yang dikemukakan oleh buku ini, tampak bahwa sesungguhnya kebanyakan perusahaan di Indonesia barulah sampai di tahapan pertama. Artinya, kita masih perlu banyak belajar!

Akhir kata, buku ini bisa menjadi pengantar untuk melihat bagaimana bisnis yang tadinya tercela di mata banyak pemangku kepentingan akan berubah menjadi bisnis yang mulia di masa mendatang. Ketika masa itu datang, kita tak akan merasa keberatan menyandang sebutan Homo sapiens lagi. (Singapura, 26 Maret 2011)

Identitas Buku
Judul Buku: Corporate Social Responsibility: Kunci Meraih Kemuliaan Bisnis
Penulis: Joko Prastowo dan Miftachul Huda
Penerbit: Samudra Biru
Cetakan: I, Mei 2011
Dimensi: 188 hlm, 14 x 20 cm




Komentar